Ketika saya tanya pada orang-orang berumur di resort, entah dimanapun, tentang hal-mushawal mengenai burung, seringkali jawabannya hanya gelengan lemah atau gumaman saja. Adapun beberapa persen dari mereka hanya mampu menyebutkan nama-nama lokal yang membuat saya memutar otak. Setelah otak diputar seperti diesel do peng, maka didapatlah nama burung itu dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, hehehe.
Oleh karena itu, jika bukan karena Elang Jawa, maka burung-burung di Meru Betiri (atau di tempat lain juga?) tidak akan 'terselamatkan', tertutup oleh longsoran DUPAK, laporan RBM, pelaporan titik, atau laporan kejadian pelanggaran. Saya pikir, di sisi ini, elang artis ini menjadi pahlawan juga, karena telah menyelamatkan kaum burung dari kuburan ketidaktahuan, sehingga mau tidak mau, harus ada kegiatan untuk menemukan bocah berjambul ini.
Nah, kali ini mari berkisah dengan tempat-tempat ajaib di Meru Betiri yang telah mencatatkan nama-nama raptor. Tidak terlalu banyak memang, namun, untuk sebuah kawasan bergunung-gunung seluas 58.000 hektar, it s not bad broo... (menghibur diri :p )
1.Pringtali, Bandealit
Tempat ini adalah tujuan notok wisata di bagian barat TNMB. Sebenarnya, masih ada lagi Pantai Nanggelan di resort Wonoasri, lebih ke arah barat lagi. Namun, pantai ini yang paling oke di kawasan barat. Lokasinya tentu saja pantai, muara, perkebunan - ladang (enclave), hutan, dan juga tepian hutan yang berbatasan dengan enclave. Beberapa temuan Elang Jawa terdokumentasikan di muara barat serta muara timur. Masing-masing merupakan individu dewasa. Sangat terkaget-kaget ketika koridor pengamatan raptor dibuka pada bulan Desember 2013 di daerah feeding ground Pringtali. Berikut merupakan catatan lokal temuan di sana:
1. Elang Jawa
2. Elang Hitam
3. Elang Perut-karat
4. Elang-laut Perut-putih
5. Elang Ular-bido
6. Elang-alap Jambul
7. Sikep-madu Asia
8. Alap-alap Capung
9. Alap-alap Kawah
10. Alap-alap Sapi
Kurang banyak? mungkin iya, jika dibandingkan dengan lokasi-lokasi di taman nasional lain yang lebih terbuka dan kering. Namun, Pringtali, cukup menjanjikan juga untuk pengamatan raptor. Di suatu waktu, lalu lintas raptor di sana sangat padat. Bisa jadi dalam 1 hari 10 jenis tersebut muncul bergantian. Kita tinggal tiduran di rumput mencari naungan, dan memasang mata mengawasi perbukitan yang masih perawan hutannya. Selain itu, hal yang menarik adalah adanya catatan breeding dari raptor tersebut, antara lain Elang Jawa (Desember '13-Februari '14) dan Elang Perut-karat (Maret 2014). Temuan Sikep-madu Asia sendiri terdiri dari ras lokal dan ras ruficolis (migran dari kawasan Asia Selatan). Ini adalah surganya raptor di kawasan barat :D
2. Lahan Rehabilitasi, Rajekwesi
Nah, rajekwesi adalah pintu gerbang menuju wisata utama TNMB seperti green bay atau Sukamade. Letaknya adalah tepat di timur, berbatasan dengan Kecamatan Pesanggrahan. Tidak ada yang lebih menarik daripada mengamati raptor di sini. Sayangnya, waktu yang sering terbatas (atau juga rasa malas?) membuat kawasan ini tak ter-eksplorasi sempurna.
Lahan rehabilitasi sebenarnya adalah bukit-bukit perbatasan yang telah disulap menjadi ladang. Semenjak diberikan kepada pihak Taman Nasional oleh perhutani, demikianlah keadaannya : jati sudah tidak ada, hanya tinggal ladang-ladang terbuka. Namun, keadaan seperti ini malah memberikan sisi positif untuk pengamatan raptor. Beberapa temuan yang tercatat adalah:
1. Elang Jawa
2. Elang Hitam
3. Elang Perut-karat
4. Elang-laut Perut-putih
5. Elang Ular-bido
6. Elang-alap Jambul
7. Elang Brontok
8. Sikep-madu Asia
9. Alap-alap Capung
10. Alap-alap Sapi
Yang menarik adalah kecurigaan saya akan lokasi ini sebagai lintasan raptor migrasi. Sulit memang memantaunya secara berkala, namun cukup menggairahkan dengan adanya temuan Sikep-madu asia yang mondar-mandir di sini, baik ras lokal, maupun ras migran orientalis. Sekedar cerita, TNMB sementara sangat miskin dengan data pengamatan migrasai burung, baik raptor maupun burung pantai. Apakah mereka melaju di Jatim bagian utara saja, lalu di bagian tengah dan selatan menjadi terpencar? Aneh, padahal di Alas Purwo, bagian tanjung Banyuwangi (tenggara), cukup kaya dengan catatan burung pantai migran. Ah, entahlah... mungkin, di lahan rehabilitasi ini masih tercecer harapan untuk menemukan 'barang langka' semacam Elang-alap Cina, Elang-alap Jepang, atau bahkan si pengembara : Elang-ular Jari-pendek
Lalu bagaimana dengan yang lain? Tenang, semua pasti dapat kesempatan, baik Kalibaru, Sukamade, Sanen, atau yang lain-lain. Raptor tidak akan pernah ada habisnya, sama seperti burung-burung sak-jenthikan. Misalkan saja Sukamade, spot raptor di sana berganti-ganti alias tidak 'resmi'. Lokasi seperti sebrangan atau patok 9 memang terkadang kaya akan jenis, namun sering juga sepi akan jenis. Jika beruntung malah mendadak bertemu dengan Sikep-madu Asia bertengger, Elang Brontok bertengger, atau Elang Perut-karat yang soaring santai di atas gubuk. Di Sukamade sendiri prestasi puncak pengamatan raptor tidak lain adalah penemuan sarang Elang Jawa yang telah diberi nama Sisuka, hehe.. Namun, jika tanding ilmu kanuragan antara Sukamade - Rehab Rajekwesi - Pringtali Bandealit, saya masih berani masang taruhan untuk 2 lokasi terakhir. Yah, begitulah, ada kelebihan, ada pula kekurangan. Suatu saat, semoga lah ada kesempatan dan dibangkitkan nurani kita untuk mengeksplorasi burung-burung di sana :)
Meru Betiri, Gak ono matine rek... :D
Kluthusan adalah bahasa jawa yang digunakan untuk mengembara, bermain, atau mbolang. Jadi, mari kita mulai kluthusan.. :D
the biodoversity
Tampilkan postingan dengan label My Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Travelling. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 September 2014
Minggu, 16 Februari 2014
Kelud, pengalaman yang tak pernah dilupakan...
Mungkin kisah saya kali ini diawali dengan sesuatu yang kurang 'gentleman' dan kurang sangar sebenarnya. Yak, benulll.... cerita ini malah diawali oleh keinginan untuk mencari jodoh burung kenari peliharaan saya. Kasihan, sudah cukup umur, burungnya bagus, kenapa ndak dicarikan burung betina? Dan dimana saya akan mencari burung betina berkualitas? Tentu saja di peternaknya, dan dengan bantuan kawan saya, si Bayu Hendra Prakosa yang sudah puluhan tahun melanglang-buana di dunia kicauan. Apalagi sekarang birder ini punya sampingan membuka peternakan di rumahnya... so, tanggal 13 Februari saya sempatkan ke rumahnya di Tulungagung dengan menunggangi KA Tawangalun dan dilanjut KA Penataran/Dhoho.
Tidak ada firasat apa-apa sebenarnya. Hanya saja, saat kereta sampai di Blitar, ada seorang turis Belgia dan guide-nya, duduk di depan saya. Kami kemudian bercerita tentang hal-hal biasa, tidak ada yang istimewa. Sampai suatu ketika, saya iseng bertanya kepada guide yang ada di sebelahnya tentang tujuan mereka. Ternyata, mereka berdua akan ke Surabaya. Sebenarnya, mereka masih 3 hari lagi di Blitar, tetapi beberapa travel agent memperingatkan akan bahaya Gunung Kelud yang pada saat itu, setahu saya masih dalam kondisi 'siaga'. Spontan saja saya bertanya : "apakah Kelud sudah meletus?", Ia menjawab : "belum, belum, tapi kami melarikan diri terlebih dulu sebelum meletus, haha." (belakangan, saya merasa kedua orang ini termasuk orang yang beruntung, hehe).
Semua terjadi sesuai jadwal. Saya datang di stasiun Tulungagung pukul 5 sore. Bayu menjemput, dan kami menuju rumahnya di Kecamatan Gondang, mungkin 30 menit dari kota. Sampai di sana, ibunya si Bayu dengan ramah menyambut. Maklum, ini kunjungan ke sekian kalinya ke rumah Bayu, jadi kami sudah saling mengenal.
Sampai pukul 10 malam kami menonton tv. Acaranya biasa saja, sehingga saya putuskan untuk beranjak tidur. Entah kenapa Bayu masih setia dengan tv-nya, tetapi sekitar 15 menit kemudian ia pun menyusul tidur. Lampu tengah dimatikan, dan kami se-rumah sudah asyik bergulat di kasur.
Lambat laun, hawa di rumah itu jadi sumuk (gerah). Saking panasnya, kami tidur gedebukan... jian ora umum! Belum pernah merasakan gerah yang se-demikian panasnya. Saya tidak melirik hape untuk melihat jam, tapi memang sesekali saya nglilir dan mendengar suara gludug-gludug, mirip dengan guntur. Hawa panas tidak pergi-pergi, giliran keponakan Bayu yang masih 17 bulan terbangun dan menangis. Burung-burung kenari di sangkar seperti ngriwik ketakutan. Saya mendengar ada orang bercakap-cakap di jalan, tidak jelas. Tapi kemudian, mereka sepertinya pergi dengan memacu motornya. Saya benar-benar tidak bisa tidur...
Suara mirip guntur sendiri masih terdengar, ditambah diluar terdengar suara 'hujan'. Nah, kira-kira pukul 2 dini hari, kakak ipar Bayu bangun dan melihat keluar. Ia dengan bersuara sedikit keras memanggil kami dan mengatakan: "Hujaaan paasir...!" Kami berdua langsung meloncat turun dan segera keluar. Senter disorotkan ke langit, dan benar-benar nampak butiran pasir turun dengan derasanya! Suaranya :"rhhss....rhssss" mirip hujan biasa, terus berulang-ulang dan tidak mereda. Beberapa orang memacu motornya dengan kencang sambil menutupi mukanya dengan bajunya. Logika kami membimbing kesimpulan bahwa Gunung Kelud telah meletus. Herannya adalah, Tulungagung yang mungkin berjarak 100 km dari lokasi, terkena hujan pasir yang cukup parah, lalu bagaimana di Kediri dan Blitar? Seberapa besar musibah ini? saya masih penuh dengan tanda tanya.
Setelah itu, kami berharap ada berita penjelasan resmi dari tv. Tetapi pada jam-jam itu, masih belum ada tayangan resmi. Hanya tulisan berjalan yang ada di Metro dan TVone. Itu pun kalau tidak salah mulai ada sejak pukul 02.30. Tidak ada satu pun di rumah itu yang tidur. Saya mencoba menelpon ibu di Banyuwangi, agar mencari kabar budhe saya yang memiliki rumah di Candisewu, Blitar. Jaraknya cukup dekat dengan Gunung Kelud membuat kami sekeluarga khawatir, apalagi ternyata hp keluarga Blitar tidak ada yang bisa dihubungi. Sedangkan di luar, hujan pasir masih terus mengguyur hingga subuh menjelang.
Mungkin sudah biasa jika saat bencana, terdengar berita-berita hoax atau omong kosong. Termasuk saat bencana Gunung Kelud kali ini, tersebar kabar sms bahwa 2 jam lagi (sekitar pukul 3 waktu itu), akan terjadi letusan yang lebih dahsyat. Ah, ini tentu tak dapat dipercaya, karena setahu saya, erupsi tidak pernah bisa diramal. SMS dari BNPB yang biasanya muncul untuk memberikan penjelasan, tidak kunjung ada hingga pagi hari.
Sekali lagi, berita yang dapat dipertanggungjawabkan sangat dibutuhkan pada detik-detik terjadinya bencana. Sulit sekali mencari informasi, karena semua pihak mungkin ada dalam keadaan kalut. Oleh karena itu, sudah selayaknya kantor berita nasional menyajikan informasi yang tidak melebih-lebihkan. Pada pagi hari, kami masih menyaksikan salah satu channel tv nasional memberitakan abu dan pasir di Madiun, Ngawi, juga Tulungagung berkisar 5 hingga 10 cm! Kalau di Kediri, kami percaya... lha di Kota Tulungagung sendiri, paling tebal mungkin hanya 1-2 cm.... Jarak pandang juga di pagi hari mungkin sedikit berkabut, tapi di siang hari, hampir normal. Di televisi disebutkan jarak pandang di Karanganyar hanya 5 meter, tetapi di tayangan videonya, mungkin 20 meter. Aish.... berita yang melebih-lebihkan hanyalah membuat orang yang dalam keadaan panik, menjadi skeptis dan semakin tidak panjang akal...
Untunglah dalam beberapa kondisi, komunikasi modern pribadi (baca: hape) menunjukkan gunanya. Dini hari itu juga, kami mendapat kabar dari teman di Pare, Kediri. Kondisi di sana lebih parah, karena hujannya berupa kerikil. Kabar lain dari Batu menyebutkan bahwa jalur raya Pujon, Ngantang, Kandangan, dan sekitarnya sudah ditutup karena tebalnya abu dan material vulkanik. Dari Malang Kota terdengar kabar menggembirakan, karena di sana tidak ada hujan abu sama sekali. Pagi-pagi, sekitar pukul 05.30, saya mendengar kabar dari kawan di Kaliurang, Jogja, telah mengalami hujan abu yang parah. Saya sendiri tidak percaya kalau Jogja bisa mendapat hujan abu yang parah. Tidak pernah terpikirkan bahwa kedahsyatan Gunung Kelud mampu melontarkan abu ke atas, dan terbawa sejauh jarak Kediri-Jogja. Pada pukul 06.00, kami sudah bisa melihat berita tv setelah beberapa saat di sana mengalami gangguan sinyal. Ternyata memang benar, Jogja diselimuti abu vulkanik Gunung Kelud. Bukan hanya itu, belakangan telah terjadi hujan abu yang parah dan merata di jawa tengah dan jawa barat, suatu hal yang sangat luar biasa menurut saya... benar-benar dahsyat Kelud kali ini...
Kedisiplinan, kecepatan, dan harapan...
Ketika mendengar, dan tentu saja melihat tayangan-tayangan televisi tentang bencana ini, saya sungguh bersyukur... kenapa? karena jumlah korban berhasil ditekan (saat itu tercatat 3 orang tewas, semua dari Kab. Malang). Hal ini adalah suatu prestasi, karena besarnya skala bencana ini. Bahkan dari kawan saya, saya dengar telah dipersiapkan pos-pos evakuasi, jalur evakuasi, yang meskipun hanya dilakukan kurang lebih 2 minggu saja sebelum kejadian, semua nyatanya dipatuhi oleh warga di sekitar Gunung Kelud. Tanpa peduli erupsi tahun 2007 yang 'kurang' dahsyat, mereka nyatanya tetap patuh dan tidak menganggap remeh arti sebuah kata : 'siaga'. Suatu hal yang menyadarkan saya bahwa lambat laun, Indonesia telah belajar dari pengalaman bencana-bencana yang telah dilaluinya.
Semakin siang di tanggal 14 itu, semakin banyak orang yang membersihkan genting-genting mereka dari pasir dan abu. Di jalanan, pada beberapa lokasi, telah disemprot secara swadaya oleh warga. Meskipun pasar sepi, tetapi sekolah di Tulungagung masih aktif. Bersih-bersih juga dilakukan di kabupaten lain yang terdampak, tapi tidak cukup parah, seperti Madiun, Ngawi, Trenggalek, dll. Saya menyaksikan, hampir tidak ada keluhan saat melakukan itu. Seakan-akan, secara otomatis, mereka membersihkan dengan kesadaran bahwa dalam bencana, tidak ada yang perlu disalahkan, tidak ada yang dituduh-tuduh. Benar-benar saya merasa, ini adalah peristiwa paling sangar di tengah ke-pesimisan negara ini terhadap sisi-sisi terekspose : politik, ekonomi, isu sara, dsb.
Sesuatu yang kurang dalam penanganan memang ada. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang menjadi alasan agar kita mudah menuduh. Contoh nyata adalah keberadaan masker di kota-kota terdampak. Tulungagung sendiri benar-benar kekurangan pasokannya, baik di apotek maupun rumah sakit, semuanya menghilang. Sehari sesudahnya, masih tetap sulit mencari masker, sehingga di jalanan dan di fasilitas umum, masih banyak terlihat orang tanpa masker. Padahal, jalanan berdebu karena abu dan pasir vulkanis. Saya hanya maklum saja akhirnya, karena menjadi salah satu orang yang tidak kebagian masker. Namun, belakangan saya mendengar bahwa masker diprioritaskan untuk orang sakit, dan pasokan diprioritaskan untuk daerah bencana : Kediri, Blitar, dan Kab. Malang, nah lhoh...
Meniti jalan kembali...
Hari ini (16/2), saya melihat percakapan antara wartawan Metro tv dengan Bupati Kediri, Haryanti Sutrisno. Dalam percakapan itu, sang wartawan menanyakan tentang kebutuhan dan keberlanjutan proses penanganan ke depan. Salah satu statement beliau yang berkesan adalah : "masyarakat bukanlah orang yang malas... Dengan diberi material bangunan, mereka dengan senang hati akan memperbaiki rumahnya sendiri. Kami bekerja sama dengan beberapa BUMN untuk mulai melakukan pengadaan material bahan bangunan..."
Saya rasa, kenyataan seperti itulah yang membuat kita bergembira. Meskipun di tayangan selanjutnya, masih ada beberapa kelompok masyarakat yang meminta-minta (padahal bantuan sudah ada di pos-pos pengungsian), tetapi sudah jelas bahwa karakter masyarakat kita mulai berubah... Jika sebelumnya kita melihat banyak orang yang menunggu, menunggu, menunggu... namun kini, mereka mulai melakukan apa yang seharusnya bisa dilakukan. Pemerintah dan rakyat benar-benar terlihat bergandengan tangan dalam menghadapi bencana!
...dan akhirnya saya hanya bisa mengingat-ingat perjalanan pulang tanggal 15 februari itu... di kiri-kanan rel berwarna putih karena abu vulkanis. Gerbong-gerbong KA Penataran/Rapih Dhoho juga menjadi putih karena abu. Perjalanan terlambat 1,5 jam karena kereta melambat saat melintasi Kediri.
Meskipun lambat, tapi sampai dengan selamat.
Sama seperti kita orang Indonesia, meski lambat, tapi toh akhirnya kita mulai belajar untuk menghadapi bencana... :D
sugeng makarya bagi masyarakat Blitar, Kediri, Kab. Malang dan sekitarnya, serta daerah terdampak lain :)
![]() |
| Di balik pagar rumah... semua terlihat putih. |
![]() |
| Serasa di Inggris... cuman ga adem, hehe |
Senin, 23 September 2013
Capuuunggg.... tidaaaak.....!
Mungkin saya termasuk orang yang 'agak alergi' dengan kata-kata pengamatan capung. Beuh, kok bisa? yap... saya sebenarnya merasa agak malas untuk mengeidentifikasi jenis-jenis anggota ordo Odonata ini, masih merasa sulit. Alasan kedua tentu saja.... saya takut air. hehe, apalagi hewan ber'buntut' panjang ini banyak sekali main di air-air. Lagipula, saya termasuk orang yang telat terinfeksi virus pengamatan capung yang sudah disebar oleh kawan-kawan Indonesia Dragonfly Society (IDS), bahkan, meskipun mereka mengawali karirnya yang luar biasa di Kota Malang, tempat saya selama ini kuliah. Saya heran, mereka kok mau ya, bawa jaring serangga, pakai celana pendek, moto capung, apa ga ada kerjaan kali ya? (padahal, saya berucap sambil bawa jaring kupu-kupu, wkwkwk).
Alhasil, ke-dengki-an saya terhadap hewan yang satu ini harus diuji di pertengahan bulan September ini. Pasalnya, ketika saya enak-enak menikmati pertunjukan karnaval di depan rumah, lha kok hampir ditabrak 'benda-putih' yang terbang cepat sekali. Hanya sekilas, kemudian menghilang. Asyem, mungkinkah itu si capung Putih alias Zxysomma obtusum? Hehe, saya sedikit ngerti, karena teman kuliah saya sempat cari-cari capung ini sebagai bahan Tugas Akhir (TA). Namun, namanya juga ogah, ya sudah, saya masih malas ngejar.
Alhasil, ke-dengki-an saya terhadap hewan yang satu ini harus diuji di pertengahan bulan September ini. Pasalnya, ketika saya enak-enak menikmati pertunjukan karnaval di depan rumah, lha kok hampir ditabrak 'benda-putih' yang terbang cepat sekali. Hanya sekilas, kemudian menghilang. Asyem, mungkinkah itu si capung Putih alias Zxysomma obtusum? Hehe, saya sedikit ngerti, karena teman kuliah saya sempat cari-cari capung ini sebagai bahan Tugas Akhir (TA). Namun, namanya juga ogah, ya sudah, saya masih malas ngejar.
Esoknya, lha kok capung putih ini ketemu di kebun salak belakang rumah. Sehari berikutnya juga. Capung yang punya kebiasaan keluar di sore dan pagi redup ini benar-benar gemar bertengger di rumpun salak yang gelap. Saya ambil kamera saya, dan langsung jepreet-jepreet... Tiap jepretan, saya berhenti untuk mengaguminya. Hwaduuh, kamu kok keren sekali seh? warnanya perak, kontras sekali dengan lingkungan yang gelap. Tiap jepretan selalu mengandung penasaran. Langsung saja saya tanya ke kawan saya yang pernah meneliti hidup Zxysomma obtusum ini. Wah, ternyata, hewan ini cukup jarang ditemui, terutama di wilayah-wilayah tertentu. Lagipula, tentang si 'putih' ini, masih banyak tidak diketahui. Mungkin, inilah yang membuat saya agak menyunggingkan senyum..."ternyata, kamu unik juga..."
![]() |
| Bagian atas Capung Putih |
![]() |
| Bagian bawah |
![]() |
| Bagian samping |
Rabu, 18 September 2013
Sebut saja kami pekerja (Gacorane Sie Konsumsi PPBI : selesai)
"Ini unik saudara-saudara... Anda ada di sini 4 hari, tapi diberi makan 3 kali, tidur di lantai, kedinginan, berangkat naik truk, bahkan kalau mau bikin kopi, juga buat sendiri. Selain daripada itu, semuanya itu harus anda bayar....Ada tiga kemungkinan mengikuti PPBI 2013 ini:
1. Anda sudah ditipu panitia,
2. Anda memang mudah ditipu,
3. Anda benar-benar tulus untuk datang bertemu di PPBI 2013 ini."
... begitu mak degg saya pribadi mendengar perkataan dari Mas Swiss, salah seorang pengisi acara di tempat ini. Memang, mungkin maksudnya adalah mengkritik secara halus, atau memang niat dalam mengisi acara serius malam terakhir itu, ia memilih satu 'isu seksi' untuk memulainya, alias guyon belaka. Bukannya bagaimana, tapi kami dari panitia sudah berbisik-bisik tidak enak dalam hal-hal yang sudah disebut di atas, bahkan sebelum mulai acara ini. Kekhawatiran tentang masalah dana mungkin lebih enak tidak diceritakan. Intinya, banyak hal dalam persiapan ini tidak berjalan mulus, sehingga untuk 'memotong dana', semua acara di-sumpel-kan di Cangar, dengan segala fasilitas yang rekoso temen...
Mungkin, di sinilah, saya pribadi harus mengangkat semua jempol yang saya punya untuk barisan panitia yang bekerja dengan sangat keras. Segala keadaan yang tidak enak, 'harus' dibikin enak. Dari perlengkapan, barang-barang wajib-cangar seperti alas tidur (tikar, karpet), juga perangkat kelistrikan, diusahakan sebisa-bisanya. Entah, usaha jungkir-walik model apa, sehingga semua barang-barang itu terkumpul, yang jelas, dengan senyum mereka selalu laporkan: "beress mas bro". Dari transport, tiga orang lelaki yang disibukkan dengan urusan ngojek peserta. Yapp, inilah yang terberat dari yang terberat, alias yang kasar dari yang kasar. Mulai dari disibukkan urusan jemput peserta dari luar jawa, hingga medan Cangar yang berbahaya ketika malam hari, apalagi jika setelah hujan. Kabut tebal membuat jarak pandang hanya berkisar 2 meter, dan dalam keadaan inilah mereka bekerja. Bahkan, salah seorang anggota dari mereka harus tumbang karena kedinginan berat di malam terakhir, salute...
Ada beberapa sie-keputrian yang ada di sekitar saya, hehe.. eits, jangan berprasangka apa-apa dulu, tapi mereka inilah yang secara langsung menjadi 'tangan kanan' saya. Mulai dari konsumsi, kesekretariatan, hingga acara, langsung di-embat saja. Mungkin, mereka inilah yang selalu saya cari untuk berdiskusi dan memutuskan sesuatu. Saking sibuknya, mereka pernah menghela napas saat saya harus memanggil mereka waktu bangun pagi, hehe...
Saya menyebut mereka adalah panitia terbaik, karena banyak sekali alasan, tapi satu hal yang perlu saya bocorkan... mereka tidak pernah saling lempar tanggung jawab, saling tuduh, atau saling-saling yang lain, yang bersifat jelek. Kalaupun ada, mungkin ya dari saya, hehe... Saking sopannya, mereka selalu tidak lupa menambahkan kata "tolong" tiap ingin yang lain melakukan sesuatu. Atau tiap sms, tidak pernah lupa emote senyum atau ketawa, atau bahkan diimbuhi "hehehe".
Tidak ada kerja keras yang tidak membuahkan hasil, mungkin itu yang saya yakini secara pribadi. Saya ndak ngerti, apa yang ada ada di benak para peserta tentang berbagai kekurangan di PPBI 2013 ini. Baik atau buruknya, lebih atau kurangnya, kami hanya bisa bekerja dan bekerja saja. Mungkin lebih tepatnya, kami ini adalah pekerja. Tentu, kami sangat bahagia jika PPBI 2013 ini menghasilkan buah-buah yang manis. Salah satunya yang paling manis adalah adanya kejelasan bersatunya ouput pengamatan burung dalam skala nasional! Kita tidak lagi bicara daerah, komunitas atau instansi. Sekali lagi, kita semua akhirnya bersama-sama menyingsingkan lengan baju, untuk tujuan bersama. Macam sumpah pemuda saja, hehe... Outputnya adalah Atlas Burung yang mulai digarap konsep fisiknya. Database dengan sistem online akan mempercepat dan mempermudah pihak pengamat yang meng-upload datanya, atau dari pihak yang membutuhkan ingin mengakses. Saya hanya membayangkan, jika output ini berhasil, maka progress kemajuan pengamatan burung akan benar-benar nyata, cepat, transparan, dan skala besar brooo... Memang tidak dipungkiri, jika ini mungkin awalnya hasil ide dari beberapa orang saja. Tapi saya pribadi, mengakui ini adalah brilian.. hm,
Aah... saya mulai bingung untuk merangkai kata lagi, untuk menceritakan banyak hal tentang PPBI 2013. Mulai dari tamu-tamunya, pengalaman-pengalaman kocak, atau dari acara-acara yang ada, tentang jajak pendapat kelangkaan burung, kabar pengamatan burung di daerah, waaah... saya makin bingung. Yang jelas, semua peserta sudah damai di kotanya masing-masing, dengan kegiatannya masing-masing, dan hidupnya masing-masing. Namun, semangat untuk bersatu, kiranya tidak ditelan oleh waktu. Pun satu hal yang paling penting, output yang pondasinya dibangun di masing-masing daerah, tetap harus dilakukan. Tak ada waktu istirahat rasanya untuk dunia pengamatan burung Indonesia yang lebih baik. Bagaimana lanjutannya? yang jelas, persiapkan data-data pengamatan burung anda dengan rapi, karena sudah pasti, data tersebut akan turut membangun program nasional ini.
So, sampai jumpa tahun depan. Bersamaan dengan ulang tahun PA Haliaster, Undip, kita akan bertemu di PPBI 2014, Semarang.
Sugeng Rahayu,
Sukses Selalu.
Selasa, 10 September 2013
Warnet Bebas (Gacorane Sie Konsumsi PPBI : part II)
Warnet apa yang bisa kongkow dari siang sampai malam, bisa bikin kopi dengan kompor lapang, dengan tiduran maupun ngobrol serius??? dan, ditambah lagi... gratis. Apalagi kalau bukan kaaaampuuus... yepp, kampus Universitas Brawijaya, lebih spesifik lagi gazebo depan biologi, adalah tempat paling indah dalam menyusun acara PPBI 2013 ini. Mungkin, inilah satu-satunya jasa almamater saya dalam mendukung acara ini :D
Tidak ada agenda khusus untuk kumpul bareng bertajuk rapat ini. Tiap anggota melakukan tanggung jawabnya sebagai 'pelancar' mencari sponsor, mbuh dia sie apa. Selagi kerja untuk mencari yang namanya duit, usaha publikasi terus dikipasi. Segala kesaktian merayu-rayu calon sponsor digunakan. Segala daya-upaya nggedabrus sudah digunakan. Apa yang bisa diusahakan, yo weslah, dikerjakan.
Lama-kelamaan, ketemuan-ketemuan semakin meningkat. Awalnya, ketemuan yang hanya dilakukan 1-2 minggu sekali untuk melaporkan progress, dan membahas langkah ke depan, semakin lama, hanya dapat jeda 2 hari, atau bahkan 1 hari. Ke-ribet-an, berlalu dalam hari-hari panitia. Syukurlah, sebagian besar ada dalam keadaan libur. Kawan-kawan Universitas Negeri Malang (UM) memang kebanyakan PKL (Praktek Kerja Lapang), termasuk salah satunya posisi vital: sekretaris dan bendahara. Wealah, untung yang bendahara PKL di malang saja. Kawan-kawan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang banyak menempati bagian teknis, malah praktek mengajar... ampun. Berbagai kerjaan akhirnya terpaksa dirangkap-rangkap, ditekuk, diemplok sama-sama. Pokoknya, panitia tiba-tiba jadi multitalent lah... hehe,
Semakin dekat, napas panitia makin kembang-kempis. Mbuletnya uang setan (karena adanya cuma angka), juga harus ditambah dengan onlen yang tiada henti. Jika pembaca melihat sarana publikasi acara yang selalu online (OL), itu dikarenakan server digilir saja. Siapa yang bisa, ya OL. Nah, warnet bebas ini memainkan peran besar. .Mau ngenet sampai dhobos wudele ya ndak papa. Namanya juga bebas, orang bisa bebas komen kegiatan kami. Mulai dari sekedar bertanya : "rapat tah?" hingga tatapan aneh yang tertuju pada panitia yang selalu penuh dengan kelakar. Secara khusus, karena banyak staf, dosen, mahasiswa (adik kelas) yang kenal saya, selalu tertuju pada pertanyaan-pertanyaan berikut:: lho,kowe kok ra megawe?", "kowe kok ra sekolah?", atau yang sarkastik: "gunamu nang kene opo?". Pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa saya jawab dengan senyum simpul....Saya yakin, tidak pernah ada seorangpun dari antara mereka bermaksud jahat atau saya yakin mereka hanya guyon semata. Mungkin juga ini menjadi pengingat, secara pribadi saya masih memiliki agenda hidup yang harus diperjelas. Artinya, PPBI bukan satu-satunya hal yang njlimet yang harus dihadapi: masih ada hari yang lebih rumit, dan hanya tunggu Tuhan menurunkannya untuk kita, sekaligus solusinya :D
Kalau kami sumpek bahas kerjaan panitia, ya bahas sepakbola, tempat belanja murah, kuliner, pengalaman PKL, dan mungkin yang agak nggenah adalah jadwal pengamatan. Aah... berlama-lama di warnet bebas, membuat saya terkenang. Masa-masa dietrek-etrek, dianggap memiliki hidup nestapa karena tanpa status yang jelas (demikian tentunya dirasakan juga oleh para panitia lain). Wealaah... kapan kumpul di warnet bebas lagi? :)
Kalau kami sumpek bahas kerjaan panitia, ya bahas sepakbola, tempat belanja murah, kuliner, pengalaman PKL, dan mungkin yang agak nggenah adalah jadwal pengamatan. Aah... berlama-lama di warnet bebas, membuat saya terkenang. Masa-masa dietrek-etrek, dianggap memiliki hidup nestapa karena tanpa status yang jelas (demikian tentunya dirasakan juga oleh para panitia lain). Wealaah... kapan kumpul di warnet bebas lagi? :)
Kamis, 05 September 2013
Angkringan Panas (Gacorane Sie Konsumsi PPBI : part I)
Perkenalkan, saya adalah Sie Konsumsi sejati. Bukan karena pintar masak sehingga layak dijuluki Master Chef, tapi karena memang tukan ngempil makananan :D . Mungkin dari beberapa kawan sudah tahu tentang acara Pe-Pe-Be-I, atau lebih panjang lagi bernama Pertemuan Pengamat Burung Indonesia. Nah, di dalamnya saya sudah tersedot ke dalam lobang kepanitiaan yang kompleks dan mungkin tak sanggup diceritakan dalam dua episode sinetron.
Masih teringat jelas ketika beberapa anak malang diam di pojokan salah satu homestay Kaliurang, Jogja, pada tahun lalu, untuk mendengarkan celotehan para pengamat burung yang membahas banyak hal. Sekedar tersadar dari kantuk, nama-nama Malang tiba-tiba disebut-sebut. Lhoh-lhoh, apa ini? wealah, ternyata, mereka secara aklamasi memilih nama malang sebagai tuan rumah untuk PPBI tahun 2013. Sialnya lagi, arek-arek malang yang duduk di seberang (saya sendiri duduk di antara anak jogja, sendirian), malah ikut tepuk tangan sambil bersorak-sorai. Weh, pengkhianat ini namanya!
Jadilah pada malam-malam bulan Maret, kami arek pengamat burung malang, yang lebih sering dicap :SERIWANG, menghabiskan waktu dengan berkumpul. Awalnya sih hanya ndobos tentang PPBI, terutama setelah ada susunan panitia. Sok ngerti masalah konsep, keblinger dengan masalah uang, weaaalaah... ketika dobosan kami sadari menghabiskan banyak konsumsi kalori, cafein, dan nikotin, akhirnya kami jadi ngantuk! Hoaahem.... malam-malam kelam tanpa hasil terus berlanjut. Mungkin, sekitar dua atau tiga minggu setelahnya, kami berhasil mengerucutkan sesuatu hal, termasuk pondasi penting dalam event ini: hubungi sebanya-banyaknya orang yang bisa mewakili, dan publikasikan segiat-giatnya. Masalah waktu, langsung kami tembak akhir agustus, padahal acara masih nol. Masalah wakil, keinginan kami hanya satu, yaitu membawa daerah-daerah itu untuk berbicara, menunjukkan eksistensi kegiatan pengamatan di daerah, dan tentu saja, kesan Java-sentris, atau bahkan Jogja-sentris, itu memudar. Dari sini kita harus tahu, bahwa keragaman informasi dari seputar nusantara masih perlu digenjot. Nanti bicaranya tentang apa? Saya hanya memberi satu kata : sembarang. Artinya, perwakilan nanti bebas berbicara tentang temuan baru, progress komunitas di daerahnya, kegiatan pengamatan, spesies-spesies yang menarik, atau apapun lah, selama temanya masih burung di daerahnya. Dari para panitia mungkin hanya bisa berharap, nantinya ketika mereka bicara, mindset para pengamat burung bisa terbuka, bahwa sebenarnya Indonesia itu luas brooo.... tidak tergambarkan ketika mereka upload foto atau info di facebook saja. Dengan membawa orang-orang asli dari daerah itu, niscaya, ke depan sharing informasi semakin akrab, lancar, dan makin kental nuansa Indonesia.
Nama-nama pun kami kantongi, semuanya dihubungi. Kriteria utamanya adalah: pengamat burung, termasuk kawakan, dan kalau bisa... muda. Oleh karena itu, banyak dari beberapa kawan perwakilan yang hadir merupakan anak gahoool. Hanya sebuah harapan, ketika yang muda-muda ini sudah benar-benar senior, mereka akan menggantikan nama-nama legenda yang sampai bosen didengar oleh kaum pengamat burung. Pondasi pertama digarap, lalu pondasi kedua juga akhirnya beranjak digarap, yaitu dana. Whealaaah, yang satu ini saya serahkan ke teman-teman yang lebih ahli (saya kan sie konsumsi). Yang pasti, jatuh bangun untuk sekedar mendapatkan diskon dan sumbangan barang itu susahnya minta ampun. Mungkin, memang benar kata Mas Swiss, kita itu tidak dikenal oleh masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan aneh mirip:"apa itu pengamat burung? atau, ini logonya burung apa ya?", selalu mampir di telinga. Weh-weh, belum lagi prediksi kenaikan BBM yang akan datang sebentar lagi, membuat kami mikir sampai uraten. Tak sanggup rasanya memutuskan kontribusi itu sebesar 150 ribu. Dhuh, meskipun mereka bisa nabung dulu toh, kami tetap penuh keterbatasan, tidak ada beking, dan sampai-sampai ndak enak tenan. Namanya juga sebagian besar calon peserta masih mahasiswa.
Dari sini kami benar-benar gelap. Apa yang bisa dikerjakan, langsung dikerjakan saja. Dua pondasi utama yang dikejar, tetap diimbangi dengan doa: mugo-mugo, nanti acaranya bisa benar-benar menjadi wadah pengayom, silaturahmi, dan ada sesuatu yang clear, dapat dihasilkan untuk masa depan pengamat burung di Indonesia. Angkringan Pak Klaten ini jadi saksi bisu anak-anak muda yang ngobrol ngalor-ngidul. Makin hari makin panas: panas kopinya, panas gorengannya, dan akhirnya... panas juga harganya setelah BBM harganya dinaikkan. Wheladalah, terpaksa angkringan yang jadi rumah kami selama ini, harus ditinggalkan pada bulan Juli itu...
Rabu, 24 Juli 2013
Mud-puddling : upacara pungkasan kangge kupu wadon
- Saderengipun, kulo nyuwun pangapunten tumrap pamaos, amargi nulis bab niki ndhamel basa jawi. Tujuanipun namung nguri-uri kabudayan jawi ingkang sampun wonten salebeting rah kula lan sampun dados kewajiban tumraping sedaya tiyang nem Indonesia amrih sami-sami nguri-uri basa daerahipun piyambak-piyambak -
Kapethik saking tontonan TV ingkang kula tingali kalawau, wonten bab ingkang narik kawigaten kulo, yaiku bab "mimpi sebelum kematian". Saking mriku, kula kaengetaken bab ingkang sami inggih kalampahan dening salah-satunggile mahkluk ingkang naminipun kupu-kupu. Lha kok ngoten? Nyatanipun, kupu-kupu sampun dhangu disumerepi gadhah nyawa mung sakeplasan mawon. Menawi sampun rampung tumindhake bab reproduksi, anggota ordo Lepidopera punika sami pejah, ninggalaken anak-anakipun ingkang awujud larva (uler).
Kalandhesan bab punika, kula pados bahan ingkang nuntun kula dhateng bab mud-puddling. Mud-puddling, utawi penyerapan mineral punika fenomena penyerapan mineral dening kupu-kupu. Mud-puddling kalampahan wonten ing kubangan, pinggiripun lepen, kotoranipun rajakaya, lan sapanunggale ingkang ngandhut bahan-bahan mineral. Prastawa mud-puddling punika umumipun kalampahan dening kupu-kupu jaler. Wonten sawetara alasan punapa prastawa wau kadados:
Kalandhesan bab punika, kula pados bahan ingkang nuntun kula dhateng bab mud-puddling. Mud-puddling, utawi penyerapan mineral punika fenomena penyerapan mineral dening kupu-kupu. Mud-puddling kalampahan wonten ing kubangan, pinggiripun lepen, kotoranipun rajakaya, lan sapanunggale ingkang ngandhut bahan-bahan mineral. Prastawa mud-puddling punika umumipun kalampahan dening kupu-kupu jaler. Wonten sawetara alasan punapa prastawa wau kadados:
1. Kupu jaler perlu mineral
Kupu jaler perlu sanget nyerep mineral. Bab punika mbothen ateges kupu wadon mbothen butuh mineral. Kupu jaler ngluwihi kabutuhanipun kupu wadon amargi jarak jelajahipun luas lan mabur luwih kathah tinimbang kupu wadon. Mineral, umumipun natrium, tansah dibutuhaken dhamel aktivitas neuromuscular, yaiku proses penggerakipun otot swiwi ingkang dhamel mabur.
2. Transfer mineral
Kupu jaler badhe kelangan kathah mineral menawi kawin kaliyan kupu wadon. Prastawa punika kadados amargi kupu jaler mindahaken sawetara mineral dhateng kupu wadon. Mineral punika minangka 'bekal' ndhamel ndhog (telur). Kupu wadon sarampungipun ngendhog, umumipun kathah ingkang pejah. Umur kupu punika mbothen sami, manut kaliyan jenis spesiesipun piyambak-piyambak. Kupu jaler taksih saged gesang ngantos reproduksi ingkang kaping kalih utawi tiga, lan wangsul dhateng area mud-puddling supados nggantosi mineral ingkang sampun ical.
Mula saking prastawa punika, kula saged nggambaraken mineral punika inggih hadiah pungkasan dhamel kupu wadon, lan mud-puddling punika inggih prastawa utawi fenomena ingkang sami kaliyan upacara kematian, ingkang saged kaladhosan kanthi endah manut kaliyan tata-aturipun Gusti. Mungguh Ageng Gusti Allah kita, ingkang sampun nyabda kupu-kupu, ugi prastawa-prastawa ingkang mboten saged mlebet dhateng nalar kita.
nuwun,
![]() |
| Prastawa mud-puddling dening Cyrestis lutea ing Coban Rais |
Sumber rujukan:
Boggs, CarolL. dan Lee A.J. 1991. Mud puddling by butterflies is not a simple matter. Ecological Entomology (1991) 16, 123-127
Beck, J., Eva M., dan Konrad F.. 1999. Mud-puddling behaviour butterflies: in search of proteinsor minerals? Oecologia (1999) 119:140-148
Rabu, 10 Juli 2013
Bentet Kelabu dan Saktinya Libur Semester
Bentet Kelabu (Lanius schach) atau yang akrab disebut penthet, cendhet, atau sebutan lokal lain, ternyata juga 'ditemukan' di Kampus Brawijaya. Walaupun burung ini oleh sebagian pengamat burung kampusan di-cap sebagai catatan ecek-ecek, namun betapa berharganya namanya di list Kampus Brawijaya. Nampaknya, burung ini tidak terima ketika namanya tidak disertakan dalam list burung-burung Kampus Brawijaya tahun 2013, sehingga mendadak seperti hantu, muncul. Berawal pada tanggal 22 Juni 2013, beberapa mahasiswa suka keluyuran (biar kelihatan sukses) ingin sekedar hunting foto kupu-kupu di Kampus Brawijaya. Sebut saja orang-orang macam Adityas Arifianto (Strix nebulosa), Faldy, Bayu Hendra, dan terakhir Arief Budiawan (Budhek, pacarnya sasha) bergabung dalam acara keluyuran ini. Dimulai dari penyisiran Gedung Fak. Perikanan yang setengah jadi, kami mendapatkan banyak foto-foto kupu yang sexy abis. Ditambah lagi hasil dokmentasi Klarap (Draco volans) yang seringkali cuma ngece ketika hewan ini serius dicari.
![]() |
| Sendirian Saja, ada yang mau menemani? |
Penyisiran diperluas ke arah Glass house F. Pertanian dan kemudian masuk ke kebun percobaan. Nah, di sinilah sang Kuping Copet, Bayu Hendra mendengar suara Cendhet yang bertalu-talu. Setelah itu, beliau segera melihat burung dengan ekor panjang yang bergerak-gerak di rangka besi tempat penyimpanan tanaman. Memang dasarnya mata saya minus, saya selalu bertanya-tanya ke Bayu: "Endi seh...? Endi seh?". Rasa frustasi ini makin ditambah ketika di sebelah saya, Budhek, berkata dengan tenangnya: "oh.. kae toh...", lalu bergabung dengan Bayu untuk memotret. Siaaal.... saya yang terakhir belum dapat. Ketika kami makin mendekat, akhirnya burung ini terbang. Lhaah... syukurlah, ternyata tidak jauh-jauh, hanya mampir di cabang Trembesi bagian bawah. Akhirnya saya pun bisa ikut memotret.
Menurut analisa pengira-ngira saya, memang burung ini adalah Bentet Kelabu muda. Bulunya masih njerabut alias kusam dan tidak rapi. Ekornya pun masih pendek. Nah, pertanyaan yang kemudian kami diskusikan hari itu adalah: kenapa, dan mulai kapan? Yap, Bayu sendiri mengira burung ini mungkin bukan lepasan. Saya pribadi tidak tahu alasannya apa, yang jelas, menurutnya, burung lepasan sangat mudah didekati dan ditangkap kembali. Selain itu, tentu burung ini hanya akan berputar-putar di sekitar rumahnya dahulu, bukan di semak-semak seperti ini. Lalu pertanyaan kedua coba saya cari jawabannya dengan membuka data-data tahun 2008, nihil. Data pengamatan anak-anak zoothera pun tidak ada. Wah, semakin penasaran.... kok iso yo? macam hantu saja.
Belakangan, Adityas alias Strix nebulosa ikut nimbrung. Menurut pendapatnya, Kampus Brawijaya sangat ghoib bila liburan, entah Sabtu, Minggu, atau bahkan libur semester. Seakan-akan, hewan-hewan yang aneh-aneh dikeluarkan dari perut kampus yang super-sibuk ini. Hm, masuk akal juga. Kampus yang memiliki jumlah mahasiswa terbesar di Jawa Timur ini tidak heran akhirnya turut menyumbang penurunan habitat hewan di lingkungannya, ya secara kuantitas, ya kualitas Bahkan, kabarnya, dengan mahasiswa baru yang berjumlah 17.530 orang pada tahun 2012, membawa kampus ini menjadi kampus yang terpadat di Malang untuk sebuah luasan 58 ha. Nah, bisa anda bayangkan kan, betapa ramainya kampus kami ketika hari aktif perkuliahan. Sebagai gambaran, menyeberang jalan di kampus sangat susah. Bukan karena takut ditabrak oleh lalu-lalang kendaraan broo... (itu cuma no 2!), yang pertama adalah, tidak bisa melewati jajaran motor yang diparkir rapi! Seakan-akan, motor-motor tersebut menjadi pagar pembatas antara jalan aspal dengan trotoar, dan bukan hanya satu sisi, tapi dua sisi! Luarrr biasaaa....Apakah ada parkiran? oh, jelas ada, tapi akan segera penuh ketika jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, sisanya... ya mblangkrak di pinggiran jalan seperti yang saya sebut di atas.
Meskipun papan perlindungan hewan dipasang di seluruh penjuru kampus, tapi rasanya kami masih ketar-ketir juga. Pasalnya, beberapa satpam juga anggota kicaumania. Apalagi Bentet Kelabu merupakan salah satu burung kicauan favorit yang diincar, yaah... siapa tahu? Belakangan burung Bentet Kelabu yang kesepian ini masih sering nampak di kebun percobaan F. Pertanian. Mungkin hanya di sanalah ia bisa tenang dan sembunyi dari hiruk pikuk manusia dengan menelisik semaknya. Rasanya, burung unyu ini ingin saya bisiki: "kasihan kamu... sekecil ini harus hidup di tengah ganasnya manusia..."
![]() |
| Suasana Kampus saat Hari Aktif: Luar Biasa... ! |
Senin, 08 Juli 2013
Nyruput Teh Ala Wonogiri
Wonoooogiriiii..... mungkin inilah teriakan saya ketika mulai berpikir tentang perjalanan kami di sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah ini. Awalnya, saya tidak pernah terpikirkan seperti apa perjalanan atau tempat yang akan saya kunjungi ini. Hanya saja, bayangan saya : jawa selatan = kering, kapur (karst), panas, dan eksotis, just it! Keluaran hasil magang Adityas Arifianto (alias Strix nebulosa) yang memuat banyak sekali jenis burung air, pantai, atau burung 'aneh-aneh' di awal tahun ini sempat membuat arek zoothera untuk menyandang perjalanan bertitel 'ekspedisi'. Namun, belakangan anggota pelaksananya harus prothol satu per satu karena menanggung permasalahan birokrasi tingkat keluarga :D
Mengambil setting waktu setelah Lomba Birdwatching Baluran, akhirnya saya dan Strix berangkat secara mandiri. Walau dengan badan pegal-pegal efek menginap di 'halaman belakangnya' Mas Swiss, rasanya semangat juga berangkat membayangkan seperti apa Wonogiri, atau target spesifiknya: Waduk Gajahmungkur. Perjalanan dimulai hari Senn malam (1 Juli 2013) dengan menggunakan bus. Dari Malang-Surabaya, perjalanan teramat lancar walau bus cukup padat. Nah, perjalanan Surabaya-Solo inilah yang membuat saya menggumam: aselole tenaaan.. Bagaimana tidak? Kami naik bus favorit Sumber Rahayu. Ia adalah salah satu 'anak' dari PO Sumber Group yang terkenal dengan kecepatannya. Naik bus ini serasa naik pesawat ulang-alik: gorden melambai-lambai, tas-tas bergeser-geser (otak-pun demikian), kening mencium bangku. Bahkan, ketika pukul 03.50 WIB kami sampai di Terminal Tirtonadi, Solo, rasanya benar-benar jetlag. Kaki saya bahkan membentuk huruf O seperti orang kena polio. Selanjutnya, perjalanan dilanjut dengan bus lokal ke Wonogiri hingga akhirnya kami datang dengan selamat pukul 06.30 WIB.
Tanggal 2 Juli tidak ada agenda pengamatan yang merujuk pada Waduk Gajahmungkur. Strix membawa saya (sesuai rencana) ke Gunung Munyuk pada sore hari. Gunung yang tersusun oleh batu ini merupakan salah satu bagian gugusan pegunungan yang menjadi areal pertambangan batu milik rakyat. Hampir tidak ada burung yang secara kualitas menarik di sana. Kami mulai membicarakan bahwa kabarnya, waktu-waktu seperti ini bukan merupakan musim yang baik untuk birding. Walau demikian, kami sempat melihat atraksi udara antara Elang Ular Bido yang 'dihajar' oleh 5 ekor Kekep Babi setelah melanggar wilayah kedaulatan mereka.
Tanggal 3 Juli, setelah kami menghimpun logistik, kami berangkat ke Waduk Gajahmungkur yang tersohor itu. Rencananya, kami akan berkemah di salah satu spot pengamatan ala Strix dalam dua hari 1 malam. Perjalanannya membutuhkan waktu 1,5-2 jam dengan melewati kampung-kampung. Satu kampung yang menurut saya mengesankan adalah yang bernama Pogoh. Kampung ini terletak tepat di tepi barat Waduk Gajahmungkur. Begitu terkesannya, saya mengambarkannya dalam catatan harian saya demikian:
"Warga Pogoh pandai menata lingkungannya. Tanaman pagar ditata rapi di tiap sisi jalan. Kaum perempuan terlihat menyapu halaman. Rumah-rumah joglo berdiri dengan eloknya. Meskipun sederhana, namun semuanya nampak rapi dan bersih. Pogoh menjadi asri karena banyak tanaman dipertahankan. Hawanya menjadi sejuk, bahkan terkesan lembab, membuat jalanan yang dibuat dengan semen berlumut. Hal ini sangat kontras dengan hawa Wonogiri pada umumnya yang panas dan kering. Kearifan lokal, seperti memelihara Pohon Dhanyangan masih ada, sehingga sumber-sumber air tetap terjaga. Burung-burung pun banyak berkeliaran di antara kehidupan mereka."
Setelah mendirikan tenda, kami segera melakukan pengamatan di sekitarnya. Alhasil, nampaknya kami membuktikan kebenaran tentang sepinya burung di musim ini. Entah apa yang menyebabkannya : musim yang tak kunjung teratur? atau peralihan musim migrasi? Entahlah... Yang jelas, kami kesepian. Namun, di balik semuanya itu, kami menemukan juga salah satu burung migran selatan, yaitu Cekakak Suci (Todirhamphus sanctus). Burung yang menurut saya aneh lagi adalah adanya Remetuk Laut (Gerygone sulphurea). Meskipun kitab SKJB menyebutnya 'umum hingga 1500 m', namun tetap saja ini kali pertama saya melihatnya di sebaran yang sangat jauh dari pantai. Waktu-waktu berikutnya, kami justru punya banyak waktu luang. Selain untuk pengamatan, motret, akhirnya Strix memiliki hobi baru, yaitu memberi makan ikan di waduk layaknya peliharaanya. Aneh memang, tapi seperti itulah efek dari musim.. otak pun menjadi tergeser-geser saat target nihil.
Tanggal 4 Juli, kami membongkar tenda di tengah hari. Setelah itu, kami beristirahat dan pada tanggal 5, saya kembali ke Malang. Well, hampir dipastikan catatan kami berdua tidak melebihi catatan di musim awal tahun. Namun, bagi saya, ini merupakan pengalaman yang berkesan ketika melihat warga tepian waduk yang sederhana. Kultur jawa yang masih melekat menjadi selaras dengan pemandangan dan ketenangan atmosfer air waduk ini. Dari sana, saya belajar bagaimana membayangkan warga negeri penggemar teh ini dalam menghadapi peliknya masalah. Semuanya dihadapi dengan Sak Madyo (secukupnya, tidak berlebihan). Jauh dari hiruk pikuk metropolis membuatnya tidak minder. Bahkan, dari sanalah bangkit pikiran-pikiran jernih yang menjadi embrio kesadaran akan hidup selaras dengan alam.
Monggo tehnya mas... :)
Burung:
![]() |
| Gerombolan Kowak Malam Abu (Nycticorax nycticorax) |
![]() |
| Remetuk Laut (Gerygone sulphurea) |
![]() |
| Cekakak Suci (Todirhamphus sanctus) |
![]() |
| Kipasan Belang (Rhipidura javanica) |
Bonus:
![]() |
| Pemandangan Wonogiri: gunung, hutan, dan tentu saja waduk. |
![]() |
| Sejenak Beraktivitas di Tenangnya Air Waduk |
![]() |
| Menikmati Malam dengan Api Unggun |
![]() |
| Jangan Lupa Bawa Pancing karena Ikan Melimpah |
Daftar Temuan:
1. Burung Gereja Erasia (Passer montanus)
2. Walet Linci (Collocalia linchi)
3. Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides)
4. Bondol Peking (Lonchura punctulata)
5. Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis)
6. Cabai Jawa (Dicaeum trochileum)
7. Cuca Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
8. Merbah Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)
9. Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus)
10.Bubut Alang-alang (Centropus bengalensis)
11. Cekakak Jawa (Halycon cyanoventris)
12. Cekakak Sungai (Todirhamphus chloris)
13. Cekakak Suci (Todirhamphus sanctus)
14. Cinenen Jawa (Orthotomus sepium)
15. Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius)
16. Perenjak Jawa (Prinia familiaris)
17. Perenjak Padi (Prinia inornata)
18. Kipasan Belang (Rhipidura javanica)
19. Kareo Padi (Amaurornis phoenicurus)
20. Cipoh Kacat (Aegithina tiphia)
21. Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis)
22. Caladi Ulam (Dendrocopos macei)
23. Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus)
24. Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nyticorax)
25. Kowak Malam Merah (Nyticorax caledonicus)
26. Layang-layang Batu (Hirundo tahitica)
27. Gagak Kampung (Corvus macrorhynchos)
28. Blekok Sawah (Ardeola spceiosa)
29. Kuntul Kecil (Egretta garzetta)
30. Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis)
31. Cangak Merah (Ardea purpurea)
32. Cangak Abu (Ardea cinerea)
33. Kekep Babi (Artamus leucorhynchus)
34. Elang Ular Bido (Spilornis cheela)
23. Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus)
24. Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nyticorax)
25. Kowak Malam Merah (Nyticorax caledonicus)
26. Layang-layang Batu (Hirundo tahitica)
27. Gagak Kampung (Corvus macrorhynchos)
28. Blekok Sawah (Ardeola spceiosa)
29. Kuntul Kecil (Egretta garzetta)
30. Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis)
31. Cangak Merah (Ardea purpurea)
32. Cangak Abu (Ardea cinerea)
33. Kekep Babi (Artamus leucorhynchus)
34. Elang Ular Bido (Spilornis cheela)
Sabtu, 04 Mei 2013
Belajar Singkat dari Tukang Potong Ayam
Ada sesuatu yang beda saat saya naik kereta api Tawangalun jurusan Banyuwangi-Malang tepat di tanggal 2 Mei, hari pendidikan ini. Sebenarnya saya ogah kembali ke Malang. Selain karena tiket kereta sudah naik (50 ribu broooo), makanan di rumah jauh lebih enak, hehe. Hanya saja karena ingat punya kewajiban memimpin rapat dan sudah memiliki beberapa janji, akhirnya saya kembali juga.
Saat saya masuk ke gerbong 4, saya kemudian mencari nomor 8E. Lhah, ternyata, ada dua orang yang menduduki bangku ini, dan mereka sedang tidur dengan posisi kaki selonjor (meluruskan kaki). Sebenarnya enggan juga mengusik mereka untuk sekedar meletakkan barang, tapi daripada nanti saya harus memindah barang-barang lagi, akhirnya saya bangunkan mereka. Tiba-tiba ada suami-istri di belakang saya menegur saya:
"Biarkan saja, le... Keretanya kosong kok, atau mau duduk sini?" kata sang suami sambil tersenyum, diikuti sang istri yang juga tersenyum mengiyakan, lalu memindahkan barang di depan mereka. Saya menolaknya dengan halus, lalu segera menaruh barang pada tempat barang tepat di atas kedua orang yang terbangun tadi, kemudian saya mencari tempat kosong lain, 12E. Di sanalah saya kemudian mulai menyibukkan diri dengan mengoreksi sebuah tulisan.
Tak lama, kereta sampai di Stasiun Jember. Kedua orang yang saya bangunkan tadi akhirnya turun, dan saya kembali di tempat duduk saya yang sebenarnya, 8E. Nah, suami-istri yang ramah itu kemudian menyapa saya lagi, lalu bertanya-tanya tentang tempat tinggal saya, dan kemudian memperkenalkan namanya tanpa saya tanya. Hal yang cukup langka di era seperti ini, padahal saya juga terlihat (sok) sibuk dengan bendelan kertas dan pensil. Hal yang unik lainnya adalah kedua orang asing ini, dan juga anaknya laki-laki, selalu tersenyum setelah bicara, bahkan sang bapak juga sering tertawa lebar. Akibat tertawanya, pipinya makin bulat lucu. Dari logatnya saja, saya tahu kalau mereka orang suku Osing, Banyuwangi.
Namanya Pak Harun. Ia beserta istri dan anaknya akan ke Jakarta untuk menghadiri reuni keluarga. Nah, satu hal yang sangat membuat saya tertarik adalah ketika sampai di Stasiun Tanggul, ketika anaknya tiba-tiba minta kue molen, dan kebetulan saya juga ingin beli, lhah sang ibu tiba-tiba membelikan saya. Meskipun saya tolak berkali-kali, dia tetap membelikan. Bukan Rp. 2000 seperti budget saya pertama, namun Rp.5000! Ketika saya tersedak setelah makan molen, Bu Harun segera memberi minum air putih. Lhah, mungkin melihat saya heran, bertanya-tanya, sang bapak kemudian berkata :
"Biasa saja nak, biasa saja... hehehe, kami memang biasa melakukan ini, memberi makan anak tetangga yang memang butuh makan kalau di kampung. Nah, ibuk ini malah suka sekali dengan anak kecil. dari dulu sebelum kami punya anak, siapapun yang lewat rumah adalah saudara dan anak kami.." katanya, dan tidak lupa "hehehe".
Wah, ini menarik. Pekerjaan saya kemudian saya tinggalkan, dan saya makin larut bercakap-cakap dengan mereka. Dari percakapan ini, saya kemudian mengerti bahwa beliau punya dua anak, satu sudah seumuran saya, lalu yang kedua baru kelas V SD. Nah, cerita perjalanan hidup kedua anak ini ternyata tidak 'mulus' dan mungkin juga tidak 'membanggakan' bagi sebagian besar orang tua di dunia. Anak pertama hanya kuliah sampai semester 2 saja, lalu kemudian rabi (kawin). Anak kedua ini sangat nakal. Saking nakalnya, dia tidak naik kelas, bandel, paling besar diantara sebayanya, dan suka main PS atau layangan. Anehnya, ketika menceritakan anak-anaknya, tidak ada raut kesedihan di muka mereka. Sang bapak masih dengan tertawanya, dan sang ibu masih dengan senyum simpulnya.
Ketika saya secara tersirat bertanya :"mengapa?", Pak Harun menjawab enteng : "karena memiliki anak itu sudah karunia yang sangat besar. Anak itu mas, bukan target keinginan orang tua. Nah, anak saya yang pertama meskipun cuma lulus SMK, tapi sekarang dia gantikan bapak ngurus dagangan. Kalo si thole ini ya mbuh jadi apa... hehe, klendai?" Tanyanya pada anak laki ini yang selalu di pelukan ibunya. Hm... sekarang saya sadar, banyak orang tua salah dengan memaksakan kehendaknya pada anak. Entah dengan dalih memberikan yang 'terbaik' bagi sang anak, atau dengan dalih 'memberi masa depan yang lebih baik'. Uniknya lagi, ia sangat mendukung ketika anak bungsunya ini punya cita-cita mendesain modifikasi motor seperti sepupunya. Wow, sungguh, Pak Harun yang hanya lulusan SD ini sangat paham tentang kenyataan bahwa anak di dunia memiliki kemampuan dan sisi pintarnya masing-masing!
Selain itu, menurut ceritanya, Pak Harun ini memiki rumah potong ayam sekaligus peternakannya. Meskipun beliau menabung untuk masa depan sang anak, mendidik mereka baik-baik, tetapi seringkali uang tabungan itu digunakan untuk menyekolahkan anak tetangganya! Kesempatan berangkat haji atau umroh sering ia lewatkan, ketika tetangganya sedang membutuhkan. Apakah Pak Harun kekurangan dalam hidupnya?
"Alhamdullilah, kami dicukupkan terus mas. Yang saya lakukan ini diturunkan dari almarhum kakek saya. Saya harap, seperti apapun anak-anak saya kelak, mereka juga mewarisi apa yang kami lakukan. Saya masih ingat ketika kakek saya meninggal, jenazahnya berjalan sendiri!" katanya dengan nada serius.
"Loh, bagaimana bisa pak?" tanya saya tidak percaya.
"Iya, orang-orang berjajar di jalan kampung dari rumah hingga pemakaman. Karena saking banyaknya orang yang datang dan mereka semua ingin mengusung keranda, akhirnya secara beranting keranda itu bergerak, mirip berjalan sendiri." jawabnya sambil tersenyum.
Hm... saya sekarang sadar, banyak orang berebut dengan pendidikan, tapi melupakan esensi penting pendidikan itu untuk memperbaiki kualitas hidup yang singkat ini. Semakin 'terdidik' orang pada zaman ini, mereka semakin jenuh akan nilai-nilai logika palsu yang ditanamkan, dan menginjak nilai-nilai kearifan yang sebenarnya. Sampeyan para pembaca masih ingat ketika UNAS digelar, banyak anak SMA yang stres, kesurupan, atau malah menggantung diri jika tidak lulus. Banyak guru, orang tua, bahkan pejabat menganggap hasil dari pendidikan adalah peningkatan prestise mereka di mata masyarakat. Jika sekolah yang memiliki anak tidak lulus, betapa malunya mereka: teman, guru, atau kepala sekolahnya. Jika daerah yang memiliki angka kelulusan tinggi, betapa bangganya mereka yang menjadi pejabat, bahkan bisa jadi bahan kampanye periode berikutnya. Tapi rasanya tidak ada yang merasakan apa yang dirasakan oleh pihak pelajar, atau anak yang sedang mengalami proses pendidikan itu. Istilahnya, ketika sang anak berkreasi tunggal dengan menyelamatkan cacing, karena mengetahui perannya sebagai penggembur tanah, orang tua, guru, dan pejabat memarahinya dan menyuruh mereka belajar Sains! Tentu saja juga berisi teori bahwa cacing sebagai penggembur tanah.... Suatu hal yang sudah terbalik-balik di negeri kita ini.
monggo yang membaca tulisan saya, mari kita sama-sama belajar dari Pak Harun, dan mengingat sekali lagi kenapa kita disebut "terdidik" dan "terpelajar".
Selamat Hari Pendidikan Nasional :)
![]() |
| Keluarga Pak Harun di KA Tawangalun, 2 Mei 2013 |
Selasa, 09 April 2013
Mengumbar Kemolekan di Kampus (Pengakuan Eyang Agung)
"tidak ada yang pernah menyangka jika sebuah tempat kecil nan padat manusia yang bernama kampus, seakan telah menjadi pusat berkumpulnya makhluk-makhluk cantik yang disebut....kupu-kupu."
Tentu saja tulisan ini saya awali dengan kulo-nuwun terlebih dahulu kepada para pendekar kupu yang bersemedi nan jauh di sana. Sebut saja yang menggelar dagangan foto di T.N. Baluran atau yang ada di Jogja, atau para pendekar dari dataran Semarang. Setelah kulo-nuwun, kemudian saya harus memuji mereka... karena, foto dan tulisan kisanak sang pendekar-pendekar itu meracuni saya, sehingga harus selingkuh dari istri pertama saya (burung), lalu istri kedua saya (kodok), dan akhirnya bertemulah saya dengan istri ketiga yang cantik jelita ini. Tentunya sampeyan tidak bisa membandingkan kampus kita (Universitas Brawijaya) dengan hutan lindung, cagar alam, atau T.N. Bantimurung yang menjadi habitat se-abreg kupu-kupu di Indonesia.
![]() |
| Junonia iphita ditemukan di tempat sampah dekat Glass house |
Lalu pertanyaan kedua, 'kapan?'. Baiklah Eyang Agung akan menjelaskan berdasarkan pengalamannya. Waktu paling baik untuk memotret keseronokan kupu-kupu adalah pagi hari, saat matahari baru saja muncul. Nah, saat itu bunga-bunga akan bermekaran untuk pertama kali, dan kupu-kupu akan berpesta-pora menikmati nektar yang dihasilkan bunga. Bukan hanya itu, matahari akan menghangatkan suhu lingkungan sekitar, sehingga mau tidak mau, kupu-kupu sering terlihat berjemur. Nah, inilah pose yang paling asyik untuk memotret karena kita akan mendapatkan gambaran upperwing side, yaitu sisi saat para mahkluk jelita ini membuka sayapnya. Suatu syarat yang kadang-kadang urgent untuk dipenuhi. Yang terakhir, sangat beruntung jika semalam atau sehari sebelum sampeyan moto, hujan,. Tanah atau batuan basah akan melarutkan mineral yang dikandungnya, sehingga membuat kupu-kupu ini diam menikmati mineral yang diinginkan, sluuuuuurp! Jika saran-saran dari Eyang tidak sampeyan penuhi, wah.. siap-siap hanya ngiler, atau tepuk tangan saat kupu-kupu berterbangan di depan anda bagaikan rider di arena moto GP, whuzzz... dan pelit difoto.
![]() | |
| Prosotas dubiosa, anda dapat memotretnya dengan kamera poket! |
Pertanyaan berikutnya adalah... : 'Eyang, saya mendokumentasikan pakai apa?' Nah ini pertanyaan yang sangat sulit, sungguh, Eyang sendiri harus bertapa untuk menjawabnya. Yang pertama, dengan keyakinan nan teguh. kepada Tuhan YME yang telah memberi manusia akal sehat untuk berupaya Yang kedua, tentu saja dengan kamera, atau apapun yang mengandung kamera. Bagaimana caranya? yaah.. jika sampeyan punya sendiri, syukur. Jika tidak, bisa dengan kamera HP. Lalu jika mekso tidak punya, anda terpaksa meminjam dari teman. Saya rasa, dengan memperhatikan kapan sampeyan memotret, sampeyan bisa mendapatkan foto-foto yang: 1) cukup untuk diidentifikasi, dan 2) Enak dilihat (tidak merusak mata dan perasaan).
![]() |
| Junonia erigone, dalam posisi backlight |
![]() |
| Appias libythea, dalam posisi menguntungkan |
Pastikan sampeyan-sampeyan sebelum memotret memperhatikan arah datangnya cahaya. Jangan sampai posisi sampeyan menghadap cahaya untuk memotret objek, itu yang pertama, karena akan seperti gerhana.. gelap, yang sering disebut backlight (hal-hal lain dalam pengecualian, seperti untuk seni, mungkin bisa dilakukan). Jika posisi sampeyan memang seperti itu, dan objek anda terlalu sensitif untuk sebuah gerakan, terpaksa sampeyan harus menguthek-uthek kamera anda untuk menangkalnya, yaitu dengan pengaturan metering. Metering itu adalah suatu istilah kamera yang (biasanya) digunakan untuk mengatur semacam brightness pencahayaan masuk. Karena saya tidak tahu jenis kamera sampeyan apa (tiap kamera punya letak metering dan model pengaturan sendiri-sendiri). Jika sampeyan ada di posisi yang tepat (membelakangi cahaya), maka sampeyan dapat mengatur nilai metering minus (di bawah nol). Hal ini untuk membuat gambar anda tajam, hidup, dan memang karena cahaya sudah cukup dalam menerangi objek. Jika sampeyan tidak beruntung (harus menghadap cahaya/objek backlight), maka naikkan metering-nya.. Ingat, dalam mengatur nilai metering jangan terlalu lebay, karena akan merusak hasil foto yang kita dapat.. terlalu gelap, atau terlalu terang.
Okey, demikian tulisan Eyang Agung, semoga bemanfaat dan dapat meracuni para pembacanya..
Salam, :D
Senin, 04 Februari 2013
Si Karat yang bikin Berat
Entah mimpi apa saya pada akhir bulan januari lalu, ketika saya pada paginya, 1 Pebruari 2013 tiba-tiba kesusupan barang alus, berupa niatan pergi birding. Hngg.. biasanya, jam 8 pagi itu masih jadwalnya membalikkan tubuh di kasur ke arah kiri, hehehe.. :D
Seperti sudah saya posting sebelumnya, saya tinggal di Kalibaru, sebuah kecamatan perkebunan yang ada di tepi barat Kabupaten Banyuwangi. Spesies yang saya pernah temui sih... tidak terlalu membuat saya gulung-koming kesenangan. Mungkin penemuan yang sedikit wah adalah Serindit Jawa di perkebunan Sengon Laut (Malangsari), atau Julang Emas (petak 14). Selebihnya adalah spesies-spesies alay yang minta difoto.
Perjalanan ini dimulai dengan berat, karena tanpa sepengetahuan saya, jalur track di sepanjang perkebunan PTPN XII ke arah wonorejo... dibabati. Asem, panas tenan wooi... biasanya, begitu banyak pohon peneduh di pinggir jalan, namun sekarang jadi glondongan kayu yang diangkut dengan truk-truk berat. Tanaman kakao yang biasanya melimpah-ruah, eh sudah tidak ada. Malah tanahnya diratakan dengan bulldozer. Waduh, mau ketemu apa hari ini?
Tapi tidak apa, saya bulatkan tekad, terus menapakkan kaki ke utara sambil memotret beberapa spesies alay (sampai-sampai dikira wartawan cuy!). Akhirnya, lelah berjalan, saya beristirahat di pinggir kebun tebu... Sedikit mbrasak, saya menemukan kali yang lumayan besar. Rasa dahaga seakan membuat saya ingin njebur sambil minum sebanyak-banyaknya, tapi ndak usah wes.. karena baru saja melihat beberapa petani keluar dari sungai.. siapa tahu sungai ini sudah tercemar feses merekaaaa? akh..
Perjalanan dilanjut di tengah teriknya matahari, dan disinilah adegan drama terjadi... Dengan sedikit silau, saya melihat titik kecil berputar-putar di arah barat, mungkin sedikit di atas Pegunungan Mrawan. Setelah saya coba memotret titik jauh itu, lalu saya besarkan, hm.. pertama, ini Elang sp. Wow, mereka ternya berdua.. lalu saya potret keduanya, dan saya perbesar.. hm.. ini bukan Elang Ular Bido, sangat silent dan berwarna putih.. pengaruh cahaya, atau... entahlah. Saya coba menyimpannya dalam hati, karena keduanya sudah terlihat menghilang di balik awan.
Lalu, setelah beberapa ratus meter saat saya masuk ke dalam sisa-sisa tanaman kakao yang masih ada, saya terkaget-kaget karena mereka tiba-tiba datang.. dan kali ini jelas sekali. Bukan berdua, tapi bertiga! Keduanya masih cukup jauh untuk 300 mm, namun salah satunya terbang cukup rendah. Nah ini segera menjadi sasaran ceprat-cepreet.. Wow, semakin jelas, ini elang baru.. saya langsung curiga ini adalah Sikep Madu Asia versi terang.. hum, tapi ini warna putih broo... bukan-bukan.. ada garis mata gelap, ini osprey (Elang Tiram).. ! eh, saya ada di 800 dpl, jauh dari laut.. kongslet tenan otakku? akhirnya, hingga pulang saya ndak tahu ini jenis apa.. apes, saya lupa fieldguide, malah internet di rumah mati (maklum, kampung cuy).
Setelah beberapa hari, hasil foto diupload, dan dengan bantuan master-master RAIN, langsung teridentifikasi : Elang Perut Karat (Hieraaetus kienerii), alias Rufous-bellied Eagle. Suatu penemuan yang cukup bikin saya gulung-koming, secara.. di Kalibaru gitu... perkebunan banyak manusia. :D
Selamat datang bapak, ibuk, dek Elang Perut Karat... Semoga masih ada kalau saya kesana :D
![]() |
| Kontak pertama di atas lereng Mrawan |
![]() |
| Tanpa diduga, dua ekor nampak soaring di atas kebun kakao |
![]() |
| Berbagai jenis pose juv. Si Karat ini |
![]() |
| Suatu manuver bertiga dalam satu frame : mengagumkan! |
Langganan:
Postingan (Atom)






























