the biodoversity

the biodoversity
Tampilkan postingan dengan label Serius Dikit aaaah.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serius Dikit aaaah.... Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Mei 2014

Mencicipi gaya Jepang ala film My Boss My Hero

   

   Saya pecinta film, tapi rasanya bukan seorang yang 'gila' film dengan tayangan episode, apalagi dari negara-negara asia timur. Pertama kali, kawan kuliah saya bernama Rahmi mengenalkan film ini kepada saya di ruang baca biologi. Heran melihat manusia yang satu ini masang headset dan nyekikik sendiri. Karena penasaran, akhirnya saya pun ikut nonton. Eh... ternyata ga puas, akhirnya bergiga-giga memori laptop saya digunakan untuk menyimpan film dengan 10 episode ini. 

   First, tokoh utamanya bernama Sakaki Makio. Sebenarnya, ia adalah seorang bos muda Yakuza. Di era kepemimpinan ayahnya (yang merupakan generasi ke 2), ia melakukan kesalahan yang sanat koplak! Dengan gayanya, mulai bertransaksi dengan mafia hongkong. Ayahnya memberi pesan agar tawaran tidak kurang dari 27 USD, tetapi dengan koplaknya ia masih bilang 'NO' ketika mafia itu akan membayar 35 USD. Akhirnya, perkelahian itu terjadi dan hilanglah kesempatan transaksi besar itu. Ayahnya yang marah besar akhirnya insyaf dengan kebodohan anaknya, sehingga ia memasukkan Makio ke salah satu sekolah swasta (menyamar sebagai murid pindahan kelas 3). Tantangannya adalah : lulus, atau tidak akan menjadi bos generasi ke-3! Dan cerita-cerita yang membuat sampeyan ngakak, terharu, dan ketagihan akan dimulai dari sini.
Sakaki Makio, 27 tahun.. koplak, namun memiliki semangat tinggi
   Bagian yang menarik adalah tekad Makio untuk belajar dan lulus bersama-sama yang lain. Diceritakan bahwa Makio adalah orang yang... tidak bisa berpikir lebih dari 90 detik, namun sebaliknya, ia sangat suka berkelahi. Oleh karenanya, pelajaran-pelajaran SMA menjadi momok besar bagi penguasa no 2 Yakuza Kantou Sharp Fang ini. Apalagi dia tidak mungkin melakukan hal-hal curang yang bisa membuka kedoknya sendiri. Sebenarnya sih, Makio menganggap sekolah adalah omong kosong belaka. Namun, kompetisi untuk mendapatkan Puding Agnes yang digilai Makio dan sebagian besar siswa, membuatnya menciptakan alat terbang yang membuatnya semakin mengerti akan indahnya belajar... 

   Dari film ini sampeyan juga akan melihat bahwa tiap tugas, tiap PR, tiap kegiatan sekolah di Jepang sebenarnya tidak neko-neko alias simple sekali. Bahkan, standar kelas 3 jika dibandingkan dengan di Indonesia, mungkin ketinggalan lho... Misalnya, anda disuruh membaca puisi sastra jepang bergantian, lalu mengartikannya. Perasaan ini ada di tugas SMP (atau SMA di awal?). Menggambar dan mendeskripsikan mahkluk bersel 1, atau pemecahan soal penjumlahan sudut yang sederhana. Sangat tidak 'wah' jika dibandingkan hingar-bingar Jepang yang seperti apa, ya toh? Namun, saya merenung... mungkin, di sinilah kelebihan orang jepang. yang pertama, mereka tidak mengejar kecerdasan 'formal' yang biasa dikompetisikan di sekolah-sekolah umum di Indonesia. Maksud saya, mereka tidak mengejar bab-bab, tidak mengejar ' nama sekolah sebelah', atau mengejar nilai akreditasi alias ISO bla.. bla.. bla.. yang mereka kejar adalah anak didik yang memiliki moral, pengetahuan terhadap budaya asli, dan memahami dasar-dasar ilmu itu sendiri. Sehingga, tak seorangpun mencap satu pelajaran sebagai momok yang mustahil dilalui, hanya karena ia tertinggal terlalu cepat dari kawan-kawannya.

Bu Minami, sosok berwajah dingin yang awalnya dibenci oleh Makio
   Pelajaran lain yang membuat saya manggut-manggut dari film ini adalah sikap pantang menyerah yang dimiliki oleh Makio dan orang Jepang pada umumnya. Telah kita ketahui bahwa orang Jepang terkenal ulet dan 'gila' terhadap suatu yang diinginkannya. Hal yang sebenarnya diturunkan dalam bentuk pengejawantahan semangat bushido ala samurai zaman dahulu kala. Bayangkan saja, Makio adalah orang dedhel yang hanya bisa berpikir 90 detik. Setengah tahun bersekolah di sana hanya mampu membuatnya berpikir selama.... 3 hari dan ranking 122 dari 122 siswa. Sebuah progress yang saya yakin membuat guru-guru normal akan mengucilkannya. Namun ternyata tidak. Wali Kelas yang dijuluki 'Si Wanita Besi', Bu Minami, rela memberikan murid ini privat, pelajaran tambahan di libur musim panas. Bukan hanya itu, Makio diwajibkan mengumpulkan jurnal tiap minggu. Eits... ini bukan jurnal ilmiah yang harus diresume seperti di tempat saya kuliah. Ini adalah jurnal yang berisi curhatan siswa tentang apa saja yang dilaluinya di sekolah atau di keluarga. Fungsinya adalah guru bisa mengetahui keadaan siswa dan apa yang dapat dilakukannya untuk membantu masing-masing siswa. Sangar kan? Guru juga akan membalas tulisan di jurnal itu : memberinya semangat dan nasehat. Murid di Jepang sangat diperhatikan toh? Semuanya dilakukan dengan satu semangat : mendidik siswa agar dapat melalui tahun-tahun di sekolahnya. 
    Begitu juga semangat yang sama ditunjukkan oleh Makio dan murid-murid lain. Bahkan, di tengah-tengah kegiatannya bersenang-senang atau berjudi sebagai Yakuza... ia akan ditelpon pulang oleh anak buahnya untuk mengerjakan PR atau menghafal kosakata Bhs. Inggris... whatsss... . Ada pula sebuah cerita dimana Makio sangat ngeyel untuk membentuk tim basket demi kelasnya yang tercinta, 3-A. Nah, selain kompetisi yang datang di saat menghadapi ujian kelulusan, tidak adanya orang yang mahir berolahraga membuat kelas yang dipimpinnya tidak semangat. Tim Basket yang dipimpinnya pun demikian. Namun, dengan ke-ngeyelan-nya dalam menghadapi masalah, Makio dkk menang dalam kompetisi basket tersebut dan membawa nama 3-A melambung.. 

Ada sebuah Quote yang bagus, yang dilontarkan oleh Bu Minami untuk Makio ketika ia hampir putus asa menghadapi banyaknya permasalahan:

"Hadapilah, jangan lari.. Karena jika kamu berhasil menghadapinya, maka kamu akan lebih kuat dari sebelumnya."

  Yang terakhir, (semoga anda tidak tertidur, hehe), adalah sikap ksatria yang dipertontonkan secara gamblang di film ini. Ini adalah bagian yang saya suka dari semuanya, hehe... Saya sendiri belum pernah ke jepang atau mensurvei setiap film jepang untuk mengetahuinya. Namun, sikap ksatria dan mau mengakui kesalahan menjadi tradisi yang patut dibanggakan oleh negara-negara asia timur, khususnya negeri jepang sendiri. Di film ini, ketika terjadi sebuah permasalahan besar di sekolah, Kepala Sekolah sangat merasa menjadi yang paling bertanggung jawab akan semuanya, dan... mau mengundurkan diri. Di keorganisasian Yakuza sendiri tidak ada orang yang mencari kepentingan sendiri dengan mengumpankan teman sebagai kambing hitam. Semuanya dengan kompak mengatakan : 'Maafkan, ini salah kami...' lalu dengan alasan-alasan ia melakukan itu. Tidak ada yang ngeyel. Dan anehnya, pemimpinnya juga meminta maaf kepada... anak buahnya tersebut. Akhirnya, tidak ada yang merasa benar jika suatu permasalahan terjadi, tapi dengan semangat dihadapi bersama-sama. jadi tidak ada caleg-caleg di institusi, penjilat, atau kata 'aku', tapi dihadapi secara bersama-sama. Benar-benar woow lah...

Kalau budaya kita sih... ah sudahlah.. :)

Cerita-cerita konyol terkadang dibumbui roman percintaan dan serius


Akhirnya, film ini sangat recommended bagi anda yang membutuhkan hiburan segar namun kaya akan nilai-nilai humanis edukasi negeri sakura. Anda penasaran dengan film ini? anda dapat mendownloadnya di
sini
atau di
sana

oke.. keep semangat!

Jumat, 09 Mei 2014

Jangan biarkan mimpi itu mati, bro!

Ada begitu banyak uneg-uneg yang sebenarnya ingin saya tuang ke dalam layar laptop Dell saya. Semenjak entah kapan saya menulis terakhir, rasanya jari-jemari saya malah kaku untuk menekan huruf-huruf yang tercetak pada keyboard. Yah... daripada mak-bruusssh dari belakang, mending mak-brusshh lewat layar laptop..

Hampir 6 bulan lah saya jalan-jalan di tempat yang saya sebut 'halaman rumah', alias Meru Betiri. Itu pun kalau dihitung mulai sebelum Desember, dan belum dipotong bolos ala desertir.. Termasuk singkat, atau lama? yaah, saya sendiri tidak dapat menentukan. Bagi saya, 6 bulan ini cukup berat. Memperjuangkan kecintaan saya pada tanah halaman rumah ini sampai membuat saya kebablasan lupa kalau saya adalah pekerja tanpa status (PTS). Hidupnya hanya diabadikan untuk kluthusan tiada tara, tanpa harus care dengan permasalahan gonjang-ganjing politik di dalamnya. Sangat gue banget sebenarnya, tapi tetap saja akhirnya banyak timbul masalah, entah karena sebuah statusisasi, kecurigaan berlebihan, atau hubungan keraguan masa depan dengan yang Maha Kuasa. Enam bulan yang seharusnya singkat, menjadi semacam menunggu angkot di atas pukul 10 malam, lamanya ndak ketulungan. Tiap detik yang berharga ingin sebenarnya saya habiskan dengan menikmati kicauan burung nan cantik di sana sambil menekan tombol shutter kamera. Berjalan bertelanjang kaki. Merebahkan diri diatas pasir putih. Tapi, ah... saya tak bisa membohongi diri sendiri... jantung saya tetap berdebar... deg. deg. deg.

Dari jalan-jalan itu, ada sekitar 180 lebih jenis burung yang masuk ke dalam catatan kompilasi. Sebuah angka yang fantastis. Tidak jauh dari prediksi MacKinnon dkk yang sudah menduganya, dan masih diimbuhi maksud tersirat: kemungkinan masih terdapat catatan tambahan' serta 'perlu observasi lanjutan'. Layaklah jika dikatakan demikian, karena masuk ke dalam kawasan Meru Betiri seakan ambles ke dalam perut bumi. Jangankan ke zona inti, di zona rimba sendiri masih didominasi vegetasi tanaman rapat yang membuat burung lebih mudah bersembunyi daripada dilihat. Belum lagi isi perut Meru Betiri yang lain masih belum dibongkar : kupu-kupu, capung, mamalia, reptil, segenap makroorganisme dan penghuni antah berantah yang ghoib, tersembunyi diantara curam-curamnya tebing pantai selatan, dan kegelapan lumut gunung Betiri...

Jika saya boleh jujur, diserang ketakutan, tidak pede, dan suasana politik yang tidak stabil membuat saya lemah. Pertanyaan-pertanyaan akan jalan yang sudah teguh saya ambil setahun lalu, kembali terulang. Mulai dari : bisakah? mampukah? sampai kapankah? akhirnya menggaung kembali tanpa sengaja. Sampai kepala saya kemudian tertunduk, dan menghadap kepada Tuhan. Lirih saya berkata : 'saya hanya seorang manusia kecil diantara cita-cita yang besar, Tuhan... '

Menutup bulan Mei ini, janji untuk menuntaskan observasi burung di dalam kawasan kiranya dapat ditepati. Data tersebut rencananya akan ditulis. Siapa, dan apa yang bisa dikerjakan, akan ditentukan dalam sebuah pekerjaan keroyokan. Kini mulailah proses pengumpulan dan pengelompokan foto. Sebuah jalan yang masih panjang bro...

Doakan saja agar semangat terus terjaga. Karena, meskipun pudar, janganlah mimpi kita mati!




Kamis, 20 Februari 2014

Mumpung sek iso... (iseng-iseng berhadiah)

Jedharr... 

   Guntur mengiringi bacaan rekapitulasi data bulan februari ini untuk wilayah Bandealit dan sekitarnya... dan kita sambut... 104 jenis burung teridentifikasi... (plok-plok-plok). Lalu, datanya mau dijadikan apa? Saya rasa, sekarang Bandealit punya data yang tanggung-tanggung gimana gitu... Mau dibilang sedikit ya tidak, mau dibilang banyak kok jelas-jelas sepertinya banyak jenis yang masih terlewat. Saya sih kepikiran untuk sebuah output yang lebih umum, lebih menyeluruh, karena Meru Betiri ini tidak boleh dipecah-pecah (iki jareku lo..), jadi untuk output itu harus bersabar menunggu waktu yang cukup lama dan harus menjelajah slempitan-kelek Meru Betiri. Mungkin, karena itu juga, saya ingin mengejar waktu untuk segera bergeser ke seksi lain, mengejar bocoran spesies yang mungkin di Bandealit sulit, tapi di lain tempat mudah ditemukan, atau bahkan spesies-spesies mengejutkan lain.
   Dan lagi-lagi kami bingung. Ada wacana membuat peta burung untuk skala kecil (Bandealit), atau malah buku. Untuk yang terakhir ini jelas-jelas angel. Jadilah saya menyarankan untuk membuat semacam information-site bagi jenis-jenis burung yang ada Bandealit, kalau seandainya benar-benar segera pengin kelihatan bahwa orang Bandealit itu punya burung... :D 
   Di dalamnya, terpikirkan-lah akan sebuah potongan vegetasi yang pernah dibuat oleh sebuah taman nasional (lupa namanya, yang jelas ada di Kalimantan). Mereka buat itu untuk information-site via online mungkin, hasilnya bagus dan representatif menurut saya (sayangnya dulu tidak sempat saya download). Sukar menjelaskan ke teman-teman, sampai saya akhirnya membuatnya terlebih dahulu (karena tentu saja ndak ada contohnya). Lumayan, cakupannya tidak terlalu luas, namun cukup bersifat informatif. Berikut adalah penampakan dari maksud saya...


   Foto-foto burung diletakkan di posisi penggunaan habitat mereka. Terpilih 3 jenis habitat yang dirasa dapat mewakili kondisi vegetasi Bandealit secara umum. Semua foto diambil di Bandealit (kecuali ada 1 pinjaman dari resort sebelah, karena burungnya gampang dilihat, madih susah difoto, hehe), dan urun saham masih tim PEH rame-rame. Selain itu, masih ada stok yang disimpan untuk nanti. Lambat laun, terpikir untuk melengkapi ini dengan lokasi (jelassss, banyak yang belum kenal Bandealit rasanya), teks pembuka, dan catatan temuan burung. So, di baliknya diberilah semacam itu... jadi total malah nantinya semacam leaflet, dan ini jadi bagian depannya:


   Nah, seperti inilah tampangnya. Masalah teks dan redaksional, masih dikorek-korek. Hanya saya masih bingung untuk mencari solusi agar daftar temuan bisa dibaca tanpa lup (hehe).. terlalu kecil.


Minggu, 09 Februari 2014

Di balik sebuah kata 'mbabu'...

"Kuliah e sampun mantun tah?"
 "Sampun medhamel teng pundhi mas?"

   Mungkin kedua pertanyaan itu seringkali terlontar kepada saya setelah sering terlihat di lingkungan kampung halaman. Entah memang ketika sedang di lingkungan kifayah RT, lingkungan persekutuan, atau lingkungan rekan sekerja orang tua. Paling penak, saya menjawab sederhana dengan kalimat : "Kulo sakniki mbabu teng Meru Betiri." - Saya sekarang menjadi pelayan di Meru Betiri-. Rupanya kalimat ini cukup membuat mereka yang bertanya mengernyitkan kening, tanda adanya sebuah pertanyaan di benak mereka. Pertanyaan berikutnya bisa jadi tentang Meru Betiri itu apa, atau mungkin yang sedikit menarik adalah tentang pilihan status 'mbabu' saya.
    Saya pikir, permasalahan rata-rata masyarakat kita adalah belum bisa menerima jalan yang tidak 'biasa'. Sebuah jalan yang mungkin bisa lebih dikenal dengan jalur aktivis, jalur idealis, dan jalur -is-is yang lain. Padahal sekali lagi, kita juga sadar manusia lahir jebrett di dunia tidak pernah sama dengan yang lain. Ada yang umur 10 tahun bisa langsung terkenal macam Justin Bibeer, atau harus nunggu terkenal di dunia tarik suara setelah berkali-kali ikut idol-idolan. But, they made it. Tidak peduli kapan, apapun, tapi karena mereka tekun berusaha mencari jalan mereka, ya akhirnya mereka sekarang dikenal dengan seorang 'penyanyi bertalenta'. Lha yo wes toh... 
    Kalau tadi permasalahan dari masyarakat, sekarang adalah permasalahan dari diri kita. Mari saya tempatkan diri kita sebagai anak muda. Baik, jika lebih dikerucutkan, sebagai pelajar. Kenapa pelajar? karena status ini di-equivalen-kan sebagai bentuk kawah Condrodimuko kehidupan manusia. Titik tertinggnya macam-macam, namun pemondokan tempat belajar adalah status serius yang menjadi concern, karena setelah di-cap lulus, pertanyaannya adalah "mau jadi apa?" Sebenarnya pertanyaan ini akan terjawab ketika kita dengan mantap belajar dalam pemondokan itu. Dalam sebuah kawah Candradimuka, kita akan berpikir keras tentang kita punya apa, bagaimana, dan untuk apa. Sekali lagi, ini pun tidak sama persis antar manusia... wani totohan wes.
   Nah, yang terakhir, adalah bagaimana membawa hawa api Condrodimuko tetap membara di kehidupan nyata. Membara bukan artinya sampeyan kuliah kriminologi, terus harus nangkep bandar cap-je-ki di pasar. Lha iya toh, bertahun-tahun sekolah, tentunya menjadi agen perubah adalah sebuah keharusan. Coba sampeyan mikir, seseorang suka melukis, suka menari, suka seni karena otak kanannya sudah membesar di Institut Seni, malah menjadi akuntan. Alasannya macam-macam, tapi yang menurut saya paling populer, adalah ketika ia takut menjadi berbeda. Alasan kedua adalah khawatir... tidak dapat uang untuk hidupnya. 
     Ada pula kejadian dimana ketika anda sedang menekuni suatu hal, tiba-tiba anda melonjak dan berkata kepada hal lain : "that's me!!" , lalu anda beralih kepada hal itu. Tentu, itu bukanlah sebuah kesalahan, dan berbeda dengan kasus sebelumnya. Ini adalah peralihan yang menunjukkan talenta kita yang sebenarnya. Banyak contoh yang merujuk kepada kejadian ini, misal seorang lulusan manajemen, kini menjadi aktivis lingkungan, pemerhati burung pantai, dan sekarang kira-kira, nama Indonesia banyak diwakili olehnya. Bermula dari kuliah yang mungkin tidak jelas hubungannya dengan karirnya sekarang, sikap ngeyel pada pilihannya, dan akhirnya ia menjadi seorang punggawa shore bird di Indonesia. Jelaslah saya menyebutnya ini sebuah panggilan, sebuah kelengkapan dari talenta. Tuhan tidak pernah salah, dan sejauh mana anda mengembara mencari, keduanya pasti ketemu, dan sekali lagi tidak pernah salah.
   Jadi, itulah... saya memilih kata 'mbabu', karena memang identik dengan saya. Saya merasa menjadi sebuah kewajiban untuk seorang yang pernah belajar biologi, kembali untuk membuat ilmu biologi menjadi diketahui dengan mudah dengan masyarakat, dan menjadi lebih bermanfaat. Memang, terkadang, belum ada yang dapat ngingoni kebutuhan saya untuk itu. Ada rejeki, mungkin hanya cukup untuk bensin, bawang atau obat nyamuk saja, hehe. Tapi tidak mengapa. Sekali lagi, terkadang ngeyel itu perlu. Saya mbabu bukan kepada sebuah institusi, atau sebuah birokrasi ciptaan manusia.  Bahkan, di dalamnya saya menjadi sadar diri bahwa ilmu saya masih cethek, kecipik-kecipik, dibandingkan luasnya samudra ilmu pengetahuan milik Tuhan. Ndak usah sedunia, di belantara 11.000 ha di resort bandealit, tempat saya mbabu sekarang, saya masih belum bisa mengidentifikasi dengan benar : tanaman, kodok, burung, atau ribet dengan ngutek-ngutek peta. Mungkin kalau kuliah, saya harus mengulang sistematika tumbuhan I, II, sistematika hewan I, II, dan biokomputasi, semuanya diulang dengan puluhan sks, haha.. modhar kon.. But it's a essencial of 'mbabu' word, full with sacrify, a passion, and brave. Apa yang saya bisa, itulah yang saya lakukan. Hanya mbabu kepada Tuhan, itulah alasan kenapa saya bisa menjalani sistem kompleks ini dengan sebuah harapan masa depan apa dan siapa di sekitar saya menjadi baik.


Trims to Saur Marlina Manurung,
anda telah menginspirasi saya :)

Sokola Rimba




Jumat, 10 Januari 2014

Menthelengi Raptor di udara : Kami butuh dukun hujan!

   Mungkin, bisa saya simpulkan minggu ini benar-benar payah untuk kami. Hasil kegiatan yang kami gadang-gadang bisa dapat informasi tambahan data kehati di slempitan-slempitan SPTN II Ambulu, rupanya, belum berbuah manis. Mulai dari Andongrejo, Sanen, dan Wonoasri, kebanyakan data hanya melonjak pada satu jenis saja. Hm, sebentar, bukan artinya tidak bersyukur, tapi memang demikian keadaanya. Menyisir tepian-tepian hutan, batasan-batasan kawasan yang terbuka, sampai bukit-bukit glenak-glenuk hanya untuk mencari burung pemangsa. Full sesuai dengan pengalaman, informasi setempat dan literatur yang pernah dibaca. Jangankan berharap untuk menemui jenis-jenis baru, bahkan jenis lama saja yang pernah teramati di lokasi yang sama, malah nihil-hil-hil. Apalagi kami kebanyakan hanya bertemu satu jenis yang sama : Elang-ular bido. Wooh, jian manuk lonthe tenan. Tiap ganti lokasi, hanya burung ini saja yang muncul, sambil berbuyi kliiik-kliik seperti anak ayam terjepit. Kalau seandainya terbang dekat gitu wes tak bandhem watu tenan.
   Baiklah, mungkin dapat saya simpulkan bahwa memang kita yang salah pilih hari. Namanya saja Januari, tentunya hujan sehari-hari. Apalagi waktunya cukup sedikit. Memang, kegiatan seperti ini butuh waktu yang cukup lama rasanya, terutama karena para pelakunya sendiri masih belum pernah melaksanakannya di at the place, alias first time broo... Ya sudahlah, apapun, yang jelas kami sudah memetakan lokasi-lokasi strategis untuk pengamatan raptor. Dengan ini, suatu saat kami bisa kembali untuk pengamatan, dan semoga dengan hasil berpredikat : memuaskan.

Menjaga api agar tidak padam

   Saya pikir, kegiatan-kegiatan PEH tidak ada yang tidak mulia. Selain duit yang harus dicukup-cukupkan, para pelakunya haruslah seorang yang multitalent : pengamanan, penyuluhan, dan tentu saja pengembangan informasi kawasan. Yah, semuanya tetap harus disambi-sambi dengan kerjaan lain dan juga diomeli. Apalagi jika kawasan sedang tersangkut kasus 'panas'. Bayangkan saja, dengan keadaan yang seperti itu, masih ditambah dengan kegiatan yang cukup berat, plus hasilnya kurang... rasanya paling yo mangkel juga. Tapi karena seperti kata saya :'mulia', akhirnya mereka tetap bergerak juga. Sudah rejekinya mereka kali ya...  (untunglah saya bukan PEH, hehe :D )
   Namun, nyatanya para punggawa ini memang bisa menikmati hidup di hutan. Ledekan demi guyonan seringkali saling terlontar... lha apalagi yang bisa ditanggap kalau tidak teman sendiri? Saya sendiri kagum pada Mas Afiyan, sang juragan dari Sukamade. Mungkin beliau bisa dijuluki sebagai dukun hujan yang tokcer. Berkat doa-doanya, hujan menyingkir dari perbukitan Ketangi-pothol, pergi ke laut selatan.  Selain itu, beliau juga merupakan tukang banyol yang top. Saya masih kepingkel-pingkel kalau ia berkelakar tentang kode-kode dalam hubungan suami-istri. Dan.. kalau sudah masuk bab ini, saya yang masih bujang ini mesthi enthek...
   Apapun yang dilakukan lah, yang jelas bisa menikmati hidup itu benar-benar perlu. Ibarat api, masing-masing orang sudah disebuli dan dihujani oleh berbagai tekanan yang ada di sekitarnya. Hutan mungkin bisa menjadi tangkupan tangan yang menghalangi angin badai tekanan itu. Dari sana, kita menjadi dekat dengan apa sebenarnya tujuan pekerjaan kita. Duduk kita di batu, tangan kita menyentuh lumut, kaki kita menjejak rumput yang segar, dan mata kita tak henti-hentinya memandang karya Sang Mahakuasa. Memang mulut kita terkadang mangap-mangap tidak jelas, tapi di situlah kita jujur apa adanya, dan menyadari akan betapa tidak mampunya kita tanpa Tuhan. Sebuah hutan yang oleh Sang Khalik menjadi halaman rumah kita, siap dijelajahi lagi, demi menyeruak misteri-misteri di dalamnya. Jangan khawatir kawan akan jaring-jaring ruwetnya birokrasi negeri ini. Mereka hanya manusia yang sama dengan kita. Beliau melihat semangat kita, dan mari kita jaga agar jangan padam...


Mas Afiyan : juragan sukamade, dukun hujan, dan konsultan hubungan suami-istri terpercaya

Mas Alif, bos geng PEH dari balai

Mas Puji, buddy saya di Bandealit



Sedang in action mendokumentasikan burung di jalanan Andong

Elang-ular Bido (Spilornis cheela).. akh.. kau memang ada dimana-

Minggu, 08 Desember 2013

Balada Sandal Jepit Bandealit: Gusti kuwi Maha Pirsa!

   Begitu menyadari Elang Jawa ditemukan di Bukit Sodung, area kekuasaan Desa Bandealit, Kepatihan Ambulu, Kerajaan Meru Betiri (hehe), maka sebenarnya saya tidak tentram lagi. Lha, saya penasaran dengan statusnya : apakah hanya mampir lewat (pengembara), ataukah memang ia menetap? Sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab. Yap, bisa jadi keberuntungan peserta GFK itu menjadi saksi tentang seekor elang endemik yang... cuman mampir, hehe.. 
   Demi menjawab rasa penasaran saya, akhirnya tanggal 2 Desember saya niati untuk sekali lagi mampir di Resort Bandealit tercinta. Resort yang sekarang digawangi oleh Pak Dedi ini memang cukup jauh dari jangkauan. Motor Supra X milik emak saya harus terengah-engah ketika menaiki jalanan 'mulus' ala Meru Betiri. Wih... rasanya, pantat seperti dipukul-pukul oleh jok motor yang memanas. 
   Sesampainya di sana, sore hari baru saya bisa bertemu dengan Pak Dedi secara langsung. Namun sayang, lelah karena patroli seharian, perjalanan panjang, akhirnya beliau harus beristirahat semalaman, padahal saya sangat ingin ditemani Pak Dedi hunting foto herpet, mumpung ketemu beliau yang notabene pawang ular :D .
   Paginya, saya langsung menuju jalanan savana yang terbuka. Konon, lokasi ini banyak mengandung temuan burung-burung yang enak dilihat. Lumayan untuk pembahruan database, hehe. Siang dikit, saya kemudian berlanjut ke arah track goa Jepang. Barangkali ada sesuatu yang bisa dilihat meskipun agak siang. Lalu Pak Dedi? beliau bertukar shift dengan Mas Puji. Yaah, begitulah nasib orang-orang ini. Dinas jauh dari keluarga, tanpa komunikasi, di hutan lagi, jadi harus bertukar shift tiap 4 hari sekali. ckck... Dengan menculik Mas Puji inilah  saya kemudian jalan-jalan.. mbuh kemanaa saja.. Mulai track goa jepang, pantai, hingga sungai-sungai nyari kodok.. haha. Pindahan dari Bunaken ini memang hobi jalan-jalan katanya. Ya baguslah untuk kesehatan, daripada kena diabetes karena nyelam terus? :D
   Si burung target sendiri sebenarnya sudah terlihat dari hari pertama. Namun, bentuknya lebih mirip sebagai kotoran lensa dibandingkan elang, hahaha. Artinya, teramat sangat jauh untuk diamati.Setelah itu, entah kemana ia pergi. Seakan-akan bersembunyi di saat siang hingga sore hari...  Bukan hanya itu, secara beruntun saya seperti ketiban sial yang menyesakkan. Lensa saya rusak! Macet tanpa bisa zoom out di hari kedua. Entah ada yang mengganjal, mungkin kemasukan kecoa (maklum, kamar saya banyak kecoa). Saya langsung berpikir : "berapa lama?" dan "modhar kooon, kere tenaan aku!". Dan bukan hanya itu sodara-sodara sekalian : sandal gunung saya yang biasanya saya parkir rapi di depan kantor resort, yang menemani saya tanpa cacat selama 2,5 tahun... hilang! Yah, okelaah, akhirnya saya pakai sandal jepit karet saja... Belum selesai kejutan, masih nambah lagi kabar yang kurang mengenakkan : hasil ujian cpns saya sudah keluar, daan... saya tidak masuk daftar panggilan TKB (tes tahap berikutnya). Pupus sudah harapan untuk mandiri, dan juga melunasi hutang akibat kerugian saya ini..... It's completly bad news.

Selalu Indah Pada Waktunya
   Sandal tak akan kembali lagi. Lensa harus diopname dengan uang tebusan yang jumlahnya tidak sedikit bagi saya. Elang Jawa... mungkin hanya keberuntungan peserta GFK yang membuatnya terlihat di area Bukit Sodung. Mungkin ia hanya mampir lewat saja. dan CPNS? Ah, kecewa tak akan terobati dengan menyesali apa yang tidak bisa kita cegah, ya toh? 
   Nah, akhirnya, suatu saat Tuhan mulai menghibur saya dengan temuan mengejutkan di hari terakhir sebelum saya pulang. Di suatu bukit, secara tidak sengaja saya melihat gerakan raptor melalui kamera. Ketika saya ambil fotonya, sangat mirip dengan Elang Jawa. Jumlahnya tidak satu, melainkan dua ekor sekaligus! Malah yang seekor nampak seperti individu muda. Whoow, air muka saya begitu gembira. Ketika selesai berdiskusi dengan Mas Puji, saya langsung menyalaminya. Tidak disangka, buah  kerja keras selama 4 hari itu terbayar sudah. Bahkan temuan ini dikuatkan oleh rekan-rekan yang meneliti elang endemik ini lebih jauh... syukurlaah.. Belum lagi bonus dari Tuhan, yaitu temuan Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) di area sekitar lokasi temuan Elang Jawa. Burung yang saya pikir hanya mitos di Bandealit ini ternyata muncul, bahkan dengan pasangannya. Whoow... benar-benar perjumpaan pertama bagi saya untuk burung raksasa ini. Siapa sangka dua penemuan penting ini terjadi dalam hitungan jam sebelum saya beranjak pulang? Selain itu, banyak foto spesies yang mulai terbaharui lagi setelah trip saya ke Bandealit ini. Kabar bagusnya yang lain adalah Balai menerima banyak sekali alat dokumentasi. Artinya, temuan-temuan yang selama ini tanpa terdokumentasi, sekarang akan lebih reliable dengan alat dokumentasi yang maaknyuss...  :D

Jika saya boleh berbagi kepada sodara-sodara sekalian, bahwa Tuhan itu sangat baik, adil, tur Maha-Sayang kepada kita. Ora bakal ngapusi seperti calon-calon anggota legislatif yang fotonya mulai memenuhi perempatan jalan, dan selalu up-to date tentang kabar kita, alias Maha-Pirsa. Sory bro, Beliau beda dari tokoh-tokoh politik yang notabene penuh dengan kekhilafan. Pokoke percaya saja. Beliau tidak akan pernah menutup telinga, walaupun terhadap keinginan atau isak tangis yang kita bisikkan di dalam hati. Daaan, sekali lagi, Tuhan juga akan mengingatnya.. Artinya ketika kita tidak diberi, mungkin ada saat dan jumlah takaran yang tepat untuk itu diberikan. Mangkane, hayok podo semangat, dan jangan putus asa :D

Si Supri dan jalanan Aduhay di depan Blok Krecek
Target utama : Elang Jawa dan anaknya! (lokasi masih dirahasiakan)
Individu muda Elang Jawa
Si Rangkong Badak melintas dengan berisiknya. But, nice to see you, guys.. :)
Ah, daripada ga dishare, hehe : Kekep Babi (Artamus leucorynchus)

Si Cangak Merah (Ardea purpurea) yang keep silent

Kamis, 05 Desember 2013

Gelar Foto Konservasi : Yang penting blusak-blusuk! (Part II-end)

   Alkisah ketika acara ini memasuki waktunya, terkumpulah 31 orang yang bersiap dengan gear masing-masing untuk hunting foto. Meskipun kawan-kawan paling jauh sudah datang semalam sebelumnya, tapi nyatanya mereka masih punya balung enom! Terbukti ketika diuyel-uyel  di truk pengangkut sapi, mereka masih happy-happy. Bahkan, para bioder yang juga spesialis pencuri buah ini tak henti-hentinya memanen semua buah yang mereka temui di pinggir jalan, mulai pencit, jambu, dan rambutan. Untung saja mereka tidak mengangkut kelapa, jagung, tebu, atau durian. Khayal memang menurut saya. Tapi saat saya konfirmasi kepada salah seorang peserta yang saya rahasiakan namanya, ia hanya menjawab : "Kadohan mas, ora sempat njupuk..." Wih, wedan tenan... tentu saja saya menggumam sambil mengunyah pencit  :D
   Saat truk memasuki kawasan Meru Betiri, satu kesan yang saya tangkap adalah mereka tidak punya pantat cadangan karena perjalanan ini membuat pantat menjadi luka dalam, tergores-gores bak truk. Yah, mungkin dengan ini mereka sadar bahwa salah satu 'keunikan' Meru Betiri adalah akses masuknya yang sedikit 'mahal'. Yapp, terbatas dengan jenis kendaraan tahan banting, jaraknya yang jauh, dan juga biaya yang tidak sedikit membuatnya nampak terisolir dari dunia luar. 
   Masuk gapura Bandealit, mata saya ngelayap-layap tidak jelas. Sebenarnya bukan saya saja, tapi kawan-kawan yang lain sedari masuk kawasan sudah terlebih dahulu jelalatan, hehehe.. Namun, jelalatan saya berbuah manis, nampak bunga-bunga kuning ranum mencuat dari batang pohon jati yang tumbuh tidak jauh dari kantor Resort Bandealit. Itu pasti anggrek.
   Nah, beruntung sekali ada seorang 'yang-tahu-banyak' tentang anggrek di acara ini. Sebut saja dia Lutfian Nazar. Orang yang mukanya mirip dengan Eyang Subur ini sedang mengoleksi foto-foto anggrek di Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Dan seperti dugaan saya, tanpa cang-cing-cong setelah melepas ranselnya, ia langsung mengikuti saya untuk ditunjukkan lokasi anggrek tadi. Makin lewat gerombolan kawan lain, eh, makin besar jumlah orang yang ingin moto anggrek.Padahal, tidak ada kategori foto flora di lomba ini.
   Anggrek-anggrek itu tumbuh cukup jauh dari jangkauan makro. Namun, akhirnya, salah seorang peserta malah menemukan mereka tumbuh di kayu roboh yang cukup mudah dipanjat. Sayangnya, ia tepat di atas sarang semut. Hanya 3 orang yang sanggup menahan rasa gatal akibat digigit semut. Bahkan, salah seorang peserta yang berinisial 'BH' alias ' Bayu Hendra', mengaku digigit semut hingga ke dalam celana dalamnya. hahaha, can you imagine that? modharo kon!

Banyak Mata, Banyak Rejeki
   Dalam hari-hari yang penuh bahagia itu, rupanya dalam kamera beberapa peserta terselip sebuah foto menarik. Apalagi kalau bukan si mitos Burung Pancasila : Elang Jawa! Awalnya saya tidak yakin ketika salah satu guide yang menemani mereka, Mas Alif, bercerita kalau segerombolan tukang poto mendapatkan foto yang disinyalir sebagai Elang Jawa. Baru setelah bertemu di wisma, ternyata beberapa peserta, yaitu Mas Heru, juga Mas Eko, berhasil menjepretnya. Dan... setelah didiskusikan, akhirnya deal... itu adalah seekor Elang Jawa. Suatu temuan yang mengagetkan karena selama ini belum pernah ada kabar maupun catatan tentang elang endemik jawa ini.
   Bagi saya, ini adalah sebuah tamparan. Yup, jelas, memang jika kita bicara keterbatasan, tentu tak kan ada habisnya. Apalagi saya dan kawan-kawan baru sebulan lalu mengadakan raptor watching di Sukamade dengan hasil yang kurang menggembirakan. Lagipula, kawan-kawan PEH nyatanya selalu mengadakan monitoring secara berkala. Lha mereka ini (peserta GFK) datang dalam waktu hanya sehari, lalu berhasil menjepret... Elang Jawa lagi. Sungguh terwelu, hehehe...
   Tapi apapun lah, memang keberuntungan itu datangnya dari Tuhan semata. Beliau sudah mengkode elang ini untuk muncul di area Bukit Sodung, mungkin supaya kami terbuka mata dan hatinya, bahwa tiap seluk TNMB harus kami kenal dengan baik. Yap, dengan demikian, Beliau mengisyaratkan agar terus menjaga keberadaan berbagai jenis hewan dan tanaman itu, terkadang harus mengabaikan harapan akan dana yang menetes dari langit-langit birokrasi. Niscaya, tanaman, hewan, dan segala makhluk di dalam hutan akan mendoakan para PEH, polhut, penyuluh, staff, hingga tukang sapu agar mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang berkecukupan jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan hati yang gembira :)

Terima Kasih peserta GFK sekalian... terima kasih sudah sudi mampir di Meru Betiri :)
Foto bareng sebelumberangkat ke Bandealit
Tidak masuk kategori penjurian? Cuek sajaaa... yang penting blusak-blusuk.
 Acara hunting foto malam
Menjarah hasil pekarangan warga :D
Peserta Gelar Foto Konservasi dalam formasi lengkap

Kamis, 14 November 2013

Status Quo : sebuah portal masa depan

Status quo itu adalah dimana ketika suatu pemasalahan mandhek, alias berhenti. Misalnya ketika Indonesia sedang dijajah Jepang, tapi ternyata Jepang kalah. Nah, saat itu, Jepang sudah tidak punya hak memimpin, namun Indonesia belum punya pemerintahan. Belanda sendiri masih baru 'melek' dari jajahan Jerman. Tidak ada yang memimpin, akhirnya Indonesia disebut sedang dalam masa status quo, alias kosong.

Manusia juga dikaruniai status quo. Pernah anda merasakan peralihan identitas anda? Biasanya, yang sering dikenal dalam fakta-fakta simple : Berganti pacar lama dengan yang baru; sekolah dari SD beranjak ke SMP, lalu dari bujang menjadi seorang suami atau istri. Ke-simple-an ini rasanya tidak serta merta benar-benar simple. Orang perlu mempersiapkan 'pendanaan' untuk beralih ke identitas baru yang harus dialami. Paling tidak, bukan nilaian rupiah, tapi juga hati dan kemantapan pribadi.

Status quo memiliki peranan penting dalam mengadaptasikan diri kita terhadap perubahan identitas itu. Ibarat kepompong, ia telah berjasa dalam mentrasformasikan bentuk hidup yang lebih baru, bahkan benar-benar baru. Jadi kekosongan yang harus dijalani manusia itu memang harus benar-benar terjadi!

Sebagai sebuah peristiwa penting, akhirnya status quo dirasa berdampak besar dalam identitas baru yang akan ditempuh. Tidak jarang, menjalani status quo adalah sebuah ketakutan tersendiri. Ada yang menjalaninya dengan ala kadarnya, berdiam, dan akhirnya jalan kehidupan berikutnya pun berubah...menjadi lebih buruk. Segala yang ia mimpikan tenggelam. Namun, banyak pula yang bijak memanfaatkan status quo ini dengan penuh gairah : evaluasi apa yang telah ia lakukan, dan mengerjakan apa yang ia bisa, sembari terus-menerus berserah di Tangan Tuhan. Yap, saya pikir, opsi kedua adalah yang terbaik untuk dilakukan.

Belajar menjalani status quo, akhirnya harus kembali kepada sebuah metode kuno : sabar. Kesabaran juga berarti ketika kita melakukan sebuah hal paling simple (atau rendah?) di antara kalangan yang pernah mengenal kita. Kesabaran juga berarti ketika kita terus bertekun, menunggu, dan berdoa. Kesabaran juga berarti ketika bekerja semampunya dalam menyelesaikan segala permasalahan yang ada di sekitar kita, walaupun bukan deskripsi tugas yang tertanam dalam otak kita. Kesabaran juga berarti ketika kita akhirnya duduk, diam, dan memikirkan betapa besar kuat tangan Tuhan dalam menolong kita di masa lampau, dan nama besar-Nya untuk terus kita percayai di masa yang akan datang.. amin.


Selamat menjalani status quo.

Minggu, 13 Oktober 2013

Melawan Ragu di Kupu-kupu Malang Raya (edisi nulis ngasal)

   Meskipun sudah banyak tidak ada di malang, tapi saya tetap ingin mewujudkan cita-cita untuk mengabadikan hasil jalan-jalan saya. Apalagi kalau bukan tentang kupu-kupu? catatan harian sudah punya, tabulasi oke,  foto-foto rasanya sudah cukup, identifikasi lanjutan.... ada mas Wafa (kapok koen, hehe, piss). Hanya kurang satu sebenarnya, niat... nah ibarat tangga, mas niat ini sedang memegangi tangga ketika kita sedang mengerjakan sesuatu di tempat yang lebih tinggi dari lantai. Lhah, kalau mas niat sedang garuk-garuk pantat, tanpa menunggu waktu lama, kita langsung ngglundhung ra karuan. Apalagi saat kita di bawah, ada bagian yang sangat sakit, namanya percaya. Lhoh? yap benar sekali, artinya anda akan mengalami keraguan kronis akibat kerusakan percaya, yang bisa-bisa, membuat anda diopname. Lama sekali pekerjaan itu akan tertinggal menunggu anda sembuh. 
    Mungkin ya begitulah saya. Sekitar 2 bulan mengalami opname, akhirnya pekerjaan nulis buku-tanpa-mikir dari seorang-keranjingan-moto ini dilanjut. Ada beberapa yang berubah, ada bebeberapa yang tidak. Awalnya, ini adalah sebuah bentuk kerinduan untuk mengabadikan hasil jalan-jalan saya dan Faldy di sekitaran Malang. Ah, semuanya hasil jerih payah yang isinya cantik-cantik dan bohay, memang layak untuk diabadikan. Belum lagi pengetahuan kami dan orang di sekitar kami yang masih nol terhadap kupu-kupu, membuat kami makin gatal-gatal untuk meniati-niatan ini mulai awal tahun ini. Semoga saja terus terwujud. Kami hanya bisa bermodalkan dengkul dan kesabaran, serta kepercayaan kepada Tuhan. Yupp, hanya dengan percaya kepada Dia saja yang membuat upah pekerjaan ini menjadi layak dan semakin besar.  ... :)

Sheet yang baru dikerjakan hari ini setelah 2 bulan vakum. Nampak gerakan kupu sudah tidak ada lagi, karena sebagian jenis dalam data sulit ditemukan literaturnya, sehingga diputuskan untuk menghilangkannya. Mungkin nanti ditambah dengan perbandingan ukuran dan untuk beberapa jenis yang dibutuhkan detail khusus identifikasi, perlu ditambah halaman khusus yang baru. Ada ide segar lagi?
Sheet yang dikerjakan pada awal agustus. Untuk format sheet marga masih digunakan seperti gambar.


Ukuran A5, beberapa foto capture untuk jenis yang memiliki upperside sulit dilihat. Nama lokal dibuat, juga dalam tingkat 'akar rumput', untuk mengenalkan jenis invertebrata ini kepada masyarakat lokal maupun secara luas (semoga bisa). Much inspired by Naga Terbang Wendit : a book of IDS


Much more notes for Malang-Raya: vegetation and its ecological problems. The serious factors that influence a conservation for butterfly, and will be added by another important issues.

Rabu, 21 Agustus 2013

Ada apa di balik sebuah buku itu?


   Yang namanya buku, sejauh cerita, tentu memerlukan waktu, tenaga, pikiran dalam menyusunnya. Hal ini menjadi kisah tersendiri saat saya teringat kepada penyusunan buku pertama Zoothera yang berjudul: 'Burung-burung di Kampus Brawijaya' ini. Saya masih ingat ketika kami pada awalnya tidak pernah terpikirkan untuk membuat catatan, ataupun sebuah buku (najis tralala tenaan!). Yang kami pikirkan pada saat itu adalah: belajar burung, foto, dan tentu jalan-jalan. Sebagai mahasiswa biologi yang baik, tentu kami membuat kegiatan pengamatan itu sebagai sarana 'tempat sampah' kemuakan kami terhadap kegiatan kuliah dan praktikum yang padat. Lha kok ndilalah, timbul perasaan eman-eman di benak saya saat melihat foto semakin berjubel di harddisk. Apalagi, buku "Bird of Baluran"-nya mas Swiss masih anget-angetnya, sehingga membuat kami tambah semangat... 
"Lha, wong sak-Mbaluran ae manuk e dibukukne kok, la opo kok awak dhewe ra melu nggawe? Sopo arep nggegeri? (Lha, hanya Baluran saja burungnya dibukukan kok, kenapa kita tidak ikut buat? siapa yang mau marah-marah?)
   Akhirnya, terbawa nafsu muda, kami semakin santer berburu foto. Nah, ternyata, di sinilah keteguhan mimpi itu diuji. Baru kami sadar, pikiran koplak kami yang dibuai oleh kata : nggawe buku kuwi sepele, harus diralat dengan dua kata: ampuuun boss... 
   Mulai dari anggota pengamat yang semangat 45, kadang loyo, atau bahkan prothol kena jadwal kuliah, hingga masalah basis data yang kurang cermat.  Padahal, data itu adalah segala-galanya. Di sini mungkin terbukti pernyataan Pak Bas yang demikian : wong Indonesia itu budayanya adalah budaya ngomong, bukan nulis. Akibatnya, nyaris data-data pengamatan itu bablas jika tidak ada yang mencatat. Setelah dikompilasi, dasar data masih terus dibangun dengan berburu literatur. Nah, beruntung salah satu kakak tingkat mengambil skripsi tentang diversitas burung di Kampus Brawijaya, sehingga datanya pun dapat dijadikan perbandingan. Berburu data di komunitas lain, seperti pecinta alam UB dan ex-pengamat burung era 90-an, ternyata datanya sudah... hilang.
   Kesulitan berikutnya, tentu saja nulis. Nah, untuk yang satu ini, selain butuh ketelatenan, latihan dan sabar, mungkin beberapa orang percaya ini butuh bakat (saya sendiri ndak percaya). Masih ingat betul, malam-malam ndak bisa tidur di kost tempat KKN, saya ngetik pelan-pelan sambil ngantuk-ngantuk. Tulisan yang makin aduhay tidak karuan itu masih harus dikoreksi oleh orang lain. Saya ndak ngira, orang se-kaliber mas Imam Taufiqurahman masih mau ngoreksi tulisan saya. Apa ndak terharu sedih ya? :D
   Yang terakhir, adalah masalah penerbitan. Bersyukur tenan salah satu dosen menaruh perhatian besar terhadap kerja kami ini. Meskipun ia dan secara institusi tidak memiliki dana untuk membiayai percetakan, ia masih mau untuk membantu penerbitan isbn buku tersebut. 
   Saya kemudian mikir-mikir, apapun dan bagaimanapun, buku ini harus dibaca oleh orang yang membutuhkan. Jika harus menunggu perjuangan untuk mencetak, entah berapa lama lagi waktu yang harus dihabiskan, tenaga yang harus digunakan, dan darah (jerawat) yang harus diteteskan. Bukannya saya emoh atau kapok untuk berkecimpung di sana, tapi makin banyak pekerjaan yang menumpuk membuat tidak berdaya. Apalagi ancaman hengkang dari tanah malang semakin nyata saja. Belum lagi sebuah harapan untuk membuat buku ini gratis, tentu akan sulit didapat jika tidak bekerja sama dengan lembaga besar yang punya concern di bidang konservasi. Akhirnya, saya putuskan untuk membuat versi pdf yang bisa di-download oleh kawan-kawan semua. Semoga buku sederhana ini memberi manfaat bagi kawan-kawan semua. Maklum, kami pun memulai selangkah kecil dari ribuan langkah pembelajaran ilmu pengetahuan.

Kiranya dapat bermanfaat, 

penulis,


password: 12345


Senin, 05 Agustus 2013

Rahasia yang harus dibagi Part II : Orang mikir saya gila!!!

   Saya punya seorang kakak angkatan di tempat saya kuliah. Kakak angkatan yang satu ini sangat berkesan bagi saya. Bukan karena ia sekedar perempuan yang menarik, tetapi karena ia pernah melontarkan perkataan yang cukup keras kepada saya. Kejadian ini terjadi satu tahun lalu ketika saya berburu foto Celepuk Reban yang katanya pernah ditemukan di Hutan Mipa. Nah, memang sebelum janjian bertemu dengan Strix (panggilan untuk Adityas) saya sempat mencari-cari arah suara burung kecil ini dengan menyenteri Hutan Mipa. Lalu, ketika saya sampai di depan gedung jurusan, saya bertemu dengan beliau, dan terjadilah percakapan berikut:

Kakak kelas: "Aguuung... ngapain kamu malam-malam senter-senter di pohon-pohon???"
Saya: "ng..."
Kakak kelas: "Kamu sudah mirip orang gila yang ga ada kerjaan aja."
Saya: "hehe..."

   Memang, ini adalah salah satu hal yang membuktikan kalau banyak orang menganggap saya dan beberapa kawan telah menapaki jalan yang unik, dibilang aneh, atau jika lebih sopan: 'kurang populer'. Tapi bukannya berhenti, saya makin senang saja menggeluti dunia jepret-menjepret foto sambil jalan-jalan. Kalau tidak ada teman yang mau diajak jalan-jalan jauh, ya saya pergi berjalan-jalan di sekitar habitat saya, termasuk kampus ini. Nah, demikian juga terjadi saat harus mengamati geliat larva Euploea mulciber yang saya temukan. 
   Berbekal kamera, buku catatan, pensil, dan penggaris, juga dengan memakai seragam kebesaran: Kaos oblong, topi lapang, sandal gunung, dan tak lupa celana pendek (hehe), saya menyusuri jalanan kampus yang ramai, dan tentu saja ngetem di gapura jalan F. Pertanian. Beruntung terkadang Strix dan Aan, duo 'gila' saya, bisa menemani, tapi jika tidak, ya... sendiri saja. Bisa dibayangkan toh bagaimana orang-orang memandang saya? agak bagaimana gitu,, haha..
   Pengamatan dimulai dengan memotret telur atau ulat, saya kemudian menghitungnya. Tidak kurang dari 9 butir disebar di 5 pucuk Alamanda cathartica pada hari pertama. Pada hari berikutnya, nampaknya induk kupu ini menyebar lagi telurnya. Hal ini terlihat dari adanya telur-telur baru yang diletakkan diluar daun yang telah ditandai. Pun saya mengetahui sebuah fakta yang unik. Telur-telur ini nyatanya menetas kurang dari 24 jam! Begitu menetas, ulat-ulat kecil ini segera memakan cangkang telur mereka dan bergerak untuk mengunggis pucuk-pucuk daun. Terlihat permukaan daun muda itu mulai cokelat dan mengeriput. Berdasarkan literatur yang saya dapat, ulat-ulat mngeluarkan sebuah enzim pencerna untuk mempermudah mereka memakan daun. 
   Dua hari berikutnya, saya seperti biasa mengamati ulat-ulat ini. Wah-wah, ternyata mereka kedatangan tamu. Tamu asing ini nampak menusuk-nusukkan mulutnya yang berbentuk jarum pada telur-telur yang belum menetas. Tamu yang seperti alien ini dengan rajin juga mendekat pada ulat-ulat, entah apa maksudnya. Kami hanya bisa menduga, kalau tamu asing ini adalah sejenis parasitoid. Jika melihat-lihat literatur, memang mirip dengan tawon ichneumon, sang parasitoid larva sejati. Lambat-laun, saya tidak lagi menemukan banyak ulat-ulat itu. Ataupun jika ditemukan, letaknnya berada di daun yang cukup jauh. Nampaknya, mereka sudah menambah area jelajahnya. Selain itu, saya juga menemukan beberapa ulat mati. Wah, efek dari parasitoid-kah? Hasil yang kurang menggembirakan sebenarnya.
   Pada suatu hari pengamatan, ada sesuatu hal yang membuat saya bahagia. Bahkan, lebih bahagia daripada menemukan Euploea mulciber bunting ini. Bukan karena ulat-ulat itu ditemukan kembali, tapi ternyata beberapa adik kelas saya ngikut pengamatan! Terhitung 5 orang akhirnya nginthil karena penasaran akan larva-larva Euploea mulciber yang dikoar-koar oleh saya dan strix. Pada lokasi perkara, saya dan strix memberikan penjelasan dengan semangat bagaimana kronologi kejadian fase larva E.mulciber, dan dari mata mereka, saya bisa menangkap kehausan mereka akan ilmu pengetahuan. Bukan jenis ilmu yang dibatasi tembok-tembok otak praktikum, tapi benar-benar membawa diri mereka ke laboratorium alam terbesar di dunia. Tentu saja dengan alam yang selalu baik sebagai sang guru. Hanya 'ngedan' dan keluar dari tembok-tembok masif pikiran yang membuat kita semua semakin paham berbagai rahasia alam ciptaan Sang Khalik.
   Memang, mungkin jiwa-jiwa dan metode 'menggila' ini sudah cukup terkenal di kampus-kampus lain, tapi sayangnya, di departemen biologi almamater kami masih kurang. Sedihnya lagi, terlalu banyak SDM segar yang enggan berkarya, entah, macam-macam alasannya. Yang jelas, saya hanya bisa berdoa, agar saya tidak mendengar gerombolan anak-anak biologi ngobrol ngalor-ngidul atau menjelma menjadi satria bergitar tiap malam. Nakal itu boleh, karena saya sendiri merasa orang mbethik, main-main itu juga perlu.. Tapi kalau dibuat main-main saja, itu yang tidak boleh. Sebisanya, jangan sampai kita mendengar arek biologi bertanya-tanya: "apa yang bisa kuteliti?", sementara publikasi dari pihak asing terus menerus membanjiri kita.
   Baiklah, inti dari semua perkataan ini adalah, jangan ragu untuk berbuat sesuatu demi hal yang lebih baik. Jika boleh mengutip perkataan salah satu guru saya dari Gunung Baluran : bahwa sebenarnya manusia itu sudah diprogram software-software luar biasa di otaknya. Hanya bagaimana kita dapat mengasahnya. Saya karena bisa moto, nulis, maka saya membawakan kisah kelahiran Euploea mulciber ini kepada sampeyan-sampeyan yang membaca. Sampeyan tentu memiliki keahlian-keahlian macam-macam, entah di laboratorium dengan mikroskop, entah pinset dengan mencit, menggambar, melukis, menulis, memotret, jalan-jalan, berbicara, atau apapun. Yang sampeyan perlukan, adalah terus menerus mau tekun berkarya, agar rahasia-rahasia ilmu yang ada di depan mata, dapat diproses dengan bekal software made in Gusti Allah. Hasilnya, dapat dibagi bersama, agar semakin banyak orang-orang yang 'gila' akan kebesaran Tuhan, dan tentu saja, 'gila' akan kata-kata ungkapan syukur...

nuwun,

Telur Euploea mulciber


Ulat-ulat berukuran 1 mm, siap mengunggis daun muda


Parasitoid kah?

Predator

Alien yang lain, parasitoid juga?

Stix, sedang mengamati ujung Allamanda cathartica berkode 1





Jumat, 02 Agustus 2013

Rahasia yang harus dibagi (Part 1)

   Judul postingan saya kali ini benar-benar nggombal tenaaan... Sebenarnya, ini berawal ketika saya dan Strix sedang berjalan-jalan pengamatan biasa di kampus, pada tanggal 18 Juni. Mungkin, hanya sekedar menghilangkan penat berkutat di area indoor yang cupet dan sepet. Seperti biasa, track awal berkutat di sebelah gedung Fakultas Perikanan yang belum jadi. Daerah ini memang memiliki banyak tanaman-tanaman semak yang tumbuh di daerah terbuka. Kebetulan, banyak tanaman tersebut yang sedang berbunga. Suatu kesempatan yang menarik untuk berburu kupu-kupu, karena sinar matahari pagi juga sedang terik-teriknya. Pertunjukan pun dimulai... 
   Dimulai dengan Doleschlia bisaltide yang berjemur, Leptosia nina yang rajin mengunjungi bunga, dan masih banyaaak lagi. Nah, salah satu yang menarik adalah Euploea mulciber. Si kupu yang satu ini terlihat paling menawan dibandingkan yang lainnya pada saat itu. Karena bobotnya, saat hinggap pada bunga, dahan-dahan tersebut menjadi melengkung ke bawah. Seakan-akan ada pendaratan tangan-tangan tarzan yang bergelantungan dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Belum lagi ketika hewan ini membuka sayapnya... Wuaaah, warna birunya gemerlapan memantulkan sinar mentari yang terik. Benar-benar seperti permata safir yang tanpa cacat!
   Nah, perjalanan terhenti sejenak ketika kami putuskan untuk beristirahat di rerumputan dekat depan Fakultas Pertanian. Dengan menikmati pemandangan hari sabtu yang libur, kami leyeh-leyeh di rerumputan, jan mirip wong ilang tenan. Nah, lho... ada seekor kupu yang terbang dengan begitu panik. Suatu saat terbang kesana, lalu kemudian mendekat. Gaya terbangnya juga seakan 'terpincang-pincang'. Wealah, ternyata dia Euploea mulciber betina... dan dia sedang mencari-cari lokasi bertelur. Nah, ketahuan ternyata, ia bertelur di balik daun pucuk Allamanda cathartica atau bunga terompet. Kami langsung mendekatinya, dan sang ibu kupu ini tidak terlalu mempedulikan kami. Tiap telur diletakkan terpisah, terkadang antar tanaman. Setelah beberapa kali dipotret, rupanya kupu ini pergi. Kamipun sepakat besok akan mengunjunginya untuk melihat keadaan calon anak-anak kupu ini. Bukan hanya besok, kami pun sepakat untuk menilik mereka tiap hari demi memuaskan dahaga penasaran kami. Rupanya, awal pertunjukan rahasia dari Tuhan sudah dimulai... 

Euploea mulciber jantan sedang berjemur

Euploea mulciber betina sedang meletakkan telur



Sabtu, 06 Juli 2013

Buku Burung-burung Kampus Brawijaya = Jalan untuk Belajar Bersyukur

   Rasanya, sebagian besar kawan pengamat burung di Malang tahu akan adanya tulisan tentang burung-burung di Kampus Brawijaya ini. Atau jika berlebihan, mungkin ada sebagian kecil yang mendengar sayup-sayup bahwa ada yang menulis buku ini. Yap... benar, buku ini sebenarnya telah ditulis semenjak 1 tahun lalu, atau jika saya tidak salah ingat, awal pengumpulan data dan pendokumentasian jenis dimulai lebih lama lagi, yaitu sekitar akhir 2011. Memang cukup lama untuk mengerjakannya. Alasannya klasik: sedikit SDM yang memadai dan mau mengerjakan. Padahal jika menilik luas Kampus Brawijaya yang 'hanya' 58 ha, dan jumlah spesies yang bahkan tidak mencapai 50, tentu dalam waktu singkat seharusnya buku ini segera kelar. Namun, foto tidak boleh dihapus, dan tulisan harus terus dikerjakan. Buku ini akhirnya tetap berjalan perlahan-lahan meskipun hanya memanfaatkan waktu luang mahasiswa lapuk (yang sebenarnya tim penggembira) sebagai penulisnya :)
   Semua orang pastinya men-cap ini semua sebagai hal yang harus segera direalisasikan. Saya pun demikian. Dengan ngos-ngosan, saya mulai dengan mencetak hasil desain layout untuk diberikan kepada pihak jurusan. Apresiasi didapat, tetapi tetap ada beberapa perbaikan dan koreksi dari rekan pengamat burung. Bersamaan dengan itu, file pdf terus saya bagi ke hampir semua teman yang dapat memberikan komentarnya untuk perbaikan buku ini. Masih kurang puas juga, akhirnya dengan semangat, saya perbarui desain layout-nya, supaya yang melihat buku ini tidak nangis sedih :D. Sembari menunggu koreksian berdatangan, saya masih terus bergelimang-nafsu agar buku ini punya dukungan. Bagaimana tidak? secara pribadi, saya berharap membagikan kehidupan burung-burung di sebuah kampus metropolis, agar banyak orang tahu bahwa mereka ini ada. Selebihnya, saya bermimpi ini semua bisa dicetak dan dibagi secara gratis..tis...tis. Namun, nampaknya buku ini masih memiliki tantangan saja. Mulai dari rekan-rekan pihak kampus sendiri atau kesibukan yang membayang-bayangi ex-mahasiswa ini sebagai penulisnya. Mungkin yang paling 'membahagiakan' adalah sulitnya mencari dukungan dari sesepuh-sesepuh kampus, atau jurusan yang  notabene tempat saya belajar. Apalagi nyetak itu butuh duit, dan saya selalu mendapat memori hitam ketika berhubungan dengan kata terakhir tersebut. Saya pun terdiam dan merenung pada pertanyaan-pertanyaan skeptis: pentingkah arti sebuah buku kecil ini? apalagi ini bukan kawasan konservasi, dan tata guna lahan sudah ke arah gedung-gedung nan megah ala kaum metropolis. Bahkan hampir setengah dari jenis burung yang tercatat, menjadi sulit atau bahkan tidak pernah ditemukan lagi. Akhirnya, perasaan skeptis sempit nan tidak berdaya ini menjadi bayangan jahat untuk menyelesaikan sebuah buku perdana ini.
   Tetapi rasanya Tuhan tidak pernah tinggal diam. Nampaknya, Ia sedang tersenyum ketika mengijinkan sebuah proses berlaku dalam kehidupan manusia, termasuk kepada mahasiswa lapuk ini. Jika dukungan dan semangat dari pihak-pihak pengampu kampus masih kurang, namun dukungan dari rekan-rekan pengamat burung sangat 'wah' sekali. Seakan-akan, tulisan sekelas artikel anak SMP ini menjadi setara Bas Van Balen atau legenda hidup pengamatan burung (misal Lik Swiss, Lik Imam, Lik Baskoro). Bahkan, dua minggu lalu salah seorang dosen mau membantu memberikan ISBN secara cuma-cuma dan tanpa proses yang ribet. Hanya saja, beliau sama-sama tidak memiliki kocek untuk membiayai pencetakannya. Tapi lebih daripada itu, syukur dan terus menerus berusaha menjadi pilihan terbaik agar kelak, tiap orang yang bahkan tidak tahu adanya burung di Kampus Brawijaya, akhirnya menjadi tahu. Bahkan cita-cita saya, dan tentu semua orang masih tetap: gratis... atau setidaknya, murah.
   Masih dalam rangkaian yang sama, buah syukur itu menjadi makin terlihat, tatkala seekor burung Bentet Kelabu (Lanius schach) tercatat secara perdana dan terdokumentasikan dengan baik dua minggu lalu. Bahkan, syukur harus diucapkan karena tiap kali sumpek-pek-pek dalam hal ini, Gusti memberikan banyak pilihan kegiatan : motret kupu-kupu bersama Faldy, Bayu, dkk, ngurusi PPBI sebagai tim gembira-ria, atau berekspedisi ria ke kota-kota lain. Selain itu, mulai ada pihak-pihak yang bisa dibidik untuk mendukung buku ini. Bahkan (sekali lagi.. bahkan!), semakin banyak bermunculan calon-calon author buku lokal yang baru, seperti Herpetofauna Kampus Brawijaya, Buku Kupu-kupu Malang, atau dengar-dengar ada Buku Burung Malang juga. 
   Apapun alasannya, yang jelas, saya semakin bersyukur. Coba jika Tuhan tidak mempertemukan tulisan saya dengan dosen yang punya percetakan, atau tidak ada dukungan rekan-rekan pengamat burung, atau bahkan tidak ada kawan yang menemani saya berjalan-jalan, motret, atau sekedar ngopi. Entahlah... yang jelas, ketika melihat tiap warna dan kata dalam buku ini, selalu teriring kata syukur dalam tiap kebaikan-Nya... dan tentu saja, bayangan akan senyum-Nya. :)


Selamat Berkaryaaaaa....


Salah Satu Halaman di Buku Ini


Sabtu, 04 Mei 2013

Belajar Singkat dari Tukang Potong Ayam

     Ada sesuatu yang beda saat saya naik kereta api Tawangalun jurusan Banyuwangi-Malang tepat di tanggal 2 Mei, hari pendidikan ini. Sebenarnya saya ogah kembali ke Malang. Selain karena tiket kereta sudah naik (50 ribu broooo), makanan di rumah jauh lebih enak, hehe. Hanya saja karena ingat punya kewajiban memimpin rapat dan sudah memiliki beberapa janji, akhirnya saya kembali juga. 
     Saat saya masuk ke gerbong 4, saya kemudian mencari nomor 8E. Lhah, ternyata, ada dua orang yang menduduki bangku ini, dan mereka sedang tidur dengan posisi kaki selonjor (meluruskan kaki). Sebenarnya enggan juga mengusik mereka untuk sekedar meletakkan barang, tapi daripada nanti saya harus memindah barang-barang lagi, akhirnya saya bangunkan mereka. Tiba-tiba ada suami-istri di belakang saya menegur saya:
"Biarkan saja, le... Keretanya kosong kok, atau mau duduk sini?" kata sang suami sambil tersenyum, diikuti sang istri yang juga tersenyum mengiyakan, lalu memindahkan barang di depan mereka. Saya menolaknya dengan halus, lalu segera menaruh barang pada tempat barang tepat di atas kedua orang yang terbangun tadi, kemudian saya mencari tempat kosong lain, 12E. Di sanalah saya kemudian mulai menyibukkan diri dengan mengoreksi sebuah tulisan. 
      Tak lama, kereta sampai di Stasiun Jember. Kedua orang yang saya bangunkan tadi akhirnya turun, dan saya kembali di tempat duduk saya yang sebenarnya, 8E. Nah, suami-istri yang ramah itu kemudian menyapa saya lagi, lalu bertanya-tanya tentang tempat tinggal saya, dan kemudian memperkenalkan namanya tanpa saya tanya. Hal yang cukup langka di era seperti ini, padahal saya juga terlihat (sok) sibuk dengan bendelan kertas dan pensil. Hal yang unik lainnya adalah kedua orang asing ini, dan juga anaknya laki-laki, selalu tersenyum setelah bicara, bahkan sang bapak juga sering tertawa lebar. Akibat tertawanya, pipinya makin bulat lucu. Dari logatnya saja, saya tahu kalau mereka orang suku Osing, Banyuwangi. 
    Namanya Pak Harun. Ia beserta istri dan anaknya akan ke Jakarta untuk menghadiri reuni keluarga. Nah, satu hal yang sangat membuat saya tertarik adalah ketika sampai di Stasiun Tanggul, ketika anaknya tiba-tiba minta kue molen, dan kebetulan saya juga ingin beli, lhah sang ibu tiba-tiba membelikan saya. Meskipun saya tolak berkali-kali, dia tetap membelikan. Bukan Rp. 2000 seperti budget saya pertama, namun Rp.5000! Ketika saya tersedak setelah makan molen, Bu Harun segera memberi minum air putih. Lhah, mungkin melihat saya heran, bertanya-tanya, sang bapak kemudian berkata :
"Biasa saja nak, biasa saja... hehehe, kami memang biasa melakukan ini, memberi makan anak tetangga yang memang butuh makan kalau di kampung. Nah, ibuk ini malah suka sekali dengan anak kecil. dari dulu sebelum kami punya anak, siapapun yang lewat rumah adalah saudara dan anak kami.." katanya, dan tidak lupa "hehehe".
    Wah, ini menarik. Pekerjaan saya kemudian saya tinggalkan, dan saya makin larut bercakap-cakap dengan mereka. Dari percakapan ini, saya kemudian mengerti bahwa beliau punya dua anak, satu sudah seumuran saya, lalu yang kedua baru kelas V SD. Nah, cerita perjalanan hidup kedua anak ini ternyata tidak 'mulus' dan mungkin juga tidak 'membanggakan' bagi sebagian besar orang tua di dunia. Anak pertama hanya kuliah sampai semester 2 saja, lalu kemudian rabi (kawin). Anak kedua ini sangat nakal. Saking nakalnya, dia tidak naik kelas, bandel, paling besar diantara sebayanya, dan suka main PS atau layangan. Anehnya, ketika menceritakan anak-anaknya, tidak ada raut kesedihan di muka mereka. Sang bapak masih dengan tertawanya, dan sang ibu masih dengan senyum simpulnya. 
    Ketika saya secara tersirat bertanya :"mengapa?", Pak Harun menjawab enteng : "karena memiliki anak itu sudah karunia yang sangat besar. Anak itu mas, bukan target keinginan orang tua. Nah, anak saya yang pertama meskipun cuma lulus SMK, tapi sekarang dia gantikan bapak ngurus dagangan. Kalo si thole ini ya mbuh jadi apa... hehe, klendai?" Tanyanya pada anak laki ini yang selalu di pelukan ibunya. Hm... sekarang saya sadar, banyak orang tua salah dengan memaksakan kehendaknya pada anak. Entah dengan dalih memberikan yang 'terbaik' bagi sang anak, atau dengan dalih 'memberi masa depan yang lebih baik'. Uniknya lagi, ia sangat mendukung ketika anak bungsunya ini punya cita-cita mendesain modifikasi motor seperti sepupunya. Wow, sungguh, Pak Harun yang hanya lulusan SD ini sangat paham tentang kenyataan bahwa anak di dunia memiliki kemampuan dan sisi pintarnya masing-masing!
    Selain itu, menurut ceritanya, Pak Harun ini memiki rumah potong ayam sekaligus peternakannya. Meskipun beliau menabung untuk masa depan sang anak, mendidik mereka baik-baik, tetapi seringkali uang tabungan itu digunakan untuk menyekolahkan anak tetangganya! Kesempatan berangkat haji atau umroh sering ia lewatkan, ketika tetangganya sedang membutuhkan. Apakah Pak Harun kekurangan dalam hidupnya? 
"Alhamdullilah, kami dicukupkan terus mas. Yang saya lakukan ini diturunkan dari almarhum kakek saya. Saya harap, seperti apapun anak-anak saya kelak, mereka juga mewarisi apa yang kami lakukan. Saya masih ingat ketika kakek saya meninggal, jenazahnya berjalan sendiri!" katanya dengan nada serius.
"Loh, bagaimana bisa pak?" tanya saya tidak percaya.
"Iya, orang-orang berjajar di jalan kampung dari rumah hingga pemakaman. Karena saking banyaknya orang yang datang dan mereka semua ingin mengusung keranda, akhirnya secara beranting keranda itu bergerak, mirip berjalan sendiri." jawabnya sambil tersenyum.
    Hm... saya sekarang sadar, banyak orang berebut dengan pendidikan, tapi melupakan esensi penting pendidikan itu untuk memperbaiki kualitas hidup yang singkat ini. Semakin 'terdidik' orang pada zaman ini, mereka semakin jenuh akan nilai-nilai logika palsu yang ditanamkan, dan menginjak nilai-nilai kearifan yang sebenarnya. Sampeyan para pembaca masih ingat ketika UNAS digelar, banyak anak SMA yang stres, kesurupan, atau malah menggantung diri jika tidak lulus. Banyak guru, orang tua, bahkan pejabat menganggap hasil dari pendidikan adalah peningkatan prestise mereka di mata masyarakat. Jika sekolah yang memiliki anak tidak lulus, betapa malunya mereka: teman, guru, atau kepala sekolahnya. Jika daerah yang memiliki angka kelulusan tinggi, betapa bangganya mereka yang menjadi pejabat, bahkan bisa jadi bahan kampanye periode berikutnya. Tapi rasanya tidak ada yang merasakan apa yang dirasakan oleh pihak pelajar, atau anak yang sedang mengalami proses pendidikan itu. Istilahnya, ketika sang anak berkreasi tunggal dengan menyelamatkan cacing, karena mengetahui perannya sebagai penggembur tanah, orang tua, guru, dan pejabat memarahinya dan menyuruh mereka belajar Sains! Tentu saja juga berisi teori bahwa cacing sebagai penggembur tanah.... Suatu hal yang sudah terbalik-balik di negeri kita ini.


monggo yang membaca tulisan saya, mari kita sama-sama belajar dari Pak Harun, dan mengingat sekali lagi kenapa kita disebut "terdidik" dan "terpelajar".
Selamat Hari Pendidikan Nasional :)

Keluarga Pak Harun di KA Tawangalun, 2 Mei 2013