the biodoversity

the biodoversity

Senin, 08 Juli 2013

Nyruput Teh Ala Wonogiri

   Wonoooogiriiii..... mungkin inilah teriakan saya ketika mulai berpikir tentang perjalanan kami di sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah ini. Awalnya, saya tidak pernah terpikirkan seperti apa perjalanan atau tempat yang akan saya kunjungi ini. Hanya saja, bayangan saya : jawa selatan = kering, kapur (karst), panas, dan eksotis, just it! Keluaran hasil magang Adityas Arifianto (alias Strix nebulosa) yang memuat banyak sekali jenis burung air, pantai, atau burung 'aneh-aneh' di awal tahun ini sempat membuat arek zoothera untuk menyandang perjalanan bertitel 'ekspedisi'. Namun, belakangan anggota pelaksananya harus prothol satu per satu karena menanggung permasalahan birokrasi tingkat keluarga :D
   Mengambil setting waktu setelah Lomba Birdwatching Baluran, akhirnya saya dan Strix berangkat secara mandiri. Walau dengan badan pegal-pegal efek menginap di 'halaman belakangnya' Mas Swiss, rasanya semangat juga berangkat membayangkan seperti apa Wonogiri, atau target spesifiknya: Waduk Gajahmungkur. Perjalanan dimulai hari Senn malam (1 Juli 2013) dengan menggunakan bus. Dari Malang-Surabaya, perjalanan teramat lancar walau bus cukup padat. Nah, perjalanan Surabaya-Solo inilah yang membuat saya menggumam: aselole tenaaan.. Bagaimana tidak? Kami naik bus favorit Sumber Rahayu. Ia adalah salah satu 'anak' dari PO Sumber Group yang terkenal dengan kecepatannya. Naik bus ini serasa naik pesawat ulang-alik: gorden melambai-lambai, tas-tas bergeser-geser (otak-pun demikian), kening mencium bangku. Bahkan, ketika pukul 03.50 WIB kami sampai di Terminal Tirtonadi, Solo, rasanya benar-benar jetlag. Kaki saya bahkan membentuk huruf O seperti orang kena polio. Selanjutnya, perjalanan dilanjut dengan bus lokal ke Wonogiri hingga akhirnya kami datang dengan selamat pukul 06.30 WIB. 
    Tanggal 2 Juli tidak ada agenda pengamatan yang merujuk pada Waduk Gajahmungkur. Strix membawa saya (sesuai rencana) ke Gunung Munyuk pada sore hari. Gunung yang tersusun oleh batu ini merupakan salah satu bagian gugusan pegunungan yang menjadi areal pertambangan batu milik rakyat. Hampir tidak ada burung yang secara kualitas menarik di sana. Kami mulai membicarakan bahwa kabarnya, waktu-waktu seperti ini bukan merupakan musim yang baik untuk birding. Walau demikian, kami sempat melihat atraksi udara antara Elang Ular Bido yang 'dihajar' oleh 5 ekor Kekep Babi setelah melanggar wilayah kedaulatan mereka. 
    Tanggal 3 Juli, setelah kami menghimpun logistik, kami berangkat ke Waduk Gajahmungkur yang tersohor itu. Rencananya, kami akan berkemah di salah satu spot pengamatan ala Strix dalam dua hari 1 malam. Perjalanannya membutuhkan waktu 1,5-2 jam dengan melewati kampung-kampung. Satu kampung yang menurut saya mengesankan adalah yang bernama Pogoh. Kampung ini terletak tepat di tepi barat Waduk Gajahmungkur. Begitu terkesannya, saya mengambarkannya dalam catatan harian saya demikian:

"Warga Pogoh pandai menata lingkungannya. Tanaman pagar ditata rapi di tiap sisi jalan. Kaum perempuan terlihat menyapu halaman. Rumah-rumah joglo berdiri dengan eloknya. Meskipun sederhana, namun semuanya nampak rapi dan bersih. Pogoh menjadi asri karena banyak tanaman dipertahankan. Hawanya menjadi sejuk, bahkan terkesan lembab, membuat jalanan yang dibuat dengan semen berlumut. Hal ini sangat kontras dengan hawa Wonogiri pada umumnya yang panas dan kering. Kearifan lokal, seperti memelihara Pohon Dhanyangan masih ada, sehingga sumber-sumber air tetap terjaga. Burung-burung pun banyak berkeliaran di antara kehidupan mereka."

   Setelah mendirikan tenda, kami segera melakukan pengamatan di sekitarnya. Alhasil, nampaknya kami membuktikan kebenaran tentang sepinya burung di musim ini. Entah apa yang menyebabkannya : musim yang tak kunjung teratur? atau peralihan musim migrasi? Entahlah... Yang jelas, kami kesepian. Namun, di balik semuanya itu, kami menemukan juga salah satu burung migran selatan, yaitu Cekakak Suci (Todirhamphus sanctus). Burung yang menurut saya aneh lagi adalah adanya Remetuk Laut (Gerygone sulphurea). Meskipun kitab SKJB menyebutnya 'umum hingga 1500 m', namun tetap saja ini kali pertama saya melihatnya di sebaran yang sangat jauh dari pantai. Waktu-waktu berikutnya, kami justru punya banyak waktu luang. Selain untuk pengamatan, motret, akhirnya Strix memiliki hobi baru, yaitu memberi makan ikan di waduk layaknya peliharaanya. Aneh memang, tapi seperti itulah efek dari musim.. otak pun menjadi tergeser-geser saat target nihil. 
    Tanggal 4 Juli, kami membongkar tenda di tengah hari. Setelah itu, kami beristirahat dan pada tanggal 5, saya kembali ke Malang. Well, hampir dipastikan catatan kami berdua tidak melebihi catatan di musim awal tahun. Namun, bagi saya, ini merupakan pengalaman yang berkesan ketika melihat warga tepian waduk yang sederhana. Kultur jawa yang masih melekat menjadi selaras dengan pemandangan dan ketenangan atmosfer air waduk ini. Dari sana, saya belajar bagaimana membayangkan warga negeri penggemar teh ini dalam menghadapi peliknya masalah. Semuanya dihadapi dengan Sak Madyo (secukupnya, tidak berlebihan). Jauh dari hiruk pikuk metropolis membuatnya tidak minder. Bahkan, dari sanalah bangkit pikiran-pikiran jernih yang menjadi embrio kesadaran akan hidup selaras dengan alam.

Monggo tehnya mas... :)

Burung: 
Gerombolan Kowak Malam Abu (Nycticorax nycticorax)

Remetuk Laut (Gerygone sulphurea)

Cekakak Suci (Todirhamphus sanctus)

Kipasan Belang (Rhipidura javanica)
 Bonus:

Pemandangan Wonogiri: gunung, hutan, dan tentu saja waduk.
Sejenak Beraktivitas di Tenangnya Air Waduk

Menikmati Malam dengan Api Unggun
Jangan Lupa Bawa Pancing karena Ikan Melimpah
Daftar Temuan:
1. Burung Gereja Erasia (Passer montanus)       
2. Walet Linci (Collocalia linchi)                         
3. Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides)      
4. Bondol Peking (Lonchura punctulata)           
5. Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis)  
6. Cabai Jawa (Dicaeum trochileum)                  
7. Cuca Kutilang (Pycnonotus aurigaster)          
8. Merbah Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)       
9. Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus)          
10.Bubut Alang-alang (Centropus bengalensis)   
11. Cekakak Jawa (Halycon cyanoventris)         
12. Cekakak Sungai (Todirhamphus chloris)      
13. Cekakak Suci (Todirhamphus sanctus)        
14. Cinenen Jawa (Orthotomus sepium)             
15. Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius)
16. Perenjak Jawa (Prinia familiaris)
17. Perenjak Padi (Prinia inornata)
18. Kipasan Belang (Rhipidura javanica)
19. Kareo Padi (Amaurornis phoenicurus)
20. Cipoh Kacat (Aegithina tiphia)
21. Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis)
22. Caladi Ulam (Dendrocopos macei)
23. Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus)
24. Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nyticorax)
25. Kowak Malam Merah (Nyticorax caledonicus)
26. Layang-layang Batu (Hirundo tahitica)
27. Gagak Kampung (Corvus macrorhynchos)
28. Blekok Sawah (Ardeola spceiosa)
29. Kuntul Kecil (Egretta garzetta)
30. Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis)
31. Cangak Merah (Ardea purpurea)
32. Cangak Abu (Ardea cinerea)
33. Kekep Babi (Artamus leucorhynchus)
34. Elang Ular Bido (Spilornis cheela)


Sabtu, 06 Juli 2013

Buku Burung-burung Kampus Brawijaya = Jalan untuk Belajar Bersyukur

   Rasanya, sebagian besar kawan pengamat burung di Malang tahu akan adanya tulisan tentang burung-burung di Kampus Brawijaya ini. Atau jika berlebihan, mungkin ada sebagian kecil yang mendengar sayup-sayup bahwa ada yang menulis buku ini. Yap... benar, buku ini sebenarnya telah ditulis semenjak 1 tahun lalu, atau jika saya tidak salah ingat, awal pengumpulan data dan pendokumentasian jenis dimulai lebih lama lagi, yaitu sekitar akhir 2011. Memang cukup lama untuk mengerjakannya. Alasannya klasik: sedikit SDM yang memadai dan mau mengerjakan. Padahal jika menilik luas Kampus Brawijaya yang 'hanya' 58 ha, dan jumlah spesies yang bahkan tidak mencapai 50, tentu dalam waktu singkat seharusnya buku ini segera kelar. Namun, foto tidak boleh dihapus, dan tulisan harus terus dikerjakan. Buku ini akhirnya tetap berjalan perlahan-lahan meskipun hanya memanfaatkan waktu luang mahasiswa lapuk (yang sebenarnya tim penggembira) sebagai penulisnya :)
   Semua orang pastinya men-cap ini semua sebagai hal yang harus segera direalisasikan. Saya pun demikian. Dengan ngos-ngosan, saya mulai dengan mencetak hasil desain layout untuk diberikan kepada pihak jurusan. Apresiasi didapat, tetapi tetap ada beberapa perbaikan dan koreksi dari rekan pengamat burung. Bersamaan dengan itu, file pdf terus saya bagi ke hampir semua teman yang dapat memberikan komentarnya untuk perbaikan buku ini. Masih kurang puas juga, akhirnya dengan semangat, saya perbarui desain layout-nya, supaya yang melihat buku ini tidak nangis sedih :D. Sembari menunggu koreksian berdatangan, saya masih terus bergelimang-nafsu agar buku ini punya dukungan. Bagaimana tidak? secara pribadi, saya berharap membagikan kehidupan burung-burung di sebuah kampus metropolis, agar banyak orang tahu bahwa mereka ini ada. Selebihnya, saya bermimpi ini semua bisa dicetak dan dibagi secara gratis..tis...tis. Namun, nampaknya buku ini masih memiliki tantangan saja. Mulai dari rekan-rekan pihak kampus sendiri atau kesibukan yang membayang-bayangi ex-mahasiswa ini sebagai penulisnya. Mungkin yang paling 'membahagiakan' adalah sulitnya mencari dukungan dari sesepuh-sesepuh kampus, atau jurusan yang  notabene tempat saya belajar. Apalagi nyetak itu butuh duit, dan saya selalu mendapat memori hitam ketika berhubungan dengan kata terakhir tersebut. Saya pun terdiam dan merenung pada pertanyaan-pertanyaan skeptis: pentingkah arti sebuah buku kecil ini? apalagi ini bukan kawasan konservasi, dan tata guna lahan sudah ke arah gedung-gedung nan megah ala kaum metropolis. Bahkan hampir setengah dari jenis burung yang tercatat, menjadi sulit atau bahkan tidak pernah ditemukan lagi. Akhirnya, perasaan skeptis sempit nan tidak berdaya ini menjadi bayangan jahat untuk menyelesaikan sebuah buku perdana ini.
   Tetapi rasanya Tuhan tidak pernah tinggal diam. Nampaknya, Ia sedang tersenyum ketika mengijinkan sebuah proses berlaku dalam kehidupan manusia, termasuk kepada mahasiswa lapuk ini. Jika dukungan dan semangat dari pihak-pihak pengampu kampus masih kurang, namun dukungan dari rekan-rekan pengamat burung sangat 'wah' sekali. Seakan-akan, tulisan sekelas artikel anak SMP ini menjadi setara Bas Van Balen atau legenda hidup pengamatan burung (misal Lik Swiss, Lik Imam, Lik Baskoro). Bahkan, dua minggu lalu salah seorang dosen mau membantu memberikan ISBN secara cuma-cuma dan tanpa proses yang ribet. Hanya saja, beliau sama-sama tidak memiliki kocek untuk membiayai pencetakannya. Tapi lebih daripada itu, syukur dan terus menerus berusaha menjadi pilihan terbaik agar kelak, tiap orang yang bahkan tidak tahu adanya burung di Kampus Brawijaya, akhirnya menjadi tahu. Bahkan cita-cita saya, dan tentu semua orang masih tetap: gratis... atau setidaknya, murah.
   Masih dalam rangkaian yang sama, buah syukur itu menjadi makin terlihat, tatkala seekor burung Bentet Kelabu (Lanius schach) tercatat secara perdana dan terdokumentasikan dengan baik dua minggu lalu. Bahkan, syukur harus diucapkan karena tiap kali sumpek-pek-pek dalam hal ini, Gusti memberikan banyak pilihan kegiatan : motret kupu-kupu bersama Faldy, Bayu, dkk, ngurusi PPBI sebagai tim gembira-ria, atau berekspedisi ria ke kota-kota lain. Selain itu, mulai ada pihak-pihak yang bisa dibidik untuk mendukung buku ini. Bahkan (sekali lagi.. bahkan!), semakin banyak bermunculan calon-calon author buku lokal yang baru, seperti Herpetofauna Kampus Brawijaya, Buku Kupu-kupu Malang, atau dengar-dengar ada Buku Burung Malang juga. 
   Apapun alasannya, yang jelas, saya semakin bersyukur. Coba jika Tuhan tidak mempertemukan tulisan saya dengan dosen yang punya percetakan, atau tidak ada dukungan rekan-rekan pengamat burung, atau bahkan tidak ada kawan yang menemani saya berjalan-jalan, motret, atau sekedar ngopi. Entahlah... yang jelas, ketika melihat tiap warna dan kata dalam buku ini, selalu teriring kata syukur dalam tiap kebaikan-Nya... dan tentu saja, bayangan akan senyum-Nya. :)


Selamat Berkaryaaaaa....


Salah Satu Halaman di Buku Ini


Sabtu, 04 Mei 2013

Belajar Singkat dari Tukang Potong Ayam

     Ada sesuatu yang beda saat saya naik kereta api Tawangalun jurusan Banyuwangi-Malang tepat di tanggal 2 Mei, hari pendidikan ini. Sebenarnya saya ogah kembali ke Malang. Selain karena tiket kereta sudah naik (50 ribu broooo), makanan di rumah jauh lebih enak, hehe. Hanya saja karena ingat punya kewajiban memimpin rapat dan sudah memiliki beberapa janji, akhirnya saya kembali juga. 
     Saat saya masuk ke gerbong 4, saya kemudian mencari nomor 8E. Lhah, ternyata, ada dua orang yang menduduki bangku ini, dan mereka sedang tidur dengan posisi kaki selonjor (meluruskan kaki). Sebenarnya enggan juga mengusik mereka untuk sekedar meletakkan barang, tapi daripada nanti saya harus memindah barang-barang lagi, akhirnya saya bangunkan mereka. Tiba-tiba ada suami-istri di belakang saya menegur saya:
"Biarkan saja, le... Keretanya kosong kok, atau mau duduk sini?" kata sang suami sambil tersenyum, diikuti sang istri yang juga tersenyum mengiyakan, lalu memindahkan barang di depan mereka. Saya menolaknya dengan halus, lalu segera menaruh barang pada tempat barang tepat di atas kedua orang yang terbangun tadi, kemudian saya mencari tempat kosong lain, 12E. Di sanalah saya kemudian mulai menyibukkan diri dengan mengoreksi sebuah tulisan. 
      Tak lama, kereta sampai di Stasiun Jember. Kedua orang yang saya bangunkan tadi akhirnya turun, dan saya kembali di tempat duduk saya yang sebenarnya, 8E. Nah, suami-istri yang ramah itu kemudian menyapa saya lagi, lalu bertanya-tanya tentang tempat tinggal saya, dan kemudian memperkenalkan namanya tanpa saya tanya. Hal yang cukup langka di era seperti ini, padahal saya juga terlihat (sok) sibuk dengan bendelan kertas dan pensil. Hal yang unik lainnya adalah kedua orang asing ini, dan juga anaknya laki-laki, selalu tersenyum setelah bicara, bahkan sang bapak juga sering tertawa lebar. Akibat tertawanya, pipinya makin bulat lucu. Dari logatnya saja, saya tahu kalau mereka orang suku Osing, Banyuwangi. 
    Namanya Pak Harun. Ia beserta istri dan anaknya akan ke Jakarta untuk menghadiri reuni keluarga. Nah, satu hal yang sangat membuat saya tertarik adalah ketika sampai di Stasiun Tanggul, ketika anaknya tiba-tiba minta kue molen, dan kebetulan saya juga ingin beli, lhah sang ibu tiba-tiba membelikan saya. Meskipun saya tolak berkali-kali, dia tetap membelikan. Bukan Rp. 2000 seperti budget saya pertama, namun Rp.5000! Ketika saya tersedak setelah makan molen, Bu Harun segera memberi minum air putih. Lhah, mungkin melihat saya heran, bertanya-tanya, sang bapak kemudian berkata :
"Biasa saja nak, biasa saja... hehehe, kami memang biasa melakukan ini, memberi makan anak tetangga yang memang butuh makan kalau di kampung. Nah, ibuk ini malah suka sekali dengan anak kecil. dari dulu sebelum kami punya anak, siapapun yang lewat rumah adalah saudara dan anak kami.." katanya, dan tidak lupa "hehehe".
    Wah, ini menarik. Pekerjaan saya kemudian saya tinggalkan, dan saya makin larut bercakap-cakap dengan mereka. Dari percakapan ini, saya kemudian mengerti bahwa beliau punya dua anak, satu sudah seumuran saya, lalu yang kedua baru kelas V SD. Nah, cerita perjalanan hidup kedua anak ini ternyata tidak 'mulus' dan mungkin juga tidak 'membanggakan' bagi sebagian besar orang tua di dunia. Anak pertama hanya kuliah sampai semester 2 saja, lalu kemudian rabi (kawin). Anak kedua ini sangat nakal. Saking nakalnya, dia tidak naik kelas, bandel, paling besar diantara sebayanya, dan suka main PS atau layangan. Anehnya, ketika menceritakan anak-anaknya, tidak ada raut kesedihan di muka mereka. Sang bapak masih dengan tertawanya, dan sang ibu masih dengan senyum simpulnya. 
    Ketika saya secara tersirat bertanya :"mengapa?", Pak Harun menjawab enteng : "karena memiliki anak itu sudah karunia yang sangat besar. Anak itu mas, bukan target keinginan orang tua. Nah, anak saya yang pertama meskipun cuma lulus SMK, tapi sekarang dia gantikan bapak ngurus dagangan. Kalo si thole ini ya mbuh jadi apa... hehe, klendai?" Tanyanya pada anak laki ini yang selalu di pelukan ibunya. Hm... sekarang saya sadar, banyak orang tua salah dengan memaksakan kehendaknya pada anak. Entah dengan dalih memberikan yang 'terbaik' bagi sang anak, atau dengan dalih 'memberi masa depan yang lebih baik'. Uniknya lagi, ia sangat mendukung ketika anak bungsunya ini punya cita-cita mendesain modifikasi motor seperti sepupunya. Wow, sungguh, Pak Harun yang hanya lulusan SD ini sangat paham tentang kenyataan bahwa anak di dunia memiliki kemampuan dan sisi pintarnya masing-masing!
    Selain itu, menurut ceritanya, Pak Harun ini memiki rumah potong ayam sekaligus peternakannya. Meskipun beliau menabung untuk masa depan sang anak, mendidik mereka baik-baik, tetapi seringkali uang tabungan itu digunakan untuk menyekolahkan anak tetangganya! Kesempatan berangkat haji atau umroh sering ia lewatkan, ketika tetangganya sedang membutuhkan. Apakah Pak Harun kekurangan dalam hidupnya? 
"Alhamdullilah, kami dicukupkan terus mas. Yang saya lakukan ini diturunkan dari almarhum kakek saya. Saya harap, seperti apapun anak-anak saya kelak, mereka juga mewarisi apa yang kami lakukan. Saya masih ingat ketika kakek saya meninggal, jenazahnya berjalan sendiri!" katanya dengan nada serius.
"Loh, bagaimana bisa pak?" tanya saya tidak percaya.
"Iya, orang-orang berjajar di jalan kampung dari rumah hingga pemakaman. Karena saking banyaknya orang yang datang dan mereka semua ingin mengusung keranda, akhirnya secara beranting keranda itu bergerak, mirip berjalan sendiri." jawabnya sambil tersenyum.
    Hm... saya sekarang sadar, banyak orang berebut dengan pendidikan, tapi melupakan esensi penting pendidikan itu untuk memperbaiki kualitas hidup yang singkat ini. Semakin 'terdidik' orang pada zaman ini, mereka semakin jenuh akan nilai-nilai logika palsu yang ditanamkan, dan menginjak nilai-nilai kearifan yang sebenarnya. Sampeyan para pembaca masih ingat ketika UNAS digelar, banyak anak SMA yang stres, kesurupan, atau malah menggantung diri jika tidak lulus. Banyak guru, orang tua, bahkan pejabat menganggap hasil dari pendidikan adalah peningkatan prestise mereka di mata masyarakat. Jika sekolah yang memiliki anak tidak lulus, betapa malunya mereka: teman, guru, atau kepala sekolahnya. Jika daerah yang memiliki angka kelulusan tinggi, betapa bangganya mereka yang menjadi pejabat, bahkan bisa jadi bahan kampanye periode berikutnya. Tapi rasanya tidak ada yang merasakan apa yang dirasakan oleh pihak pelajar, atau anak yang sedang mengalami proses pendidikan itu. Istilahnya, ketika sang anak berkreasi tunggal dengan menyelamatkan cacing, karena mengetahui perannya sebagai penggembur tanah, orang tua, guru, dan pejabat memarahinya dan menyuruh mereka belajar Sains! Tentu saja juga berisi teori bahwa cacing sebagai penggembur tanah.... Suatu hal yang sudah terbalik-balik di negeri kita ini.


monggo yang membaca tulisan saya, mari kita sama-sama belajar dari Pak Harun, dan mengingat sekali lagi kenapa kita disebut "terdidik" dan "terpelajar".
Selamat Hari Pendidikan Nasional :)

Keluarga Pak Harun di KA Tawangalun, 2 Mei 2013

Selasa, 09 April 2013

Mengumbar Kemolekan di Kampus (Pengakuan Eyang Agung)

"tidak ada yang pernah menyangka jika sebuah tempat kecil nan padat manusia yang bernama kampus, seakan telah menjadi pusat berkumpulnya makhluk-makhluk cantik yang disebut....kupu-kupu."

   Tentu saja tulisan ini saya awali dengan kulo-nuwun terlebih dahulu kepada para pendekar kupu yang bersemedi nan jauh di sana. Sebut saja yang menggelar dagangan foto di T.N. Baluran atau yang ada di Jogja, atau para pendekar dari dataran Semarang. Setelah kulo-nuwun, kemudian saya harus memuji mereka... karena, foto dan tulisan kisanak sang pendekar-pendekar itu meracuni saya, sehingga harus selingkuh dari istri pertama saya (burung), lalu istri kedua saya (kodok), dan akhirnya bertemulah saya dengan istri ketiga yang cantik jelita ini. Tentunya sampeyan tidak bisa membandingkan kampus kita (Universitas Brawijaya) dengan hutan lindung, cagar alam, atau T.N. Bantimurung yang menjadi habitat se-abreg kupu-kupu di Indonesia. 
Junonia iphita ditemukan di tempat sampah dekat Glass house
   Mari kita awali dengan pertanyaan 'dimana?'. Hm... Pertanyaan bagus! Kupu-kupu bisa di mana saja, hampir di semua sudut kampus anda selalu nemu hewan yang satu ini. Tidak seperti burung yang harus 'rewel' terlebih dahulu untuk ditemukan, nah.. hewan ini cukup gampang dilihat. Namun, dimana tempat yang selalu ada kupu-kupu? Jawabannya cuma 1. Fakultas Pertanian. Anda tidak percaya? hm, lebih baik sampeyan percaya saja (maksa). 
   Di sepanjang jalan Fakultas Pertanian, baik yang melewati glasshouse bersama, lahan uji, hingga Lab. Sentral Ilmu Hayati (LSIH), setiap pagi sampeyan bisa menonton mahkluk-mahkluk cantik ini berterbangan di atas anda, uaaakeeeh.Meskipun jalanan ini termasuk yang terpadat di Kampus UB, namun rasanya mereka tidak peduli. Mulai semua fase dari ulat-kupu-kupu, ada! Mulai dari berbagai pose juga ada : menghisap nektar, berjemur, atau sedang menghisap mineral di tanah, ada! Jadi jangan pernah khawatir kehabisan stok objek :)

Doleschallia bisaltide, dalam posisi tertutup (underside), berkamuflase bagai daun dan sulit diidentifikasi
   Lalu pertanyaan kedua, 'kapan?'. Baiklah Eyang Agung akan menjelaskan berdasarkan pengalamannya. Waktu paling baik untuk memotret keseronokan kupu-kupu adalah pagi hari, saat matahari baru saja muncul. Nah, saat itu bunga-bunga akan bermekaran untuk pertama kali, dan kupu-kupu akan berpesta-pora menikmati nektar yang dihasilkan bunga. Bukan hanya itu, matahari akan menghangatkan suhu lingkungan sekitar, sehingga mau tidak mau, kupu-kupu sering terlihat berjemur. Nah, inilah pose yang paling asyik untuk memotret  karena kita akan mendapatkan gambaran upperwing side, yaitu sisi saat para mahkluk jelita ini membuka sayapnya. Suatu syarat yang kadang-kadang urgent untuk dipenuhi. Yang terakhir, sangat beruntung jika semalam atau sehari sebelum sampeyan moto, hujan,. Tanah atau batuan basah akan melarutkan mineral yang dikandungnya, sehingga membuat kupu-kupu ini diam menikmati mineral yang diinginkan,  sluuuuuurp! Jika saran-saran dari Eyang tidak sampeyan penuhi, wah.. siap-siap hanya ngiler, atau tepuk tangan saat kupu-kupu berterbangan di depan anda bagaikan rider di arena moto GP, whuzzz... dan pelit difoto. 

Eurema blanda, Eurema hecabe, dan seluruh saudaranya sedang berpesta kompos basah yang dibuang di Glass house. Terkadang hari cerah setelah hujan menjadi faktor para mahkluk ini mengumbar kemolekannya!
Prosotas dubiosa, anda dapat memotretnya dengan kamera poket!
   Pertanyaan berikutnya adalah... : 'Eyang, saya mendokumentasikan pakai apa?' Nah ini pertanyaan yang sangat sulit, sungguh, Eyang sendiri harus bertapa untuk menjawabnya. Yang pertama, dengan keyakinan nan teguh. kepada Tuhan YME yang telah memberi manusia akal sehat untuk berupaya Yang kedua, tentu saja dengan kamera, atau apapun yang mengandung kamera. Bagaimana caranya? yaah.. jika sampeyan punya sendiri, syukur. Jika tidak, bisa dengan kamera HP. Lalu jika mekso tidak punya, anda terpaksa meminjam dari teman. Saya rasa, dengan memperhatikan kapan sampeyan memotret, sampeyan bisa mendapatkan foto-foto yang: 1) cukup untuk diidentifikasi, dan 2) Enak dilihat (tidak merusak mata dan perasaan).
Junonia erigone, dalam posisi backlight
Appias libythea, dalam posisi menguntungkan
   Pastikan sampeyan-sampeyan sebelum memotret memperhatikan arah datangnya cahaya. Jangan sampai posisi sampeyan menghadap cahaya untuk memotret objek, itu yang pertama, karena akan seperti gerhana.. gelap, yang sering disebut backlight (hal-hal lain dalam pengecualian, seperti untuk seni, mungkin bisa dilakukan). Jika posisi sampeyan memang seperti itu, dan objek anda terlalu sensitif untuk sebuah gerakan, terpaksa sampeyan harus menguthek-uthek kamera anda untuk menangkalnya, yaitu dengan pengaturan metering. Metering itu adalah suatu istilah kamera yang (biasanya) digunakan untuk mengatur semacam brightness pencahayaan masuk. Karena saya tidak tahu jenis kamera sampeyan apa (tiap kamera punya letak metering dan model pengaturan sendiri-sendiri). Jika sampeyan ada di posisi yang tepat (membelakangi cahaya), maka sampeyan dapat mengatur nilai metering minus (di bawah nol). Hal ini untuk membuat gambar anda tajam, hidup, dan memang karena cahaya sudah cukup dalam menerangi objek. Jika sampeyan tidak beruntung (harus menghadap cahaya/objek backlight), maka naikkan metering-nya.. Ingat, dalam mengatur nilai metering jangan terlalu lebay, karena akan merusak hasil foto yang kita dapat.. terlalu gelap, atau terlalu terang. 



Okey, demikian tulisan Eyang Agung, semoga bemanfaat dan dapat meracuni para pembacanya.. 
Salam, :D





















 

Minggu, 17 Februari 2013

Proyeknya Gusti Allah

...Pracoyo'o.. Pracoyo'o.. mung Pracoyo'o...

      Sejenak, ada kata-kata sederhana dari kidung Pujian Jawa yang selalu terngiang-ngiang. Artinya, kurang lebih : percayalah, percayalah.. hanya percayalah.. He... memang rasanya, kata-kata itu mudah diungkapkan, tapi susah sekali untuk dilakukan. Maksudnya tentu saja percaya kepada pada Tuhan saja untuk segala urusan tetek bengek hidup. Weleh, anda tanya saya? tentu saja belum bisa... tapi dengan hanya (sekali lagi 'hanya') bermodalkan itu, maka saya dapat segalanya yang saya perlukan gratis.. ra percoyo?
       Ketika saya di-dok lulus pada tanggal 16 Januari lalu, seperti film FTV, pikiran saya kembali melayang-layang jauh ke belakang. Dulunya, saya ga mau kuliah di kampus Brawijaya ini. Kenapa? kecewa, jelas! Lha wong saya pengen kuliah di ITB kok, malah di sini. Bagi saya, kampus di dunia ini cuma 1 : ITB, lainnya ngga. SNMPTN ndak lulus, saya ngulang tahun depan.. begitu kira-kira kerasnya hati berkata. Tapi kata ibuk saya :" coba dulu, jalani saja..." 
      Setelah beberapa minggu di Kampus ini, wheleh bukan e krasan, malah beberapa kali saya mbolos mata kuliah. Selain itu, ketika saya baru saja balik ke Malang hari Minggu, eh hari Jumat berikutnya sudah njeblus di Kalibaru, kampung saya lagi. Kalo ditanya : "kok muleh, le?" Jawab saya ketus : "ra papa!" wih, jan saya pada waktu itu nuakal-nakal e... padahal Malang-Kalibaru itu cukup lama, sekitar 7 jam perjalanan kalau sangat-sangat-sangat lancar.
       Hingga suatu saat, ketika saya makan di salah satu warung di jl. kertorejo... eh tiba-tiba telpon bunyi. Hari itu adalah hari senin, tepat ketika saya merencanakan bolos Bhs. Inggris (hehe). Oh, ternyata ibuk. Dari seberang mulai dengan pertanyaan "lagi opo, le?", dll. Namun, saya kaget ketika dia berkata : "le, coba tebak ibuk sekarang ada di mana? ibuk sama bapak ada di Kampus ITB." Wheleh, ngopo wong 2 kok nang ITB. Belum sempat tanya, mereka dengan tanpa beban berkata : yo.. Bapak-ibuk pengen anak e tetep kuliah le, jadi ibuk-bapak rela pergi ke kampus ITB, untuk mencarikan tempat buat Agung, tapi katanya semua jalur ujian atau mandiri wes tutup, untuk sementara kamu kuliah dulu ya le, nanti tak coba ngurus lagi.. ra papa toh le?" 
     Deg! jantung saya seakan berantakan. Saya... benar-benar ndak nyangka mereka rela mengorbankan banyak hal, hanya untuk anak. Setelah menyelesaikan telpon-menelpon, saya segera pergi ke kampus (meski telat), dan mulai saat itu, kejadian itu membuat saya menjalani hidup berkuliah dengan penuh harap. Untuk orang tua? yupp, tapi lebih lagi untuk Tuhan, karena Ia sudah membuka tutup hati saya yang ulet-nya seperti rempelo itu. Apakah semuanya lancar? wohoo... jangan salah, namanya ilmu biologi di dunia ini sama. Tapi ketika Tuhan, yang menyetir hidup saya dengan dunia per-burung-an, hidup saya jadi agak nyleneh
      Saya mulai kenal dunia ini yang tidak secupet laporan-laporan, saya mulai kenal kenyataan yang lebih besar daripada ruang kuliah. Tapi, kasihan... banyak yang tidak dapat melihatnya. Bukan artinya, saya rasis dengan membenci minat lain, seperti molekuler, fisiologi, dan mikro. Namun, yang saya miris adalah mereka jadi seperti robot! bergerak kaku, dan seakan hidupnya dapat ditebak. Banyak diantara mereka tidak mencintai ilmunya, tapi hanya untuk IP saja mereka kuliah. Bahkan, ada yang mengaku kalau mereka sebenarnya tidak suka biologi, amboi.. miris saudara-saudara. 
      Ketika saya masih ingat, duduk berdua dengan dosen PA mendiskusikan MK yang akan diambil di smt. 7, beliau berkata: apa kamu mau ambil skripsi? karena SKS mu sudah cukup, dan jika kamu tak lulus, SPP mu akan terus naik.. Jawab saya:" baik pak", hampir tanpa pikiran apapun, dan nyatanya ketika dijalani, hampir semuanya lancar... mulus, karena bandha pracoyo itu. Lhah, saya juga masih ingat, ketika tidak punya uang untuk biaya skripsi, dan ujian kompre... saya mulai melihat barang-barang saya : apa yang harus dijual? dan bukan hanya itu, ketika disambati teman untuk pinjam uang, juga di waktu yang berbarengan, saya tidak kuasa menolak. Seakan akibat bandha pracoyo itu, mulai ada suara-suara gaib dalam hati : "Dhuwitmu ra ana ta? kowe ngedol barangmu, trus dhuwitmu durung dibalekke? aja kok tagih kancamu, ning Aku bakal mbalekke, karo 'bonus' pracayamu kuwi..."
       Hasilnya, bukan hanya uang itu kembali di saat yang pas, tepat, seperti film-film sinetron.. melainkan juga setiap yang saya kerjakan berhasil. Semester 7 saya tinggal untuk merampungkan tulisan saya tentang burung-burung di Kampus Brawijaya, padahal saya juga menanggung skripsi saya dan beberapa mata kuliah yang masih jadi tanggung jawab. Bukan hanya itu, bandha pracoyo membuat saya lebih sering nyuluh kodok, memotret kupu-kupu, hanya agar biodiversitas titipan Illahi ini tidak bablas, sia-sia... Banyak teman atau kenalan berkata: "itu kan karena Agung sudah pinter". Whatever laah, tapi saya hampir dipastikan saya tidak seperti apa yang mereka bayangkan.  Dan apa jawaban Tuhan? Mungkin seperti ini: "Nyoh le, kowe takwenehi lulus, ora mung 3,5 tahun, ning kowe uga lulus berpredikat : dengan pujian. Anggep wae DP, kowe melu proyek gedhe-Ku.", dan dalam hati saya, saya cuma sanggup berkata : "nggih Gusti..."

Senin, 04 Februari 2013

Si Karat yang bikin Berat

  Entah mimpi apa saya pada akhir bulan januari lalu, ketika saya pada paginya, 1 Pebruari 2013 tiba-tiba kesusupan barang alus, berupa niatan pergi birding. Hngg.. biasanya, jam 8 pagi itu masih jadwalnya membalikkan tubuh di kasur ke arah kiri, hehehe.. :D
  Seperti sudah saya posting sebelumnya, saya tinggal di Kalibaru, sebuah kecamatan perkebunan yang ada di tepi barat Kabupaten Banyuwangi. Spesies yang saya pernah temui sih... tidak terlalu membuat saya gulung-koming kesenangan. Mungkin penemuan yang sedikit wah adalah Serindit Jawa di perkebunan Sengon Laut (Malangsari), atau Julang Emas (petak 14). Selebihnya adalah spesies-spesies alay yang minta difoto.
   Perjalanan ini dimulai dengan berat, karena tanpa sepengetahuan saya, jalur track di sepanjang perkebunan PTPN XII ke arah wonorejo... dibabati. Asem, panas tenan wooi... biasanya, begitu banyak pohon peneduh di pinggir jalan, namun sekarang jadi glondongan kayu yang diangkut dengan truk-truk berat. Tanaman kakao yang biasanya melimpah-ruah, eh sudah tidak ada. Malah tanahnya diratakan dengan bulldozer. Waduh, mau ketemu apa hari ini?
   Tapi tidak apa, saya bulatkan tekad, terus menapakkan kaki ke utara sambil memotret beberapa spesies alay (sampai-sampai dikira wartawan cuy!). Akhirnya, lelah berjalan, saya beristirahat di pinggir kebun tebu... Sedikit mbrasak, saya menemukan kali yang lumayan besar. Rasa dahaga seakan membuat saya ingin njebur sambil minum sebanyak-banyaknya, tapi ndak usah wes.. karena baru saja melihat beberapa petani keluar dari sungai.. siapa tahu sungai ini sudah tercemar feses merekaaaa? akh..
   Perjalanan dilanjut di tengah teriknya matahari, dan disinilah adegan drama terjadi... Dengan sedikit silau, saya melihat titik kecil berputar-putar di arah barat, mungkin sedikit di atas Pegunungan Mrawan. Setelah saya coba memotret titik jauh itu, lalu saya besarkan, hm.. pertama, ini Elang sp. Wow, mereka ternya berdua.. lalu saya potret keduanya, dan saya perbesar.. hm.. ini bukan Elang Ular Bido, sangat silent dan berwarna putih.. pengaruh cahaya, atau... entahlah. Saya coba menyimpannya dalam hati, karena keduanya sudah terlihat menghilang di balik awan. 
    Lalu, setelah beberapa ratus meter saat saya masuk ke dalam sisa-sisa tanaman kakao yang masih ada, saya terkaget-kaget karena mereka tiba-tiba datang.. dan kali ini jelas sekali. Bukan berdua, tapi bertiga! Keduanya masih cukup jauh untuk 300 mm, namun salah satunya terbang cukup rendah. Nah ini segera menjadi sasaran ceprat-cepreet.. Wow, semakin jelas, ini elang baru.. saya langsung curiga ini adalah Sikep Madu Asia versi terang.. hum, tapi ini warna putih broo... bukan-bukan.. ada garis mata gelap, ini osprey (Elang Tiram).. ! eh, saya ada di 800 dpl, jauh dari laut.. kongslet tenan otakku? akhirnya, hingga pulang saya ndak tahu ini jenis apa.. apes, saya lupa fieldguide, malah internet di rumah mati (maklum, kampung cuy). 
   Setelah beberapa hari, hasil foto diupload, dan dengan bantuan master-master RAIN, langsung teridentifikasi : Elang Perut Karat (Hieraaetus kienerii), alias Rufous-bellied Eagle. Suatu penemuan yang cukup bikin saya gulung-koming, secara.. di Kalibaru gitu... perkebunan banyak manusia. :D 

Selamat datang bapak, ibuk, dek Elang Perut Karat... Semoga masih ada kalau saya kesana :D  
Kontak pertama di atas lereng Mrawan
Tanpa diduga, dua ekor nampak soaring di atas kebun kakao
Berbagai jenis pose juv. Si Karat ini
Suatu manuver bertiga dalam satu frame : mengagumkan!





Sabtu, 15 Desember 2012

Siapa kamu, siluman terbang Meru Betiri?

Tidak semua dari spesies yang saya amati di Bandealit, 15 Nopember 2012, bisa terident dengan baik...Ah andai mata saya bisa secepat shutter kamera, pasti mahkluk-mahkluk itu bisa terdokumenkan (itu pun kalo mirip kamera 7D, hehe). 

Ada suatu spesies yang mirip dengan Bubut sp. Spesies ini saya jumpai ketika mengunjungi kandang rusa yang telah rusak (mengabaikan peringatan banyaknya celeng di sekitar sana). Anehnya, dia bersuara mirip sekali dengan ayam hutan : kok-kok-kok...Saat terbang pendek, saya bisa melihat ukurannya : sekitar 40 cm, bentuknya mirip bubut, tapi dengan warna merah bata yang merata pada hampir sekujur tubuhnya, namun sayang sekali, kepalanya tak terlihat jelas.. Ia sekali saja terbang rendah, sebelum masuk ke dalam semak-semak setinggi perut saya. Si burung 'siluman' ini segera kembali lagi ke tempat pertam ketika kaki saya mencoba melangkah pergi. Lha ketika saya kembali lagi, eh.. tau-tau dia terbang menjauh lagi.. Hm, apakah tadi saya sudah mendekati sarangnya? Saya coba mencari telur atau tanda sarang lain, tapi nihil...

Spesies kedua yang menjadi misteri adalah burung yang sekelebat saja melintas di hadapan kami (ber-3) di jalur satwa. Saya dan seorang kawan, melihat dengan jelas siluetnya (karena kami pada saat itu menantang matahari). Ia memiliki paruh yang khas burung pemangsa, yaitu paruh atas melengkung. Tubuhnya, hm.. mungkin 30-40 cm panjangnya, tapi yang aneh, ia punya ekor yang cukup panjang..seakan menjuntai seperti srigunting batu. Kami bertiga mengkonfirmasi bentuk itu.. ah, semakin misteri saja tempat ini.

Belum cukup itu semua, dalam sela waktu 1 minggu.. ada beberapa teman yang mengatakan mereka melihat Belibis... hah? aneh sekali.. tapi ternyata itu bukan belibis, sial! jauh sekali identifikasnya (hehe, maklum... mereka bukan pengamat). Spesies ini nampaknya mirip sekali dengan kuntul karang. Berdasarkan penuturan teman-teman saya (Putri, Bundho, dll.) yang melihatnya, ia sendirian, mencari makan di tepi pantai. Tapi ketika saya mengkonfirmasi bentuk paruhnya, mereka berani sumpah, kalau ujung paruhnya berbentuk sendok (membulat pada ujung). Hm... anehnya, bulunya berwarna abu-abu... Untunglah, teman-teman kelompok 10 ini sempat mengabadikan burung ini, hanya sekali saja, sebelum ia terbang menjauh. Meskipun hanya dengan camera digital biasa, tapi ini jauh lebih melegakan dibandingkan 'misteri-misteri' lain yang tak terdokumentasikan. Ah, ada saja dunia pengamatan burung ini. Siapakah kamu, penghuni  Meru Betiri?

Adakah yang tahu burung ini jenis apa?

Jumat, 14 Desember 2012

Meru Betiri : Apa kamu akan menjadi jodohku?

Andongrejo, desa terakhir sebelum Meru Betiri
   Meru Betiri bukan hal asing lagi bagi saya. Hutannya yang masih 'gelap', jalannya yang penuh dengan rintangan (termasuk sliweran batang rotan, palem, bambu ori yang semuanya berduri), belum lagi batu-batu besar menghadang jalan. Niscaya, tidak perlu terkesima kalau berkunjung ke sana hanya dengan 3 cara : jalan kaki, kendaraan 4 WD, trail, dan tentu saja helikopter.. hehehe.

   Berbeda dengan kunjungan saya 2 tahun lalu di Sukamade, kali ini saya dalam kesempatan praktikum SMSDH mengunjungi Bandealit (15 Nopember '12). Jalannya lumayan, tidak se-gila Sukamade, dan tidak terlalu jauh, hanya sekitar 4 jam dari desa terakhir Andongrejo. 

    Deg-deg an dengan harapan adanya sensasi baru, saya mulai mengalami perjalanan dengan truk perkebunan 4 WD itu dengan mendongak-dongak mencari buruan. Diawali dengan serbuan kelompok kirik-kirik senja, lalu merbah dan cekakak yang sliwar-sliwer tidak jelas di atas kami. Goncangan yang keras, membuat saya tidak terlalu berani mengeluarkan senjata saya : takut ndlosor ke tumpukan tas, ya takut kejedot bak truk, terutama takut kamera saya kenapa-napa (eman cuy). Sekitar 1 jam lebih perjalanan, tidak disangka tidak dinyana.. saya bertemu Luntur Harimau. Burung sial, sang dhemit alas ini bukan terbang, tapi bertengger. Tidak cukup bertengger, tapi ia melubangi sebuah tunggul kayu kering dengan tingi 1,5 meter, mungkin sarangnya. Lha, sudah tahu ada truk lewat, dia tidak kabur.. malah melongo melihat saya.. Uwoooh.. seakan-akan saat itu dunia bergerak slowmotion.. tatapan burung betina ini masih teringat jelas, bahkan ketika truk kami berlalu, dia menyempatkan meninggalkan pekerjaannya membuat lobang, untuk mengintip kami yang makin menjauh.. Apakah dia sudah jatuh cinta padaku? ingat, kamu sudah punya suami! :p Oh Tuhan...  pengalaman gila.

  Sampai di Bandealit, rupanya tidak terlalu 'tertutup' seperti Sukamade. Kami melewati perkampungan pekerja kebun, lalu perkampungan nelayan yang warganya mayoritas Madura. Sedari tadi, Bubut Alang-alang, Raja Udang biru, Elang Ular Bido sliweran... tapi tidak cukup menghibur kegalauan hati saya karena terlanjur kecewa : Luntur di depan mata tapi tidak sanggup mengabadikan...
Pemandangan Bandealit dari Bukit Sodung : Luar Biasa!
    Di dalam Bandealit sana, praktikum dimulai. Mulai dengan Muara Timur yang tidak sesuai dengan reklame-nya : sepi mamring, tidak ada apa-apa.. Cuma cangak, trinil pantai, dan kokokan laut yang teramati. Ah, kecewa lagi. Esoknya tim mengunjungi savana. Lha ini yang bikin kami kaget. Perjalanan di tepian hutan dan semak ini dipenuhi kejutan dari : Philentoma kerudung, Srigunting Batu, dan Bubut. Bahkan, di tempat ini saya dapat mengabadikan Serindit Jawa. Anehnya, di tempat ini Serindit kok agak pekok ya? Diam aja, tidak se-aktif pergerakan saudaranya di Cangar, atau tempat lain. 
Laguna di Muara Barat
     Siangnya, setelah istirahat, saya menemukan jalur lain ke hutan. Karena terlalu sore, saya kembali untuk meneruskan esok paginya. Ternyata jalur ini adalah lintasan satwa yang telah ditutup. Di dalamnya, hm.. lagi-lagi penuh hal mengejutkan. Mulai dari Udang Api yang hampir menabrak saya, Srigunting Batu (lagi), berbagai jenis merbah, Pijantung Kecil... dan... Seriwang Asia! Awalnya, saya tidak yakini itu sebagai Seriwang Asia, tapi setelah berdiskusi lama... woh... saya temukan yang betina. Selain itu, berbagai kejutan dari Elang Jawa muda yang berkelebat, dan burung aneh-aneh yang tidak sempat saya identifikasi.. terlalu sedikit orang dan terlalu mepet waktu yang diberikan..

Tapi, mungkin itu akan menjadi alasan bagi saya untuk kembali menemuimu.. oh Meru Betiri..
Pegunungan dataran rendah Bandealit
Suasanan sepi di Muara Timur

Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leugaster)

Burung 'murah' Pycnonotus goiavier

Mbah Darmo, pejantan tangguh gerombolan Lutung Jawa

Burung murah sesi 2 : Parus major

Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus)

Si Unyu anak Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius)

Si Cerewet Elang Ular Bido (Spilornis cheela)

Caladi Ulam (Dendrocopus macei)

Keren! Serindit Jawa (Loriculus pusillus) lagi pose

Takur Ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala)


Penghuni rerimbunan semak : Pelanduk Semak (Malacocincla sepiarium)

Selalu sendiri di Muara Timur : Kuntul Karang (Egretta sacra)

Trinil Pantai (Tringa hypoleucos)

Biduan hutan : Srigunting Batu (Dicrurus paradiseus)

Pijantung Kecil (Arachnothera longirostra)


Merbah Belukar (Pycnonotus plumosus)
Sebenernya... malu juga upload foto siluet, tapi berhubung ini Seriwang Asia (Tersiphone paradisi) betina, akhirnya mencep ae wes..

Rabu, 12 Desember 2012

Sumberawan, Candi yang Mengapung di Atas Air


Ketika saya harus mem-post-kan suatu tulisan tentang candi, sebenarnya saya bingung mulai dari mana. Penggemar (hanya sebatas itu saja) sejarah ini selalu nggedabrus, ngalor ngidul, tapi saya yakin, akhirnya dapat disimpulkan : Semua candi Indonesia luar biasa!

Sajen... selalu dijumpai di tiap candi : tanda penghargaan kepada Leluhur

     Di tengah perjalanan yang sudah diniati untuk berjalan-jalan bersama rekan saya pada tanggal 20 September lalu, Victor Kurniawan, kami terkagum-kagum terhadap salah satu candi yang kami kunjungi. Namnya adalah Sumberawan. Nama ini nampaknya diambil dari nama desa tempat dimana candi ini berdiri, yaitu Sumberawan, di kecamatan Singosari, Kab. Malang. Namun, berdasarkan pernuturan ibu penjaga candin, bahwa candi ini memang terletak di-atas-sumber/telaga (Sumber dan Rawan, Rawan berarti telaga dalam bahasa sansakerta).
      Bagi saya yang baru pertama kali tahu keberadaan candi ini, tentu sangat mengejutkan: bagaimana mungkin, susunan batu dengan skala ukur puluhan ton, bisa dibangun di atas mata air? Bahkan, ketika saya membaca tulisan sejarawan (mungkin Suwardono, karena tidak disebutkan jelas) di papan tempat itu, dulunya candi ini ada dalam genangan lumpur. Ibu penjaga (yang saya lupa namanya) juga meng-iya-kan pernyataan-pernyataan itu.
"Dulu, zaman mbah saya, tempat ini penuh dengan lumpur, bahkan candi itu hampir tertimpa pohon beringin besar yang ada di sampingnya karena tidak kuat berdiri lagi. Untung sekali, langsung dipotong."
       Wow! Beringin dengan akar yang kokoh saja hampir rubuh, tidak kuasa menahan lumpur, tentu saya menjadi bertanya-tanya: kenapa susunan batu ini begitu kokoh dan tidak ambles ditelan bumi? Kini, wilayah itu telah dikeringkan, dan pohon-pohon besar yang ada di sampingnya telah dipotong.  Jadi, dalam jangka yang lama, sejarawan bisa bernapas lega.
       Percakapan saya dengan ibu penjaga dilanjutkan, dengan membuka pertanyaan seperti ini:
"Bu, kenapa di sebelahnya ada pemandian?" tanya saya polos
"Oh, sejak dulu itu disucikan kaum Budha. Biasanya sebelum bertapa di sana, orang harus mandi dulu" katanya sambil menunjuk kamar kayu tertutup di ujung barat daya kompleks ini.
"Dari mana sumber airnya?"
"Ya dari bawah candi itu mas. Sejak dulu, sudah di sana. Tidak ada perubahan dalam pipanisasi, hanya perbaikan kerannya saja yang pernah" Katanya santai
      Dalam hati saya berteriak : Edian.. Edian tenan teknologi zaman dulu. Kita yang membangun jembatan dengan dana milyaran rupiah, hanya bertahan kurang dari 10 tahun. Nenek moyang kita membangun candi, dengan maksud menyucikan air (amerta di samudra mantana), bertahan ribuan tahun lamanya... Luar biasa.. Saya jadi bangga menjadi keturunan sang-pembuat-candi ini.. asli anak Nusantara. Tapi, sangat disayangkan, apakah semakin banyak keturunan, kualitas kita sebagai manusia semakin turun? maksud saya, saya melihat tumpukan batu adhesit sisa konstruksi candi yang runtuh, yang dijejer di samping candi. Tiap batu telah ditandai, digambar rekonstruksinya, diberi kode, dicoba disusun, tapi selalu gagal menemukan bentuk aslinya, baik dari pihak Belanda tahun 1937, maupun sejarawan dan insinyur Indonesia di tahun 1960-an. Belum ada yang mampu memecahkan susunan batu yang nampak sederhana tersebut, namun memiliki kerumitan yang luar biasa.. dan tentu saja:paten. Nampaknya, puncak teknologi telah dicapai pada masanya.
     Satu hal lagi yang menarik, candi ini selalu dikunjungi oleh 'orang-orang penting' daerah sebagai wujud pencarian petunjuk sebelum pemilukada, termasuk Gubernur kita tercinta (hehehe). Aneh tapi nyata, candi atau stupa milik agama Budha ini dibangun di zaman kerajaan Hindu Majapahit. Bukan hanya itu, dalam kunjungan kerjanya, raja paling berkuasa di Asia Tenggara, Hayam Wuruk, juga menyempatkan diri berkunjung ke candi ini. Hal ini tercatat oleh Kitab Negarakertagama, yaitu pada tahun 1359 M. Dalam benak saya, Raja Majapahit sangat berkuasa, dan tentu saja kekuasaannya tak terbatas. Namun, pemimpin zaman dulu sudah menerapkan kebijaksanaan dan keadilan terhadap hak-hak rakyatnya, termasuk dalam hal beragama. Saya jadi membayangkan, pemerintahan zaman dulu dimulai dengan itikad musyawarah yang jelas, untuk memilih siapa yang paling bijak diantara kumpulannya. Lalu ketika terpilih, mereka akan membiarkan keturunannya terus memimpin, dengan harapan kebijaksanaan leluhurnya terus ada dan terus mengayomi rakyat. Nah, ini tidak ada di dalam demo-crazy jaman sekarang. Demo-crazy, yang menurut saya sudah keblinger dan tidak sesuai tujuannya lagi. Pemimpin cuma melakukan kebijakan dari siapa yang menyandang dana terbesar waktu kampanye.. 
       Aish, maaf leluhurku.. kami kalah lagi... dengan kalian.
(Sumber sejarah berdasarkan penuturan penjaga, buku 'Stupa Sumberawan, Suwardono', dan catatan Ir. Van Romomndt'

Susunan batu adhesit yang sederhana,  namun dapat 'mengapung'
The ruins : siapa yang dapat menyusunnya kembali?

Hutan yang mengelilingi Candi : nampak terjaga kelestariannya oleh kesakralan

Ujung stupa Chatra (payung) yang belum ditemukan hingga kini
Reruntuhan yang telah diberi kode, namun tak ada yang sanggup menyusunnya lagi

Tempat Pemandian Sakral : Dulunya air mengalir dari 'Mulut Naga' dan patung Dewi
Laguna yang masih ada di sekitar Candi : berair jernih dan penuh dengan ikan