the biodoversity

the biodoversity
Tampilkan postingan dengan label Kabar Hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Hutan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2014

Sesep Madu dari Sukamade

Yupp... di sinilah saya hendak bercerita tentang famili sesep madu, yakni Nectariniidae, yang anggotanya telah menghiasi lembar-lembar list pengamatan saya di Sukamade. Bahkan, pengamatan minggu lalu menyatakan bahwa jumlah nectariniidae yang ditemukan di resort terpencil ini melonjak lagi 1 jenis. Kejadian ini berkaitan tentang temuan Burung-madu Belukar di tepian jungle track. Berikut penampakannya:

Betina Burung-madu Belukar

Jantan Burung-madu Belukar

Bagaimana? very noise kan? kakakak....oke... pemotret amatiran ini memang masih perlu belajar banyak untuk mengoperasikan 1100 D tuwirnya. Saat teramati, burung ini berkelompok dalam jenisnya. Jumlahnya mungkin 6 hingga 8 ekor dan saling berpasangan.

Anyway,  jumlah sesep madu di meru Betiri mencapai:
1. Burung-madu Kelapa
2. Burung-madu Belukar
3. Burung-madu Sriganti
4. Burung-madu Jawa
5. Pijantung Kecil
6. Pijantung Besar
7. Pijantung Gunung

Semoga masih berlanjut lah, hehehe...

salam dari rumah penyu :D

Sabtu, 02 Agustus 2014

Caladi Tikotok : cerita dari Baluran ke Sukamade

  Mendengar nama burung ini pertama kali adalah saat Mas Nurdin dan antek-anteknya memborong hadiah Baluran Birdwatching Competition (mbuh yang ke berapa). Kala itu, samar-samar saya mendengar bahwa Kang Swiss sebagai pemangku adat sampai terbuai dengan temuan sarang si burung pelatuk kecil ini di Kacip. Lalu, kesempatan melihat secara langsung adalah di TNAP saat mengantar rombongan praktikum lapang. Cukup berjumpa saja, fotonya engga.. haha. Nah, kalau di Meru Betiri.... (blank)
   Awal cerita, adalah kedatangan kawan-kawan Biologi UIN Sunan Kalijaga (Jogja) yang berada di bawah bendera PKL mereka di bulan januari. Sungguh tak terduga, Sigit, salah seorang dari mereka membawa foto burung yang bernama latin Hemicircus concretus ini ke hadapan saya.
   "Waduh, saya malah belum dapat fotonya..." batin saya ngenes
Saat dimasukkan DPO Bandealit pun burung mungil ini belum juga nampak. Whalah... dengan mengibarkan bendera setengah tiang, saya pun harus ngemis minta foto ke Sigit, hehe.
   Namun, penantian rupanya berbuah manis. Di bulan Mei-awal Juni, 3 kali temuan di jungle track Sukamade membuat saya meyakini bahwa burung ini lebih lumrah di sana dibandingkan di Bandealit. Sayangnya, selalu saja Caladi Tikotok bersifat autis, sehingga susah sekali difoto. Baru pada akhir Juni burung ini malah mampir di belakang pos. Rumornya, ini karena jompa-jampi Mas Kukuh-Mas Nurdin yang saat itu bersama antek-antek Biolaska berkunjung di sana. Ah, tapi rumor ini terpecahkan juga. Buktinya, ayah-ibu-anak secara bersamaan terpotret pada minggu berikutnya di tempat yang sama, setelah mereka semua pergi, haha.. modharo.. 
    At last, keluarga bahagia si Caladi tak lagi menyapa saya. Sesekali terlihat dari kejauhan di tempat yang berbeda. Di lain kesempatan pun hanya terdengar suaranya. Ah, tak pernah bosan melihatmu baik-baik saja :)

Catatan:
Burung pelatuk ini menyandang gelar Least Concern versi IUCN. Meskipun disebutkan sebagai umum di Kalimantan dan Sumatra, namun burung ini tidak umum ditemukan di Jawa. Dalam versi IUCN juga, Population trend Caladi Tikotok juga cenderung menurun.


Matur suwun kepada :
1. Kawan Biolaska untuk pendokumentasian awal di Bandealit
2. Kawan Biolaska + mas Kukuh yang sudah menemani birding  di Sukamade.

Betina Caladi Tikotok

Jantan Caladi Tikotok

Remaja Caladi Tikotok






Jumat, 01 Agustus 2014

Yess... 1 DPO ketemu!

   Sejak semula, ayam hutan merah sudah dijadikan target utama. Maksud saya, ya mulai dari pertapaan saya di Bandealit. Bahkan cerita orang lokal yang biasanya supralebay kali ini juga setuju dengan saya : burung ini langka. Saya pikir, di Meru Betiri spesies ini lebih langka daripada Elang Jawa. Apalagi habitatnya rumit, serumit hubungan jomblo *ehehehe.
   Tidak ada yang mengira, perjumpaan saya dengan hewan cantik bernama latin Gallus gallus ini ada di Sukamade. Semenjak para punggawa UPKP yang berdinas di sana mengaku (sampe berani sumpah pocong) melihat 2 ekor hewan yang saya cari beterbangan di jalur pantai tahun lalu. Tak semudah itu saya percaya, saya ngiming-ngimingi hadiah bagi siapa saja yang menemukan, dan memberi bukti foto. Tinggal pilih : rokok 1 pak atau coklat Silper kuin. 
   Alhasil, saya harus menelan ludah karena semenjak hutan mengalami pancaroba beralih ke kemarau di awal Juli lalu, Mas Juna seperti kesurupan memberi tahu saya kalau ada Ayam-hutan Merah di Sukamade. Tidak tanggung-tanggung kurang ajar, katanya burung ini thoker-thoker di tempat pembuangan telur penyu busuk, tepatnya di samping kantor. Meskipun mas Eko juga akhirnya menunjukkan fotonya yang lebih mirip gumpalan plastik, itu sudah membuat saya tidak bisa tidur. And the last... saya mendapatkan foto si cantik ini di hari-hari berikutnya :)

Selamat untuk CB (sebe), bro dari F Kelautan Undip dan Mas Eko yang mendapatkan coklat silper kuin masing-masing 1 batang.




Senin, 23 Juni 2014

(Hampir) dicium Elang Sumberpacet...

  Pengalaman menjumpai burung-burung yang unik dalam jarak dekat itu sudah terjadi beberapa kali. Malah, beberapa hampir-hampir ditabrak atau sepertinya lagi pengen nabrak. Mulai dari udang api, meninting kecil, ayam hutan, uncal, sampai ayam gaul (karena bulunya warna-warni), semua pernah. Tidak ada kerugian memang dari kedua belah pihak, tapi kagetnya itu lhoo.... Nah, hari ini saya berkesempatan hampir 'dicium' elang. Bukan sembarang elang pemirsaaah, tapi Elang Jawa. Yap... burung yang katanya orang banyak termasuk mahkluk ghoib ini saya jumpai di seputaran daerah Sumberpacet, tepatnya jalur tembusan Glenmore-Pesanggarahan via Trebasala. Bingung? saya juga.. lapar? segera masak mi rebus.

Berikut cerita flashback-nya...

Alkisah 2 minggu ini saya membusuk di kamar saya (atau gudang) berukuran 2x2 ini. Karena pekerjaan ngadep laptop, bekerja dengan adobe indesign mulai buntu, lalu 2 hari lalu saya mulai bicara dengan ikan mas koki saya. Nah, daripada membusuk lama dan kopi sudah tak lagi mempan mendinginkan otak, jadilah saya pengin me-refresh sejenak, tapi kemana?

Sumberpacet, yang mana sih?
   Sebenarnya, saya ditantang deBegundals Mas Fendi untuk menuntaskan 2 hal, yaitu yang pertama adalah memotret burung nokturnal di Meru Betiri. Tantangan kedua adalah melintas batas antara wilayah resort Sumber Pacet dan Karang Tambak. Nah, tantangan kedua inilah yang pada hari ini coba saya lewati. Memang dulu pernah saya mencoba, tapi keliru jalan (sok tau sih, hehe). Namun, kali ini, dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama, akhirnya saya masuk ke dalamnya. Melewati mega proyek pabrik gula glenmore, JLS (jalur lintas selatan), lalu ke arah kompleks perkebunan Trebasala, akhirnya sampai juga ke percabangan antara Sumberayu dan jalur hutan.
  Memasuki jalur hutan ini saya merasa 'hijau kembali'. Sepertinya tidak percaya juga kalau ini termasuk akses Meru Betiri. Pasalnya, kawasan Meru Betiri jarang yang memiliki jalan mulusss... Nah, jalur ini cukup baik menurut saya, terdiri dari aspal, bekas aspal, sedikit batu, atau tanah. Cukup lebar, namun semenjak jembatan penghubungnya rubuh, maka mobil tidak lagi bisa lewat sana. Akibatnya, semak-semak semakin merajalela, membuat jalur mulus itu hanya nampak seperti jalan setapak.
   Mengikuti jalur yang meliku-liku, tak membuat saya ngantuk atau bosan. Lutung berlompatan  ketika melihat orang aneh melambai-lambai padanya dari sebuah motor tua. Helm pun saya lepas untuk membuat saya mendengar kicau burung lebih banyak. Aah, benar-benar obat stres... Selain itu, angin akan membuat ketombe saya rontok... ah, bebanpun makin berkurang.
   Hal yang membuat saya semakin semangat adalah burung ghoib nan cantik bernama Cekakak Batu muncul. Weh... ini pertama kalinya saya menjumpai burung ayem ini secara langsung. Ada pula burung ghoib macam Cuca Ijo alias Cica-daun Sayap Biru. Ah, sayang, burung bersuara merdu ini tak mampir dalam frame foto. Hal lain yang membuat esmosi adalah melimpahnya perjumpaan Meninting Besar di sini. Tercatat kurang lebih 12 kali saya menjumpai burung berekor menggunting ini di sepanjang jalur.

(Hampir) Dicium Elang...
   Seakan tanpa wangsit atau peringatan, ketika berada pada jalanan yang menurun, saya dikagetkan oleh burung berukuran sedang, berwarna cokelat yang melaju cepat di-atas-jalan. Otak saya langung mengatakan kalau ini adalah raptor. Iyooo... tau, tapi apa? Percakapan antara mata batin dan logika otak seakan menemukan jawabannya ketika burung ini berkelok ke kanan menghindari saya yang mlongo dan kerepotan menginjak rem. Seakan dalam slow motion, saya melirik burung yang terbang diantara pepohonan lalu masuk jurang itu.... Ah, warna cokelat muda. Ada 3 garis hitam di ekor.... jambulnya kemlawir... tak salah lagi, ini adalah seekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)...
   Batin saya pun ereksi... antara kegembiraan dan kekecewaan, antara sumpah serapah dan ungkapan syukur. Secepat itukah burung ini melampaui manusia yang mengaguminya? ah... Saya pun terdiam di pinggiran jurang... Berharap burung itu bertengger atau kembali, lalu mau untuk menjalani sesi pemotretan. Hm, omong kosong..

Lalu saya membisik di dalam hati : " Tak apa, asal tahu kabarmu, aku pun senang... Kapan-kapan saya pasti kembali", meskipun dalam hati yang lebih dalam lagi, saya juga bertanya : emang kapan, hehe...
:D

FYI, berikut adalah temuan Elang Jawa di kawasan TN Meru Betiri dalam delapan bulan terakhir:

1. Bandealit : November 2013 - Februari 2014
2. Andongrejo : Maret 2014
3. Rajekwesi : Maret 2014
4. Sukamade : Juni 2014
5. Sumberpacet : Juni 2014

Spesial buat deBegundals dan DJ kalibaru, Bung Deny Astanafa.



Meninting Besar (Enicurus leschenaulti)

Si Unyu Cekakak Batu (Lacedo pulchella)

Salah satu scene di perjalanan

Wiiidih... Sampe tapal batas Glenmore-Pesanggrahan

Selasa, 03 Juni 2014

Mbrasak-mbrasak Bandealit (edisi Tamanan)

   Hum, sudah 4 bulan 'hanya' berangan-angan untuk menuliskan cerita ketika memasuki kawasan rimba Meru Betiri. Ah, daripada cuman jadi angan-angan, lebih baik ya tak muntahkan saja di sini.
Dengan latar belakang kegiatan pemasangan camera trap, maka saya berencana untuk ndompleng mencicipi sensasi masuk hutan (saat itu, saya hanya masuk ke lokasi yang relatif mudah dijangkau). Oleh karena itu, PJ untuk acara menentukan tanggal 6 dan 7 sebagai d-day. Kalau tidak salah sih yang ketiban Mas Adi, salah satu cukers kepunyaan TNMB. Simpatisannya adalah Mas Puji, Mas Andre, Mas Jumadi, dan 2 porter : Pak Hafid dan The Saman, serta tentu saja potograper keliling. 
    Perjalanan diestimasi selesai sebelum gelap, jadi ada 2 hari ke tempat yang berbeda untuk memasang 4 buah kamera. Tujuan kami adalah 2 tempat yang berseberangan 180 derajat, yaitu Tamanan dan Penangan, nama-nama yang unik sekali, hehe. Memang sebuah kebiasaan dan anomali jika di hutan orang menamai sebuah tempat sekenanya, tergantung kebiasaan dan kemudahan menyebut. Maka, tak heran jika sampeyan berkesempatan untuk nge-trans (sebutan bagi kegiatan masuk hutan) di TNMB akan mendengar berbagai nama aneh, seperti Kali PA, Durenan, Penangan, Pondok Plastik, Uthuk-uthuk, Ketangi-pothol, Ringin telu, Tikung Ndhas-kucing, Watu gedhe, dll. Sejarahnya? simpel sekali, misal seperti Kali PA, karena dulu PA (Pelindung Alam, alias Pegawai TN) sering nginap di sana, hahaha...
    Hari pertama menuju Tamanan, tak ada yang istimewa.  Hanya saja, jalur masuk hutan ini cukup mendaki. Dari tengah jalan, kita bisa melihat kampung cawang dan pabrik kopi dengan jelas. Ah, lanjut-lanjut terus, tidak ada tanda-tanda pembuktian informasi temuan. Harapan saya untuk menemukan burung 'aneh-aneh', rupanya harus saya telan dalam-dalam. Wuedan, dimana-mana melihat hanya tutupan vegatasi rapat. Ok fine, Semoga nanti hingga istirahat ada tempat yang sedikit terbuka. Ternyata, dugaan saya keliru... semua hijau babarblas. Tak ada spot untuk melihat burung. Semua burung bermain di bagian atas kanopi, dan kami ada di bawahnya. Ah, memanggul senjata 300 mm rasanya sia-sia. Namun, yang sedikit menggembirakan adalah temuan kotoran karnivora dan cakaran lama pada batang pohon. Whooww.... sekali lagi, ini adalah first time bagi saya untuk berburu jejak-jejak karnivora besar. Namun, setelah observasi awal di sekitaran, tim menemukan tanda-tanda manusia di sana. Ada bekas pondok, patok-patok bambu, dan beberapa bumbung. Weh, ternyata ini adalah sisa orang ndarung (menginap di hutan mencari burung atau ijuk). Akhirnya, dengan menimbang segi keamanan kamera, maka pemasangan di Tamanan akhirnya diurungkan.

Perjalanan hari kedua akan dikisahkan di lain tempat berooo... Kami menuju suatu tempat yang kata PJ acara kita tercinta, disebut lebih 'mudah' dan 'tidak mendaki'...
suwun...





Mas Adi dengan baju hitam, Mas Puji dengan baju kelabu


Minggu, 25 Mei 2014

Tenang menghadapi Senin (lagi)

Aaah... Senin lagi deh.
Mungkin, ada yang berbeda dengan hari senin ini. Saat ini, saya meng-update data foto yang ada.. Hm, tidak berubah..tetap 100 jenis pas, ga bisa ditawar. Data saya kumpulkan, dibuat grafik berdasarkan famili, dan.. taraa... jadilah bahan presentasi koplak-koplakan yang besok saya tunjukkan ke mas Alif, sang bos geng PEH. Sebenarnya, agak sungkan juga untuk mengganggu pak Bos, terutama di hari senin, apalagi beliau juga baru pulang ngadep Manggala, di Bogor kemarin. Ah, sudahlah... kalau tidak besok, tentu saya tak  lagi punya waktu untuk menunda pergi ke Sukamade lagi... setelah 2 minggu berkelana ke semarang dan malang.. wezz...

Selain menunjukkan data-data tersebut, ada beberapa agenda safari di hari senin:
1. Agenda Buku.
2. Permintaan untuk menuliskan preface tentang kawasan dan segala problematikanya. 
2. Diskusi tentang data.
3. Minta foto.

Lalu, jika tidak terlalu sore.. berangkatlah ke Sukamade untuk bercinta dengan burung-burung yang merindukan saya... hehe. Jika berlambat, ayo berangkat esok paginya di hari Selasa.

Mari berserah kepada Tuhan untuk segala pekerjaan ini.

Ah, senin... :)


Sabtu, 12 April 2014

Kemenyekisme

   Menunggu, itu adalah hal yang membuat saya penat. Jian ra penak blas... Bagaimana tidak menunggu, kalau tempat main saya yang sekarang berada di ranah terpencil timur TNMB. Dibilang terpencil karena saya mikir dua-tiga kali sebelum naik atau turun. Rasanya itulah sebabnya orang yang dinas (baca:bertapa) di sana lebih memilih tinggal dalam waktu yang lama, daripada harus bolak-balik lewat jalan yang boros-pantat itu. Oleh karena itu saya harus menunggu. Karena kalau kembali dalam rentang waktu yang dekat setelah pulang, sido remek... Paling tidak, menunggu badan sedikit pulih dulu lah, hehe... 
    Nah, di dalam peradaban inilah, ngadep laptop adalah hal yang pasti : Pindah foto, Facebook-an, lihat web-web gaul, sampai maen game selalu saya lakukan. Jian takpuas-puaske pokoe... Sampai kalau bosen, barulah saya ngutak-atik program design yang tentunya... bajakan. Saya paling suka ngotak-ngatik foto, terutama foto burung  yang saya dapatkan. Tapi tenan, saya suka membuatnya jadi poster, jadi apa saja.. Malah akhir-akhir ini saya seakan membuat semi dummy-layout dari buku burung. Meskipun masih dalam mimpi, tapi saya mikir kalo saya sudah melakukan hal yang kemenyekisme. Lha gimana tidak? Acc, penulisan-koreksi, bahkan pengumpulan foto masih belum selesai. Masih sekitar 2 bulan waktu pinalti saya di hutan untuk ndendepi manuk. Jadi, kalau sekarang bikin layout, apa ndak kemenyekisme namanya? Hahaha... ben wes. 

1.
   Berawal dari keinginan saya untuk membuat poster bertemakan : " Birdwatching for Kids", maka saya mengutak-atik foto-foto itu. Nah, jadilah... Tapi yang membuat saya heran, malah terjadi bullshit atau kotoran kerbau (hehehe, maksud saya omong kosong). Kata-kata yang disampaikan terlalu banyak. Tujuan awalnya adalah untuk memberkenalkan 'betapa amazing-nya burung itu', sehingga di dalamnya saya sampaikan banyak fakta-fakta menarik yang rasanya anak kecil pengin tahu. Kenapa pakai bahasa Inggris? Hem, entahlah... saya malah sulit menguraikan maksud saya dalam bahasa Indonesia, jadilah ini Bahasa Inggris (berarti sekarang saya juga keminggris, hehe). Padahal sejatinya saya berhaluan ekstrimis-garis-kiri-senggol-njengat. :D

2.



Terlalu ke-baluran-baluran an. Itulah kesan saya setelah nyruput kopi sambil memandang kedua dummy layout yang saya buat ini. Alasannya simpel, karena tergesa-gesa untuk membawa 'sesuatu'  ke balai, sehingga membuat dua karya ini rasanya hanya 2 jam saja. Tapi memang, saya sadar bahwa burung di sini sangat berbeda dengan Baluran. Buku Baluran itu memang banyak menjadi inspirasi, tapi ogah hukumnya untuk juga meniru bentuk layoutnya. Butuh sesuatu yang mengejutkan dalam konsep. Sesuatu yang menjadi ciri khas : hutan virgin, dataran rendah, utuh, dan kaya jenis. Apa itu? entah, saya sendiri masih mencari... 

3.

   Awalnya, tujuannya menjadi semacam informasi singkat. Semacam poster lah (sekali lagi, poster). Tapi, kok sedikit cocok menjadi layout buku? Entah, saya kurangi beberapa bagian yang berbau poster, lalu jadilah demikian. Masih saja terlalu banyak kata. Saya sangat ingin membuatnya menjadi sesuatu yang ringan, enak dibaca, tapi berbobot. Hanya itu yang saya tangkap. Sepertinya nanti distribusi akan dipangkas, begitu juga dengan deskripsi singkat yang tidak singkat. 
Sebuah kemajuan lah untuk membuat foto-foto burung cukup terlihat bebas. Perjuangan yang berat, tapi tetap melaju dengan dibarengi membaca referensi buku-buku lain. 

Nyruput kopi.. mikir...  
Benarlah jika Mas Budiman, kakak angkatan saya yang sering menjadi asisten ekologi, berkata bahwa Matkul Ekologi adalah yang paling susah. Padahal saya tahu, orang ini briliant di Matkul tingkat dewa seperti Genetika, Fisiologi Tumbuhan, dan Biologi Molekuler. Baginya, meskipun dosen ekologi jarang memberikan nilai b ke bawah, tapi ekologi sendiri mengajarkan sesuatu yang holistic, luas. Informasi di dunia terhubung sempurna dengan lingkungan. Nah, sekarang bagaimana caranya membuat informasi yang begitu kompleks menjadi terlihat sederhana tapi tetap berbobot. Hal itulah yang diajarkan ketika setiap kali laporan Ekologi (dan juga kroni-kroninya) selalu berbentuk poster ukuran F4. Dalam media yang terbatas itulah kata-kata dibatasi untuk memuat berbagai informasi penting yang seharusnya jauh lebih besar dari ukuran kertas. Jauh lebih sulit daripada membuat laporan makalah tulis tangan bolak-balik, margin 3-2-2-2 seperti biasa.
Hm.. saya mengerti, kenapa didikan ekologi harusnya lebih sedikit nggedabrus. Menghemat kata, tapi berbobot... dan tentunya saya masih belajar dari sana. Malah kadang, nggedabrus-nya lebih besar dibandingkan kerjanya.

Layak!

Senin, 07 April 2014

Memilih Sang Ikon : njlimet!

   Mencari hewan yang sudah menjadi ikon tempat itu susah. Apalagi, menentukan hewan apa yang akan menjadi ikon suatu tempat. Yak benulll... nilai filosofi itu perlu, sekalipun sak-benci-bencinya dengan penggedabrusan ini, karena seringkali kita terjebak dalam paradigma bahwa 'semua itu penting'. Namun, menurut saya, filosofi suatu objek yang diangkat akan membawa pemikiran tentang tempat itu. Sekaligus, orang awam akan memikirkan bahwa mereka akan mudah untuk menemukan ikon bintang itu di sana. Baiklah, saya perkecil tentang tempat yang saya maksud : Taman Nasional.
   Suatu contoh, Taman Nasional Baluran mengangkat Banteng (Bos javanicus) dan Merak (Pavo muticus) sebagai ikonnya. Lalu, bagaimana jika keduanya jadi semakin jarang di sana? Opo gak ngelu? Contoh lagi di logo Meru Betiri terdapat dua gambar yang melukiskan gabungan pantai teluk dan gunung yang bernama Meru dan Betiri. Keduanya tentu masih kita lihat, karena ndak akan bergeser-geser kemana-mana. Tapi jangan lupa, di sana ada cap tapak Harimau Jawa. Jadi, syukurlah.. itu cuman tapak kaki saja.. Harimaunya mbuuh nangndi... hahaha. Bahkan, jika Elang Jawa dijadikan lambang fauna Gunung Merapi, betapa ndak minder jika di Tahura R.Soeryo, Batu, orang-orang bisa 'selfie' dengan elang langka ini? ckckck... 
   Nah, sekarang tantangan bagi para penghuni Meru Betiri yang sedang getol ngejar-ngejar burung, karena tampil suatu pertanyaan baru : burung apa yang dapat jadi ikon taman nasional dengan 58.000 hektar ini? baiklah, mari kita uraikan satu per satu:

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)
   
Hampir tidak mungkin jika burung ini bisa dijadikan ikon. Pasalnya, cap Elang Jawa sudah diambil di TNGM. Apalagi, jika dibandingkan intensitas kemungkinan bertemu, menurut saya, Tahura R.Soeryo menjadi tempat dengan potensi terbesar sejauh pengalaman saya yang cupu ini. Hanya ketika beberapa kali burung langka ini ditemukan di sini, ada slentingan untuk mengangkat burung ini menjadi ikon.

Nectarinidae (Pijantung dan Burung Madu)

   Sempat terpikir untuk mengadopsi salah satu anggotanya untuk dijadikan ikon. Kenapa? karena Pijantung sangat mudah ditemui di sini. Sangat identik dengan perkebunan yang ada di dalam kawasan sejak jaman kolonial. Tidak terlalu 'murah' untuk ukuran burung. Lagipula, domainnya sebenarnya luas. Dapat dijumpai bahkan di dalam hutan sekalipun. Jadi, beberapa waktu yang lalu, saya pikir ini adalah ikon yang seep tenan. Hanya saja, apakah orang luar dapat dengan mudah menyerap kamsud dari keinginan luhur kita semua? hm..

Cica-daun Sayap-biru / Cuca Ijo (Chloropsis cochinchinensis)
   Terkenal, bahkan sangat terkenal di dunia perburungan, alias kicaumania. Pasalnya, burung yang cantik ini memiliki suara yang aduhai, sehingga, sayangnya banyak yang diburu di hutan liar. Terdapat segitiga emas yang konon menjadi sumber Cuca Ijo yang memiliki suara dengan power kuat: Gunung Raung, TN Alas Purwo, dan TN Meru Betiri. Dari rumor yang saya dengar, Cuca Ijo Meru Betiri memiliki power suara yang paling kuat. Nah, pas kan? meski tidak dilindungi, burung ini sangat-Meru Betiri-banget. Semakin terancam di alam liar juga iya. So? Masalahnya apa? Hanya satu sebenarnya... saya tidak pernah dapat fotonya, hahaha. Dari pengakuan orang-orang yang telah lama di sini pun, sangat jarang untuk dapat melihat burung ini. Melihat saja susah, apalagi memotret. Pas wes... 

Rangkong Badak (Buceros rhinoceros)

   Bentuk pengejawantahan kekayaan keanekaragaman hutan lebat nan perawan di Meru Betiri. Kenapa? Sarangnya saja di hutan-hutan primer yang paling primer, dibuat di dalam kayu-kayu ukuran raksasa yang seakan tak mungkin kita lihat lagi di pulau sepadat Jawa. Apalagi julukannya : The forest farmer, membuatnya sangat identik dengan pengabadian hutan rimba di Meru Betiri. Saya rasa, isu bahwa Meru Betiri menjadi basis keanekaragaman hayati, alias Home of biodiversity, cukup terwakili.. Lalu bagaimana dengan perjumpaannya? Tenang, saya harap njenengan para tetangga Meru Betiri tidak minder. Januari-Februari saya dan Mas Puji menjadi saksi sepasang Rangkong Badak yang sering melintas di Pringtali, resort Bandealit. Lalu, kemudian, terdapat temuan seekor Rangkong Badak yang sepertinya masih muda, seorang diri (maka, kami duga itu bukan dari pasangan yang selalu kami temui). Berlanjut ketika saya pindah di Sarongan, nampak seekor Rangkong Badak ditemukan. Lalu di Sukamade, mulai dari seekor, lalu juga sepasang yang seringkali nampak di sana. Nah, silahkan anda mengandai-andai jumlahnya. Memang, waktu bertemu sampai sekarang tidak dapat 'dijanjikan'. Ini pun karena jarak jelajahnya yang luas. Namun, yakinlah, bahwa burung raksasa ini masih mudah dijumpai di Meru Betiri, karena hampir setiap hari suaranya dapat didengar. Sangar kan?

Elang-laut Perut-putih (Haliaeetus leucogaster) - ELPP

   Baiklah, dari namanya, kandidat terakhir ini menggambarkan hamparan laut. Sangat pas sebenarnya untuk taman nasional dengan basis kelautan dan kepulauan. Namun, kenapa burung ini diajukan? Tentu saja karena kita bisa membuat 'janji bertemu' untuk melihatnya. Setiap pukul 5 hingga 6.30 pagi, burung ini selalu stay di pantai Sukamade. Adapun jika tidak hadir, tentulah dia sedang sakit atau ada cuti. Kenapa demikian? Setiap pagi, tamu atau ranger selalu melepaskan tukik (anak penyu) ke laut sebagai atraksi wisata. Nah, tukik-tukik inilah yang menjadi bahan sarapan bagi 2 atau 3 ekor ELPP. Gayanya yang suka melakukan akrobatik di udara rasanya sangat pantas menjadi tujuan objek wisata. Apalagi hubungannya, menurut ilmu cocokilogi saya, adalah sebagi predator tukik-> Penyu -> identik Meru Betiri, cukup masuk akal kan?

Anda mau vote?
 

Minggu, 02 Maret 2014

Bandealit di Pagi Hari

    Saya suka Bandealit ketika pagi hari. Rutinitas yang saya jalani selain melarikan diri sejenak dari tugas masak, adalah jalan-jalan ke arah Feeding Ground Pringtali. Sungguh, pemandangan kabut tipis yang membalut hutan-hutan yang berbatasan langsung dengan perkebunan sangat menawan. Ditambah lagi sinar matahari yang berlambat-lambat mengusir kabut pagi (lho, kok jadi berpuisi?)


   Pengin sekali menggambarkan ke sampeyan gambaran landscape hutan dataran rendah ini, tapi memang sedang ingin motret dari sisi portrait. Maksud hati ingin menunjukkan tingginya pepohonan yang menghias bukit-bukit.  Jian mirip dengan pulau-pulau luar jawa yang masih memiliki hutan perawan. Seringkali malah ditambah efek suara Lutung Jawa yang saling menyahut, atau terkadang kepak sayap Julang Emas yang melintasi sela-sela pepohonan tnggi.


   Nah, kalau ini adalah gubuk yang ditinggali oleh petani jagung untuk menunggu lahannya. Silahkan sampeyan bayangkan bahwa Bandealit ada dalam dua sisi : perkebunan dan area konservasi. 


   Saya  merasa keplek alias tidak pinter moto ketika melihat foto ini (memang sebenarnya ndak bisa, hahaha). Serius, bahwa suasana sebenarnya jauh lebih indah. Cahaya matahari sedang menembus pepohonan kelapa. Bukit-bukit masih beruap alias anget-anget, diselimuti kabut.  Sedangkan diantara bunga kelapa saling bersahutan jenis-jenis Pijantung. Nggumun...




    Kalau yang ini dipotret pas perjalanan pulang. Lewat pos Tupak Gesing, jalanan sudah banyak yang mulus. Konsentrasi akhirnya bisa dipecah antara lihat jalan dan pemandangan, hehe.. Mungkin cukup terlambat bila dikatakan masih pagi, tapi memang kondisi Meru Betiri yang kebanyakan tertutup vegetasi rapat membuat sinar matahari sulit menembus dasarnya. Efek lain adalah sampeyan harus banyak menengadahkan kepala jika melakukan pengamatan burung, karena mereka malah banyak bermain-main di tajuk pohon. weh-weh... 

yah, memang saya tidak pandai memotret... Tapi percayalah, Tuhan menggambar Meru Betiri dengan luaaarrr biasaaaa... siap dikagumi dan dieksplorrr...

Kamis, 20 Februari 2014

Mumpung sek iso... (iseng-iseng berhadiah)

Jedharr... 

   Guntur mengiringi bacaan rekapitulasi data bulan februari ini untuk wilayah Bandealit dan sekitarnya... dan kita sambut... 104 jenis burung teridentifikasi... (plok-plok-plok). Lalu, datanya mau dijadikan apa? Saya rasa, sekarang Bandealit punya data yang tanggung-tanggung gimana gitu... Mau dibilang sedikit ya tidak, mau dibilang banyak kok jelas-jelas sepertinya banyak jenis yang masih terlewat. Saya sih kepikiran untuk sebuah output yang lebih umum, lebih menyeluruh, karena Meru Betiri ini tidak boleh dipecah-pecah (iki jareku lo..), jadi untuk output itu harus bersabar menunggu waktu yang cukup lama dan harus menjelajah slempitan-kelek Meru Betiri. Mungkin, karena itu juga, saya ingin mengejar waktu untuk segera bergeser ke seksi lain, mengejar bocoran spesies yang mungkin di Bandealit sulit, tapi di lain tempat mudah ditemukan, atau bahkan spesies-spesies mengejutkan lain.
   Dan lagi-lagi kami bingung. Ada wacana membuat peta burung untuk skala kecil (Bandealit), atau malah buku. Untuk yang terakhir ini jelas-jelas angel. Jadilah saya menyarankan untuk membuat semacam information-site bagi jenis-jenis burung yang ada Bandealit, kalau seandainya benar-benar segera pengin kelihatan bahwa orang Bandealit itu punya burung... :D 
   Di dalamnya, terpikirkan-lah akan sebuah potongan vegetasi yang pernah dibuat oleh sebuah taman nasional (lupa namanya, yang jelas ada di Kalimantan). Mereka buat itu untuk information-site via online mungkin, hasilnya bagus dan representatif menurut saya (sayangnya dulu tidak sempat saya download). Sukar menjelaskan ke teman-teman, sampai saya akhirnya membuatnya terlebih dahulu (karena tentu saja ndak ada contohnya). Lumayan, cakupannya tidak terlalu luas, namun cukup bersifat informatif. Berikut adalah penampakan dari maksud saya...


   Foto-foto burung diletakkan di posisi penggunaan habitat mereka. Terpilih 3 jenis habitat yang dirasa dapat mewakili kondisi vegetasi Bandealit secara umum. Semua foto diambil di Bandealit (kecuali ada 1 pinjaman dari resort sebelah, karena burungnya gampang dilihat, madih susah difoto, hehe), dan urun saham masih tim PEH rame-rame. Selain itu, masih ada stok yang disimpan untuk nanti. Lambat laun, terpikir untuk melengkapi ini dengan lokasi (jelassss, banyak yang belum kenal Bandealit rasanya), teks pembuka, dan catatan temuan burung. So, di baliknya diberilah semacam itu... jadi total malah nantinya semacam leaflet, dan ini jadi bagian depannya:


   Nah, seperti inilah tampangnya. Masalah teks dan redaksional, masih dikorek-korek. Hanya saya masih bingung untuk mencari solusi agar daftar temuan bisa dibaca tanpa lup (hehe).. terlalu kecil.


Jumat, 24 Januari 2014

Sebuah catatan kecil di 24 Januari

   Mengawali hari ini dengan birding? mungkin membuat saya dan Nova, anak PKL itu, cukup berpikir ulang. Setelah Bandealit dihajar badai hampir 10 jam lamanya kemarin, membuat saya masih asyik mingsreg dalam balutan sleeping bag yang entah milik siapa itu. Pemandangan di luar tetap suram, mendung, dan daun-daun yang masih hijau berantakan di halaman wanagriya milik resort itu. Sisa-sisa banjir di jalanan masih terlihat dengan jelas. Rencana kami untuk mengunjungi pertigaan Teluk Meru rasanya maklum bila dibatalkan. Kami dengar, jalanan yang harus dilalu dengan motor itu sekarang lebih mirip dengan Kali Pringtali versi mini, dengan dasar lumpur yang sangat licin. Kami hanya termangu memikirkan tujuan kami di hari yang mendung ini. 

"Bagaimana kalau observasi Elang Jawa lagi?" tanya saya dengan penuh harap akan makin membaiknya cuaca hari ini
"Boleh" jawabnya, yang seperti biasa, mung trimo manut, hehehe..

   Baiklah, kami segera sarapan seadanya, bersiap-siap, dan segera berangkat. Jalanan yang biasanya baik-baik saja di hari normal, kini benar-benar menjadi sungai kecil dengan lubuk-lubuknya yang mini itu. Tak disangka, hasil badai kemarin berpengaruh hingga pagi hari ini. Jalanan menjadi tergerus oleh air dan menjadi grand canyon ala Bandealit. Kalau jalan saja menjadi kali, bagaimana 3 kali sebenarnya yang harus kami lewati nanti? Asuuuhay... 

   Perjalanan yang biasanya ditempuh selama 45 menit, sekarang harus benar-benar molor. Jalan menyusuri kebun kelapa yang berumput tinggi itu sekarang mirip paya-paya. Kaki saya yang terkenal mulus ini terancam terkena kutu air, alias rangen! Sungguh terwelu sekali kalau itu terjadi. Dengan cukup susah payah menerobos jalanan itu, kami sampai di kali pertama. Kali yang biasanya kering-kerontang jika tak ada hujan itu, sekarang menjadi gulungan air dengan level betis. Baiklah, rintangan ini kami lewati, dan kami berlanjut ke kali kedua. Hehe, kalau yang ini sudah level paha.. kami berdua hanya berpandangan mesra..  ciut sudah nyali kami. Bukannya kami malas basah-basahan di pagi itu. Hanya saja, kami memakai satu-satunya pakaian kering di minggu itu, juga di badan kami menempel beberapa peralatan elektronik yang cukup mahal (apalagi kalau rusak, muaaahal puoool!)

Nova sedang menerobos rumput
   Jadilah kami dengan muka ditekuk benar-benar memutuskan balik kanan. Mirip sekali dengan petinju yang melemparkan handuk putih : kalah setelah menerima pukulan hook ... 

   Namun, keberuntungan masih bersinar di hari yang suram ini. Dalam jarak kurang dari 20 meter, saya melihat dedaunan yang aneh. Pohon kering kerontang itu seperti ditumbuhi daun-daun warna merah menyala. Lhah, ternyata begitu saya makin mendekat, jelas sekali itu adalah seekor burung.... bubut! Amigoos, burung yang selalu ndlusup ke dalam semak begitu melihat manusia ini, sekarang dengan ayem-nya berjemur di pucuk kayu kering. Tak menyia-nyiakan momen ini, saya ambil beberapa jepretan sembari melangkah pelan. Puas menelanjangi bubut ini, saya melirik Nova di belakang saya. Beh, bocah ini malah memotret rumpun bambu di sebelah kiri, entah apa yang difotonya. Tangan kanan saya memberi isyarat di belakang pantat, sembari setengah berbisik dan melotot. Mungkin nampak terlihat: "sini, aku punya ekor, hahahaha", tapi maksud saya: " sini, ada bubut di depan!".  Akhirnya dia sadar, dan juga turut memperkosa si bubut ini. Cukup puas, kami bergerak maju, dan mak berr... burung berukuran besar ini kembali ke habitatnya di balik gelapnya rumpun bambu. Saya tersenyum puas. Ini adalah perjumpaan terlama saya dengan burung semak ini, mungkin juga dengan behaviour-nya yang paling ayem.Mungkin sama seperti kami, ia menjemur pakaian satu-satunya setelah hujan badai tropis semalam. Yah, tentunya sebelum dua pengamat burung amatiran ini mengusiknya.. 

Bubut Besar (Centopus sinensis)



Thanks God.. :)

Jumat, 10 Januari 2014

Menthelengi Raptor di udara : Kami butuh dukun hujan!

   Mungkin, bisa saya simpulkan minggu ini benar-benar payah untuk kami. Hasil kegiatan yang kami gadang-gadang bisa dapat informasi tambahan data kehati di slempitan-slempitan SPTN II Ambulu, rupanya, belum berbuah manis. Mulai dari Andongrejo, Sanen, dan Wonoasri, kebanyakan data hanya melonjak pada satu jenis saja. Hm, sebentar, bukan artinya tidak bersyukur, tapi memang demikian keadaanya. Menyisir tepian-tepian hutan, batasan-batasan kawasan yang terbuka, sampai bukit-bukit glenak-glenuk hanya untuk mencari burung pemangsa. Full sesuai dengan pengalaman, informasi setempat dan literatur yang pernah dibaca. Jangankan berharap untuk menemui jenis-jenis baru, bahkan jenis lama saja yang pernah teramati di lokasi yang sama, malah nihil-hil-hil. Apalagi kami kebanyakan hanya bertemu satu jenis yang sama : Elang-ular bido. Wooh, jian manuk lonthe tenan. Tiap ganti lokasi, hanya burung ini saja yang muncul, sambil berbuyi kliiik-kliik seperti anak ayam terjepit. Kalau seandainya terbang dekat gitu wes tak bandhem watu tenan.
   Baiklah, mungkin dapat saya simpulkan bahwa memang kita yang salah pilih hari. Namanya saja Januari, tentunya hujan sehari-hari. Apalagi waktunya cukup sedikit. Memang, kegiatan seperti ini butuh waktu yang cukup lama rasanya, terutama karena para pelakunya sendiri masih belum pernah melaksanakannya di at the place, alias first time broo... Ya sudahlah, apapun, yang jelas kami sudah memetakan lokasi-lokasi strategis untuk pengamatan raptor. Dengan ini, suatu saat kami bisa kembali untuk pengamatan, dan semoga dengan hasil berpredikat : memuaskan.

Menjaga api agar tidak padam

   Saya pikir, kegiatan-kegiatan PEH tidak ada yang tidak mulia. Selain duit yang harus dicukup-cukupkan, para pelakunya haruslah seorang yang multitalent : pengamanan, penyuluhan, dan tentu saja pengembangan informasi kawasan. Yah, semuanya tetap harus disambi-sambi dengan kerjaan lain dan juga diomeli. Apalagi jika kawasan sedang tersangkut kasus 'panas'. Bayangkan saja, dengan keadaan yang seperti itu, masih ditambah dengan kegiatan yang cukup berat, plus hasilnya kurang... rasanya paling yo mangkel juga. Tapi karena seperti kata saya :'mulia', akhirnya mereka tetap bergerak juga. Sudah rejekinya mereka kali ya...  (untunglah saya bukan PEH, hehe :D )
   Namun, nyatanya para punggawa ini memang bisa menikmati hidup di hutan. Ledekan demi guyonan seringkali saling terlontar... lha apalagi yang bisa ditanggap kalau tidak teman sendiri? Saya sendiri kagum pada Mas Afiyan, sang juragan dari Sukamade. Mungkin beliau bisa dijuluki sebagai dukun hujan yang tokcer. Berkat doa-doanya, hujan menyingkir dari perbukitan Ketangi-pothol, pergi ke laut selatan.  Selain itu, beliau juga merupakan tukang banyol yang top. Saya masih kepingkel-pingkel kalau ia berkelakar tentang kode-kode dalam hubungan suami-istri. Dan.. kalau sudah masuk bab ini, saya yang masih bujang ini mesthi enthek...
   Apapun yang dilakukan lah, yang jelas bisa menikmati hidup itu benar-benar perlu. Ibarat api, masing-masing orang sudah disebuli dan dihujani oleh berbagai tekanan yang ada di sekitarnya. Hutan mungkin bisa menjadi tangkupan tangan yang menghalangi angin badai tekanan itu. Dari sana, kita menjadi dekat dengan apa sebenarnya tujuan pekerjaan kita. Duduk kita di batu, tangan kita menyentuh lumut, kaki kita menjejak rumput yang segar, dan mata kita tak henti-hentinya memandang karya Sang Mahakuasa. Memang mulut kita terkadang mangap-mangap tidak jelas, tapi di situlah kita jujur apa adanya, dan menyadari akan betapa tidak mampunya kita tanpa Tuhan. Sebuah hutan yang oleh Sang Khalik menjadi halaman rumah kita, siap dijelajahi lagi, demi menyeruak misteri-misteri di dalamnya. Jangan khawatir kawan akan jaring-jaring ruwetnya birokrasi negeri ini. Mereka hanya manusia yang sama dengan kita. Beliau melihat semangat kita, dan mari kita jaga agar jangan padam...


Mas Afiyan : juragan sukamade, dukun hujan, dan konsultan hubungan suami-istri terpercaya

Mas Alif, bos geng PEH dari balai

Mas Puji, buddy saya di Bandealit



Sedang in action mendokumentasikan burung di jalanan Andong

Elang-ular Bido (Spilornis cheela).. akh.. kau memang ada dimana-

Minggu, 08 Desember 2013

Balada Sandal Jepit Bandealit: Gusti kuwi Maha Pirsa!

   Begitu menyadari Elang Jawa ditemukan di Bukit Sodung, area kekuasaan Desa Bandealit, Kepatihan Ambulu, Kerajaan Meru Betiri (hehe), maka sebenarnya saya tidak tentram lagi. Lha, saya penasaran dengan statusnya : apakah hanya mampir lewat (pengembara), ataukah memang ia menetap? Sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab. Yap, bisa jadi keberuntungan peserta GFK itu menjadi saksi tentang seekor elang endemik yang... cuman mampir, hehe.. 
   Demi menjawab rasa penasaran saya, akhirnya tanggal 2 Desember saya niati untuk sekali lagi mampir di Resort Bandealit tercinta. Resort yang sekarang digawangi oleh Pak Dedi ini memang cukup jauh dari jangkauan. Motor Supra X milik emak saya harus terengah-engah ketika menaiki jalanan 'mulus' ala Meru Betiri. Wih... rasanya, pantat seperti dipukul-pukul oleh jok motor yang memanas. 
   Sesampainya di sana, sore hari baru saya bisa bertemu dengan Pak Dedi secara langsung. Namun sayang, lelah karena patroli seharian, perjalanan panjang, akhirnya beliau harus beristirahat semalaman, padahal saya sangat ingin ditemani Pak Dedi hunting foto herpet, mumpung ketemu beliau yang notabene pawang ular :D .
   Paginya, saya langsung menuju jalanan savana yang terbuka. Konon, lokasi ini banyak mengandung temuan burung-burung yang enak dilihat. Lumayan untuk pembahruan database, hehe. Siang dikit, saya kemudian berlanjut ke arah track goa Jepang. Barangkali ada sesuatu yang bisa dilihat meskipun agak siang. Lalu Pak Dedi? beliau bertukar shift dengan Mas Puji. Yaah, begitulah nasib orang-orang ini. Dinas jauh dari keluarga, tanpa komunikasi, di hutan lagi, jadi harus bertukar shift tiap 4 hari sekali. ckck... Dengan menculik Mas Puji inilah  saya kemudian jalan-jalan.. mbuh kemanaa saja.. Mulai track goa jepang, pantai, hingga sungai-sungai nyari kodok.. haha. Pindahan dari Bunaken ini memang hobi jalan-jalan katanya. Ya baguslah untuk kesehatan, daripada kena diabetes karena nyelam terus? :D
   Si burung target sendiri sebenarnya sudah terlihat dari hari pertama. Namun, bentuknya lebih mirip sebagai kotoran lensa dibandingkan elang, hahaha. Artinya, teramat sangat jauh untuk diamati.Setelah itu, entah kemana ia pergi. Seakan-akan bersembunyi di saat siang hingga sore hari...  Bukan hanya itu, secara beruntun saya seperti ketiban sial yang menyesakkan. Lensa saya rusak! Macet tanpa bisa zoom out di hari kedua. Entah ada yang mengganjal, mungkin kemasukan kecoa (maklum, kamar saya banyak kecoa). Saya langsung berpikir : "berapa lama?" dan "modhar kooon, kere tenaan aku!". Dan bukan hanya itu sodara-sodara sekalian : sandal gunung saya yang biasanya saya parkir rapi di depan kantor resort, yang menemani saya tanpa cacat selama 2,5 tahun... hilang! Yah, okelaah, akhirnya saya pakai sandal jepit karet saja... Belum selesai kejutan, masih nambah lagi kabar yang kurang mengenakkan : hasil ujian cpns saya sudah keluar, daan... saya tidak masuk daftar panggilan TKB (tes tahap berikutnya). Pupus sudah harapan untuk mandiri, dan juga melunasi hutang akibat kerugian saya ini..... It's completly bad news.

Selalu Indah Pada Waktunya
   Sandal tak akan kembali lagi. Lensa harus diopname dengan uang tebusan yang jumlahnya tidak sedikit bagi saya. Elang Jawa... mungkin hanya keberuntungan peserta GFK yang membuatnya terlihat di area Bukit Sodung. Mungkin ia hanya mampir lewat saja. dan CPNS? Ah, kecewa tak akan terobati dengan menyesali apa yang tidak bisa kita cegah, ya toh? 
   Nah, akhirnya, suatu saat Tuhan mulai menghibur saya dengan temuan mengejutkan di hari terakhir sebelum saya pulang. Di suatu bukit, secara tidak sengaja saya melihat gerakan raptor melalui kamera. Ketika saya ambil fotonya, sangat mirip dengan Elang Jawa. Jumlahnya tidak satu, melainkan dua ekor sekaligus! Malah yang seekor nampak seperti individu muda. Whoow, air muka saya begitu gembira. Ketika selesai berdiskusi dengan Mas Puji, saya langsung menyalaminya. Tidak disangka, buah  kerja keras selama 4 hari itu terbayar sudah. Bahkan temuan ini dikuatkan oleh rekan-rekan yang meneliti elang endemik ini lebih jauh... syukurlaah.. Belum lagi bonus dari Tuhan, yaitu temuan Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) di area sekitar lokasi temuan Elang Jawa. Burung yang saya pikir hanya mitos di Bandealit ini ternyata muncul, bahkan dengan pasangannya. Whoow... benar-benar perjumpaan pertama bagi saya untuk burung raksasa ini. Siapa sangka dua penemuan penting ini terjadi dalam hitungan jam sebelum saya beranjak pulang? Selain itu, banyak foto spesies yang mulai terbaharui lagi setelah trip saya ke Bandealit ini. Kabar bagusnya yang lain adalah Balai menerima banyak sekali alat dokumentasi. Artinya, temuan-temuan yang selama ini tanpa terdokumentasi, sekarang akan lebih reliable dengan alat dokumentasi yang maaknyuss...  :D

Jika saya boleh berbagi kepada sodara-sodara sekalian, bahwa Tuhan itu sangat baik, adil, tur Maha-Sayang kepada kita. Ora bakal ngapusi seperti calon-calon anggota legislatif yang fotonya mulai memenuhi perempatan jalan, dan selalu up-to date tentang kabar kita, alias Maha-Pirsa. Sory bro, Beliau beda dari tokoh-tokoh politik yang notabene penuh dengan kekhilafan. Pokoke percaya saja. Beliau tidak akan pernah menutup telinga, walaupun terhadap keinginan atau isak tangis yang kita bisikkan di dalam hati. Daaan, sekali lagi, Tuhan juga akan mengingatnya.. Artinya ketika kita tidak diberi, mungkin ada saat dan jumlah takaran yang tepat untuk itu diberikan. Mangkane, hayok podo semangat, dan jangan putus asa :D

Si Supri dan jalanan Aduhay di depan Blok Krecek
Target utama : Elang Jawa dan anaknya! (lokasi masih dirahasiakan)
Individu muda Elang Jawa
Si Rangkong Badak melintas dengan berisiknya. But, nice to see you, guys.. :)
Ah, daripada ga dishare, hehe : Kekep Babi (Artamus leucorynchus)

Si Cangak Merah (Ardea purpurea) yang keep silent

Kamis, 05 Desember 2013

Gelar Foto Konservasi : Yang penting blusak-blusuk! (Part II-end)

   Alkisah ketika acara ini memasuki waktunya, terkumpulah 31 orang yang bersiap dengan gear masing-masing untuk hunting foto. Meskipun kawan-kawan paling jauh sudah datang semalam sebelumnya, tapi nyatanya mereka masih punya balung enom! Terbukti ketika diuyel-uyel  di truk pengangkut sapi, mereka masih happy-happy. Bahkan, para bioder yang juga spesialis pencuri buah ini tak henti-hentinya memanen semua buah yang mereka temui di pinggir jalan, mulai pencit, jambu, dan rambutan. Untung saja mereka tidak mengangkut kelapa, jagung, tebu, atau durian. Khayal memang menurut saya. Tapi saat saya konfirmasi kepada salah seorang peserta yang saya rahasiakan namanya, ia hanya menjawab : "Kadohan mas, ora sempat njupuk..." Wih, wedan tenan... tentu saja saya menggumam sambil mengunyah pencit  :D
   Saat truk memasuki kawasan Meru Betiri, satu kesan yang saya tangkap adalah mereka tidak punya pantat cadangan karena perjalanan ini membuat pantat menjadi luka dalam, tergores-gores bak truk. Yah, mungkin dengan ini mereka sadar bahwa salah satu 'keunikan' Meru Betiri adalah akses masuknya yang sedikit 'mahal'. Yapp, terbatas dengan jenis kendaraan tahan banting, jaraknya yang jauh, dan juga biaya yang tidak sedikit membuatnya nampak terisolir dari dunia luar. 
   Masuk gapura Bandealit, mata saya ngelayap-layap tidak jelas. Sebenarnya bukan saya saja, tapi kawan-kawan yang lain sedari masuk kawasan sudah terlebih dahulu jelalatan, hehehe.. Namun, jelalatan saya berbuah manis, nampak bunga-bunga kuning ranum mencuat dari batang pohon jati yang tumbuh tidak jauh dari kantor Resort Bandealit. Itu pasti anggrek.
   Nah, beruntung sekali ada seorang 'yang-tahu-banyak' tentang anggrek di acara ini. Sebut saja dia Lutfian Nazar. Orang yang mukanya mirip dengan Eyang Subur ini sedang mengoleksi foto-foto anggrek di Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Dan seperti dugaan saya, tanpa cang-cing-cong setelah melepas ranselnya, ia langsung mengikuti saya untuk ditunjukkan lokasi anggrek tadi. Makin lewat gerombolan kawan lain, eh, makin besar jumlah orang yang ingin moto anggrek.Padahal, tidak ada kategori foto flora di lomba ini.
   Anggrek-anggrek itu tumbuh cukup jauh dari jangkauan makro. Namun, akhirnya, salah seorang peserta malah menemukan mereka tumbuh di kayu roboh yang cukup mudah dipanjat. Sayangnya, ia tepat di atas sarang semut. Hanya 3 orang yang sanggup menahan rasa gatal akibat digigit semut. Bahkan, salah seorang peserta yang berinisial 'BH' alias ' Bayu Hendra', mengaku digigit semut hingga ke dalam celana dalamnya. hahaha, can you imagine that? modharo kon!

Banyak Mata, Banyak Rejeki
   Dalam hari-hari yang penuh bahagia itu, rupanya dalam kamera beberapa peserta terselip sebuah foto menarik. Apalagi kalau bukan si mitos Burung Pancasila : Elang Jawa! Awalnya saya tidak yakin ketika salah satu guide yang menemani mereka, Mas Alif, bercerita kalau segerombolan tukang poto mendapatkan foto yang disinyalir sebagai Elang Jawa. Baru setelah bertemu di wisma, ternyata beberapa peserta, yaitu Mas Heru, juga Mas Eko, berhasil menjepretnya. Dan... setelah didiskusikan, akhirnya deal... itu adalah seekor Elang Jawa. Suatu temuan yang mengagetkan karena selama ini belum pernah ada kabar maupun catatan tentang elang endemik jawa ini.
   Bagi saya, ini adalah sebuah tamparan. Yup, jelas, memang jika kita bicara keterbatasan, tentu tak kan ada habisnya. Apalagi saya dan kawan-kawan baru sebulan lalu mengadakan raptor watching di Sukamade dengan hasil yang kurang menggembirakan. Lagipula, kawan-kawan PEH nyatanya selalu mengadakan monitoring secara berkala. Lha mereka ini (peserta GFK) datang dalam waktu hanya sehari, lalu berhasil menjepret... Elang Jawa lagi. Sungguh terwelu, hehehe...
   Tapi apapun lah, memang keberuntungan itu datangnya dari Tuhan semata. Beliau sudah mengkode elang ini untuk muncul di area Bukit Sodung, mungkin supaya kami terbuka mata dan hatinya, bahwa tiap seluk TNMB harus kami kenal dengan baik. Yap, dengan demikian, Beliau mengisyaratkan agar terus menjaga keberadaan berbagai jenis hewan dan tanaman itu, terkadang harus mengabaikan harapan akan dana yang menetes dari langit-langit birokrasi. Niscaya, tanaman, hewan, dan segala makhluk di dalam hutan akan mendoakan para PEH, polhut, penyuluh, staff, hingga tukang sapu agar mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang berkecukupan jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan hati yang gembira :)

Terima Kasih peserta GFK sekalian... terima kasih sudah sudi mampir di Meru Betiri :)
Foto bareng sebelumberangkat ke Bandealit
Tidak masuk kategori penjurian? Cuek sajaaa... yang penting blusak-blusuk.
 Acara hunting foto malam
Menjarah hasil pekarangan warga :D
Peserta Gelar Foto Konservasi dalam formasi lengkap

Sabtu, 30 November 2013

Gelar Foto Konservasi : The Turning Point of Meru Betiri (part I)

    Suatu saat di hari Jumat, tidak biasanya saya mengunjungi 'rumah' Balai TNMB di jl. Sriwijaya, Jember itu. Rencananya, saya hanya ingin mengecek data-data lawas tentang penelitian-penelitan satwa di TNMB. Tentu saja jauh dari tujuan 'pintar' yang mungkin anda pikirkan sebelumnya, hehehe... saya cuma... bosan di rumah dan menghindari piket mbersihkan pot bunga yang sakabreg di rumah, huahaha... 
Kebetulan orang kenalan saya yang baik hati, sekaligus menjabat sebagai kooerdinator PEH, ada di tempat. Namanya Mas Alif. Beliau ini saya tunggu di ruangannya kurang lebih 15 menit. Entah kemana, tahu-tahu ia njedul dengan sebuah poster berjudulkan "Gelar Foto Konservasi". 
"Nhaaah... iki koreksien sek" katanya,
   Sambil mengesampingkan tujuan awal, saya kemudian memperhatikan bentuk acara, tanggal, judul, lalu semakin tertarik ketika melihat besaran nominal yang tertera: Rp. 1.700.000 !!! itu hanya untuk juara 1, sedangkan juara 2 dan 3, masih berkisar dengan huruf "juta". Wheladah, aku yoo gelem iki...
Saya sama sekali tidak berminat untuk menjadi bagian dalam panita yang ngurusi barang-barang seperti ini. Wes katog aku... gah, Namun yang menarik, adalah saya berpikir, agar jangan sampai momentum langka ini hilang begitu saja. Apalagi nilai-nilai rupiah yang telah saya sebutkan menguap.. whuzzz.. Langsung saja dengan spontan, saya menyatakan untuk membantu mempublikasikan lomba yang dibatasi untuk 30 orang ini, meskipun bekerja di luar panitia tentunya. 
   Yang saya pikirkan pertama adalah nama Meru Betiri sebagai Taman Nasional terluas di Jatim ini. Hampir semua dari orang mbolang yang pernah saya kenal tidak tahu tentang nama itu. Bahkan, hanya sedikit yang mengetahui dan mengunjungi tempat tersohor seperti Teluk Ijo dan Sukamade. Well-geduwelll, ini benar-benar kelewatan. Padahal nama-nama itu begitu terkenal di antara turis mancanegara. Jika bule-bule itu banyak mengunjungi Plengkung di TN Alas Purwo pada musing-musim ombak surfing, maka hampir pada semua musim mereka wajib hukumnya mampir ke Sukamade. Bahkan, puluhan hotel yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan sekitarnya, mengagendakan 'mampir massal' ke Sukamade, yang notabene merupakan andalan wisata Meru Betiri. Jadi, kalau kawan Endonesah yang terdiri dari pengamat burung, reptil, bioder, dan tukang ilmu kere lainnya malah belum mampir? itu keterlaluan! Harus dirubah... 
   Kembali lagi ke dalam acara lomba tersebut, saya melirik acara ini sebagai momentum yang benar-benar baik. Meskipun dikategorikan untuk umum, namun saya lebih mengabarkannya kepada bioder-bioder muda yang selama ini mempunyai jiwa petualang yang haus akan ilmu. Selebihnya tentu terhadap komunitas-komunitas fotografi wildlife (cenderung bukan indoor). Saya kenal betul watak mereka meskipun sebagian baru pertama kali saya lihat wajahnya pada acara ini (temen pesbuk bro, hehe). Artinya, mereka mengenal apa yang mereka lihat dan apa yang mereka foto di lapangan, jadi terlepas dari esensi utama fotografi yang mengutamakan keindahan objek di LCD kamera, mereka juga dapat membantu Meru Betiri untuk berburu data Kekayaan Hayati (Kehati) yang selama ini hampa. Yapp, mau tidak mau, saya dan kawan-kawan harus mengakui, selama ini SDM menjadi permasalahan utama dalam pengumpulan data Kehati di lapangan. Please, i won't talk about plants, just animal. Itu saja ketika dipilah-pilah, digabung dengan data pengamatan pribadi, dan catatan-catatan lama yang reliable, akhirnya membuahkan angka-angka yang jauh dari harapan. 
   Belajar dari masa lalu yang kelam ini, sekali lagi saya membulatkan tekad untuk mengundang para bioder.fotografer alam, dan pecinta alam (yang beneran), yang haus akan ilmu itu untuk datang. Kesan-kesan mereka nantinya akan saya tuliskan di bab berikutnya. Sebagai penutup, saya katakan sekali lagi bahwa ini adalah the turning point, sebuah titik balik dari diamnya Taman Nasional Meru Betiri ini. Mulai saat ini, data-data yang reliable akan disusun untuk membangun nama Meru Betiri sebagai empunya database Kehati terlengkap. Kita harus yakin itu!