the biodoversity

the biodoversity

Senin, 23 Juni 2014

(Hampir) dicium Elang Sumberpacet...

  Pengalaman menjumpai burung-burung yang unik dalam jarak dekat itu sudah terjadi beberapa kali. Malah, beberapa hampir-hampir ditabrak atau sepertinya lagi pengen nabrak. Mulai dari udang api, meninting kecil, ayam hutan, uncal, sampai ayam gaul (karena bulunya warna-warni), semua pernah. Tidak ada kerugian memang dari kedua belah pihak, tapi kagetnya itu lhoo.... Nah, hari ini saya berkesempatan hampir 'dicium' elang. Bukan sembarang elang pemirsaaah, tapi Elang Jawa. Yap... burung yang katanya orang banyak termasuk mahkluk ghoib ini saya jumpai di seputaran daerah Sumberpacet, tepatnya jalur tembusan Glenmore-Pesanggarahan via Trebasala. Bingung? saya juga.. lapar? segera masak mi rebus.

Berikut cerita flashback-nya...

Alkisah 2 minggu ini saya membusuk di kamar saya (atau gudang) berukuran 2x2 ini. Karena pekerjaan ngadep laptop, bekerja dengan adobe indesign mulai buntu, lalu 2 hari lalu saya mulai bicara dengan ikan mas koki saya. Nah, daripada membusuk lama dan kopi sudah tak lagi mempan mendinginkan otak, jadilah saya pengin me-refresh sejenak, tapi kemana?

Sumberpacet, yang mana sih?
   Sebenarnya, saya ditantang deBegundals Mas Fendi untuk menuntaskan 2 hal, yaitu yang pertama adalah memotret burung nokturnal di Meru Betiri. Tantangan kedua adalah melintas batas antara wilayah resort Sumber Pacet dan Karang Tambak. Nah, tantangan kedua inilah yang pada hari ini coba saya lewati. Memang dulu pernah saya mencoba, tapi keliru jalan (sok tau sih, hehe). Namun, kali ini, dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama, akhirnya saya masuk ke dalamnya. Melewati mega proyek pabrik gula glenmore, JLS (jalur lintas selatan), lalu ke arah kompleks perkebunan Trebasala, akhirnya sampai juga ke percabangan antara Sumberayu dan jalur hutan.
  Memasuki jalur hutan ini saya merasa 'hijau kembali'. Sepertinya tidak percaya juga kalau ini termasuk akses Meru Betiri. Pasalnya, kawasan Meru Betiri jarang yang memiliki jalan mulusss... Nah, jalur ini cukup baik menurut saya, terdiri dari aspal, bekas aspal, sedikit batu, atau tanah. Cukup lebar, namun semenjak jembatan penghubungnya rubuh, maka mobil tidak lagi bisa lewat sana. Akibatnya, semak-semak semakin merajalela, membuat jalur mulus itu hanya nampak seperti jalan setapak.
   Mengikuti jalur yang meliku-liku, tak membuat saya ngantuk atau bosan. Lutung berlompatan  ketika melihat orang aneh melambai-lambai padanya dari sebuah motor tua. Helm pun saya lepas untuk membuat saya mendengar kicau burung lebih banyak. Aah, benar-benar obat stres... Selain itu, angin akan membuat ketombe saya rontok... ah, bebanpun makin berkurang.
   Hal yang membuat saya semakin semangat adalah burung ghoib nan cantik bernama Cekakak Batu muncul. Weh... ini pertama kalinya saya menjumpai burung ayem ini secara langsung. Ada pula burung ghoib macam Cuca Ijo alias Cica-daun Sayap Biru. Ah, sayang, burung bersuara merdu ini tak mampir dalam frame foto. Hal lain yang membuat esmosi adalah melimpahnya perjumpaan Meninting Besar di sini. Tercatat kurang lebih 12 kali saya menjumpai burung berekor menggunting ini di sepanjang jalur.

(Hampir) Dicium Elang...
   Seakan tanpa wangsit atau peringatan, ketika berada pada jalanan yang menurun, saya dikagetkan oleh burung berukuran sedang, berwarna cokelat yang melaju cepat di-atas-jalan. Otak saya langung mengatakan kalau ini adalah raptor. Iyooo... tau, tapi apa? Percakapan antara mata batin dan logika otak seakan menemukan jawabannya ketika burung ini berkelok ke kanan menghindari saya yang mlongo dan kerepotan menginjak rem. Seakan dalam slow motion, saya melirik burung yang terbang diantara pepohonan lalu masuk jurang itu.... Ah, warna cokelat muda. Ada 3 garis hitam di ekor.... jambulnya kemlawir... tak salah lagi, ini adalah seekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)...
   Batin saya pun ereksi... antara kegembiraan dan kekecewaan, antara sumpah serapah dan ungkapan syukur. Secepat itukah burung ini melampaui manusia yang mengaguminya? ah... Saya pun terdiam di pinggiran jurang... Berharap burung itu bertengger atau kembali, lalu mau untuk menjalani sesi pemotretan. Hm, omong kosong..

Lalu saya membisik di dalam hati : " Tak apa, asal tahu kabarmu, aku pun senang... Kapan-kapan saya pasti kembali", meskipun dalam hati yang lebih dalam lagi, saya juga bertanya : emang kapan, hehe...
:D

FYI, berikut adalah temuan Elang Jawa di kawasan TN Meru Betiri dalam delapan bulan terakhir:

1. Bandealit : November 2013 - Februari 2014
2. Andongrejo : Maret 2014
3. Rajekwesi : Maret 2014
4. Sukamade : Juni 2014
5. Sumberpacet : Juni 2014

Spesial buat deBegundals dan DJ kalibaru, Bung Deny Astanafa.



Meninting Besar (Enicurus leschenaulti)

Si Unyu Cekakak Batu (Lacedo pulchella)

Salah satu scene di perjalanan

Wiiidih... Sampe tapal batas Glenmore-Pesanggrahan

Selasa, 03 Juni 2014

Mbrasak-mbrasak Bandealit (edisi Tamanan)

   Hum, sudah 4 bulan 'hanya' berangan-angan untuk menuliskan cerita ketika memasuki kawasan rimba Meru Betiri. Ah, daripada cuman jadi angan-angan, lebih baik ya tak muntahkan saja di sini.
Dengan latar belakang kegiatan pemasangan camera trap, maka saya berencana untuk ndompleng mencicipi sensasi masuk hutan (saat itu, saya hanya masuk ke lokasi yang relatif mudah dijangkau). Oleh karena itu, PJ untuk acara menentukan tanggal 6 dan 7 sebagai d-day. Kalau tidak salah sih yang ketiban Mas Adi, salah satu cukers kepunyaan TNMB. Simpatisannya adalah Mas Puji, Mas Andre, Mas Jumadi, dan 2 porter : Pak Hafid dan The Saman, serta tentu saja potograper keliling. 
    Perjalanan diestimasi selesai sebelum gelap, jadi ada 2 hari ke tempat yang berbeda untuk memasang 4 buah kamera. Tujuan kami adalah 2 tempat yang berseberangan 180 derajat, yaitu Tamanan dan Penangan, nama-nama yang unik sekali, hehe. Memang sebuah kebiasaan dan anomali jika di hutan orang menamai sebuah tempat sekenanya, tergantung kebiasaan dan kemudahan menyebut. Maka, tak heran jika sampeyan berkesempatan untuk nge-trans (sebutan bagi kegiatan masuk hutan) di TNMB akan mendengar berbagai nama aneh, seperti Kali PA, Durenan, Penangan, Pondok Plastik, Uthuk-uthuk, Ketangi-pothol, Ringin telu, Tikung Ndhas-kucing, Watu gedhe, dll. Sejarahnya? simpel sekali, misal seperti Kali PA, karena dulu PA (Pelindung Alam, alias Pegawai TN) sering nginap di sana, hahaha...
    Hari pertama menuju Tamanan, tak ada yang istimewa.  Hanya saja, jalur masuk hutan ini cukup mendaki. Dari tengah jalan, kita bisa melihat kampung cawang dan pabrik kopi dengan jelas. Ah, lanjut-lanjut terus, tidak ada tanda-tanda pembuktian informasi temuan. Harapan saya untuk menemukan burung 'aneh-aneh', rupanya harus saya telan dalam-dalam. Wuedan, dimana-mana melihat hanya tutupan vegatasi rapat. Ok fine, Semoga nanti hingga istirahat ada tempat yang sedikit terbuka. Ternyata, dugaan saya keliru... semua hijau babarblas. Tak ada spot untuk melihat burung. Semua burung bermain di bagian atas kanopi, dan kami ada di bawahnya. Ah, memanggul senjata 300 mm rasanya sia-sia. Namun, yang sedikit menggembirakan adalah temuan kotoran karnivora dan cakaran lama pada batang pohon. Whooww.... sekali lagi, ini adalah first time bagi saya untuk berburu jejak-jejak karnivora besar. Namun, setelah observasi awal di sekitaran, tim menemukan tanda-tanda manusia di sana. Ada bekas pondok, patok-patok bambu, dan beberapa bumbung. Weh, ternyata ini adalah sisa orang ndarung (menginap di hutan mencari burung atau ijuk). Akhirnya, dengan menimbang segi keamanan kamera, maka pemasangan di Tamanan akhirnya diurungkan.

Perjalanan hari kedua akan dikisahkan di lain tempat berooo... Kami menuju suatu tempat yang kata PJ acara kita tercinta, disebut lebih 'mudah' dan 'tidak mendaki'...
suwun...





Mas Adi dengan baju hitam, Mas Puji dengan baju kelabu


Minggu, 25 Mei 2014

Tenang menghadapi Senin (lagi)

Aaah... Senin lagi deh.
Mungkin, ada yang berbeda dengan hari senin ini. Saat ini, saya meng-update data foto yang ada.. Hm, tidak berubah..tetap 100 jenis pas, ga bisa ditawar. Data saya kumpulkan, dibuat grafik berdasarkan famili, dan.. taraa... jadilah bahan presentasi koplak-koplakan yang besok saya tunjukkan ke mas Alif, sang bos geng PEH. Sebenarnya, agak sungkan juga untuk mengganggu pak Bos, terutama di hari senin, apalagi beliau juga baru pulang ngadep Manggala, di Bogor kemarin. Ah, sudahlah... kalau tidak besok, tentu saya tak  lagi punya waktu untuk menunda pergi ke Sukamade lagi... setelah 2 minggu berkelana ke semarang dan malang.. wezz...

Selain menunjukkan data-data tersebut, ada beberapa agenda safari di hari senin:
1. Agenda Buku.
2. Permintaan untuk menuliskan preface tentang kawasan dan segala problematikanya. 
2. Diskusi tentang data.
3. Minta foto.

Lalu, jika tidak terlalu sore.. berangkatlah ke Sukamade untuk bercinta dengan burung-burung yang merindukan saya... hehe. Jika berlambat, ayo berangkat esok paginya di hari Selasa.

Mari berserah kepada Tuhan untuk segala pekerjaan ini.

Ah, senin... :)


Jumat, 23 Mei 2014

Berkawan dengan Mimpi : Sedikit cerita tentang buku Pantang Padam karya Yulia E.S.

   Di hari jumat lalu, saat saya sedang berada di ruang workshop capung, telepon saya bergetar-getar dengan hebatnya... Saya lirik sebentar, dan nampak nama yang tak asing: Bapak Xl. Wah, ada apa bapak nelpon siang-siang seperti ini? entahlah, rasanya juga saya sering menerima telepon dari keluarga di saat kegiatan, meskipun hanya sekedar menanyakan dimana letak kunci kamar, hehe...
Jadi, dari pengalaman-pengalaman berharga itu, saya menutup telepon di saat formal itu, dan segera mengirim sms. Tak lama kemudian, muncul di layar hape balasan yang berbunyi : ada paket dari jakarta... Yup, aku ingat karena memang aku menunggu sebuah buku yang kupesan. Judulnya Pantang Padam, karya mbak Yulia E.S.  Lalu, sepulang dari semarang dan malang, ternyata buku itu mampu menghipnotis saya dalam beberapa waktu lamanya... 2 hari berturut-turut hingga detik saya mengetik tulisan ini.

   Bagaimana rasanya jika anda mengetahui bila anda ternyata mengidap sebuah kelainan? Yupp, rupanya di dalam buku ini mbak Yulia menjlentrehkan dengan gamblang sejarah hidupnya yang ternyata mengalami kelainan tulang belakang, justru di masa ia kuliah. Kelainan ini membuat ia tak boleh mengangkat beban lebih dari 1 kg! Selain itu, ia harus memakai piranti mirip baju zirah zaman kuno yang bernama brace. Mungkin, jika saya membayangkan bentuknya lebih mirip gips yang dikenakan saat patah tulang. Namun, rupanya masih ditambah beberapa piranti merepotkan dan aneh seperti kait-kait besi... Dan lebih dari semua itu, ia masih berjuang untuk menaklukkan gunung, menaklukkan jalur-jalur pendakian, menaklukkan kedalaman laut bersama manta, dan tentu saja menaklukkan ketidak-percayaan dirinya sendiri akan kondisinya sekarang.

   Lalu, bagaimana rasanya jika anda mendapatkan bonus penyakit disaat anda mulai beradaptasi dengan kelainan yang anda miliki? yupp, lagi-lagi, saya terhenyak membayangkaan saat berada dalam posisi penulis, ketika ia di-dok mengidap kelainan katup jantung yang bernama MVP. Dan saya turut membayangkan, merasakan kehidupan mbak Yulia ini tenggelam bersama mimpi-mimpinya yang indah.. ah. Rupanya di sini saya keliru. Ia bukan robocop, suparman, gundam, atau cerita-cerita epik dengan ending yang tentu saya indah. Karena dari dasar perasaan yang dalam, yang menjadi reruntuhan, ia kembali membangunnya. Dan disinilah mau tidak mau, suka tidak suka... saya membandingkan dengan diri sendiri..

"Dengan mimpi-mimpi yang sekarang ini, seolah aku berada pada kedalaman sekian meter.... Pada kedalaman sekian meter ini, aku terus melantunkan mimpi-mimpi."

   Bagaimana dengan diriku? Seorang normal...ah, jadi terharu sekaligus... malu. Selama ini aku berkutat dengan pemikiran skeptis,  ketidak pede-an menghadapi masalah, malah ingin segera menyerah...
Yupp, semangat! Aku masih ingin berlanjut dengan mimpi-mimpi yang harus dinyatakan : Meru Betiri harus memiliki buku burung sendiri. Buku yang dapat dibanggakan dan membuatnya menjadi diri sendiri. Menjadi batu yang dilempar di tengah kolam keheningan pengetahuan yang kami miliki, membuncah, dan menggetarkan tulisan lain yang menggambarkan keindahan tanah ini : Capung, kupu-kupu, lumut, jamur, kayu ekonomis, mamalia, dan semua yang dapat disentuh. Masak hanya karena sindirian orang, langkah jadi terhenti? Masak karena rumitnya birokrasi mimpi menjadi mati? Masak menghadapi ancaman pelanggaran luar biasa, lalu menyerah? Rasanya, saya pun memiliki everest sendiri di dalam benak ini. Menjadi backpaker, melihat kupu-kupu Goliath, berjalan memasuki gerbang kupu raksasa Bantimurung, melihat Bird of Paradise di Papua, menginjak pantai dengan laut bening di Maluku... ah...

Dan dari buku ini saya belajar mengenali jalan indah, namun tak pernah mudah: 


"Jika ada dua obat paling manjur di dunia, maka itu adalah membaca buku dan menjadi relawan..."



Senin, 12 Mei 2014

Mencicipi gaya Jepang ala film My Boss My Hero

   

   Saya pecinta film, tapi rasanya bukan seorang yang 'gila' film dengan tayangan episode, apalagi dari negara-negara asia timur. Pertama kali, kawan kuliah saya bernama Rahmi mengenalkan film ini kepada saya di ruang baca biologi. Heran melihat manusia yang satu ini masang headset dan nyekikik sendiri. Karena penasaran, akhirnya saya pun ikut nonton. Eh... ternyata ga puas, akhirnya bergiga-giga memori laptop saya digunakan untuk menyimpan film dengan 10 episode ini. 

   First, tokoh utamanya bernama Sakaki Makio. Sebenarnya, ia adalah seorang bos muda Yakuza. Di era kepemimpinan ayahnya (yang merupakan generasi ke 2), ia melakukan kesalahan yang sanat koplak! Dengan gayanya, mulai bertransaksi dengan mafia hongkong. Ayahnya memberi pesan agar tawaran tidak kurang dari 27 USD, tetapi dengan koplaknya ia masih bilang 'NO' ketika mafia itu akan membayar 35 USD. Akhirnya, perkelahian itu terjadi dan hilanglah kesempatan transaksi besar itu. Ayahnya yang marah besar akhirnya insyaf dengan kebodohan anaknya, sehingga ia memasukkan Makio ke salah satu sekolah swasta (menyamar sebagai murid pindahan kelas 3). Tantangannya adalah : lulus, atau tidak akan menjadi bos generasi ke-3! Dan cerita-cerita yang membuat sampeyan ngakak, terharu, dan ketagihan akan dimulai dari sini.
Sakaki Makio, 27 tahun.. koplak, namun memiliki semangat tinggi
   Bagian yang menarik adalah tekad Makio untuk belajar dan lulus bersama-sama yang lain. Diceritakan bahwa Makio adalah orang yang... tidak bisa berpikir lebih dari 90 detik, namun sebaliknya, ia sangat suka berkelahi. Oleh karenanya, pelajaran-pelajaran SMA menjadi momok besar bagi penguasa no 2 Yakuza Kantou Sharp Fang ini. Apalagi dia tidak mungkin melakukan hal-hal curang yang bisa membuka kedoknya sendiri. Sebenarnya sih, Makio menganggap sekolah adalah omong kosong belaka. Namun, kompetisi untuk mendapatkan Puding Agnes yang digilai Makio dan sebagian besar siswa, membuatnya menciptakan alat terbang yang membuatnya semakin mengerti akan indahnya belajar... 

   Dari film ini sampeyan juga akan melihat bahwa tiap tugas, tiap PR, tiap kegiatan sekolah di Jepang sebenarnya tidak neko-neko alias simple sekali. Bahkan, standar kelas 3 jika dibandingkan dengan di Indonesia, mungkin ketinggalan lho... Misalnya, anda disuruh membaca puisi sastra jepang bergantian, lalu mengartikannya. Perasaan ini ada di tugas SMP (atau SMA di awal?). Menggambar dan mendeskripsikan mahkluk bersel 1, atau pemecahan soal penjumlahan sudut yang sederhana. Sangat tidak 'wah' jika dibandingkan hingar-bingar Jepang yang seperti apa, ya toh? Namun, saya merenung... mungkin, di sinilah kelebihan orang jepang. yang pertama, mereka tidak mengejar kecerdasan 'formal' yang biasa dikompetisikan di sekolah-sekolah umum di Indonesia. Maksud saya, mereka tidak mengejar bab-bab, tidak mengejar ' nama sekolah sebelah', atau mengejar nilai akreditasi alias ISO bla.. bla.. bla.. yang mereka kejar adalah anak didik yang memiliki moral, pengetahuan terhadap budaya asli, dan memahami dasar-dasar ilmu itu sendiri. Sehingga, tak seorangpun mencap satu pelajaran sebagai momok yang mustahil dilalui, hanya karena ia tertinggal terlalu cepat dari kawan-kawannya.

Bu Minami, sosok berwajah dingin yang awalnya dibenci oleh Makio
   Pelajaran lain yang membuat saya manggut-manggut dari film ini adalah sikap pantang menyerah yang dimiliki oleh Makio dan orang Jepang pada umumnya. Telah kita ketahui bahwa orang Jepang terkenal ulet dan 'gila' terhadap suatu yang diinginkannya. Hal yang sebenarnya diturunkan dalam bentuk pengejawantahan semangat bushido ala samurai zaman dahulu kala. Bayangkan saja, Makio adalah orang dedhel yang hanya bisa berpikir 90 detik. Setengah tahun bersekolah di sana hanya mampu membuatnya berpikir selama.... 3 hari dan ranking 122 dari 122 siswa. Sebuah progress yang saya yakin membuat guru-guru normal akan mengucilkannya. Namun ternyata tidak. Wali Kelas yang dijuluki 'Si Wanita Besi', Bu Minami, rela memberikan murid ini privat, pelajaran tambahan di libur musim panas. Bukan hanya itu, Makio diwajibkan mengumpulkan jurnal tiap minggu. Eits... ini bukan jurnal ilmiah yang harus diresume seperti di tempat saya kuliah. Ini adalah jurnal yang berisi curhatan siswa tentang apa saja yang dilaluinya di sekolah atau di keluarga. Fungsinya adalah guru bisa mengetahui keadaan siswa dan apa yang dapat dilakukannya untuk membantu masing-masing siswa. Sangar kan? Guru juga akan membalas tulisan di jurnal itu : memberinya semangat dan nasehat. Murid di Jepang sangat diperhatikan toh? Semuanya dilakukan dengan satu semangat : mendidik siswa agar dapat melalui tahun-tahun di sekolahnya. 
    Begitu juga semangat yang sama ditunjukkan oleh Makio dan murid-murid lain. Bahkan, di tengah-tengah kegiatannya bersenang-senang atau berjudi sebagai Yakuza... ia akan ditelpon pulang oleh anak buahnya untuk mengerjakan PR atau menghafal kosakata Bhs. Inggris... whatsss... . Ada pula sebuah cerita dimana Makio sangat ngeyel untuk membentuk tim basket demi kelasnya yang tercinta, 3-A. Nah, selain kompetisi yang datang di saat menghadapi ujian kelulusan, tidak adanya orang yang mahir berolahraga membuat kelas yang dipimpinnya tidak semangat. Tim Basket yang dipimpinnya pun demikian. Namun, dengan ke-ngeyelan-nya dalam menghadapi masalah, Makio dkk menang dalam kompetisi basket tersebut dan membawa nama 3-A melambung.. 

Ada sebuah Quote yang bagus, yang dilontarkan oleh Bu Minami untuk Makio ketika ia hampir putus asa menghadapi banyaknya permasalahan:

"Hadapilah, jangan lari.. Karena jika kamu berhasil menghadapinya, maka kamu akan lebih kuat dari sebelumnya."

  Yang terakhir, (semoga anda tidak tertidur, hehe), adalah sikap ksatria yang dipertontonkan secara gamblang di film ini. Ini adalah bagian yang saya suka dari semuanya, hehe... Saya sendiri belum pernah ke jepang atau mensurvei setiap film jepang untuk mengetahuinya. Namun, sikap ksatria dan mau mengakui kesalahan menjadi tradisi yang patut dibanggakan oleh negara-negara asia timur, khususnya negeri jepang sendiri. Di film ini, ketika terjadi sebuah permasalahan besar di sekolah, Kepala Sekolah sangat merasa menjadi yang paling bertanggung jawab akan semuanya, dan... mau mengundurkan diri. Di keorganisasian Yakuza sendiri tidak ada orang yang mencari kepentingan sendiri dengan mengumpankan teman sebagai kambing hitam. Semuanya dengan kompak mengatakan : 'Maafkan, ini salah kami...' lalu dengan alasan-alasan ia melakukan itu. Tidak ada yang ngeyel. Dan anehnya, pemimpinnya juga meminta maaf kepada... anak buahnya tersebut. Akhirnya, tidak ada yang merasa benar jika suatu permasalahan terjadi, tapi dengan semangat dihadapi bersama-sama. jadi tidak ada caleg-caleg di institusi, penjilat, atau kata 'aku', tapi dihadapi secara bersama-sama. Benar-benar woow lah...

Kalau budaya kita sih... ah sudahlah.. :)

Cerita-cerita konyol terkadang dibumbui roman percintaan dan serius


Akhirnya, film ini sangat recommended bagi anda yang membutuhkan hiburan segar namun kaya akan nilai-nilai humanis edukasi negeri sakura. Anda penasaran dengan film ini? anda dapat mendownloadnya di
sini
atau di
sana

oke.. keep semangat!

Jumat, 09 Mei 2014

Jangan biarkan mimpi itu mati, bro!

Ada begitu banyak uneg-uneg yang sebenarnya ingin saya tuang ke dalam layar laptop Dell saya. Semenjak entah kapan saya menulis terakhir, rasanya jari-jemari saya malah kaku untuk menekan huruf-huruf yang tercetak pada keyboard. Yah... daripada mak-bruusssh dari belakang, mending mak-brusshh lewat layar laptop..

Hampir 6 bulan lah saya jalan-jalan di tempat yang saya sebut 'halaman rumah', alias Meru Betiri. Itu pun kalau dihitung mulai sebelum Desember, dan belum dipotong bolos ala desertir.. Termasuk singkat, atau lama? yaah, saya sendiri tidak dapat menentukan. Bagi saya, 6 bulan ini cukup berat. Memperjuangkan kecintaan saya pada tanah halaman rumah ini sampai membuat saya kebablasan lupa kalau saya adalah pekerja tanpa status (PTS). Hidupnya hanya diabadikan untuk kluthusan tiada tara, tanpa harus care dengan permasalahan gonjang-ganjing politik di dalamnya. Sangat gue banget sebenarnya, tapi tetap saja akhirnya banyak timbul masalah, entah karena sebuah statusisasi, kecurigaan berlebihan, atau hubungan keraguan masa depan dengan yang Maha Kuasa. Enam bulan yang seharusnya singkat, menjadi semacam menunggu angkot di atas pukul 10 malam, lamanya ndak ketulungan. Tiap detik yang berharga ingin sebenarnya saya habiskan dengan menikmati kicauan burung nan cantik di sana sambil menekan tombol shutter kamera. Berjalan bertelanjang kaki. Merebahkan diri diatas pasir putih. Tapi, ah... saya tak bisa membohongi diri sendiri... jantung saya tetap berdebar... deg. deg. deg.

Dari jalan-jalan itu, ada sekitar 180 lebih jenis burung yang masuk ke dalam catatan kompilasi. Sebuah angka yang fantastis. Tidak jauh dari prediksi MacKinnon dkk yang sudah menduganya, dan masih diimbuhi maksud tersirat: kemungkinan masih terdapat catatan tambahan' serta 'perlu observasi lanjutan'. Layaklah jika dikatakan demikian, karena masuk ke dalam kawasan Meru Betiri seakan ambles ke dalam perut bumi. Jangankan ke zona inti, di zona rimba sendiri masih didominasi vegetasi tanaman rapat yang membuat burung lebih mudah bersembunyi daripada dilihat. Belum lagi isi perut Meru Betiri yang lain masih belum dibongkar : kupu-kupu, capung, mamalia, reptil, segenap makroorganisme dan penghuni antah berantah yang ghoib, tersembunyi diantara curam-curamnya tebing pantai selatan, dan kegelapan lumut gunung Betiri...

Jika saya boleh jujur, diserang ketakutan, tidak pede, dan suasana politik yang tidak stabil membuat saya lemah. Pertanyaan-pertanyaan akan jalan yang sudah teguh saya ambil setahun lalu, kembali terulang. Mulai dari : bisakah? mampukah? sampai kapankah? akhirnya menggaung kembali tanpa sengaja. Sampai kepala saya kemudian tertunduk, dan menghadap kepada Tuhan. Lirih saya berkata : 'saya hanya seorang manusia kecil diantara cita-cita yang besar, Tuhan... '

Menutup bulan Mei ini, janji untuk menuntaskan observasi burung di dalam kawasan kiranya dapat ditepati. Data tersebut rencananya akan ditulis. Siapa, dan apa yang bisa dikerjakan, akan ditentukan dalam sebuah pekerjaan keroyokan. Kini mulailah proses pengumpulan dan pengelompokan foto. Sebuah jalan yang masih panjang bro...

Doakan saja agar semangat terus terjaga. Karena, meskipun pudar, janganlah mimpi kita mati!




Sabtu, 12 April 2014

Kemenyekisme

   Menunggu, itu adalah hal yang membuat saya penat. Jian ra penak blas... Bagaimana tidak menunggu, kalau tempat main saya yang sekarang berada di ranah terpencil timur TNMB. Dibilang terpencil karena saya mikir dua-tiga kali sebelum naik atau turun. Rasanya itulah sebabnya orang yang dinas (baca:bertapa) di sana lebih memilih tinggal dalam waktu yang lama, daripada harus bolak-balik lewat jalan yang boros-pantat itu. Oleh karena itu saya harus menunggu. Karena kalau kembali dalam rentang waktu yang dekat setelah pulang, sido remek... Paling tidak, menunggu badan sedikit pulih dulu lah, hehe... 
    Nah, di dalam peradaban inilah, ngadep laptop adalah hal yang pasti : Pindah foto, Facebook-an, lihat web-web gaul, sampai maen game selalu saya lakukan. Jian takpuas-puaske pokoe... Sampai kalau bosen, barulah saya ngutak-atik program design yang tentunya... bajakan. Saya paling suka ngotak-ngatik foto, terutama foto burung  yang saya dapatkan. Tapi tenan, saya suka membuatnya jadi poster, jadi apa saja.. Malah akhir-akhir ini saya seakan membuat semi dummy-layout dari buku burung. Meskipun masih dalam mimpi, tapi saya mikir kalo saya sudah melakukan hal yang kemenyekisme. Lha gimana tidak? Acc, penulisan-koreksi, bahkan pengumpulan foto masih belum selesai. Masih sekitar 2 bulan waktu pinalti saya di hutan untuk ndendepi manuk. Jadi, kalau sekarang bikin layout, apa ndak kemenyekisme namanya? Hahaha... ben wes. 

1.
   Berawal dari keinginan saya untuk membuat poster bertemakan : " Birdwatching for Kids", maka saya mengutak-atik foto-foto itu. Nah, jadilah... Tapi yang membuat saya heran, malah terjadi bullshit atau kotoran kerbau (hehehe, maksud saya omong kosong). Kata-kata yang disampaikan terlalu banyak. Tujuan awalnya adalah untuk memberkenalkan 'betapa amazing-nya burung itu', sehingga di dalamnya saya sampaikan banyak fakta-fakta menarik yang rasanya anak kecil pengin tahu. Kenapa pakai bahasa Inggris? Hem, entahlah... saya malah sulit menguraikan maksud saya dalam bahasa Indonesia, jadilah ini Bahasa Inggris (berarti sekarang saya juga keminggris, hehe). Padahal sejatinya saya berhaluan ekstrimis-garis-kiri-senggol-njengat. :D

2.



Terlalu ke-baluran-baluran an. Itulah kesan saya setelah nyruput kopi sambil memandang kedua dummy layout yang saya buat ini. Alasannya simpel, karena tergesa-gesa untuk membawa 'sesuatu'  ke balai, sehingga membuat dua karya ini rasanya hanya 2 jam saja. Tapi memang, saya sadar bahwa burung di sini sangat berbeda dengan Baluran. Buku Baluran itu memang banyak menjadi inspirasi, tapi ogah hukumnya untuk juga meniru bentuk layoutnya. Butuh sesuatu yang mengejutkan dalam konsep. Sesuatu yang menjadi ciri khas : hutan virgin, dataran rendah, utuh, dan kaya jenis. Apa itu? entah, saya sendiri masih mencari... 

3.

   Awalnya, tujuannya menjadi semacam informasi singkat. Semacam poster lah (sekali lagi, poster). Tapi, kok sedikit cocok menjadi layout buku? Entah, saya kurangi beberapa bagian yang berbau poster, lalu jadilah demikian. Masih saja terlalu banyak kata. Saya sangat ingin membuatnya menjadi sesuatu yang ringan, enak dibaca, tapi berbobot. Hanya itu yang saya tangkap. Sepertinya nanti distribusi akan dipangkas, begitu juga dengan deskripsi singkat yang tidak singkat. 
Sebuah kemajuan lah untuk membuat foto-foto burung cukup terlihat bebas. Perjuangan yang berat, tapi tetap melaju dengan dibarengi membaca referensi buku-buku lain. 

Nyruput kopi.. mikir...  
Benarlah jika Mas Budiman, kakak angkatan saya yang sering menjadi asisten ekologi, berkata bahwa Matkul Ekologi adalah yang paling susah. Padahal saya tahu, orang ini briliant di Matkul tingkat dewa seperti Genetika, Fisiologi Tumbuhan, dan Biologi Molekuler. Baginya, meskipun dosen ekologi jarang memberikan nilai b ke bawah, tapi ekologi sendiri mengajarkan sesuatu yang holistic, luas. Informasi di dunia terhubung sempurna dengan lingkungan. Nah, sekarang bagaimana caranya membuat informasi yang begitu kompleks menjadi terlihat sederhana tapi tetap berbobot. Hal itulah yang diajarkan ketika setiap kali laporan Ekologi (dan juga kroni-kroninya) selalu berbentuk poster ukuran F4. Dalam media yang terbatas itulah kata-kata dibatasi untuk memuat berbagai informasi penting yang seharusnya jauh lebih besar dari ukuran kertas. Jauh lebih sulit daripada membuat laporan makalah tulis tangan bolak-balik, margin 3-2-2-2 seperti biasa.
Hm.. saya mengerti, kenapa didikan ekologi harusnya lebih sedikit nggedabrus. Menghemat kata, tapi berbobot... dan tentunya saya masih belajar dari sana. Malah kadang, nggedabrus-nya lebih besar dibandingkan kerjanya.

Layak!

Senin, 07 April 2014

Memilih Sang Ikon : njlimet!

   Mencari hewan yang sudah menjadi ikon tempat itu susah. Apalagi, menentukan hewan apa yang akan menjadi ikon suatu tempat. Yak benulll... nilai filosofi itu perlu, sekalipun sak-benci-bencinya dengan penggedabrusan ini, karena seringkali kita terjebak dalam paradigma bahwa 'semua itu penting'. Namun, menurut saya, filosofi suatu objek yang diangkat akan membawa pemikiran tentang tempat itu. Sekaligus, orang awam akan memikirkan bahwa mereka akan mudah untuk menemukan ikon bintang itu di sana. Baiklah, saya perkecil tentang tempat yang saya maksud : Taman Nasional.
   Suatu contoh, Taman Nasional Baluran mengangkat Banteng (Bos javanicus) dan Merak (Pavo muticus) sebagai ikonnya. Lalu, bagaimana jika keduanya jadi semakin jarang di sana? Opo gak ngelu? Contoh lagi di logo Meru Betiri terdapat dua gambar yang melukiskan gabungan pantai teluk dan gunung yang bernama Meru dan Betiri. Keduanya tentu masih kita lihat, karena ndak akan bergeser-geser kemana-mana. Tapi jangan lupa, di sana ada cap tapak Harimau Jawa. Jadi, syukurlah.. itu cuman tapak kaki saja.. Harimaunya mbuuh nangndi... hahaha. Bahkan, jika Elang Jawa dijadikan lambang fauna Gunung Merapi, betapa ndak minder jika di Tahura R.Soeryo, Batu, orang-orang bisa 'selfie' dengan elang langka ini? ckckck... 
   Nah, sekarang tantangan bagi para penghuni Meru Betiri yang sedang getol ngejar-ngejar burung, karena tampil suatu pertanyaan baru : burung apa yang dapat jadi ikon taman nasional dengan 58.000 hektar ini? baiklah, mari kita uraikan satu per satu:

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)
   
Hampir tidak mungkin jika burung ini bisa dijadikan ikon. Pasalnya, cap Elang Jawa sudah diambil di TNGM. Apalagi, jika dibandingkan intensitas kemungkinan bertemu, menurut saya, Tahura R.Soeryo menjadi tempat dengan potensi terbesar sejauh pengalaman saya yang cupu ini. Hanya ketika beberapa kali burung langka ini ditemukan di sini, ada slentingan untuk mengangkat burung ini menjadi ikon.

Nectarinidae (Pijantung dan Burung Madu)

   Sempat terpikir untuk mengadopsi salah satu anggotanya untuk dijadikan ikon. Kenapa? karena Pijantung sangat mudah ditemui di sini. Sangat identik dengan perkebunan yang ada di dalam kawasan sejak jaman kolonial. Tidak terlalu 'murah' untuk ukuran burung. Lagipula, domainnya sebenarnya luas. Dapat dijumpai bahkan di dalam hutan sekalipun. Jadi, beberapa waktu yang lalu, saya pikir ini adalah ikon yang seep tenan. Hanya saja, apakah orang luar dapat dengan mudah menyerap kamsud dari keinginan luhur kita semua? hm..

Cica-daun Sayap-biru / Cuca Ijo (Chloropsis cochinchinensis)
   Terkenal, bahkan sangat terkenal di dunia perburungan, alias kicaumania. Pasalnya, burung yang cantik ini memiliki suara yang aduhai, sehingga, sayangnya banyak yang diburu di hutan liar. Terdapat segitiga emas yang konon menjadi sumber Cuca Ijo yang memiliki suara dengan power kuat: Gunung Raung, TN Alas Purwo, dan TN Meru Betiri. Dari rumor yang saya dengar, Cuca Ijo Meru Betiri memiliki power suara yang paling kuat. Nah, pas kan? meski tidak dilindungi, burung ini sangat-Meru Betiri-banget. Semakin terancam di alam liar juga iya. So? Masalahnya apa? Hanya satu sebenarnya... saya tidak pernah dapat fotonya, hahaha. Dari pengakuan orang-orang yang telah lama di sini pun, sangat jarang untuk dapat melihat burung ini. Melihat saja susah, apalagi memotret. Pas wes... 

Rangkong Badak (Buceros rhinoceros)

   Bentuk pengejawantahan kekayaan keanekaragaman hutan lebat nan perawan di Meru Betiri. Kenapa? Sarangnya saja di hutan-hutan primer yang paling primer, dibuat di dalam kayu-kayu ukuran raksasa yang seakan tak mungkin kita lihat lagi di pulau sepadat Jawa. Apalagi julukannya : The forest farmer, membuatnya sangat identik dengan pengabadian hutan rimba di Meru Betiri. Saya rasa, isu bahwa Meru Betiri menjadi basis keanekaragaman hayati, alias Home of biodiversity, cukup terwakili.. Lalu bagaimana dengan perjumpaannya? Tenang, saya harap njenengan para tetangga Meru Betiri tidak minder. Januari-Februari saya dan Mas Puji menjadi saksi sepasang Rangkong Badak yang sering melintas di Pringtali, resort Bandealit. Lalu, kemudian, terdapat temuan seekor Rangkong Badak yang sepertinya masih muda, seorang diri (maka, kami duga itu bukan dari pasangan yang selalu kami temui). Berlanjut ketika saya pindah di Sarongan, nampak seekor Rangkong Badak ditemukan. Lalu di Sukamade, mulai dari seekor, lalu juga sepasang yang seringkali nampak di sana. Nah, silahkan anda mengandai-andai jumlahnya. Memang, waktu bertemu sampai sekarang tidak dapat 'dijanjikan'. Ini pun karena jarak jelajahnya yang luas. Namun, yakinlah, bahwa burung raksasa ini masih mudah dijumpai di Meru Betiri, karena hampir setiap hari suaranya dapat didengar. Sangar kan?

Elang-laut Perut-putih (Haliaeetus leucogaster) - ELPP

   Baiklah, dari namanya, kandidat terakhir ini menggambarkan hamparan laut. Sangat pas sebenarnya untuk taman nasional dengan basis kelautan dan kepulauan. Namun, kenapa burung ini diajukan? Tentu saja karena kita bisa membuat 'janji bertemu' untuk melihatnya. Setiap pukul 5 hingga 6.30 pagi, burung ini selalu stay di pantai Sukamade. Adapun jika tidak hadir, tentulah dia sedang sakit atau ada cuti. Kenapa demikian? Setiap pagi, tamu atau ranger selalu melepaskan tukik (anak penyu) ke laut sebagai atraksi wisata. Nah, tukik-tukik inilah yang menjadi bahan sarapan bagi 2 atau 3 ekor ELPP. Gayanya yang suka melakukan akrobatik di udara rasanya sangat pantas menjadi tujuan objek wisata. Apalagi hubungannya, menurut ilmu cocokilogi saya, adalah sebagi predator tukik-> Penyu -> identik Meru Betiri, cukup masuk akal kan?

Anda mau vote?
 

Minggu, 02 Maret 2014

Bandealit di Pagi Hari

    Saya suka Bandealit ketika pagi hari. Rutinitas yang saya jalani selain melarikan diri sejenak dari tugas masak, adalah jalan-jalan ke arah Feeding Ground Pringtali. Sungguh, pemandangan kabut tipis yang membalut hutan-hutan yang berbatasan langsung dengan perkebunan sangat menawan. Ditambah lagi sinar matahari yang berlambat-lambat mengusir kabut pagi (lho, kok jadi berpuisi?)


   Pengin sekali menggambarkan ke sampeyan gambaran landscape hutan dataran rendah ini, tapi memang sedang ingin motret dari sisi portrait. Maksud hati ingin menunjukkan tingginya pepohonan yang menghias bukit-bukit.  Jian mirip dengan pulau-pulau luar jawa yang masih memiliki hutan perawan. Seringkali malah ditambah efek suara Lutung Jawa yang saling menyahut, atau terkadang kepak sayap Julang Emas yang melintasi sela-sela pepohonan tnggi.


   Nah, kalau ini adalah gubuk yang ditinggali oleh petani jagung untuk menunggu lahannya. Silahkan sampeyan bayangkan bahwa Bandealit ada dalam dua sisi : perkebunan dan area konservasi. 


   Saya  merasa keplek alias tidak pinter moto ketika melihat foto ini (memang sebenarnya ndak bisa, hahaha). Serius, bahwa suasana sebenarnya jauh lebih indah. Cahaya matahari sedang menembus pepohonan kelapa. Bukit-bukit masih beruap alias anget-anget, diselimuti kabut.  Sedangkan diantara bunga kelapa saling bersahutan jenis-jenis Pijantung. Nggumun...




    Kalau yang ini dipotret pas perjalanan pulang. Lewat pos Tupak Gesing, jalanan sudah banyak yang mulus. Konsentrasi akhirnya bisa dipecah antara lihat jalan dan pemandangan, hehe.. Mungkin cukup terlambat bila dikatakan masih pagi, tapi memang kondisi Meru Betiri yang kebanyakan tertutup vegetasi rapat membuat sinar matahari sulit menembus dasarnya. Efek lain adalah sampeyan harus banyak menengadahkan kepala jika melakukan pengamatan burung, karena mereka malah banyak bermain-main di tajuk pohon. weh-weh... 

yah, memang saya tidak pandai memotret... Tapi percayalah, Tuhan menggambar Meru Betiri dengan luaaarrr biasaaaa... siap dikagumi dan dieksplorrr...

Kamis, 20 Februari 2014

Mumpung sek iso... (iseng-iseng berhadiah)

Jedharr... 

   Guntur mengiringi bacaan rekapitulasi data bulan februari ini untuk wilayah Bandealit dan sekitarnya... dan kita sambut... 104 jenis burung teridentifikasi... (plok-plok-plok). Lalu, datanya mau dijadikan apa? Saya rasa, sekarang Bandealit punya data yang tanggung-tanggung gimana gitu... Mau dibilang sedikit ya tidak, mau dibilang banyak kok jelas-jelas sepertinya banyak jenis yang masih terlewat. Saya sih kepikiran untuk sebuah output yang lebih umum, lebih menyeluruh, karena Meru Betiri ini tidak boleh dipecah-pecah (iki jareku lo..), jadi untuk output itu harus bersabar menunggu waktu yang cukup lama dan harus menjelajah slempitan-kelek Meru Betiri. Mungkin, karena itu juga, saya ingin mengejar waktu untuk segera bergeser ke seksi lain, mengejar bocoran spesies yang mungkin di Bandealit sulit, tapi di lain tempat mudah ditemukan, atau bahkan spesies-spesies mengejutkan lain.
   Dan lagi-lagi kami bingung. Ada wacana membuat peta burung untuk skala kecil (Bandealit), atau malah buku. Untuk yang terakhir ini jelas-jelas angel. Jadilah saya menyarankan untuk membuat semacam information-site bagi jenis-jenis burung yang ada Bandealit, kalau seandainya benar-benar segera pengin kelihatan bahwa orang Bandealit itu punya burung... :D 
   Di dalamnya, terpikirkan-lah akan sebuah potongan vegetasi yang pernah dibuat oleh sebuah taman nasional (lupa namanya, yang jelas ada di Kalimantan). Mereka buat itu untuk information-site via online mungkin, hasilnya bagus dan representatif menurut saya (sayangnya dulu tidak sempat saya download). Sukar menjelaskan ke teman-teman, sampai saya akhirnya membuatnya terlebih dahulu (karena tentu saja ndak ada contohnya). Lumayan, cakupannya tidak terlalu luas, namun cukup bersifat informatif. Berikut adalah penampakan dari maksud saya...


   Foto-foto burung diletakkan di posisi penggunaan habitat mereka. Terpilih 3 jenis habitat yang dirasa dapat mewakili kondisi vegetasi Bandealit secara umum. Semua foto diambil di Bandealit (kecuali ada 1 pinjaman dari resort sebelah, karena burungnya gampang dilihat, madih susah difoto, hehe), dan urun saham masih tim PEH rame-rame. Selain itu, masih ada stok yang disimpan untuk nanti. Lambat laun, terpikir untuk melengkapi ini dengan lokasi (jelassss, banyak yang belum kenal Bandealit rasanya), teks pembuka, dan catatan temuan burung. So, di baliknya diberilah semacam itu... jadi total malah nantinya semacam leaflet, dan ini jadi bagian depannya:


   Nah, seperti inilah tampangnya. Masalah teks dan redaksional, masih dikorek-korek. Hanya saya masih bingung untuk mencari solusi agar daftar temuan bisa dibaca tanpa lup (hehe).. terlalu kecil.


Minggu, 16 Februari 2014

Kelud, pengalaman yang tak pernah dilupakan...

   Mungkin kisah saya kali ini diawali dengan sesuatu yang kurang 'gentleman'  dan kurang sangar sebenarnya. Yak, benulll.... cerita ini malah diawali oleh keinginan untuk mencari jodoh burung kenari peliharaan saya. Kasihan, sudah cukup umur, burungnya bagus, kenapa ndak dicarikan burung betina? Dan dimana saya akan mencari burung betina berkualitas? Tentu saja di peternaknya, dan dengan bantuan kawan saya, si Bayu Hendra Prakosa yang sudah puluhan tahun melanglang-buana di dunia kicauan. Apalagi sekarang birder ini punya sampingan membuka peternakan di rumahnya... so, tanggal 13 Februari saya sempatkan ke rumahnya di Tulungagung dengan menunggangi KA Tawangalun dan dilanjut KA Penataran/Dhoho. 
   Tidak ada firasat apa-apa sebenarnya. Hanya saja, saat kereta sampai di Blitar, ada seorang turis Belgia dan guide-nya, duduk di depan saya. Kami kemudian bercerita tentang hal-hal biasa, tidak ada yang istimewa. Sampai suatu ketika, saya iseng bertanya kepada guide yang ada di sebelahnya tentang tujuan mereka. Ternyata, mereka berdua akan ke Surabaya. Sebenarnya, mereka masih 3 hari lagi di Blitar, tetapi beberapa travel agent memperingatkan akan bahaya Gunung Kelud yang pada saat itu, setahu saya masih dalam kondisi 'siaga'. Spontan saja saya bertanya : "apakah Kelud sudah meletus?", Ia menjawab : "belum, belum, tapi kami melarikan diri terlebih dulu sebelum meletus, haha." (belakangan, saya merasa kedua orang ini termasuk orang yang beruntung, hehe).
   Semua terjadi sesuai jadwal. Saya datang di stasiun Tulungagung pukul 5 sore. Bayu menjemput, dan kami menuju rumahnya di Kecamatan Gondang, mungkin 30 menit dari kota. Sampai di sana, ibunya si Bayu dengan ramah menyambut. Maklum, ini kunjungan ke sekian kalinya ke rumah Bayu, jadi kami sudah saling mengenal. 

Mulainya tak pernah disangka!
   Sampai pukul 10 malam kami menonton tv. Acaranya biasa saja, sehingga saya putuskan untuk beranjak tidur. Entah kenapa Bayu masih setia dengan tv-nya, tetapi sekitar 15 menit kemudian ia pun menyusul tidur. Lampu tengah dimatikan, dan kami se-rumah sudah asyik bergulat di kasur. 
   Lambat laun, hawa di rumah itu jadi sumuk (gerah). Saking panasnya, kami tidur gedebukan... jian ora umum! Belum pernah merasakan gerah yang se-demikian panasnya. Saya tidak melirik hape untuk melihat jam, tapi memang sesekali saya nglilir dan mendengar suara gludug-gludug, mirip dengan guntur. Hawa panas tidak pergi-pergi, giliran keponakan Bayu yang masih 17 bulan terbangun dan menangis. Burung-burung kenari di sangkar seperti ngriwik ketakutan. Saya mendengar ada orang bercakap-cakap di jalan, tidak jelas. Tapi kemudian, mereka sepertinya pergi dengan memacu motornya. Saya benar-benar tidak bisa tidur...
   Suara mirip guntur sendiri masih terdengar, ditambah diluar terdengar suara 'hujan'. Nah, kira-kira pukul 2 dini hari, kakak ipar Bayu bangun dan melihat keluar. Ia dengan bersuara sedikit keras memanggil kami dan mengatakan: "Hujaaan paasir...!" Kami berdua langsung meloncat turun dan segera keluar. Senter disorotkan ke langit, dan benar-benar nampak butiran pasir turun dengan derasanya! Suaranya :"rhhss....rhssss" mirip hujan biasa, terus berulang-ulang dan tidak mereda. Beberapa orang memacu motornya dengan kencang sambil menutupi mukanya dengan bajunya. Logika kami membimbing kesimpulan bahwa Gunung Kelud telah meletus. Herannya adalah, Tulungagung yang mungkin berjarak 100 km dari lokasi, terkena hujan pasir yang cukup parah, lalu bagaimana di Kediri dan Blitar? Seberapa besar musibah ini? saya masih penuh dengan tanda tanya.  
   Setelah itu, kami berharap ada berita penjelasan resmi dari tv. Tetapi pada jam-jam itu, masih belum ada tayangan resmi. Hanya tulisan berjalan yang ada di Metro dan TVone. Itu pun kalau tidak salah mulai ada sejak pukul 02.30. Tidak ada satu pun di rumah itu yang tidur. Saya mencoba menelpon ibu di Banyuwangi, agar mencari kabar budhe saya yang memiliki rumah di Candisewu, Blitar. Jaraknya cukup dekat dengan Gunung Kelud membuat kami sekeluarga khawatir, apalagi ternyata hp keluarga Blitar tidak ada yang bisa dihubungi. Sedangkan di luar, hujan pasir masih terus mengguyur hingga subuh menjelang.

Hindari berita hoax...
   Mungkin sudah biasa jika saat bencana, terdengar berita-berita hoax atau omong kosong. Termasuk saat bencana Gunung Kelud kali ini, tersebar kabar sms bahwa 2 jam lagi (sekitar pukul 3 waktu itu), akan terjadi letusan yang lebih dahsyat. Ah, ini tentu tak dapat dipercaya, karena setahu saya, erupsi tidak pernah bisa diramal. SMS dari BNPB yang biasanya muncul untuk memberikan penjelasan, tidak kunjung ada hingga pagi hari.
   Sekali lagi, berita yang dapat dipertanggungjawabkan sangat dibutuhkan pada detik-detik terjadinya bencana. Sulit sekali mencari informasi, karena semua pihak mungkin ada dalam keadaan kalut. Oleh karena itu, sudah selayaknya kantor berita nasional menyajikan informasi yang tidak melebih-lebihkan. Pada pagi hari, kami masih menyaksikan salah satu channel tv nasional memberitakan abu dan pasir di Madiun, Ngawi, juga Tulungagung berkisar 5 hingga 10 cm! Kalau di Kediri, kami percaya... lha di Kota Tulungagung sendiri, paling tebal mungkin hanya 1-2 cm.... Jarak pandang juga di pagi hari mungkin sedikit berkabut, tapi di siang hari, hampir normal. Di televisi disebutkan jarak pandang di Karanganyar hanya 5 meter, tetapi di tayangan videonya, mungkin 20 meter. Aish.... berita yang melebih-lebihkan hanyalah membuat orang yang dalam keadaan panik, menjadi skeptis dan semakin tidak panjang akal...
   Untunglah dalam beberapa kondisi, komunikasi modern pribadi (baca: hape) menunjukkan gunanya. Dini hari itu juga, kami mendapat kabar dari teman di Pare, Kediri. Kondisi di sana lebih parah, karena hujannya berupa kerikil. Kabar lain dari Batu menyebutkan bahwa jalur raya Pujon, Ngantang, Kandangan, dan sekitarnya sudah ditutup karena tebalnya abu dan material vulkanik. Dari Malang Kota terdengar kabar menggembirakan, karena di sana tidak ada hujan abu sama sekali. Pagi-pagi, sekitar pukul 05.30, saya mendengar kabar dari kawan di Kaliurang, Jogja, telah mengalami hujan abu yang parah. Saya sendiri tidak percaya kalau Jogja bisa mendapat hujan abu yang parah. Tidak pernah terpikirkan bahwa kedahsyatan Gunung Kelud mampu melontarkan abu ke atas, dan terbawa sejauh jarak Kediri-Jogja. Pada pukul 06.00, kami sudah bisa melihat berita tv setelah beberapa saat di sana mengalami gangguan sinyal. Ternyata memang benar, Jogja diselimuti abu vulkanik Gunung Kelud. Bukan hanya itu, belakangan telah terjadi hujan abu yang parah dan merata di jawa tengah dan jawa barat, suatu hal yang sangat luar biasa menurut saya... benar-benar dahsyat Kelud kali ini... 

Kedisiplinan, kecepatan, dan harapan... 
   Ketika mendengar, dan tentu saja melihat tayangan-tayangan televisi tentang bencana ini, saya sungguh bersyukur... kenapa? karena jumlah korban berhasil ditekan (saat itu tercatat 3 orang tewas, semua dari Kab. Malang). Hal ini adalah suatu prestasi, karena besarnya skala bencana ini. Bahkan dari kawan saya, saya dengar telah dipersiapkan pos-pos evakuasi, jalur evakuasi, yang meskipun hanya dilakukan kurang lebih 2 minggu saja sebelum kejadian, semua nyatanya dipatuhi oleh warga di sekitar Gunung Kelud. Tanpa peduli erupsi tahun 2007 yang 'kurang' dahsyat, mereka nyatanya tetap patuh dan tidak menganggap remeh arti sebuah kata : 'siaga'. Suatu hal yang menyadarkan saya bahwa lambat laun, Indonesia telah belajar dari pengalaman bencana-bencana yang telah dilaluinya.
   Semakin siang di tanggal 14 itu, semakin banyak orang yang membersihkan genting-genting mereka dari pasir dan abu. Di jalanan, pada beberapa lokasi, telah disemprot secara swadaya oleh warga. Meskipun pasar sepi, tetapi sekolah di Tulungagung masih aktif. Bersih-bersih juga dilakukan di kabupaten lain yang terdampak, tapi tidak cukup parah, seperti Madiun, Ngawi, Trenggalek, dll. Saya menyaksikan, hampir tidak ada keluhan saat melakukan itu. Seakan-akan, secara otomatis, mereka membersihkan dengan kesadaran bahwa dalam bencana, tidak ada yang perlu disalahkan, tidak ada yang dituduh-tuduh. Benar-benar saya merasa, ini adalah peristiwa paling sangar di tengah ke-pesimisan negara ini terhadap sisi-sisi terekspose : politik, ekonomi, isu sara, dsb.
   Sesuatu yang kurang dalam penanganan memang ada. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang menjadi alasan agar kita mudah menuduh. Contoh nyata adalah keberadaan masker di kota-kota terdampak. Tulungagung sendiri benar-benar kekurangan pasokannya, baik di apotek maupun rumah sakit, semuanya menghilang. Sehari sesudahnya, masih tetap sulit mencari masker, sehingga di jalanan dan di fasilitas umum, masih banyak terlihat orang tanpa masker. Padahal, jalanan berdebu karena abu dan pasir vulkanis. Saya hanya maklum saja akhirnya, karena menjadi salah satu orang yang tidak kebagian masker. Namun, belakangan saya mendengar bahwa masker diprioritaskan untuk orang sakit, dan pasokan diprioritaskan untuk daerah bencana : Kediri, Blitar, dan Kab. Malang, nah lhoh... 

Meniti jalan kembali...
   Hari ini (16/2), saya melihat percakapan antara wartawan Metro tv dengan Bupati Kediri, Haryanti Sutrisno. Dalam percakapan itu, sang wartawan menanyakan tentang kebutuhan dan keberlanjutan proses penanganan ke depan. Salah satu statement beliau yang berkesan adalah : "masyarakat bukanlah orang yang malas... Dengan diberi material bangunan, mereka dengan senang hati akan memperbaiki rumahnya sendiri. Kami bekerja sama dengan beberapa BUMN untuk mulai melakukan pengadaan material bahan bangunan..."
   Saya rasa, kenyataan seperti itulah yang membuat kita bergembira. Meskipun di tayangan selanjutnya, masih ada beberapa kelompok masyarakat yang meminta-minta (padahal bantuan sudah ada di pos-pos pengungsian), tetapi sudah jelas bahwa karakter masyarakat kita mulai berubah... Jika sebelumnya kita melihat banyak orang yang menunggu, menunggu, menunggu... namun kini, mereka mulai melakukan apa yang seharusnya bisa dilakukan. Pemerintah dan rakyat benar-benar terlihat bergandengan tangan dalam menghadapi bencana!

...dan akhirnya saya hanya bisa mengingat-ingat perjalanan pulang tanggal 15 februari itu... di kiri-kanan rel berwarna putih karena abu vulkanis. Gerbong-gerbong KA Penataran/Rapih Dhoho juga menjadi putih karena abu. Perjalanan terlambat 1,5 jam karena kereta melambat saat melintasi Kediri.
Meskipun lambat, tapi sampai dengan selamat.
Sama seperti kita orang Indonesia, meski lambat, tapi toh akhirnya kita mulai belajar untuk menghadapi bencana... :D


sugeng makarya bagi masyarakat Blitar, Kediri, Kab. Malang dan sekitarnya, serta daerah terdampak lain :)

Di balik pagar rumah... semua terlihat putih.

Serasa di Inggris... cuman ga adem, hehe

Minggu, 09 Februari 2014

Di balik sebuah kata 'mbabu'...

"Kuliah e sampun mantun tah?"
 "Sampun medhamel teng pundhi mas?"

   Mungkin kedua pertanyaan itu seringkali terlontar kepada saya setelah sering terlihat di lingkungan kampung halaman. Entah memang ketika sedang di lingkungan kifayah RT, lingkungan persekutuan, atau lingkungan rekan sekerja orang tua. Paling penak, saya menjawab sederhana dengan kalimat : "Kulo sakniki mbabu teng Meru Betiri." - Saya sekarang menjadi pelayan di Meru Betiri-. Rupanya kalimat ini cukup membuat mereka yang bertanya mengernyitkan kening, tanda adanya sebuah pertanyaan di benak mereka. Pertanyaan berikutnya bisa jadi tentang Meru Betiri itu apa, atau mungkin yang sedikit menarik adalah tentang pilihan status 'mbabu' saya.
    Saya pikir, permasalahan rata-rata masyarakat kita adalah belum bisa menerima jalan yang tidak 'biasa'. Sebuah jalan yang mungkin bisa lebih dikenal dengan jalur aktivis, jalur idealis, dan jalur -is-is yang lain. Padahal sekali lagi, kita juga sadar manusia lahir jebrett di dunia tidak pernah sama dengan yang lain. Ada yang umur 10 tahun bisa langsung terkenal macam Justin Bibeer, atau harus nunggu terkenal di dunia tarik suara setelah berkali-kali ikut idol-idolan. But, they made it. Tidak peduli kapan, apapun, tapi karena mereka tekun berusaha mencari jalan mereka, ya akhirnya mereka sekarang dikenal dengan seorang 'penyanyi bertalenta'. Lha yo wes toh... 
    Kalau tadi permasalahan dari masyarakat, sekarang adalah permasalahan dari diri kita. Mari saya tempatkan diri kita sebagai anak muda. Baik, jika lebih dikerucutkan, sebagai pelajar. Kenapa pelajar? karena status ini di-equivalen-kan sebagai bentuk kawah Condrodimuko kehidupan manusia. Titik tertinggnya macam-macam, namun pemondokan tempat belajar adalah status serius yang menjadi concern, karena setelah di-cap lulus, pertanyaannya adalah "mau jadi apa?" Sebenarnya pertanyaan ini akan terjawab ketika kita dengan mantap belajar dalam pemondokan itu. Dalam sebuah kawah Candradimuka, kita akan berpikir keras tentang kita punya apa, bagaimana, dan untuk apa. Sekali lagi, ini pun tidak sama persis antar manusia... wani totohan wes.
   Nah, yang terakhir, adalah bagaimana membawa hawa api Condrodimuko tetap membara di kehidupan nyata. Membara bukan artinya sampeyan kuliah kriminologi, terus harus nangkep bandar cap-je-ki di pasar. Lha iya toh, bertahun-tahun sekolah, tentunya menjadi agen perubah adalah sebuah keharusan. Coba sampeyan mikir, seseorang suka melukis, suka menari, suka seni karena otak kanannya sudah membesar di Institut Seni, malah menjadi akuntan. Alasannya macam-macam, tapi yang menurut saya paling populer, adalah ketika ia takut menjadi berbeda. Alasan kedua adalah khawatir... tidak dapat uang untuk hidupnya. 
     Ada pula kejadian dimana ketika anda sedang menekuni suatu hal, tiba-tiba anda melonjak dan berkata kepada hal lain : "that's me!!" , lalu anda beralih kepada hal itu. Tentu, itu bukanlah sebuah kesalahan, dan berbeda dengan kasus sebelumnya. Ini adalah peralihan yang menunjukkan talenta kita yang sebenarnya. Banyak contoh yang merujuk kepada kejadian ini, misal seorang lulusan manajemen, kini menjadi aktivis lingkungan, pemerhati burung pantai, dan sekarang kira-kira, nama Indonesia banyak diwakili olehnya. Bermula dari kuliah yang mungkin tidak jelas hubungannya dengan karirnya sekarang, sikap ngeyel pada pilihannya, dan akhirnya ia menjadi seorang punggawa shore bird di Indonesia. Jelaslah saya menyebutnya ini sebuah panggilan, sebuah kelengkapan dari talenta. Tuhan tidak pernah salah, dan sejauh mana anda mengembara mencari, keduanya pasti ketemu, dan sekali lagi tidak pernah salah.
   Jadi, itulah... saya memilih kata 'mbabu', karena memang identik dengan saya. Saya merasa menjadi sebuah kewajiban untuk seorang yang pernah belajar biologi, kembali untuk membuat ilmu biologi menjadi diketahui dengan mudah dengan masyarakat, dan menjadi lebih bermanfaat. Memang, terkadang, belum ada yang dapat ngingoni kebutuhan saya untuk itu. Ada rejeki, mungkin hanya cukup untuk bensin, bawang atau obat nyamuk saja, hehe. Tapi tidak mengapa. Sekali lagi, terkadang ngeyel itu perlu. Saya mbabu bukan kepada sebuah institusi, atau sebuah birokrasi ciptaan manusia.  Bahkan, di dalamnya saya menjadi sadar diri bahwa ilmu saya masih cethek, kecipik-kecipik, dibandingkan luasnya samudra ilmu pengetahuan milik Tuhan. Ndak usah sedunia, di belantara 11.000 ha di resort bandealit, tempat saya mbabu sekarang, saya masih belum bisa mengidentifikasi dengan benar : tanaman, kodok, burung, atau ribet dengan ngutek-ngutek peta. Mungkin kalau kuliah, saya harus mengulang sistematika tumbuhan I, II, sistematika hewan I, II, dan biokomputasi, semuanya diulang dengan puluhan sks, haha.. modhar kon.. But it's a essencial of 'mbabu' word, full with sacrify, a passion, and brave. Apa yang saya bisa, itulah yang saya lakukan. Hanya mbabu kepada Tuhan, itulah alasan kenapa saya bisa menjalani sistem kompleks ini dengan sebuah harapan masa depan apa dan siapa di sekitar saya menjadi baik.


Trims to Saur Marlina Manurung,
anda telah menginspirasi saya :)

Sokola Rimba




Jumat, 24 Januari 2014

Sebuah catatan kecil di 24 Januari

   Mengawali hari ini dengan birding? mungkin membuat saya dan Nova, anak PKL itu, cukup berpikir ulang. Setelah Bandealit dihajar badai hampir 10 jam lamanya kemarin, membuat saya masih asyik mingsreg dalam balutan sleeping bag yang entah milik siapa itu. Pemandangan di luar tetap suram, mendung, dan daun-daun yang masih hijau berantakan di halaman wanagriya milik resort itu. Sisa-sisa banjir di jalanan masih terlihat dengan jelas. Rencana kami untuk mengunjungi pertigaan Teluk Meru rasanya maklum bila dibatalkan. Kami dengar, jalanan yang harus dilalu dengan motor itu sekarang lebih mirip dengan Kali Pringtali versi mini, dengan dasar lumpur yang sangat licin. Kami hanya termangu memikirkan tujuan kami di hari yang mendung ini. 

"Bagaimana kalau observasi Elang Jawa lagi?" tanya saya dengan penuh harap akan makin membaiknya cuaca hari ini
"Boleh" jawabnya, yang seperti biasa, mung trimo manut, hehehe..

   Baiklah, kami segera sarapan seadanya, bersiap-siap, dan segera berangkat. Jalanan yang biasanya baik-baik saja di hari normal, kini benar-benar menjadi sungai kecil dengan lubuk-lubuknya yang mini itu. Tak disangka, hasil badai kemarin berpengaruh hingga pagi hari ini. Jalanan menjadi tergerus oleh air dan menjadi grand canyon ala Bandealit. Kalau jalan saja menjadi kali, bagaimana 3 kali sebenarnya yang harus kami lewati nanti? Asuuuhay... 

   Perjalanan yang biasanya ditempuh selama 45 menit, sekarang harus benar-benar molor. Jalan menyusuri kebun kelapa yang berumput tinggi itu sekarang mirip paya-paya. Kaki saya yang terkenal mulus ini terancam terkena kutu air, alias rangen! Sungguh terwelu sekali kalau itu terjadi. Dengan cukup susah payah menerobos jalanan itu, kami sampai di kali pertama. Kali yang biasanya kering-kerontang jika tak ada hujan itu, sekarang menjadi gulungan air dengan level betis. Baiklah, rintangan ini kami lewati, dan kami berlanjut ke kali kedua. Hehe, kalau yang ini sudah level paha.. kami berdua hanya berpandangan mesra..  ciut sudah nyali kami. Bukannya kami malas basah-basahan di pagi itu. Hanya saja, kami memakai satu-satunya pakaian kering di minggu itu, juga di badan kami menempel beberapa peralatan elektronik yang cukup mahal (apalagi kalau rusak, muaaahal puoool!)

Nova sedang menerobos rumput
   Jadilah kami dengan muka ditekuk benar-benar memutuskan balik kanan. Mirip sekali dengan petinju yang melemparkan handuk putih : kalah setelah menerima pukulan hook ... 

   Namun, keberuntungan masih bersinar di hari yang suram ini. Dalam jarak kurang dari 20 meter, saya melihat dedaunan yang aneh. Pohon kering kerontang itu seperti ditumbuhi daun-daun warna merah menyala. Lhah, ternyata begitu saya makin mendekat, jelas sekali itu adalah seekor burung.... bubut! Amigoos, burung yang selalu ndlusup ke dalam semak begitu melihat manusia ini, sekarang dengan ayem-nya berjemur di pucuk kayu kering. Tak menyia-nyiakan momen ini, saya ambil beberapa jepretan sembari melangkah pelan. Puas menelanjangi bubut ini, saya melirik Nova di belakang saya. Beh, bocah ini malah memotret rumpun bambu di sebelah kiri, entah apa yang difotonya. Tangan kanan saya memberi isyarat di belakang pantat, sembari setengah berbisik dan melotot. Mungkin nampak terlihat: "sini, aku punya ekor, hahahaha", tapi maksud saya: " sini, ada bubut di depan!".  Akhirnya dia sadar, dan juga turut memperkosa si bubut ini. Cukup puas, kami bergerak maju, dan mak berr... burung berukuran besar ini kembali ke habitatnya di balik gelapnya rumpun bambu. Saya tersenyum puas. Ini adalah perjumpaan terlama saya dengan burung semak ini, mungkin juga dengan behaviour-nya yang paling ayem.Mungkin sama seperti kami, ia menjemur pakaian satu-satunya setelah hujan badai tropis semalam. Yah, tentunya sebelum dua pengamat burung amatiran ini mengusiknya.. 

Bubut Besar (Centopus sinensis)



Thanks God.. :)

Jumat, 10 Januari 2014

Menthelengi Raptor di udara : Kami butuh dukun hujan!

   Mungkin, bisa saya simpulkan minggu ini benar-benar payah untuk kami. Hasil kegiatan yang kami gadang-gadang bisa dapat informasi tambahan data kehati di slempitan-slempitan SPTN II Ambulu, rupanya, belum berbuah manis. Mulai dari Andongrejo, Sanen, dan Wonoasri, kebanyakan data hanya melonjak pada satu jenis saja. Hm, sebentar, bukan artinya tidak bersyukur, tapi memang demikian keadaanya. Menyisir tepian-tepian hutan, batasan-batasan kawasan yang terbuka, sampai bukit-bukit glenak-glenuk hanya untuk mencari burung pemangsa. Full sesuai dengan pengalaman, informasi setempat dan literatur yang pernah dibaca. Jangankan berharap untuk menemui jenis-jenis baru, bahkan jenis lama saja yang pernah teramati di lokasi yang sama, malah nihil-hil-hil. Apalagi kami kebanyakan hanya bertemu satu jenis yang sama : Elang-ular bido. Wooh, jian manuk lonthe tenan. Tiap ganti lokasi, hanya burung ini saja yang muncul, sambil berbuyi kliiik-kliik seperti anak ayam terjepit. Kalau seandainya terbang dekat gitu wes tak bandhem watu tenan.
   Baiklah, mungkin dapat saya simpulkan bahwa memang kita yang salah pilih hari. Namanya saja Januari, tentunya hujan sehari-hari. Apalagi waktunya cukup sedikit. Memang, kegiatan seperti ini butuh waktu yang cukup lama rasanya, terutama karena para pelakunya sendiri masih belum pernah melaksanakannya di at the place, alias first time broo... Ya sudahlah, apapun, yang jelas kami sudah memetakan lokasi-lokasi strategis untuk pengamatan raptor. Dengan ini, suatu saat kami bisa kembali untuk pengamatan, dan semoga dengan hasil berpredikat : memuaskan.

Menjaga api agar tidak padam

   Saya pikir, kegiatan-kegiatan PEH tidak ada yang tidak mulia. Selain duit yang harus dicukup-cukupkan, para pelakunya haruslah seorang yang multitalent : pengamanan, penyuluhan, dan tentu saja pengembangan informasi kawasan. Yah, semuanya tetap harus disambi-sambi dengan kerjaan lain dan juga diomeli. Apalagi jika kawasan sedang tersangkut kasus 'panas'. Bayangkan saja, dengan keadaan yang seperti itu, masih ditambah dengan kegiatan yang cukup berat, plus hasilnya kurang... rasanya paling yo mangkel juga. Tapi karena seperti kata saya :'mulia', akhirnya mereka tetap bergerak juga. Sudah rejekinya mereka kali ya...  (untunglah saya bukan PEH, hehe :D )
   Namun, nyatanya para punggawa ini memang bisa menikmati hidup di hutan. Ledekan demi guyonan seringkali saling terlontar... lha apalagi yang bisa ditanggap kalau tidak teman sendiri? Saya sendiri kagum pada Mas Afiyan, sang juragan dari Sukamade. Mungkin beliau bisa dijuluki sebagai dukun hujan yang tokcer. Berkat doa-doanya, hujan menyingkir dari perbukitan Ketangi-pothol, pergi ke laut selatan.  Selain itu, beliau juga merupakan tukang banyol yang top. Saya masih kepingkel-pingkel kalau ia berkelakar tentang kode-kode dalam hubungan suami-istri. Dan.. kalau sudah masuk bab ini, saya yang masih bujang ini mesthi enthek...
   Apapun yang dilakukan lah, yang jelas bisa menikmati hidup itu benar-benar perlu. Ibarat api, masing-masing orang sudah disebuli dan dihujani oleh berbagai tekanan yang ada di sekitarnya. Hutan mungkin bisa menjadi tangkupan tangan yang menghalangi angin badai tekanan itu. Dari sana, kita menjadi dekat dengan apa sebenarnya tujuan pekerjaan kita. Duduk kita di batu, tangan kita menyentuh lumut, kaki kita menjejak rumput yang segar, dan mata kita tak henti-hentinya memandang karya Sang Mahakuasa. Memang mulut kita terkadang mangap-mangap tidak jelas, tapi di situlah kita jujur apa adanya, dan menyadari akan betapa tidak mampunya kita tanpa Tuhan. Sebuah hutan yang oleh Sang Khalik menjadi halaman rumah kita, siap dijelajahi lagi, demi menyeruak misteri-misteri di dalamnya. Jangan khawatir kawan akan jaring-jaring ruwetnya birokrasi negeri ini. Mereka hanya manusia yang sama dengan kita. Beliau melihat semangat kita, dan mari kita jaga agar jangan padam...


Mas Afiyan : juragan sukamade, dukun hujan, dan konsultan hubungan suami-istri terpercaya

Mas Alif, bos geng PEH dari balai

Mas Puji, buddy saya di Bandealit



Sedang in action mendokumentasikan burung di jalanan Andong

Elang-ular Bido (Spilornis cheela).. akh.. kau memang ada dimana-