the biodoversity

the biodoversity

Sabtu, 12 April 2014

Kemenyekisme

   Menunggu, itu adalah hal yang membuat saya penat. Jian ra penak blas... Bagaimana tidak menunggu, kalau tempat main saya yang sekarang berada di ranah terpencil timur TNMB. Dibilang terpencil karena saya mikir dua-tiga kali sebelum naik atau turun. Rasanya itulah sebabnya orang yang dinas (baca:bertapa) di sana lebih memilih tinggal dalam waktu yang lama, daripada harus bolak-balik lewat jalan yang boros-pantat itu. Oleh karena itu saya harus menunggu. Karena kalau kembali dalam rentang waktu yang dekat setelah pulang, sido remek... Paling tidak, menunggu badan sedikit pulih dulu lah, hehe... 
    Nah, di dalam peradaban inilah, ngadep laptop adalah hal yang pasti : Pindah foto, Facebook-an, lihat web-web gaul, sampai maen game selalu saya lakukan. Jian takpuas-puaske pokoe... Sampai kalau bosen, barulah saya ngutak-atik program design yang tentunya... bajakan. Saya paling suka ngotak-ngatik foto, terutama foto burung  yang saya dapatkan. Tapi tenan, saya suka membuatnya jadi poster, jadi apa saja.. Malah akhir-akhir ini saya seakan membuat semi dummy-layout dari buku burung. Meskipun masih dalam mimpi, tapi saya mikir kalo saya sudah melakukan hal yang kemenyekisme. Lha gimana tidak? Acc, penulisan-koreksi, bahkan pengumpulan foto masih belum selesai. Masih sekitar 2 bulan waktu pinalti saya di hutan untuk ndendepi manuk. Jadi, kalau sekarang bikin layout, apa ndak kemenyekisme namanya? Hahaha... ben wes. 

1.
   Berawal dari keinginan saya untuk membuat poster bertemakan : " Birdwatching for Kids", maka saya mengutak-atik foto-foto itu. Nah, jadilah... Tapi yang membuat saya heran, malah terjadi bullshit atau kotoran kerbau (hehehe, maksud saya omong kosong). Kata-kata yang disampaikan terlalu banyak. Tujuan awalnya adalah untuk memberkenalkan 'betapa amazing-nya burung itu', sehingga di dalamnya saya sampaikan banyak fakta-fakta menarik yang rasanya anak kecil pengin tahu. Kenapa pakai bahasa Inggris? Hem, entahlah... saya malah sulit menguraikan maksud saya dalam bahasa Indonesia, jadilah ini Bahasa Inggris (berarti sekarang saya juga keminggris, hehe). Padahal sejatinya saya berhaluan ekstrimis-garis-kiri-senggol-njengat. :D

2.



Terlalu ke-baluran-baluran an. Itulah kesan saya setelah nyruput kopi sambil memandang kedua dummy layout yang saya buat ini. Alasannya simpel, karena tergesa-gesa untuk membawa 'sesuatu'  ke balai, sehingga membuat dua karya ini rasanya hanya 2 jam saja. Tapi memang, saya sadar bahwa burung di sini sangat berbeda dengan Baluran. Buku Baluran itu memang banyak menjadi inspirasi, tapi ogah hukumnya untuk juga meniru bentuk layoutnya. Butuh sesuatu yang mengejutkan dalam konsep. Sesuatu yang menjadi ciri khas : hutan virgin, dataran rendah, utuh, dan kaya jenis. Apa itu? entah, saya sendiri masih mencari... 

3.

   Awalnya, tujuannya menjadi semacam informasi singkat. Semacam poster lah (sekali lagi, poster). Tapi, kok sedikit cocok menjadi layout buku? Entah, saya kurangi beberapa bagian yang berbau poster, lalu jadilah demikian. Masih saja terlalu banyak kata. Saya sangat ingin membuatnya menjadi sesuatu yang ringan, enak dibaca, tapi berbobot. Hanya itu yang saya tangkap. Sepertinya nanti distribusi akan dipangkas, begitu juga dengan deskripsi singkat yang tidak singkat. 
Sebuah kemajuan lah untuk membuat foto-foto burung cukup terlihat bebas. Perjuangan yang berat, tapi tetap melaju dengan dibarengi membaca referensi buku-buku lain. 

Nyruput kopi.. mikir...  
Benarlah jika Mas Budiman, kakak angkatan saya yang sering menjadi asisten ekologi, berkata bahwa Matkul Ekologi adalah yang paling susah. Padahal saya tahu, orang ini briliant di Matkul tingkat dewa seperti Genetika, Fisiologi Tumbuhan, dan Biologi Molekuler. Baginya, meskipun dosen ekologi jarang memberikan nilai b ke bawah, tapi ekologi sendiri mengajarkan sesuatu yang holistic, luas. Informasi di dunia terhubung sempurna dengan lingkungan. Nah, sekarang bagaimana caranya membuat informasi yang begitu kompleks menjadi terlihat sederhana tapi tetap berbobot. Hal itulah yang diajarkan ketika setiap kali laporan Ekologi (dan juga kroni-kroninya) selalu berbentuk poster ukuran F4. Dalam media yang terbatas itulah kata-kata dibatasi untuk memuat berbagai informasi penting yang seharusnya jauh lebih besar dari ukuran kertas. Jauh lebih sulit daripada membuat laporan makalah tulis tangan bolak-balik, margin 3-2-2-2 seperti biasa.
Hm.. saya mengerti, kenapa didikan ekologi harusnya lebih sedikit nggedabrus. Menghemat kata, tapi berbobot... dan tentunya saya masih belajar dari sana. Malah kadang, nggedabrus-nya lebih besar dibandingkan kerjanya.

Layak!

Senin, 07 April 2014

Memilih Sang Ikon : njlimet!

   Mencari hewan yang sudah menjadi ikon tempat itu susah. Apalagi, menentukan hewan apa yang akan menjadi ikon suatu tempat. Yak benulll... nilai filosofi itu perlu, sekalipun sak-benci-bencinya dengan penggedabrusan ini, karena seringkali kita terjebak dalam paradigma bahwa 'semua itu penting'. Namun, menurut saya, filosofi suatu objek yang diangkat akan membawa pemikiran tentang tempat itu. Sekaligus, orang awam akan memikirkan bahwa mereka akan mudah untuk menemukan ikon bintang itu di sana. Baiklah, saya perkecil tentang tempat yang saya maksud : Taman Nasional.
   Suatu contoh, Taman Nasional Baluran mengangkat Banteng (Bos javanicus) dan Merak (Pavo muticus) sebagai ikonnya. Lalu, bagaimana jika keduanya jadi semakin jarang di sana? Opo gak ngelu? Contoh lagi di logo Meru Betiri terdapat dua gambar yang melukiskan gabungan pantai teluk dan gunung yang bernama Meru dan Betiri. Keduanya tentu masih kita lihat, karena ndak akan bergeser-geser kemana-mana. Tapi jangan lupa, di sana ada cap tapak Harimau Jawa. Jadi, syukurlah.. itu cuman tapak kaki saja.. Harimaunya mbuuh nangndi... hahaha. Bahkan, jika Elang Jawa dijadikan lambang fauna Gunung Merapi, betapa ndak minder jika di Tahura R.Soeryo, Batu, orang-orang bisa 'selfie' dengan elang langka ini? ckckck... 
   Nah, sekarang tantangan bagi para penghuni Meru Betiri yang sedang getol ngejar-ngejar burung, karena tampil suatu pertanyaan baru : burung apa yang dapat jadi ikon taman nasional dengan 58.000 hektar ini? baiklah, mari kita uraikan satu per satu:

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)
   
Hampir tidak mungkin jika burung ini bisa dijadikan ikon. Pasalnya, cap Elang Jawa sudah diambil di TNGM. Apalagi, jika dibandingkan intensitas kemungkinan bertemu, menurut saya, Tahura R.Soeryo menjadi tempat dengan potensi terbesar sejauh pengalaman saya yang cupu ini. Hanya ketika beberapa kali burung langka ini ditemukan di sini, ada slentingan untuk mengangkat burung ini menjadi ikon.

Nectarinidae (Pijantung dan Burung Madu)

   Sempat terpikir untuk mengadopsi salah satu anggotanya untuk dijadikan ikon. Kenapa? karena Pijantung sangat mudah ditemui di sini. Sangat identik dengan perkebunan yang ada di dalam kawasan sejak jaman kolonial. Tidak terlalu 'murah' untuk ukuran burung. Lagipula, domainnya sebenarnya luas. Dapat dijumpai bahkan di dalam hutan sekalipun. Jadi, beberapa waktu yang lalu, saya pikir ini adalah ikon yang seep tenan. Hanya saja, apakah orang luar dapat dengan mudah menyerap kamsud dari keinginan luhur kita semua? hm..

Cica-daun Sayap-biru / Cuca Ijo (Chloropsis cochinchinensis)
   Terkenal, bahkan sangat terkenal di dunia perburungan, alias kicaumania. Pasalnya, burung yang cantik ini memiliki suara yang aduhai, sehingga, sayangnya banyak yang diburu di hutan liar. Terdapat segitiga emas yang konon menjadi sumber Cuca Ijo yang memiliki suara dengan power kuat: Gunung Raung, TN Alas Purwo, dan TN Meru Betiri. Dari rumor yang saya dengar, Cuca Ijo Meru Betiri memiliki power suara yang paling kuat. Nah, pas kan? meski tidak dilindungi, burung ini sangat-Meru Betiri-banget. Semakin terancam di alam liar juga iya. So? Masalahnya apa? Hanya satu sebenarnya... saya tidak pernah dapat fotonya, hahaha. Dari pengakuan orang-orang yang telah lama di sini pun, sangat jarang untuk dapat melihat burung ini. Melihat saja susah, apalagi memotret. Pas wes... 

Rangkong Badak (Buceros rhinoceros)

   Bentuk pengejawantahan kekayaan keanekaragaman hutan lebat nan perawan di Meru Betiri. Kenapa? Sarangnya saja di hutan-hutan primer yang paling primer, dibuat di dalam kayu-kayu ukuran raksasa yang seakan tak mungkin kita lihat lagi di pulau sepadat Jawa. Apalagi julukannya : The forest farmer, membuatnya sangat identik dengan pengabadian hutan rimba di Meru Betiri. Saya rasa, isu bahwa Meru Betiri menjadi basis keanekaragaman hayati, alias Home of biodiversity, cukup terwakili.. Lalu bagaimana dengan perjumpaannya? Tenang, saya harap njenengan para tetangga Meru Betiri tidak minder. Januari-Februari saya dan Mas Puji menjadi saksi sepasang Rangkong Badak yang sering melintas di Pringtali, resort Bandealit. Lalu, kemudian, terdapat temuan seekor Rangkong Badak yang sepertinya masih muda, seorang diri (maka, kami duga itu bukan dari pasangan yang selalu kami temui). Berlanjut ketika saya pindah di Sarongan, nampak seekor Rangkong Badak ditemukan. Lalu di Sukamade, mulai dari seekor, lalu juga sepasang yang seringkali nampak di sana. Nah, silahkan anda mengandai-andai jumlahnya. Memang, waktu bertemu sampai sekarang tidak dapat 'dijanjikan'. Ini pun karena jarak jelajahnya yang luas. Namun, yakinlah, bahwa burung raksasa ini masih mudah dijumpai di Meru Betiri, karena hampir setiap hari suaranya dapat didengar. Sangar kan?

Elang-laut Perut-putih (Haliaeetus leucogaster) - ELPP

   Baiklah, dari namanya, kandidat terakhir ini menggambarkan hamparan laut. Sangat pas sebenarnya untuk taman nasional dengan basis kelautan dan kepulauan. Namun, kenapa burung ini diajukan? Tentu saja karena kita bisa membuat 'janji bertemu' untuk melihatnya. Setiap pukul 5 hingga 6.30 pagi, burung ini selalu stay di pantai Sukamade. Adapun jika tidak hadir, tentulah dia sedang sakit atau ada cuti. Kenapa demikian? Setiap pagi, tamu atau ranger selalu melepaskan tukik (anak penyu) ke laut sebagai atraksi wisata. Nah, tukik-tukik inilah yang menjadi bahan sarapan bagi 2 atau 3 ekor ELPP. Gayanya yang suka melakukan akrobatik di udara rasanya sangat pantas menjadi tujuan objek wisata. Apalagi hubungannya, menurut ilmu cocokilogi saya, adalah sebagi predator tukik-> Penyu -> identik Meru Betiri, cukup masuk akal kan?

Anda mau vote?
 

Minggu, 02 Maret 2014

Bandealit di Pagi Hari

    Saya suka Bandealit ketika pagi hari. Rutinitas yang saya jalani selain melarikan diri sejenak dari tugas masak, adalah jalan-jalan ke arah Feeding Ground Pringtali. Sungguh, pemandangan kabut tipis yang membalut hutan-hutan yang berbatasan langsung dengan perkebunan sangat menawan. Ditambah lagi sinar matahari yang berlambat-lambat mengusir kabut pagi (lho, kok jadi berpuisi?)


   Pengin sekali menggambarkan ke sampeyan gambaran landscape hutan dataran rendah ini, tapi memang sedang ingin motret dari sisi portrait. Maksud hati ingin menunjukkan tingginya pepohonan yang menghias bukit-bukit.  Jian mirip dengan pulau-pulau luar jawa yang masih memiliki hutan perawan. Seringkali malah ditambah efek suara Lutung Jawa yang saling menyahut, atau terkadang kepak sayap Julang Emas yang melintasi sela-sela pepohonan tnggi.


   Nah, kalau ini adalah gubuk yang ditinggali oleh petani jagung untuk menunggu lahannya. Silahkan sampeyan bayangkan bahwa Bandealit ada dalam dua sisi : perkebunan dan area konservasi. 


   Saya  merasa keplek alias tidak pinter moto ketika melihat foto ini (memang sebenarnya ndak bisa, hahaha). Serius, bahwa suasana sebenarnya jauh lebih indah. Cahaya matahari sedang menembus pepohonan kelapa. Bukit-bukit masih beruap alias anget-anget, diselimuti kabut.  Sedangkan diantara bunga kelapa saling bersahutan jenis-jenis Pijantung. Nggumun...




    Kalau yang ini dipotret pas perjalanan pulang. Lewat pos Tupak Gesing, jalanan sudah banyak yang mulus. Konsentrasi akhirnya bisa dipecah antara lihat jalan dan pemandangan, hehe.. Mungkin cukup terlambat bila dikatakan masih pagi, tapi memang kondisi Meru Betiri yang kebanyakan tertutup vegetasi rapat membuat sinar matahari sulit menembus dasarnya. Efek lain adalah sampeyan harus banyak menengadahkan kepala jika melakukan pengamatan burung, karena mereka malah banyak bermain-main di tajuk pohon. weh-weh... 

yah, memang saya tidak pandai memotret... Tapi percayalah, Tuhan menggambar Meru Betiri dengan luaaarrr biasaaaa... siap dikagumi dan dieksplorrr...

Kamis, 20 Februari 2014

Mumpung sek iso... (iseng-iseng berhadiah)

Jedharr... 

   Guntur mengiringi bacaan rekapitulasi data bulan februari ini untuk wilayah Bandealit dan sekitarnya... dan kita sambut... 104 jenis burung teridentifikasi... (plok-plok-plok). Lalu, datanya mau dijadikan apa? Saya rasa, sekarang Bandealit punya data yang tanggung-tanggung gimana gitu... Mau dibilang sedikit ya tidak, mau dibilang banyak kok jelas-jelas sepertinya banyak jenis yang masih terlewat. Saya sih kepikiran untuk sebuah output yang lebih umum, lebih menyeluruh, karena Meru Betiri ini tidak boleh dipecah-pecah (iki jareku lo..), jadi untuk output itu harus bersabar menunggu waktu yang cukup lama dan harus menjelajah slempitan-kelek Meru Betiri. Mungkin, karena itu juga, saya ingin mengejar waktu untuk segera bergeser ke seksi lain, mengejar bocoran spesies yang mungkin di Bandealit sulit, tapi di lain tempat mudah ditemukan, atau bahkan spesies-spesies mengejutkan lain.
   Dan lagi-lagi kami bingung. Ada wacana membuat peta burung untuk skala kecil (Bandealit), atau malah buku. Untuk yang terakhir ini jelas-jelas angel. Jadilah saya menyarankan untuk membuat semacam information-site bagi jenis-jenis burung yang ada Bandealit, kalau seandainya benar-benar segera pengin kelihatan bahwa orang Bandealit itu punya burung... :D 
   Di dalamnya, terpikirkan-lah akan sebuah potongan vegetasi yang pernah dibuat oleh sebuah taman nasional (lupa namanya, yang jelas ada di Kalimantan). Mereka buat itu untuk information-site via online mungkin, hasilnya bagus dan representatif menurut saya (sayangnya dulu tidak sempat saya download). Sukar menjelaskan ke teman-teman, sampai saya akhirnya membuatnya terlebih dahulu (karena tentu saja ndak ada contohnya). Lumayan, cakupannya tidak terlalu luas, namun cukup bersifat informatif. Berikut adalah penampakan dari maksud saya...


   Foto-foto burung diletakkan di posisi penggunaan habitat mereka. Terpilih 3 jenis habitat yang dirasa dapat mewakili kondisi vegetasi Bandealit secara umum. Semua foto diambil di Bandealit (kecuali ada 1 pinjaman dari resort sebelah, karena burungnya gampang dilihat, madih susah difoto, hehe), dan urun saham masih tim PEH rame-rame. Selain itu, masih ada stok yang disimpan untuk nanti. Lambat laun, terpikir untuk melengkapi ini dengan lokasi (jelassss, banyak yang belum kenal Bandealit rasanya), teks pembuka, dan catatan temuan burung. So, di baliknya diberilah semacam itu... jadi total malah nantinya semacam leaflet, dan ini jadi bagian depannya:


   Nah, seperti inilah tampangnya. Masalah teks dan redaksional, masih dikorek-korek. Hanya saya masih bingung untuk mencari solusi agar daftar temuan bisa dibaca tanpa lup (hehe).. terlalu kecil.


Minggu, 16 Februari 2014

Kelud, pengalaman yang tak pernah dilupakan...

   Mungkin kisah saya kali ini diawali dengan sesuatu yang kurang 'gentleman'  dan kurang sangar sebenarnya. Yak, benulll.... cerita ini malah diawali oleh keinginan untuk mencari jodoh burung kenari peliharaan saya. Kasihan, sudah cukup umur, burungnya bagus, kenapa ndak dicarikan burung betina? Dan dimana saya akan mencari burung betina berkualitas? Tentu saja di peternaknya, dan dengan bantuan kawan saya, si Bayu Hendra Prakosa yang sudah puluhan tahun melanglang-buana di dunia kicauan. Apalagi sekarang birder ini punya sampingan membuka peternakan di rumahnya... so, tanggal 13 Februari saya sempatkan ke rumahnya di Tulungagung dengan menunggangi KA Tawangalun dan dilanjut KA Penataran/Dhoho. 
   Tidak ada firasat apa-apa sebenarnya. Hanya saja, saat kereta sampai di Blitar, ada seorang turis Belgia dan guide-nya, duduk di depan saya. Kami kemudian bercerita tentang hal-hal biasa, tidak ada yang istimewa. Sampai suatu ketika, saya iseng bertanya kepada guide yang ada di sebelahnya tentang tujuan mereka. Ternyata, mereka berdua akan ke Surabaya. Sebenarnya, mereka masih 3 hari lagi di Blitar, tetapi beberapa travel agent memperingatkan akan bahaya Gunung Kelud yang pada saat itu, setahu saya masih dalam kondisi 'siaga'. Spontan saja saya bertanya : "apakah Kelud sudah meletus?", Ia menjawab : "belum, belum, tapi kami melarikan diri terlebih dulu sebelum meletus, haha." (belakangan, saya merasa kedua orang ini termasuk orang yang beruntung, hehe).
   Semua terjadi sesuai jadwal. Saya datang di stasiun Tulungagung pukul 5 sore. Bayu menjemput, dan kami menuju rumahnya di Kecamatan Gondang, mungkin 30 menit dari kota. Sampai di sana, ibunya si Bayu dengan ramah menyambut. Maklum, ini kunjungan ke sekian kalinya ke rumah Bayu, jadi kami sudah saling mengenal. 

Mulainya tak pernah disangka!
   Sampai pukul 10 malam kami menonton tv. Acaranya biasa saja, sehingga saya putuskan untuk beranjak tidur. Entah kenapa Bayu masih setia dengan tv-nya, tetapi sekitar 15 menit kemudian ia pun menyusul tidur. Lampu tengah dimatikan, dan kami se-rumah sudah asyik bergulat di kasur. 
   Lambat laun, hawa di rumah itu jadi sumuk (gerah). Saking panasnya, kami tidur gedebukan... jian ora umum! Belum pernah merasakan gerah yang se-demikian panasnya. Saya tidak melirik hape untuk melihat jam, tapi memang sesekali saya nglilir dan mendengar suara gludug-gludug, mirip dengan guntur. Hawa panas tidak pergi-pergi, giliran keponakan Bayu yang masih 17 bulan terbangun dan menangis. Burung-burung kenari di sangkar seperti ngriwik ketakutan. Saya mendengar ada orang bercakap-cakap di jalan, tidak jelas. Tapi kemudian, mereka sepertinya pergi dengan memacu motornya. Saya benar-benar tidak bisa tidur...
   Suara mirip guntur sendiri masih terdengar, ditambah diluar terdengar suara 'hujan'. Nah, kira-kira pukul 2 dini hari, kakak ipar Bayu bangun dan melihat keluar. Ia dengan bersuara sedikit keras memanggil kami dan mengatakan: "Hujaaan paasir...!" Kami berdua langsung meloncat turun dan segera keluar. Senter disorotkan ke langit, dan benar-benar nampak butiran pasir turun dengan derasanya! Suaranya :"rhhss....rhssss" mirip hujan biasa, terus berulang-ulang dan tidak mereda. Beberapa orang memacu motornya dengan kencang sambil menutupi mukanya dengan bajunya. Logika kami membimbing kesimpulan bahwa Gunung Kelud telah meletus. Herannya adalah, Tulungagung yang mungkin berjarak 100 km dari lokasi, terkena hujan pasir yang cukup parah, lalu bagaimana di Kediri dan Blitar? Seberapa besar musibah ini? saya masih penuh dengan tanda tanya.  
   Setelah itu, kami berharap ada berita penjelasan resmi dari tv. Tetapi pada jam-jam itu, masih belum ada tayangan resmi. Hanya tulisan berjalan yang ada di Metro dan TVone. Itu pun kalau tidak salah mulai ada sejak pukul 02.30. Tidak ada satu pun di rumah itu yang tidur. Saya mencoba menelpon ibu di Banyuwangi, agar mencari kabar budhe saya yang memiliki rumah di Candisewu, Blitar. Jaraknya cukup dekat dengan Gunung Kelud membuat kami sekeluarga khawatir, apalagi ternyata hp keluarga Blitar tidak ada yang bisa dihubungi. Sedangkan di luar, hujan pasir masih terus mengguyur hingga subuh menjelang.

Hindari berita hoax...
   Mungkin sudah biasa jika saat bencana, terdengar berita-berita hoax atau omong kosong. Termasuk saat bencana Gunung Kelud kali ini, tersebar kabar sms bahwa 2 jam lagi (sekitar pukul 3 waktu itu), akan terjadi letusan yang lebih dahsyat. Ah, ini tentu tak dapat dipercaya, karena setahu saya, erupsi tidak pernah bisa diramal. SMS dari BNPB yang biasanya muncul untuk memberikan penjelasan, tidak kunjung ada hingga pagi hari.
   Sekali lagi, berita yang dapat dipertanggungjawabkan sangat dibutuhkan pada detik-detik terjadinya bencana. Sulit sekali mencari informasi, karena semua pihak mungkin ada dalam keadaan kalut. Oleh karena itu, sudah selayaknya kantor berita nasional menyajikan informasi yang tidak melebih-lebihkan. Pada pagi hari, kami masih menyaksikan salah satu channel tv nasional memberitakan abu dan pasir di Madiun, Ngawi, juga Tulungagung berkisar 5 hingga 10 cm! Kalau di Kediri, kami percaya... lha di Kota Tulungagung sendiri, paling tebal mungkin hanya 1-2 cm.... Jarak pandang juga di pagi hari mungkin sedikit berkabut, tapi di siang hari, hampir normal. Di televisi disebutkan jarak pandang di Karanganyar hanya 5 meter, tetapi di tayangan videonya, mungkin 20 meter. Aish.... berita yang melebih-lebihkan hanyalah membuat orang yang dalam keadaan panik, menjadi skeptis dan semakin tidak panjang akal...
   Untunglah dalam beberapa kondisi, komunikasi modern pribadi (baca: hape) menunjukkan gunanya. Dini hari itu juga, kami mendapat kabar dari teman di Pare, Kediri. Kondisi di sana lebih parah, karena hujannya berupa kerikil. Kabar lain dari Batu menyebutkan bahwa jalur raya Pujon, Ngantang, Kandangan, dan sekitarnya sudah ditutup karena tebalnya abu dan material vulkanik. Dari Malang Kota terdengar kabar menggembirakan, karena di sana tidak ada hujan abu sama sekali. Pagi-pagi, sekitar pukul 05.30, saya mendengar kabar dari kawan di Kaliurang, Jogja, telah mengalami hujan abu yang parah. Saya sendiri tidak percaya kalau Jogja bisa mendapat hujan abu yang parah. Tidak pernah terpikirkan bahwa kedahsyatan Gunung Kelud mampu melontarkan abu ke atas, dan terbawa sejauh jarak Kediri-Jogja. Pada pukul 06.00, kami sudah bisa melihat berita tv setelah beberapa saat di sana mengalami gangguan sinyal. Ternyata memang benar, Jogja diselimuti abu vulkanik Gunung Kelud. Bukan hanya itu, belakangan telah terjadi hujan abu yang parah dan merata di jawa tengah dan jawa barat, suatu hal yang sangat luar biasa menurut saya... benar-benar dahsyat Kelud kali ini... 

Kedisiplinan, kecepatan, dan harapan... 
   Ketika mendengar, dan tentu saja melihat tayangan-tayangan televisi tentang bencana ini, saya sungguh bersyukur... kenapa? karena jumlah korban berhasil ditekan (saat itu tercatat 3 orang tewas, semua dari Kab. Malang). Hal ini adalah suatu prestasi, karena besarnya skala bencana ini. Bahkan dari kawan saya, saya dengar telah dipersiapkan pos-pos evakuasi, jalur evakuasi, yang meskipun hanya dilakukan kurang lebih 2 minggu saja sebelum kejadian, semua nyatanya dipatuhi oleh warga di sekitar Gunung Kelud. Tanpa peduli erupsi tahun 2007 yang 'kurang' dahsyat, mereka nyatanya tetap patuh dan tidak menganggap remeh arti sebuah kata : 'siaga'. Suatu hal yang menyadarkan saya bahwa lambat laun, Indonesia telah belajar dari pengalaman bencana-bencana yang telah dilaluinya.
   Semakin siang di tanggal 14 itu, semakin banyak orang yang membersihkan genting-genting mereka dari pasir dan abu. Di jalanan, pada beberapa lokasi, telah disemprot secara swadaya oleh warga. Meskipun pasar sepi, tetapi sekolah di Tulungagung masih aktif. Bersih-bersih juga dilakukan di kabupaten lain yang terdampak, tapi tidak cukup parah, seperti Madiun, Ngawi, Trenggalek, dll. Saya menyaksikan, hampir tidak ada keluhan saat melakukan itu. Seakan-akan, secara otomatis, mereka membersihkan dengan kesadaran bahwa dalam bencana, tidak ada yang perlu disalahkan, tidak ada yang dituduh-tuduh. Benar-benar saya merasa, ini adalah peristiwa paling sangar di tengah ke-pesimisan negara ini terhadap sisi-sisi terekspose : politik, ekonomi, isu sara, dsb.
   Sesuatu yang kurang dalam penanganan memang ada. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang menjadi alasan agar kita mudah menuduh. Contoh nyata adalah keberadaan masker di kota-kota terdampak. Tulungagung sendiri benar-benar kekurangan pasokannya, baik di apotek maupun rumah sakit, semuanya menghilang. Sehari sesudahnya, masih tetap sulit mencari masker, sehingga di jalanan dan di fasilitas umum, masih banyak terlihat orang tanpa masker. Padahal, jalanan berdebu karena abu dan pasir vulkanis. Saya hanya maklum saja akhirnya, karena menjadi salah satu orang yang tidak kebagian masker. Namun, belakangan saya mendengar bahwa masker diprioritaskan untuk orang sakit, dan pasokan diprioritaskan untuk daerah bencana : Kediri, Blitar, dan Kab. Malang, nah lhoh... 

Meniti jalan kembali...
   Hari ini (16/2), saya melihat percakapan antara wartawan Metro tv dengan Bupati Kediri, Haryanti Sutrisno. Dalam percakapan itu, sang wartawan menanyakan tentang kebutuhan dan keberlanjutan proses penanganan ke depan. Salah satu statement beliau yang berkesan adalah : "masyarakat bukanlah orang yang malas... Dengan diberi material bangunan, mereka dengan senang hati akan memperbaiki rumahnya sendiri. Kami bekerja sama dengan beberapa BUMN untuk mulai melakukan pengadaan material bahan bangunan..."
   Saya rasa, kenyataan seperti itulah yang membuat kita bergembira. Meskipun di tayangan selanjutnya, masih ada beberapa kelompok masyarakat yang meminta-minta (padahal bantuan sudah ada di pos-pos pengungsian), tetapi sudah jelas bahwa karakter masyarakat kita mulai berubah... Jika sebelumnya kita melihat banyak orang yang menunggu, menunggu, menunggu... namun kini, mereka mulai melakukan apa yang seharusnya bisa dilakukan. Pemerintah dan rakyat benar-benar terlihat bergandengan tangan dalam menghadapi bencana!

...dan akhirnya saya hanya bisa mengingat-ingat perjalanan pulang tanggal 15 februari itu... di kiri-kanan rel berwarna putih karena abu vulkanis. Gerbong-gerbong KA Penataran/Rapih Dhoho juga menjadi putih karena abu. Perjalanan terlambat 1,5 jam karena kereta melambat saat melintasi Kediri.
Meskipun lambat, tapi sampai dengan selamat.
Sama seperti kita orang Indonesia, meski lambat, tapi toh akhirnya kita mulai belajar untuk menghadapi bencana... :D


sugeng makarya bagi masyarakat Blitar, Kediri, Kab. Malang dan sekitarnya, serta daerah terdampak lain :)

Di balik pagar rumah... semua terlihat putih.

Serasa di Inggris... cuman ga adem, hehe

Minggu, 09 Februari 2014

Di balik sebuah kata 'mbabu'...

"Kuliah e sampun mantun tah?"
 "Sampun medhamel teng pundhi mas?"

   Mungkin kedua pertanyaan itu seringkali terlontar kepada saya setelah sering terlihat di lingkungan kampung halaman. Entah memang ketika sedang di lingkungan kifayah RT, lingkungan persekutuan, atau lingkungan rekan sekerja orang tua. Paling penak, saya menjawab sederhana dengan kalimat : "Kulo sakniki mbabu teng Meru Betiri." - Saya sekarang menjadi pelayan di Meru Betiri-. Rupanya kalimat ini cukup membuat mereka yang bertanya mengernyitkan kening, tanda adanya sebuah pertanyaan di benak mereka. Pertanyaan berikutnya bisa jadi tentang Meru Betiri itu apa, atau mungkin yang sedikit menarik adalah tentang pilihan status 'mbabu' saya.
    Saya pikir, permasalahan rata-rata masyarakat kita adalah belum bisa menerima jalan yang tidak 'biasa'. Sebuah jalan yang mungkin bisa lebih dikenal dengan jalur aktivis, jalur idealis, dan jalur -is-is yang lain. Padahal sekali lagi, kita juga sadar manusia lahir jebrett di dunia tidak pernah sama dengan yang lain. Ada yang umur 10 tahun bisa langsung terkenal macam Justin Bibeer, atau harus nunggu terkenal di dunia tarik suara setelah berkali-kali ikut idol-idolan. But, they made it. Tidak peduli kapan, apapun, tapi karena mereka tekun berusaha mencari jalan mereka, ya akhirnya mereka sekarang dikenal dengan seorang 'penyanyi bertalenta'. Lha yo wes toh... 
    Kalau tadi permasalahan dari masyarakat, sekarang adalah permasalahan dari diri kita. Mari saya tempatkan diri kita sebagai anak muda. Baik, jika lebih dikerucutkan, sebagai pelajar. Kenapa pelajar? karena status ini di-equivalen-kan sebagai bentuk kawah Condrodimuko kehidupan manusia. Titik tertinggnya macam-macam, namun pemondokan tempat belajar adalah status serius yang menjadi concern, karena setelah di-cap lulus, pertanyaannya adalah "mau jadi apa?" Sebenarnya pertanyaan ini akan terjawab ketika kita dengan mantap belajar dalam pemondokan itu. Dalam sebuah kawah Candradimuka, kita akan berpikir keras tentang kita punya apa, bagaimana, dan untuk apa. Sekali lagi, ini pun tidak sama persis antar manusia... wani totohan wes.
   Nah, yang terakhir, adalah bagaimana membawa hawa api Condrodimuko tetap membara di kehidupan nyata. Membara bukan artinya sampeyan kuliah kriminologi, terus harus nangkep bandar cap-je-ki di pasar. Lha iya toh, bertahun-tahun sekolah, tentunya menjadi agen perubah adalah sebuah keharusan. Coba sampeyan mikir, seseorang suka melukis, suka menari, suka seni karena otak kanannya sudah membesar di Institut Seni, malah menjadi akuntan. Alasannya macam-macam, tapi yang menurut saya paling populer, adalah ketika ia takut menjadi berbeda. Alasan kedua adalah khawatir... tidak dapat uang untuk hidupnya. 
     Ada pula kejadian dimana ketika anda sedang menekuni suatu hal, tiba-tiba anda melonjak dan berkata kepada hal lain : "that's me!!" , lalu anda beralih kepada hal itu. Tentu, itu bukanlah sebuah kesalahan, dan berbeda dengan kasus sebelumnya. Ini adalah peralihan yang menunjukkan talenta kita yang sebenarnya. Banyak contoh yang merujuk kepada kejadian ini, misal seorang lulusan manajemen, kini menjadi aktivis lingkungan, pemerhati burung pantai, dan sekarang kira-kira, nama Indonesia banyak diwakili olehnya. Bermula dari kuliah yang mungkin tidak jelas hubungannya dengan karirnya sekarang, sikap ngeyel pada pilihannya, dan akhirnya ia menjadi seorang punggawa shore bird di Indonesia. Jelaslah saya menyebutnya ini sebuah panggilan, sebuah kelengkapan dari talenta. Tuhan tidak pernah salah, dan sejauh mana anda mengembara mencari, keduanya pasti ketemu, dan sekali lagi tidak pernah salah.
   Jadi, itulah... saya memilih kata 'mbabu', karena memang identik dengan saya. Saya merasa menjadi sebuah kewajiban untuk seorang yang pernah belajar biologi, kembali untuk membuat ilmu biologi menjadi diketahui dengan mudah dengan masyarakat, dan menjadi lebih bermanfaat. Memang, terkadang, belum ada yang dapat ngingoni kebutuhan saya untuk itu. Ada rejeki, mungkin hanya cukup untuk bensin, bawang atau obat nyamuk saja, hehe. Tapi tidak mengapa. Sekali lagi, terkadang ngeyel itu perlu. Saya mbabu bukan kepada sebuah institusi, atau sebuah birokrasi ciptaan manusia.  Bahkan, di dalamnya saya menjadi sadar diri bahwa ilmu saya masih cethek, kecipik-kecipik, dibandingkan luasnya samudra ilmu pengetahuan milik Tuhan. Ndak usah sedunia, di belantara 11.000 ha di resort bandealit, tempat saya mbabu sekarang, saya masih belum bisa mengidentifikasi dengan benar : tanaman, kodok, burung, atau ribet dengan ngutek-ngutek peta. Mungkin kalau kuliah, saya harus mengulang sistematika tumbuhan I, II, sistematika hewan I, II, dan biokomputasi, semuanya diulang dengan puluhan sks, haha.. modhar kon.. But it's a essencial of 'mbabu' word, full with sacrify, a passion, and brave. Apa yang saya bisa, itulah yang saya lakukan. Hanya mbabu kepada Tuhan, itulah alasan kenapa saya bisa menjalani sistem kompleks ini dengan sebuah harapan masa depan apa dan siapa di sekitar saya menjadi baik.


Trims to Saur Marlina Manurung,
anda telah menginspirasi saya :)

Sokola Rimba




Jumat, 24 Januari 2014

Sebuah catatan kecil di 24 Januari

   Mengawali hari ini dengan birding? mungkin membuat saya dan Nova, anak PKL itu, cukup berpikir ulang. Setelah Bandealit dihajar badai hampir 10 jam lamanya kemarin, membuat saya masih asyik mingsreg dalam balutan sleeping bag yang entah milik siapa itu. Pemandangan di luar tetap suram, mendung, dan daun-daun yang masih hijau berantakan di halaman wanagriya milik resort itu. Sisa-sisa banjir di jalanan masih terlihat dengan jelas. Rencana kami untuk mengunjungi pertigaan Teluk Meru rasanya maklum bila dibatalkan. Kami dengar, jalanan yang harus dilalu dengan motor itu sekarang lebih mirip dengan Kali Pringtali versi mini, dengan dasar lumpur yang sangat licin. Kami hanya termangu memikirkan tujuan kami di hari yang mendung ini. 

"Bagaimana kalau observasi Elang Jawa lagi?" tanya saya dengan penuh harap akan makin membaiknya cuaca hari ini
"Boleh" jawabnya, yang seperti biasa, mung trimo manut, hehehe..

   Baiklah, kami segera sarapan seadanya, bersiap-siap, dan segera berangkat. Jalanan yang biasanya baik-baik saja di hari normal, kini benar-benar menjadi sungai kecil dengan lubuk-lubuknya yang mini itu. Tak disangka, hasil badai kemarin berpengaruh hingga pagi hari ini. Jalanan menjadi tergerus oleh air dan menjadi grand canyon ala Bandealit. Kalau jalan saja menjadi kali, bagaimana 3 kali sebenarnya yang harus kami lewati nanti? Asuuuhay... 

   Perjalanan yang biasanya ditempuh selama 45 menit, sekarang harus benar-benar molor. Jalan menyusuri kebun kelapa yang berumput tinggi itu sekarang mirip paya-paya. Kaki saya yang terkenal mulus ini terancam terkena kutu air, alias rangen! Sungguh terwelu sekali kalau itu terjadi. Dengan cukup susah payah menerobos jalanan itu, kami sampai di kali pertama. Kali yang biasanya kering-kerontang jika tak ada hujan itu, sekarang menjadi gulungan air dengan level betis. Baiklah, rintangan ini kami lewati, dan kami berlanjut ke kali kedua. Hehe, kalau yang ini sudah level paha.. kami berdua hanya berpandangan mesra..  ciut sudah nyali kami. Bukannya kami malas basah-basahan di pagi itu. Hanya saja, kami memakai satu-satunya pakaian kering di minggu itu, juga di badan kami menempel beberapa peralatan elektronik yang cukup mahal (apalagi kalau rusak, muaaahal puoool!)

Nova sedang menerobos rumput
   Jadilah kami dengan muka ditekuk benar-benar memutuskan balik kanan. Mirip sekali dengan petinju yang melemparkan handuk putih : kalah setelah menerima pukulan hook ... 

   Namun, keberuntungan masih bersinar di hari yang suram ini. Dalam jarak kurang dari 20 meter, saya melihat dedaunan yang aneh. Pohon kering kerontang itu seperti ditumbuhi daun-daun warna merah menyala. Lhah, ternyata begitu saya makin mendekat, jelas sekali itu adalah seekor burung.... bubut! Amigoos, burung yang selalu ndlusup ke dalam semak begitu melihat manusia ini, sekarang dengan ayem-nya berjemur di pucuk kayu kering. Tak menyia-nyiakan momen ini, saya ambil beberapa jepretan sembari melangkah pelan. Puas menelanjangi bubut ini, saya melirik Nova di belakang saya. Beh, bocah ini malah memotret rumpun bambu di sebelah kiri, entah apa yang difotonya. Tangan kanan saya memberi isyarat di belakang pantat, sembari setengah berbisik dan melotot. Mungkin nampak terlihat: "sini, aku punya ekor, hahahaha", tapi maksud saya: " sini, ada bubut di depan!".  Akhirnya dia sadar, dan juga turut memperkosa si bubut ini. Cukup puas, kami bergerak maju, dan mak berr... burung berukuran besar ini kembali ke habitatnya di balik gelapnya rumpun bambu. Saya tersenyum puas. Ini adalah perjumpaan terlama saya dengan burung semak ini, mungkin juga dengan behaviour-nya yang paling ayem.Mungkin sama seperti kami, ia menjemur pakaian satu-satunya setelah hujan badai tropis semalam. Yah, tentunya sebelum dua pengamat burung amatiran ini mengusiknya.. 

Bubut Besar (Centopus sinensis)



Thanks God.. :)

Jumat, 10 Januari 2014

Menthelengi Raptor di udara : Kami butuh dukun hujan!

   Mungkin, bisa saya simpulkan minggu ini benar-benar payah untuk kami. Hasil kegiatan yang kami gadang-gadang bisa dapat informasi tambahan data kehati di slempitan-slempitan SPTN II Ambulu, rupanya, belum berbuah manis. Mulai dari Andongrejo, Sanen, dan Wonoasri, kebanyakan data hanya melonjak pada satu jenis saja. Hm, sebentar, bukan artinya tidak bersyukur, tapi memang demikian keadaanya. Menyisir tepian-tepian hutan, batasan-batasan kawasan yang terbuka, sampai bukit-bukit glenak-glenuk hanya untuk mencari burung pemangsa. Full sesuai dengan pengalaman, informasi setempat dan literatur yang pernah dibaca. Jangankan berharap untuk menemui jenis-jenis baru, bahkan jenis lama saja yang pernah teramati di lokasi yang sama, malah nihil-hil-hil. Apalagi kami kebanyakan hanya bertemu satu jenis yang sama : Elang-ular bido. Wooh, jian manuk lonthe tenan. Tiap ganti lokasi, hanya burung ini saja yang muncul, sambil berbuyi kliiik-kliik seperti anak ayam terjepit. Kalau seandainya terbang dekat gitu wes tak bandhem watu tenan.
   Baiklah, mungkin dapat saya simpulkan bahwa memang kita yang salah pilih hari. Namanya saja Januari, tentunya hujan sehari-hari. Apalagi waktunya cukup sedikit. Memang, kegiatan seperti ini butuh waktu yang cukup lama rasanya, terutama karena para pelakunya sendiri masih belum pernah melaksanakannya di at the place, alias first time broo... Ya sudahlah, apapun, yang jelas kami sudah memetakan lokasi-lokasi strategis untuk pengamatan raptor. Dengan ini, suatu saat kami bisa kembali untuk pengamatan, dan semoga dengan hasil berpredikat : memuaskan.

Menjaga api agar tidak padam

   Saya pikir, kegiatan-kegiatan PEH tidak ada yang tidak mulia. Selain duit yang harus dicukup-cukupkan, para pelakunya haruslah seorang yang multitalent : pengamanan, penyuluhan, dan tentu saja pengembangan informasi kawasan. Yah, semuanya tetap harus disambi-sambi dengan kerjaan lain dan juga diomeli. Apalagi jika kawasan sedang tersangkut kasus 'panas'. Bayangkan saja, dengan keadaan yang seperti itu, masih ditambah dengan kegiatan yang cukup berat, plus hasilnya kurang... rasanya paling yo mangkel juga. Tapi karena seperti kata saya :'mulia', akhirnya mereka tetap bergerak juga. Sudah rejekinya mereka kali ya...  (untunglah saya bukan PEH, hehe :D )
   Namun, nyatanya para punggawa ini memang bisa menikmati hidup di hutan. Ledekan demi guyonan seringkali saling terlontar... lha apalagi yang bisa ditanggap kalau tidak teman sendiri? Saya sendiri kagum pada Mas Afiyan, sang juragan dari Sukamade. Mungkin beliau bisa dijuluki sebagai dukun hujan yang tokcer. Berkat doa-doanya, hujan menyingkir dari perbukitan Ketangi-pothol, pergi ke laut selatan.  Selain itu, beliau juga merupakan tukang banyol yang top. Saya masih kepingkel-pingkel kalau ia berkelakar tentang kode-kode dalam hubungan suami-istri. Dan.. kalau sudah masuk bab ini, saya yang masih bujang ini mesthi enthek...
   Apapun yang dilakukan lah, yang jelas bisa menikmati hidup itu benar-benar perlu. Ibarat api, masing-masing orang sudah disebuli dan dihujani oleh berbagai tekanan yang ada di sekitarnya. Hutan mungkin bisa menjadi tangkupan tangan yang menghalangi angin badai tekanan itu. Dari sana, kita menjadi dekat dengan apa sebenarnya tujuan pekerjaan kita. Duduk kita di batu, tangan kita menyentuh lumut, kaki kita menjejak rumput yang segar, dan mata kita tak henti-hentinya memandang karya Sang Mahakuasa. Memang mulut kita terkadang mangap-mangap tidak jelas, tapi di situlah kita jujur apa adanya, dan menyadari akan betapa tidak mampunya kita tanpa Tuhan. Sebuah hutan yang oleh Sang Khalik menjadi halaman rumah kita, siap dijelajahi lagi, demi menyeruak misteri-misteri di dalamnya. Jangan khawatir kawan akan jaring-jaring ruwetnya birokrasi negeri ini. Mereka hanya manusia yang sama dengan kita. Beliau melihat semangat kita, dan mari kita jaga agar jangan padam...


Mas Afiyan : juragan sukamade, dukun hujan, dan konsultan hubungan suami-istri terpercaya

Mas Alif, bos geng PEH dari balai

Mas Puji, buddy saya di Bandealit



Sedang in action mendokumentasikan burung di jalanan Andong

Elang-ular Bido (Spilornis cheela).. akh.. kau memang ada dimana-

Minggu, 08 Desember 2013

Balada Sandal Jepit Bandealit: Gusti kuwi Maha Pirsa!

   Begitu menyadari Elang Jawa ditemukan di Bukit Sodung, area kekuasaan Desa Bandealit, Kepatihan Ambulu, Kerajaan Meru Betiri (hehe), maka sebenarnya saya tidak tentram lagi. Lha, saya penasaran dengan statusnya : apakah hanya mampir lewat (pengembara), ataukah memang ia menetap? Sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab. Yap, bisa jadi keberuntungan peserta GFK itu menjadi saksi tentang seekor elang endemik yang... cuman mampir, hehe.. 
   Demi menjawab rasa penasaran saya, akhirnya tanggal 2 Desember saya niati untuk sekali lagi mampir di Resort Bandealit tercinta. Resort yang sekarang digawangi oleh Pak Dedi ini memang cukup jauh dari jangkauan. Motor Supra X milik emak saya harus terengah-engah ketika menaiki jalanan 'mulus' ala Meru Betiri. Wih... rasanya, pantat seperti dipukul-pukul oleh jok motor yang memanas. 
   Sesampainya di sana, sore hari baru saya bisa bertemu dengan Pak Dedi secara langsung. Namun sayang, lelah karena patroli seharian, perjalanan panjang, akhirnya beliau harus beristirahat semalaman, padahal saya sangat ingin ditemani Pak Dedi hunting foto herpet, mumpung ketemu beliau yang notabene pawang ular :D .
   Paginya, saya langsung menuju jalanan savana yang terbuka. Konon, lokasi ini banyak mengandung temuan burung-burung yang enak dilihat. Lumayan untuk pembahruan database, hehe. Siang dikit, saya kemudian berlanjut ke arah track goa Jepang. Barangkali ada sesuatu yang bisa dilihat meskipun agak siang. Lalu Pak Dedi? beliau bertukar shift dengan Mas Puji. Yaah, begitulah nasib orang-orang ini. Dinas jauh dari keluarga, tanpa komunikasi, di hutan lagi, jadi harus bertukar shift tiap 4 hari sekali. ckck... Dengan menculik Mas Puji inilah  saya kemudian jalan-jalan.. mbuh kemanaa saja.. Mulai track goa jepang, pantai, hingga sungai-sungai nyari kodok.. haha. Pindahan dari Bunaken ini memang hobi jalan-jalan katanya. Ya baguslah untuk kesehatan, daripada kena diabetes karena nyelam terus? :D
   Si burung target sendiri sebenarnya sudah terlihat dari hari pertama. Namun, bentuknya lebih mirip sebagai kotoran lensa dibandingkan elang, hahaha. Artinya, teramat sangat jauh untuk diamati.Setelah itu, entah kemana ia pergi. Seakan-akan bersembunyi di saat siang hingga sore hari...  Bukan hanya itu, secara beruntun saya seperti ketiban sial yang menyesakkan. Lensa saya rusak! Macet tanpa bisa zoom out di hari kedua. Entah ada yang mengganjal, mungkin kemasukan kecoa (maklum, kamar saya banyak kecoa). Saya langsung berpikir : "berapa lama?" dan "modhar kooon, kere tenaan aku!". Dan bukan hanya itu sodara-sodara sekalian : sandal gunung saya yang biasanya saya parkir rapi di depan kantor resort, yang menemani saya tanpa cacat selama 2,5 tahun... hilang! Yah, okelaah, akhirnya saya pakai sandal jepit karet saja... Belum selesai kejutan, masih nambah lagi kabar yang kurang mengenakkan : hasil ujian cpns saya sudah keluar, daan... saya tidak masuk daftar panggilan TKB (tes tahap berikutnya). Pupus sudah harapan untuk mandiri, dan juga melunasi hutang akibat kerugian saya ini..... It's completly bad news.

Selalu Indah Pada Waktunya
   Sandal tak akan kembali lagi. Lensa harus diopname dengan uang tebusan yang jumlahnya tidak sedikit bagi saya. Elang Jawa... mungkin hanya keberuntungan peserta GFK yang membuatnya terlihat di area Bukit Sodung. Mungkin ia hanya mampir lewat saja. dan CPNS? Ah, kecewa tak akan terobati dengan menyesali apa yang tidak bisa kita cegah, ya toh? 
   Nah, akhirnya, suatu saat Tuhan mulai menghibur saya dengan temuan mengejutkan di hari terakhir sebelum saya pulang. Di suatu bukit, secara tidak sengaja saya melihat gerakan raptor melalui kamera. Ketika saya ambil fotonya, sangat mirip dengan Elang Jawa. Jumlahnya tidak satu, melainkan dua ekor sekaligus! Malah yang seekor nampak seperti individu muda. Whoow, air muka saya begitu gembira. Ketika selesai berdiskusi dengan Mas Puji, saya langsung menyalaminya. Tidak disangka, buah  kerja keras selama 4 hari itu terbayar sudah. Bahkan temuan ini dikuatkan oleh rekan-rekan yang meneliti elang endemik ini lebih jauh... syukurlaah.. Belum lagi bonus dari Tuhan, yaitu temuan Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) di area sekitar lokasi temuan Elang Jawa. Burung yang saya pikir hanya mitos di Bandealit ini ternyata muncul, bahkan dengan pasangannya. Whoow... benar-benar perjumpaan pertama bagi saya untuk burung raksasa ini. Siapa sangka dua penemuan penting ini terjadi dalam hitungan jam sebelum saya beranjak pulang? Selain itu, banyak foto spesies yang mulai terbaharui lagi setelah trip saya ke Bandealit ini. Kabar bagusnya yang lain adalah Balai menerima banyak sekali alat dokumentasi. Artinya, temuan-temuan yang selama ini tanpa terdokumentasi, sekarang akan lebih reliable dengan alat dokumentasi yang maaknyuss...  :D

Jika saya boleh berbagi kepada sodara-sodara sekalian, bahwa Tuhan itu sangat baik, adil, tur Maha-Sayang kepada kita. Ora bakal ngapusi seperti calon-calon anggota legislatif yang fotonya mulai memenuhi perempatan jalan, dan selalu up-to date tentang kabar kita, alias Maha-Pirsa. Sory bro, Beliau beda dari tokoh-tokoh politik yang notabene penuh dengan kekhilafan. Pokoke percaya saja. Beliau tidak akan pernah menutup telinga, walaupun terhadap keinginan atau isak tangis yang kita bisikkan di dalam hati. Daaan, sekali lagi, Tuhan juga akan mengingatnya.. Artinya ketika kita tidak diberi, mungkin ada saat dan jumlah takaran yang tepat untuk itu diberikan. Mangkane, hayok podo semangat, dan jangan putus asa :D

Si Supri dan jalanan Aduhay di depan Blok Krecek
Target utama : Elang Jawa dan anaknya! (lokasi masih dirahasiakan)
Individu muda Elang Jawa
Si Rangkong Badak melintas dengan berisiknya. But, nice to see you, guys.. :)
Ah, daripada ga dishare, hehe : Kekep Babi (Artamus leucorynchus)

Si Cangak Merah (Ardea purpurea) yang keep silent

Kamis, 05 Desember 2013

Gelar Foto Konservasi : Yang penting blusak-blusuk! (Part II-end)

   Alkisah ketika acara ini memasuki waktunya, terkumpulah 31 orang yang bersiap dengan gear masing-masing untuk hunting foto. Meskipun kawan-kawan paling jauh sudah datang semalam sebelumnya, tapi nyatanya mereka masih punya balung enom! Terbukti ketika diuyel-uyel  di truk pengangkut sapi, mereka masih happy-happy. Bahkan, para bioder yang juga spesialis pencuri buah ini tak henti-hentinya memanen semua buah yang mereka temui di pinggir jalan, mulai pencit, jambu, dan rambutan. Untung saja mereka tidak mengangkut kelapa, jagung, tebu, atau durian. Khayal memang menurut saya. Tapi saat saya konfirmasi kepada salah seorang peserta yang saya rahasiakan namanya, ia hanya menjawab : "Kadohan mas, ora sempat njupuk..." Wih, wedan tenan... tentu saja saya menggumam sambil mengunyah pencit  :D
   Saat truk memasuki kawasan Meru Betiri, satu kesan yang saya tangkap adalah mereka tidak punya pantat cadangan karena perjalanan ini membuat pantat menjadi luka dalam, tergores-gores bak truk. Yah, mungkin dengan ini mereka sadar bahwa salah satu 'keunikan' Meru Betiri adalah akses masuknya yang sedikit 'mahal'. Yapp, terbatas dengan jenis kendaraan tahan banting, jaraknya yang jauh, dan juga biaya yang tidak sedikit membuatnya nampak terisolir dari dunia luar. 
   Masuk gapura Bandealit, mata saya ngelayap-layap tidak jelas. Sebenarnya bukan saya saja, tapi kawan-kawan yang lain sedari masuk kawasan sudah terlebih dahulu jelalatan, hehehe.. Namun, jelalatan saya berbuah manis, nampak bunga-bunga kuning ranum mencuat dari batang pohon jati yang tumbuh tidak jauh dari kantor Resort Bandealit. Itu pasti anggrek.
   Nah, beruntung sekali ada seorang 'yang-tahu-banyak' tentang anggrek di acara ini. Sebut saja dia Lutfian Nazar. Orang yang mukanya mirip dengan Eyang Subur ini sedang mengoleksi foto-foto anggrek di Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Dan seperti dugaan saya, tanpa cang-cing-cong setelah melepas ranselnya, ia langsung mengikuti saya untuk ditunjukkan lokasi anggrek tadi. Makin lewat gerombolan kawan lain, eh, makin besar jumlah orang yang ingin moto anggrek.Padahal, tidak ada kategori foto flora di lomba ini.
   Anggrek-anggrek itu tumbuh cukup jauh dari jangkauan makro. Namun, akhirnya, salah seorang peserta malah menemukan mereka tumbuh di kayu roboh yang cukup mudah dipanjat. Sayangnya, ia tepat di atas sarang semut. Hanya 3 orang yang sanggup menahan rasa gatal akibat digigit semut. Bahkan, salah seorang peserta yang berinisial 'BH' alias ' Bayu Hendra', mengaku digigit semut hingga ke dalam celana dalamnya. hahaha, can you imagine that? modharo kon!

Banyak Mata, Banyak Rejeki
   Dalam hari-hari yang penuh bahagia itu, rupanya dalam kamera beberapa peserta terselip sebuah foto menarik. Apalagi kalau bukan si mitos Burung Pancasila : Elang Jawa! Awalnya saya tidak yakin ketika salah satu guide yang menemani mereka, Mas Alif, bercerita kalau segerombolan tukang poto mendapatkan foto yang disinyalir sebagai Elang Jawa. Baru setelah bertemu di wisma, ternyata beberapa peserta, yaitu Mas Heru, juga Mas Eko, berhasil menjepretnya. Dan... setelah didiskusikan, akhirnya deal... itu adalah seekor Elang Jawa. Suatu temuan yang mengagetkan karena selama ini belum pernah ada kabar maupun catatan tentang elang endemik jawa ini.
   Bagi saya, ini adalah sebuah tamparan. Yup, jelas, memang jika kita bicara keterbatasan, tentu tak kan ada habisnya. Apalagi saya dan kawan-kawan baru sebulan lalu mengadakan raptor watching di Sukamade dengan hasil yang kurang menggembirakan. Lagipula, kawan-kawan PEH nyatanya selalu mengadakan monitoring secara berkala. Lha mereka ini (peserta GFK) datang dalam waktu hanya sehari, lalu berhasil menjepret... Elang Jawa lagi. Sungguh terwelu, hehehe...
   Tapi apapun lah, memang keberuntungan itu datangnya dari Tuhan semata. Beliau sudah mengkode elang ini untuk muncul di area Bukit Sodung, mungkin supaya kami terbuka mata dan hatinya, bahwa tiap seluk TNMB harus kami kenal dengan baik. Yap, dengan demikian, Beliau mengisyaratkan agar terus menjaga keberadaan berbagai jenis hewan dan tanaman itu, terkadang harus mengabaikan harapan akan dana yang menetes dari langit-langit birokrasi. Niscaya, tanaman, hewan, dan segala makhluk di dalam hutan akan mendoakan para PEH, polhut, penyuluh, staff, hingga tukang sapu agar mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang berkecukupan jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan hati yang gembira :)

Terima Kasih peserta GFK sekalian... terima kasih sudah sudi mampir di Meru Betiri :)
Foto bareng sebelumberangkat ke Bandealit
Tidak masuk kategori penjurian? Cuek sajaaa... yang penting blusak-blusuk.
 Acara hunting foto malam
Menjarah hasil pekarangan warga :D
Peserta Gelar Foto Konservasi dalam formasi lengkap

Sabtu, 30 November 2013

Gelar Foto Konservasi : The Turning Point of Meru Betiri (part I)

    Suatu saat di hari Jumat, tidak biasanya saya mengunjungi 'rumah' Balai TNMB di jl. Sriwijaya, Jember itu. Rencananya, saya hanya ingin mengecek data-data lawas tentang penelitian-penelitan satwa di TNMB. Tentu saja jauh dari tujuan 'pintar' yang mungkin anda pikirkan sebelumnya, hehehe... saya cuma... bosan di rumah dan menghindari piket mbersihkan pot bunga yang sakabreg di rumah, huahaha... 
Kebetulan orang kenalan saya yang baik hati, sekaligus menjabat sebagai kooerdinator PEH, ada di tempat. Namanya Mas Alif. Beliau ini saya tunggu di ruangannya kurang lebih 15 menit. Entah kemana, tahu-tahu ia njedul dengan sebuah poster berjudulkan "Gelar Foto Konservasi". 
"Nhaaah... iki koreksien sek" katanya,
   Sambil mengesampingkan tujuan awal, saya kemudian memperhatikan bentuk acara, tanggal, judul, lalu semakin tertarik ketika melihat besaran nominal yang tertera: Rp. 1.700.000 !!! itu hanya untuk juara 1, sedangkan juara 2 dan 3, masih berkisar dengan huruf "juta". Wheladah, aku yoo gelem iki...
Saya sama sekali tidak berminat untuk menjadi bagian dalam panita yang ngurusi barang-barang seperti ini. Wes katog aku... gah, Namun yang menarik, adalah saya berpikir, agar jangan sampai momentum langka ini hilang begitu saja. Apalagi nilai-nilai rupiah yang telah saya sebutkan menguap.. whuzzz.. Langsung saja dengan spontan, saya menyatakan untuk membantu mempublikasikan lomba yang dibatasi untuk 30 orang ini, meskipun bekerja di luar panitia tentunya. 
   Yang saya pikirkan pertama adalah nama Meru Betiri sebagai Taman Nasional terluas di Jatim ini. Hampir semua dari orang mbolang yang pernah saya kenal tidak tahu tentang nama itu. Bahkan, hanya sedikit yang mengetahui dan mengunjungi tempat tersohor seperti Teluk Ijo dan Sukamade. Well-geduwelll, ini benar-benar kelewatan. Padahal nama-nama itu begitu terkenal di antara turis mancanegara. Jika bule-bule itu banyak mengunjungi Plengkung di TN Alas Purwo pada musing-musim ombak surfing, maka hampir pada semua musim mereka wajib hukumnya mampir ke Sukamade. Bahkan, puluhan hotel yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan sekitarnya, mengagendakan 'mampir massal' ke Sukamade, yang notabene merupakan andalan wisata Meru Betiri. Jadi, kalau kawan Endonesah yang terdiri dari pengamat burung, reptil, bioder, dan tukang ilmu kere lainnya malah belum mampir? itu keterlaluan! Harus dirubah... 
   Kembali lagi ke dalam acara lomba tersebut, saya melirik acara ini sebagai momentum yang benar-benar baik. Meskipun dikategorikan untuk umum, namun saya lebih mengabarkannya kepada bioder-bioder muda yang selama ini mempunyai jiwa petualang yang haus akan ilmu. Selebihnya tentu terhadap komunitas-komunitas fotografi wildlife (cenderung bukan indoor). Saya kenal betul watak mereka meskipun sebagian baru pertama kali saya lihat wajahnya pada acara ini (temen pesbuk bro, hehe). Artinya, mereka mengenal apa yang mereka lihat dan apa yang mereka foto di lapangan, jadi terlepas dari esensi utama fotografi yang mengutamakan keindahan objek di LCD kamera, mereka juga dapat membantu Meru Betiri untuk berburu data Kekayaan Hayati (Kehati) yang selama ini hampa. Yapp, mau tidak mau, saya dan kawan-kawan harus mengakui, selama ini SDM menjadi permasalahan utama dalam pengumpulan data Kehati di lapangan. Please, i won't talk about plants, just animal. Itu saja ketika dipilah-pilah, digabung dengan data pengamatan pribadi, dan catatan-catatan lama yang reliable, akhirnya membuahkan angka-angka yang jauh dari harapan. 
   Belajar dari masa lalu yang kelam ini, sekali lagi saya membulatkan tekad untuk mengundang para bioder.fotografer alam, dan pecinta alam (yang beneran), yang haus akan ilmu itu untuk datang. Kesan-kesan mereka nantinya akan saya tuliskan di bab berikutnya. Sebagai penutup, saya katakan sekali lagi bahwa ini adalah the turning point, sebuah titik balik dari diamnya Taman Nasional Meru Betiri ini. Mulai saat ini, data-data yang reliable akan disusun untuk membangun nama Meru Betiri sebagai empunya database Kehati terlengkap. Kita harus yakin itu!


Kamis, 14 November 2013

Status Quo : sebuah portal masa depan

Status quo itu adalah dimana ketika suatu pemasalahan mandhek, alias berhenti. Misalnya ketika Indonesia sedang dijajah Jepang, tapi ternyata Jepang kalah. Nah, saat itu, Jepang sudah tidak punya hak memimpin, namun Indonesia belum punya pemerintahan. Belanda sendiri masih baru 'melek' dari jajahan Jerman. Tidak ada yang memimpin, akhirnya Indonesia disebut sedang dalam masa status quo, alias kosong.

Manusia juga dikaruniai status quo. Pernah anda merasakan peralihan identitas anda? Biasanya, yang sering dikenal dalam fakta-fakta simple : Berganti pacar lama dengan yang baru; sekolah dari SD beranjak ke SMP, lalu dari bujang menjadi seorang suami atau istri. Ke-simple-an ini rasanya tidak serta merta benar-benar simple. Orang perlu mempersiapkan 'pendanaan' untuk beralih ke identitas baru yang harus dialami. Paling tidak, bukan nilaian rupiah, tapi juga hati dan kemantapan pribadi.

Status quo memiliki peranan penting dalam mengadaptasikan diri kita terhadap perubahan identitas itu. Ibarat kepompong, ia telah berjasa dalam mentrasformasikan bentuk hidup yang lebih baru, bahkan benar-benar baru. Jadi kekosongan yang harus dijalani manusia itu memang harus benar-benar terjadi!

Sebagai sebuah peristiwa penting, akhirnya status quo dirasa berdampak besar dalam identitas baru yang akan ditempuh. Tidak jarang, menjalani status quo adalah sebuah ketakutan tersendiri. Ada yang menjalaninya dengan ala kadarnya, berdiam, dan akhirnya jalan kehidupan berikutnya pun berubah...menjadi lebih buruk. Segala yang ia mimpikan tenggelam. Namun, banyak pula yang bijak memanfaatkan status quo ini dengan penuh gairah : evaluasi apa yang telah ia lakukan, dan mengerjakan apa yang ia bisa, sembari terus-menerus berserah di Tangan Tuhan. Yap, saya pikir, opsi kedua adalah yang terbaik untuk dilakukan.

Belajar menjalani status quo, akhirnya harus kembali kepada sebuah metode kuno : sabar. Kesabaran juga berarti ketika kita melakukan sebuah hal paling simple (atau rendah?) di antara kalangan yang pernah mengenal kita. Kesabaran juga berarti ketika kita terus bertekun, menunggu, dan berdoa. Kesabaran juga berarti ketika bekerja semampunya dalam menyelesaikan segala permasalahan yang ada di sekitar kita, walaupun bukan deskripsi tugas yang tertanam dalam otak kita. Kesabaran juga berarti ketika kita akhirnya duduk, diam, dan memikirkan betapa besar kuat tangan Tuhan dalam menolong kita di masa lampau, dan nama besar-Nya untuk terus kita percayai di masa yang akan datang.. amin.


Selamat menjalani status quo.

Minggu, 13 Oktober 2013

Melawan Ragu di Kupu-kupu Malang Raya (edisi nulis ngasal)

   Meskipun sudah banyak tidak ada di malang, tapi saya tetap ingin mewujudkan cita-cita untuk mengabadikan hasil jalan-jalan saya. Apalagi kalau bukan tentang kupu-kupu? catatan harian sudah punya, tabulasi oke,  foto-foto rasanya sudah cukup, identifikasi lanjutan.... ada mas Wafa (kapok koen, hehe, piss). Hanya kurang satu sebenarnya, niat... nah ibarat tangga, mas niat ini sedang memegangi tangga ketika kita sedang mengerjakan sesuatu di tempat yang lebih tinggi dari lantai. Lhah, kalau mas niat sedang garuk-garuk pantat, tanpa menunggu waktu lama, kita langsung ngglundhung ra karuan. Apalagi saat kita di bawah, ada bagian yang sangat sakit, namanya percaya. Lhoh? yap benar sekali, artinya anda akan mengalami keraguan kronis akibat kerusakan percaya, yang bisa-bisa, membuat anda diopname. Lama sekali pekerjaan itu akan tertinggal menunggu anda sembuh. 
    Mungkin ya begitulah saya. Sekitar 2 bulan mengalami opname, akhirnya pekerjaan nulis buku-tanpa-mikir dari seorang-keranjingan-moto ini dilanjut. Ada beberapa yang berubah, ada bebeberapa yang tidak. Awalnya, ini adalah sebuah bentuk kerinduan untuk mengabadikan hasil jalan-jalan saya dan Faldy di sekitaran Malang. Ah, semuanya hasil jerih payah yang isinya cantik-cantik dan bohay, memang layak untuk diabadikan. Belum lagi pengetahuan kami dan orang di sekitar kami yang masih nol terhadap kupu-kupu, membuat kami makin gatal-gatal untuk meniati-niatan ini mulai awal tahun ini. Semoga saja terus terwujud. Kami hanya bisa bermodalkan dengkul dan kesabaran, serta kepercayaan kepada Tuhan. Yupp, hanya dengan percaya kepada Dia saja yang membuat upah pekerjaan ini menjadi layak dan semakin besar.  ... :)

Sheet yang baru dikerjakan hari ini setelah 2 bulan vakum. Nampak gerakan kupu sudah tidak ada lagi, karena sebagian jenis dalam data sulit ditemukan literaturnya, sehingga diputuskan untuk menghilangkannya. Mungkin nanti ditambah dengan perbandingan ukuran dan untuk beberapa jenis yang dibutuhkan detail khusus identifikasi, perlu ditambah halaman khusus yang baru. Ada ide segar lagi?
Sheet yang dikerjakan pada awal agustus. Untuk format sheet marga masih digunakan seperti gambar.


Ukuran A5, beberapa foto capture untuk jenis yang memiliki upperside sulit dilihat. Nama lokal dibuat, juga dalam tingkat 'akar rumput', untuk mengenalkan jenis invertebrata ini kepada masyarakat lokal maupun secara luas (semoga bisa). Much inspired by Naga Terbang Wendit : a book of IDS


Much more notes for Malang-Raya: vegetation and its ecological problems. The serious factors that influence a conservation for butterfly, and will be added by another important issues.