the biodoversity

the biodoversity

Rabu, 27 Maret 2019

Karunia Tuhan sebagai CPNS (3)

     Ini adalah serial tulisan yang paling sulit untuk ditulis. Jeda dari tulisan sebelumnya mencapai berminggu-minggu. Bagaimana tidak? apa yang akan diceritakan masih saya alami hingga kini. Yap, hingga hari ini, saya masih menunggu apa yang disebut NIP CPNS dan SK penugasan saya. Hari-hari saya jalani dengan mengantar istri ke tempat kerja. Praktis lebih dari 2 bulan saya ga ngapa-ngapain. Iya, bahkan saking lamanya... banyak kolega yang mulai gaje menanyakan kondisi CPNS saya: jangan-jangan habis pemberkasan, ditelantarkan. Mana saya sudah harus resign dari kerjaan saya, sebelum-sempat-nerima-gajinya... haduuuh... 
     Lalu, saya harus kemana? ya ngeluyur, ngeluyur, daripada gila. Saya mencoba apa yang saya bisa. Mulai dari yang nggenah sampai yang absurd.
Misal, saya parkir motor di taman bungkul, kemudian jalan kaki hingga tunjungan, kemudian kembali dengan jalan yang berbeda. Hal ini karena saya anggap hidup saya tidak sehat hanya dengan membaca saja, jadi perlu diselingi dengan olahraga rada gaje itu. Lain lagi saya akhirnya membajak teman untuk nemeni saya birding, atau saya secara independen ndelok manuk di berbagai lokasi yang tidak lazim. 
    Akhirnya, karena semua itu memerlukan uang, dan karena saya telah benar-benar mengalami titik nadir kondisi keuangan pribadi, maka saya putuskan mencari aktivitas yang murah, tapi tetap di luar rumah. Akhirnya, kawan istri saya memperkenalkan suatu penemuan penting dalam hidup : Perpustakaan Provinsi Jatim! Saya suka baca, parkir gratis, dan tutupnya jam 6 sore... Wah cucok wes.. Mulai 3 minggu lalu saya gila-gilaan baca buku kalau istri kerja. Wifi dan colokan juga ada. beh manteb wes. Hanya kurangnya, tidak ada perpustakaan yang dekat-dekat daerah saya, jadi cukup keluar bensin. 

Bersyukur, atau Perubahan?
     Sepertinya, sebagian besar peserta cpns yang lolos selalu updating berita tentang kelanjutan nasib mereka. Dimana lagi kalau bukan di twitter BKN. Adminnya kekinian, dan berbeda dengan rata-rata admin humas instansi yang kaku atau ga informatif, mereka selalu update. Nah, yang paling ditunggu adalah progress Pertek NIP. Apapun postingannya, pasti pertanyaan netizen adalah Pertek. 
     Pernah ada suatu kisah, mungkin karena kejenuhannya, ada netizen yang komen tentang foto rekan-rekan cpns instansi lain yang sudah mulai kerja. Awuwuwuh -- mungkin nadanya melas sih kalau saya lihat.. Dengan kata : " enak ya... ". Tapi, bukan netizen namanya kalau tidak banyak celoteh. Ada yang menanggapi : "dasar kurang bersyukur, jamanku dulu jangankan info beginian, tapi.. bla-bla, dst.". Ada yang membela : " ya bukan gitu, ini kan untuk perubahan yang baik" dan akhirnya mungkin fenomena cebong-kampret terulang dimana-mana. Dhuh, mbok ya wes lah.. kalau mulai berisik, masing-masing diam. 
     Namun, saya menarik sesuatu yang penting, apakah kita yang gelisah itu layak disebut manusia bersyukur? ya, masing-masing latar manusia itu berbeda, apalagi para calon CPNS ini. Ada yang sudah terlanjur resign begitu pengumuman. Latar belakangnya juga beda-beda, misal karena tidak tahu proses selanjutnya bisa sangat lama, padahal dapur harus tetap ngebul. Ada juga yang seperti saya, harus, karena instansi sebelumnya tidak sanggup melihat saya mendua. Celakanya lagi, ya saya sudah kebanyakan nganggur sejak saya lulus, jadi bukan hanya 2 bulan belakangan ini. Memang sih, saya sempat kerja di kampus, tapi ya waktunya singkat-singkat dan belum sempat meningkatkan nominal tabungan secara signifikan. Tapi, yang paling berat adalah rasa bosan yang berkepanjangan. Kondisi di WAG CPNS juga sama, keluhan-keluhan terdengar sayup-sayup mendayu... Semuanya rata-rata karena kebutuhan perut yang tidak bisa dikondisikan lagi. Ada yang masih kerja di instansinya yang dulu, dan menahan gunjingan-gunjingan teman kantornya. Ada yang terpaksa mengambil part-time job, dan saya sendiri cukup beruntung, karena istri kerja full dari dulu. Saya ngga bisa bayangkan seandainya yang terjadi adalah telah berkeluarga dan ia menjadi tumpuan, pasti pilihannya dua: cari kerja apapun atau hutang, hehe... 
     Yang kedua, apakah keluhan-keluhan ini penting untuk perubahan? ya, saya bisa pastikan demikian. Masak sih, dari zaman dahulu, proses CPNS ini berlangsung dengan lama secara terus menerus? BKN dan panselnas telah mereformasi proses ujiannya sehingga menjadi transparan dan adil. Tetapi, saat unit kerja dan instansi diberikan peran dalam proses administrasi dan penyiapan NIP saja, lhah kok lueemotnya ngga ketulungan. Bahkan, saya bisa fokus menduga, proses antara SKD dan SKB itu konstan 2 bulan! Hal ini berdasarkan pengalaman tahun lalu, dan ternyata hal ini betul. Gilanya lagi, saat tulisan ini diturunkan, beberapa instansi masih terlambat menyampaikan pengusulan NIP. Jadi sebenere mereka ini butuh ngga sih? 

Jujur, secara pribadi, ini adalah sebuah jalan ke arah kesempurnaan proses. Panselnas, BKN, dan juga kepegawaian tiap instansi sekali lagi menerima kesempatan untuk belajar, karena seleksi CPNS di masa depan pasti masih ada.  Bagi saya dan teman-teman yang masih menunggu dengan berbagai latar belakang, cukup satu kata: SABAR! 


---Ditulis bersama kerumunan pelajar ababil, dengan bau wangi dan kecut secara bersamaan, gambaran masa depan bangsa yang sekedar mencoba survive dari kelamnya tugas kampus---

Jumat, 22 Februari 2019

Karunia Tuhan sebagai CPNS 2018 (2)

Setelah kurang lebih 2 minggu menunggu, termasuk penundaan-demi-penundaan, maka diumumkanlah hasil seleksi administrasi pada tanggal 31 Oktober 2018 pukul 07.55. Tiap pengumuman, pasti hueboh.. baik di grup wa atau di wa japri.. euuh.. dan pengumuman selalu tersiar secara cepat (iya lah, yang lama nunggu, hehe), dan... saya lulus. Dari 3 orang alumni prodi S2, ada 2 termasuk saya yang lulus. Bahkan dari lab saya bekerja dulu, ada 3 yang tidak lulus. Artinya, seleksi administrasi ini sangat ketat! Well, saatnya belajar lebih intensif. Tapi jangan dikira saya nunggu pengumuman baru belajar, ehehe.. noo.. 

Saya mulai belajar tepat sebelum saya daftar, dan itu belajar sangat kueras.. sampai istri saya ikutan stres. Kalau buku, tidak ada yang spesial. Saya malah pakai buku latihan sisa istri saya tahun lalu. Yang penting, ada materinya sedikit. Bekas coretan pensil istri bisa saya hapus. Selain belajar, saya persiapkan diri dengan menambah kosa kata dan teknik skimming, dengan membaca koran. Saking pengen hemat, maka saya beli koran di sore hari, ehehehe.. jadi selisih 2 ribu perak.

Wait, kenapa sudah belajar walau belum tentu lolos tahap selanjutnya? ketahuilah, jeda yang lama adalah menunggu pengumuman hasil, tapi berikutnya setelah diumumkan, tes tahap berikutnya terjadi sangat cepat. Jedanya bisa 5 hari atau maksimal seminggu. So... ga mungkin kalian belajar SKS di rangkaian CPNS ini, percayalah...

Skip...

Saya mendapatkan lokasi tes di Surabaya, pada hari sabtu tanggal 10 November 2018. Pada perjalanannya saya mempersiapkan tes itu, kuping saya tetap update berita mengenai pelaksanaan SKD CPNS di tempat lain . Dari sini saya dapat info bahwa momok menakutkan tahun ini adalah TKP (Tes Karakteristik Pribadi). Hanya kurang lebih 10 % dari peserta tiap sesi yang mampu lolos. Bahkan, banyak kasus pada sesi tidak ada yang lolos Passing grade (PG) yang ditentukan. Gila! Jadi, lolos SKD adalah seperti lubang jarum. Semakin dekat waktu ujian, saya tetap meng-handle diri saya sepenuh hati dengan percaya diri, walau terngiang PG yang sangat-sangat ketat. Berbeda dengan ujian CPNS yang lalu-lalu, saya selalu mengkomunikasikan kegundahan saya kepada ibuk, Di sini saya seakan mendapat kekuatan untuk berusaha yang terbaik, walau nampak mustahil. Saya pun segera bergerilya di dunia maya untuk mencari kiat-kiat metode lolos SKD era 2018. Ternyata, saya nemu dan akan saya praktekan nantinya. 

Tepat tanggal 9 November, saya dan istri berniat untuk mensurvey lokasi ujian. Lokasi ujian ini terletak di Empire Palace Hotel, yang sepertinya telah disewa panselnas untuk melaksanakan ujian ribuan (atau ratusan ribu) orang. Saya persiapkan pakaian putih hitam dan kartu tes. Esoknya, tanggal 10, saya tak mengambil resiko, dengan datang 2 jam sebelum waktu tes. Melakukan check in 1 jam sebelumnya. Proses check in ini sangat ketat pemirsah. Hanya diperbolehkan KTP dan kartu ujian untuk dibawa. Alat tulis, ikat pinggang, perhiasan, jam, apalagi tas harus dititipkan. Jika 1 sesi ada 1000 orang, dan tiap hari terbagi 5 sesi, dan waktu SKD ini berlangsung kurang lebih sebulan, saya hanya bisa bayangkan crowded-nya manusia di tempat ini. Pelaksanaan tes ini menurut saya lancar, dan tidak ada insiden yang menarik. Setelah check in pertama, kami naik ke lantai 2 untuk diperiksa dengan metal detector. Setelah itu, kami menunggu bersila di sebuah aula besar. Kemudian, kami naik lagi ke lantai 3 untuk diperiksa lagi dengan metal detector, tepat sebelum memasuki ruangan CAT. 

Saya berpapasan dengan pegawai BKN yang memberi yel semangat ala-ala anak muda (memang mereka masih muda lho). Saya pun cepat menilai, bahwa kali ini BKN menjadi pelaksana yang baik, dimana humas mereka selalu berkabar secara cepat, memperbaiki troubleshoot juga secara cepat. Untuk mencegah kecurangan pula, mereka di ruang CAT tidak dibantu oleh pegawai daerah (saya rasa begitu), dimana yang terakhir ini posisinya sebagai pelayan simpan barang, mengurus stempel kartu, bahkan bantu parkir :p 

Tidak ada petuah khusus dari panitia. Begitu kami masuk di kursi dengan PC di meja, kami sudah bisa entry data NIK dan no ujian, begitu pun log in untuk memulai. Jadi, karena waktu terhitung secara berbeda, rata-rata peserta nanti selesai dengan waktu yang beragam. Sesuai dengan kiat yang saya temukan, saya langsung skip 2 topik pertama dan mengerjakan TKP terlebih dahulu. Baru 3-5 soal, saya kemudian mengerti bahwa soal-soal ini menanyakan kesiapan kita sebagai ASN yang millenial dan berdaya saing. Mirip dengan visi kinerja pemerintah saat ini yang berjalan cepat, dan sesuai sasaran. Saya pun cepat beradaptasi dengan memilih jawaban itu. Selanjutnya, saya progress TWK dan TIU. Kiat berikutnya adalah jangan pernah baca bacaan, soal, lalu cari jawaban di bacaan. Pola ini saya pelajari dulu ketika SNMPTN, dan kembali saya terapkan. Ingat, hanya tersedia 90 menit untuk mengerjakan kurang lebih 100 soal. 

Waktu demikian mepet. Semua jawaban sudah terisi, dan terkoreksi sekali. Saya pun tak ingin berleha-leha, lalu memanfaatkan 3 menit tersisa untuk mencoba koreksi sekali lagi, lalu kemudian... baaam! waktu selesai dan nilai langsung keluar di sisi kanan. Tidak ada kriteria lulus/tidak lulus, yang ada hanya nilai per topik dan total. Wuwuwuwu... saya senang sekali karena lulus. Bukan hanya dengan nilai yang mepet, tapi cukup jauh melebihi. Sekali lagi saya bersyukur, dan percaya ini semua karena Tuhan dan doa ibuk saya. 

Namun... Sekali lagi, tahap CPNS harus dijalani dengan pasrah dan kerja keras. CPNS bukan sekedar lolos SKD. Saya tidak boleh jumawa. Banyak yang berkomentar bahwa saya auto lulus. Ngga, baby.. masih ingat saya bersaing dengan 11 orang pelamar untuk 1 formasi? Meskipun kemungkinan untuk melaju secara tunggal itu ada, saya selalu antisipasi bagian terburuk dengan mempersiapkan ujian berikutnya. Lalu, sekali lagi, peserta CPNS Kemristek harus menunggu agak lama karena ada beberapa hal, terutama ujian susulan peserta, reformasi nama jabatan dan formasi oleh Kemenpan-rb, dan berikutnya adalah penggodokan Permen karena hanya 10 % dari seluruh formasi yang dapat lolos SKD. Saya kira sangat wajar jika Panselnas pening, karena gawe ini pasti anggarannya kadung besar, sedangkan  jika dibiarkan ya jelas serapannya sangat minim. Namun, munculah permenpan 61, yang memberikan kesempatan bagi yang tak lulus SKD (sebutannya P2), untuk melaju SKB dengan berbagai syarat. P2 dapat melaju terutama jika tidak ada peserta yang lulus (P1), atau jumlah peserta yang lulus kurang dari jumlah formasi yang dibutuhkan. Misal, jika dibutuhkan 3 orang, dan ada 2 P1, maka nomor 1 dan 2 otomatis terisi dengan P1, sedangkan 1 formasi diperebutkan P2 sebanyak 3 kalinya (3 orang). Nah, jika di 1 formasi terjadi persaingan ketat, misal dibutuhkan 1 orang, dan ada 5 P1 dan ratusan P2, maka P2 yang jumlahnya ngadubilah itu langsung rontok seketika, dan P1 yang bersaing hanya urutan 1,2&3 saja. Sisanya juga ikut rontok. 

Lalu, bagaimana dengan posisi saya? jelas saya pun masih skeptis. Berminggu-minggu hidup menggalau, hiks. Proses menunggu ini lho yang paling 'owowow' deh dari semua proses CPNS. Hingga akhirnya, kurang lebih sebulan kemudian, pada tanggal 8 Desember 2018, Ristekdikti yang selalu masuk '10 besar instansi terakhir' mengumumkan hasilnya. Daaan... dari semua peserta yang saya lamar itu, muncul 2 P1!! Tentu saya harus bersaing lagi dengan 1 orang. Bahkan, di sini muncul nama-namanya, sehingga masing-masing bisa memonitor asal pesaingnya, haha... 

Sekali lagi, saya pastikan bahwa saya belajar untuk tes berikutnya, SKB, dimulai dengan jauh-jauh hari sebelum pengumuman SKD ini. Bukan sok pede, tapi memang jeda pengumuman dan pelaksanaan SKB pasti sangat pendek, sehingga tidak mungkin bisa belajar. Apalagi materi SKB tentu terkait dengan perihal yang lebih spesifik. Sekali lagi, saya perlebar kuping saya untuk mencari info terkait SKB ini. Hasil kesimpulan saya adalah materi yang terkait dengan formasi yang kita tuju. Misal jika kita lulusan mikrobiologi yang menuju formasi di peneliti tumbuhan, maka sudah pasti kita belajar fisiologi tumbuhan, dll. Jadi, jangan salah dalam belajar, karena materinya pasti banyak. Selain itu, kebijakan ujian ini lebih diserahkan ke unit kerja yang dituju. Nah, di sisi ini sebenarnya muncul prasangka nepotisme, apalagi Kemristekdikti termasuk yang menggunakan 4 uji, mulai kesehatan, TKB, wawancara, dan microteaching. Bahkan, saya juga mulai agak pesimis ketika tahu pesaing saya adalah alumni unit yang saya tuju, meski berbeda prodi. Namun, saya tak mungkin mundur, dan menyerahkan ke Tuhan perkara di luar kemampuan ini. Tak lupa saya curhat ke ibuk mengenai kegundahan ini, dan ibuk pun merestui dan menguatkan perasaan saya. Hehe.. jian wess.. hebat pokoke emakku. 



Kira-kira, begini lah hasil dari SKD yang ditunggu-tunggu itu

Rabu, 20 Februari 2019

Karunia Tuhan sebagai CPNS 2018 (1)

Sebelumnya, saya harus mengakui bahwa jiwa menulis saya belakangan bisa dibilang mandeg total, alias mati.. Saya lebih mengaruniakan talenta saya untuk mencari nafkah di bidang jasa penulisan, sedangkan untuk pribadi saya sendiri enggan rasanya untuk memenuhi nafsu kebutuhan itu karena itu untuk orang lain (baca: dark writter), dan sebetulnya masih banyak jalan untuk menghargai talenta saya.. ah.. 
Tanggal 11 Januari menjadi turning point kehidupan saya dan istri, dimana pada dini hari muncul pengumuman kelulusan CPNS Kemristekdikti. Tulisan ini adalah bentuk nazar saya ketika saya sedang gundah dalam proses tersebut.. monggo diseruput... 

Kembali ke jalan yang benar.. 

        Saya ketika lulus magister Juni 2017, segera mengalami masa-masa sulit. Singkatnya, saya harus cukup jatuh bangun untuk mengejar cita-cita, sekaligus nyambung kebutuhan perut. Apalagi, saya sudah punya calon anak manusia yang segera harus dinikahi. Langkah cepat saya ambil dengan menyebar lamaran. Saya berkelana pertama kali dengan bekerja sebagai dosen swasta di sebuah kampus banyuwangi, tempat kelahiran saya. Belakangan saya tahu bahwa itu adalah pilihan mekso, karena kampus itu dalam kondisi collaps.. dan setelah saya resign, NIDN saya sudah kadung dibuat. saya pelajari impacts nya, dan untungnya, surat lolos butuh sudah ada di tangan. Ini adalah pengalaman paling berharga yang pernah saya temui di dunia perdosenan. :')

Pelajaran 1: Jika anda berminat menjadi dosen, pastikan kampus yang anda pilih sesuai dengan kualitas. Sameyan sangat berhak menentukan harga anda dan keberlanjutan hidup. Jangan terburu mengiyakan untuk masalah NIDN. Ini tentu tidak berlaku kalau sameyan masuk di PTN. 

     Selanjutnya, saya kembali menjadi asisten seorang dosen di kampus almamater saya, menyambung kerja yang pernah saya lakukan sebelum saya lulus. Tuhan memang baik, ada adik kelas yang begitu baik dan kaya nya, sehingga ia punya rumah yang dapat ditinggali. Gratis tis tis.. dengan 3 anak lain yang saya kenal baik. Di sana kami bisa masak, wifi an, bahkan listrik pun tidak boleh bayar.. Ya ampun, wes tak doakan masuk sorga semuanya.. hehe.. 
      Selain itu, saya ambil 2 kerjaan sebagai asisten. Kerjanya apa? macam-macam, yang jelas menulis jurnal adalah yang utama. Uangnya saya tabung benar-benar dan berharap itu bisa jadi modal nikah. Saya pun jualan pisang dan air mineral untuk nambah-nambah uang belanja. Sembari itu, saya ingat puluhan lembar legalisiran dan lamaran terkirim kemana-mana. Tidak ada satu pun yang nyantol.. kemungkinan ini disebabkan oleh dua hal, yang pertama kualifikasi saya campuran (S1 biologi, S2 Ilmu lingkungan). Kedua, perguruan tinggi sangat selektif atau bahkan sangat memperjuangkan alumninya sendiri. Kegagalan-kegagalan pahit harus saya alami masa ini. Misal, saingan yang sudah S3 sewaktu seleksi di sebuah Kampus Kristen terkenal di Jogja, atau tidak ada link ketika seleksi di sebuah PTN di Kota Malang. Bahkan, di tempat terakhir ini saya melihat anak yang pinter, rontok karena harus bersaing dengan anak si anu, atau si itu... Bulan Maret saya dipanggil untuk wawancara dan microteaching di salah satu kampus swasta besar di Salatiga. Tapi karena lama, dan saya sudah terlalu berpengalaman dalam bidang rejecting, maka saya biasa saja, meski sedikit berharap sih. Pada lain kesempatan, saya direkomendasikan untuk masuk di sebuah PTN di palangkaraya oleh Kepala Jurusan S1 saya. Toh 7 bulan berlalu, yang terakhir itu berakhir dengan : REJECT... wkwkwk

Pelajaran 2 : Sebagai jiwa muda, ketahuilah interest kalian sedini mungkin. Be real, realitas yang utama. Saya ingin jadi dosen dan tidak punya kreatifitas wiraswasta, jadi harus terima berbagai resikonya. Jika samean misal ingin buka cafe, laundry, jadi petani.. ya semua pasti punya resiko, ketahuilah terlebih dulu itu. 

          Berikutnya, saya menikah.. Loh? yes.. saya mengajar di sebuah kampus swasta di Pare, Kediri. Domisili pun berpindah ke Surabaya, untuk nemeni istri yang sudah 5 tahun kerja di Laboratorium swasta. Bahkan, awalnya saya ingin nyabang kerja dengan sebuah STIKES di Jombang. Eh, melihat kondisi kampusnya, saya ingat kembali pelajaran 1, dan saya segera putuskan untuk hanya di Kediri saja, meski pilihan ini juga sedikit lebih baik. Pada masa-masa ini, berita santer tentang CPNS 2018 sudah terdengar siur-siur.. alias tidak sedikit orang-orang kampus yang membicarakan.
          Menjadi CPNS adalah gelora bagi banyak orang. Jujur, saya sudah eneg rasanya. Toh ini bukan pertama kalinya saya ikut tes akbar cpns-an (ini yang ke 4). Artinya sudah cukup waleh, jian... Mungkin  hanya ibuk saya yang membangun semangat dan harapan, meskipun anaknya sudah benar-benar loyo, haha.

Perjuangan dimulai..

     Saya mulai semuanya dengan mempertimbangkan segala pilihan formasi. Ingat, formasi harus dipilih dengan kualifikasi yang samean punya, karena hanya ada 1 kali kesempatan. Jadi, sudah lama tidak ada pilihan nyabang. Selain itu, kualifikasi yang dimiliki dan formasi yang dituju harus presisi. Biasanya (dan sebagaimana terjadi di tahun 2018), kurang lebih 2 minggu informasi dan tata cara pendaftaran telah beredar, sebelum akun benar-benar bisa dibuat. Saya tercatat resmi memiliki akun pada tanggal 2 Oktober 2018. Itu pun karena harus bersaing dengan banyak penduduk Indonesia, sehingga sangat-sangat sulit di hari-hari itu untuk bikin akun. Saya harus dibuatkan adik kelas di lab untuk membuatnya. berikutnya upload berkas-berkas, dan bahkan harus ada foto diri dengan memegang ktp dan kartu informasi akun yang telah dibuat. Jadi, Panselnas kali ini benar-benar memperhitungkan antisipasi kecurangan. 
     Setelah itu, saya benar-benar berdoa, dan memohon jalan untuk formasi yang harus dipilih. Tidak banyak kualifikasi untuk ilmu lingkungan, dan realistis bagi saya. Ada beberapa pilihan, misal di jawa sendiri ada 3 PTN, di Unsri, di Kalimantan ada 2, Kendari ada 1, fiuhh.. membingungkan. Sebenarnya, saya ingin pilih di Kendari. Alasannya, saingan pasti lebih sedikit. Di jawa ada UNS, yang sudah pasti diminati oleh banyak orang, dan berikutnya kalau tidak salah di Unnes. Nah, belakangan saya tahu ada formasi di Jember. Ah, jember kota di dekat kelahiranku.. mimpi orang tuaku untuk anaknya kerja di dekat rumah aja. Keinginan istri juga untuk tidak terlalu jauh darinya (awkwk).. Jadi, inilah.. saya rubah pilihan di akhir-akhir.. tepat setelah saya nelpon ibuk, mendengarkan nasihatnya, dan akhirnya saya submit! Hanya saya meminta : "buk, doaku saja ngga cukup... hanya dengan doa dan restu ibuk semuanya jadi mungkin.. " Maka, mulai dari saat itu, Ibuk mulai doa dan puasa.. dan seminggu kemudian disusul dengan bapak.. :')
     Terhitung tanggal 10 Oktober saya resmi memencet tombol 'Daftar', dan secara resmi tidak dapat diubah kembali. Ada berkas lain yang juga harus dikirim via pos. Ingat, jangan sampai menyepelekan pengiriman via pos, karena banyak kasus pendaftaran direject karena berkas diterima tidak tepat waktu. Setelah itu, persiapkan hati untuk menunggu, karena ujian CPNS tidak melulu ujian kasat mata, tapi ketahanan untuk menunggu. Oleh karena itu, sering-seringlah melihat web resmi cpns instansimu :) . Oh iya, satu lagi.. di web sscn juga dilengkapi keterangan formasi yang dipilih juga dilamar berapa orang. Ketika awal saya menimang pilihan, pelamar masih 3 orang, berikutnya 6 orang. Ketika saya sudah kllik 'daftar', jumlahnya menjadi 12 orang! wauuw.. tapi itu masih mending dibanding beberapa formasi dengan perbandingan 1:30 an. Saya pasrah, berdoa, dan bekerja keras, karena cuma itu yang saya tahu untuk saya lakukan. 

Pelajaran 3 : Restu orang tua sudah saya buktikan sangat penting di pengalaman ikut CPNS.  Belum pernah saya menembus SKD pada ujian-ujian CPNS sebelumnya, dan saya benar-benar yakin ini adalah doa Ibu, selain tentu kerja keras yang harus saya alami. Oleh karena itu, tanyakan keinginan dan pertimbangan orang tuamu, berikut informasikan progress kalian sejujurnya.. 


nyambung...


Jenis-jenis pengumuman yang membuat peserta menghela napas, gulung-gulung, dan berdoa lebih keras!

Sabtu, 14 Juli 2018

Poster Penyemangat

Sudah lama tidak oret-oret di sini, tetiba ingin membuat poster untuk memberi nafas kehidupan pengamat burung amatir. Semoga kami dikaruniai kesehatan, energi, dan kreativitas untuk menyusun makalah dan materi PPBI 2018 di Jogja.



Selasa, 16 Mei 2017

Lama tidak nge-post

Hai blogspot..

setelah 1 tahun tidak mencoret-coret, banyak perubahan yang terjadi. Tapi karena kata mas Nurdin : "menulis menunda kiamat", jadi saya merasa memiliki kewajiban moral untuk menulis sesuatu di sini. 

Hari ini, ketika menoleh ke belakang, saya ternyata telah memiliki beberapa artikel, buku, atau tulisan lain yang saya aupload ke research gate. Saya pikir baik juga berkomunikasi tentang kemajuan pengetahuan terhadap manusia-manusia di sekitar saya. barangkali ada banyak ilmu yang bisa didapatkan. Kelebihan lainnya adalah saya masih bisa berbagi, karena memang uang saya tak punya terlalu banyak. Mudah-mudahan, apa yang saya tulis juga menjadi pemberian yang berguna bagi yang membutuhkan, hehehe... 

https://www.researchgate.net/profile/Agung_Kurnianto

Sehari-hari saya habiskan di lab. Biodiversitas hewan, mulai membuka pintu lab sekitar pukul 8.00, kemudian nyapu, mengecek berkas tugas sisa kemarin, dan kembali melihat kerjaan utama tentang jurnal, baik punya saya atau pak nia. Pengerjaan jurnal dimulai dari analisis hingga mencari referensi yang asli-mumet.

Saya pikir telah berada lama dalam hijrah kejiwaan, dari sesorang yang hidup diantara kawasan rural, menuju kehidupan urban yang monoton. Meskipun demikian, paling tidak, di sekeliling saya adalah manusia-manusia yang terbuka dan tidak menista ilmu pengetahuan.

Kiranya Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita semua, dan kita pun layak untuk diberkati karena kita berlarian sekuatnya untuk 'menyentuh' terang itu.

Jumat, 27 Mei 2016

Buku Burung Meru Betiri

   Jadi, ketika tulisan ini turun bagai ilham, saya sudah dua kali buang air besar, yang mungkin menjadi peringatan agar saya segera membagikan buku burung-burung Meru Betiri (meskipun ngga nyambung juga sih). Sebenarnya, saya merasa kurang enak karena sudah pasti teman-teman birder menagih buku ini, dan bahkan penulisnya sendiri hanya diberi dua buah : satu saya miliki pribadi sebagai kenang-kenangan, satu saya sumbangkan untuk lab biodiversitas, hahahaha... can you imagine that? Tapi, baiklah.. apapun itu, buku ini terlahir menjadi sebuah kebanggaan dan kerja keras selama kurang lebih 2 tahun. Buku ini masih belum sempurna, karena belum semua resort dijelajahi secara penuh, apalagi resort yang sangat mencil dan penuh misteri.Dari sisi penulisan, editing bolak-balik, hampir semuanya dikerjakan secara tunggal putra. Jadi, ketika deadline untuk mencetak muncul, sangat sedikit waktu yang dimiliki untuk melakukan pengecekan referensi atau malah edit layout (hoek cuih.., hahaha)
    Ketika buku ini tercetak, bahkan saya sudah tidak lagi bergabung dengan Meru Betiri. Sedih memang, tapi yah memang itu jalan yang saya pilih, hehehe. Tapi saya tidak khawatir, hati untuk mencintai burung sedapat mungkin telah saya tularkan ke saudara-saudara saya, termasuk mas Eko dan mas Puji. Mas Eko makin sering jalan-jalan dengan binokuler dan buku field guide-nya. Kang Puji harus kerepotan dengan kamera yang selalu rusak, karena terlalu banyak dia pakai untuk njepreti burung atau sekedar monyet kawin. Mungkin, hanya doa yang kini bisa saya bantu, agar mereka dan kawan-kawan lain terus sehat dan selalu mencintai alam. Penambahan data, atau bahkan munculnya buku-buku satwa dan tanaman yang baru pastinya hanya menunggu waktu saja, dan kiranya buku ini bisa menambah wawasan semua pembaca tentang taman nasional indah di selatan Jawa timur ini. 

salam,






silahkan download di sini





Kamis, 28 Januari 2016

Ntab deh...

    Berulangnya kisah dua bioder kelas 'kuampret' mengawali perjalanan perdana kami. Adalah saya dan sesosok Faldy yang pernah menjelajah pantai-pantai Malang Selatan di era tahun 2013 silam. Kini, setelah saya sudah eks-pekerja dan dia masih tercatat dalam akta pegawai Brawijaya University, kami masih bersahabat untuk menaklukkan Malang Raya (Malang, Batu, dan Kabupaten Malang). 
    Sebenarnya, tujuan kami tak jauh beda dengan petualangan dua tahun lalu, yakni mencari kupu-kupu. Serangga unik nan perasa ini memang (menurut kami) lebih banyak di daerah Malang Selatan, yang notabene adalah dataran rendah. Apalagi jenisnya unik-unik. Sebut saja si Rohana nakula langka yang ditemui di beberapa lokasi rahasia (hanya kami dan pihak CIA yang tahu, wewewe). 
Tujuan kami jelas setelah kami membuka Google earth : Pantai Ngantep. Lokasinya adalah di dekat Balekambang. Yah, bisa dibilang ia adalah tetangganya, sekaligus tetangga sebelah barat Pantai Sendang Biru. Namun, sepertinya ia kalah terkenal dengan kedua pantai itu, termasuk kalah terkenal dengan Kondang Merak. Tapi tidak apa-apa. Kami mengaku kalau kami adalah tipe manusia najis tongsis dan sekali lagi, tujuan kami sebenarnya cuma mencari kupu-kupu. 
    Perjalanannya seperti biasa khas Kabupaten Malang : dominasi perkebunan, lahan PERHUTANI, desa-desa kecil, sawah, dan semuanya nampak sepiiii tapi tiba-tiba muncul keramaian seperti kota kecamatan atau pasar tradisional. Berpuluh-puluh kilometer dilalui oleh motor genjress saya yang bermerk win 100 dengan tabah. Meskipun tak lagi muda, motor ini setia adanya menemani tuannya menembus belantara dan jalanan selama 3 tahun. Karena tenang dan sangat kontras dengan hiruk pikuk kota Malang, kami sempat bepikir untuk membeli tanah di sini saja, hehe... 
    Sekitar 2,5 jam, kami sampai di pertigaan, dimana Pantai Balekambang arah lurus, Kondang Merak Kanan, dan Ngantep ke arah kiri. Sepertinya tidak ada petunjuk resmi di pertigaan itu. Kami hanya berpedoman pada Google Earth dan Google Map yang berbaik hati menemani kami. Rupa-rupanya, sangat berbeda kondisi daerah itu sekarang. Pembangunan Jalur Lintas Selatan (Jalur Lintas Selatan) telah merubah sebagian rupa dari daerah dataran rendah itu. Bukit dan gunung dibelah menyisakan pemandangan tebing-tebing tanah dan batu berwarna coklat kuning. Kami melaju di jalanan berlajur dua yang beraspal halus, tetapi masih dalam tahap pengerjaan di sana-sini. Jembatan-jembatan dibangun dan di sana-sini kami temui tiang-tiang beton untuk kabel listrik terbujur di tepian jalan. Sepi, dan minim penerangan. Beberapa kampung yang juga belum nampak jaringan kabel listrik mulai bermunculan. Saya membayangkan pekerjaan megaproyek ini bila ditangani oleh Pemerintah Kolonial masa lalu. Bisa-bisa sekali lagi mencabut nyawa ribuan rakyat (tapi kalau sekarang yang dicabut duitnya, hehe).
    Baiklah, singkat cerita, kami sampai juga di depan loket tiket. Gerbang Pantai Ngantep  masih dalam tahap pembangunan oleh warga desa. Sepertinya, warga desa juga mengelola tiket masuk dan juga beberapa fasilitas di sana. Setelah itu, 20 meter berikutnya kami diberhentikan oleh 3 orang pegawai PERHUTANI di loket yang berbeda. Mereka memberi kami tiket sekaligus tiket parkir. Entah apa yang terjadi sehingga dua loket itu tak disatukan meski berbeda pengelolaan. 
     Well, fasilitas di sini lebih menarik sepertinya dibandingkan Kondang Merak. Pantainya berupa pasir yang sedikit cokelat dan cukup halus. Pagar-pagar, tempat sampah, dan kursi tertata rapi diantara pepohonan Bogem di tepi pantai. Pemandanganya? Warbiyasak... Udaranya bersih, dan yang penting pada saat itu masih minim alayers yang datang. Pantai Ngantep sama dengan pantai-pantai di jawa selatan, yaitu adanya larangan mandi di pantai dimana-mana. Salah satunya tertempel dalam spanduk merah berukuran besar di sebelah barat pantai. Sepertinya, penempel spanduk ini sengaja merusak background foto alayers nantinya, hehehe.. Tapi peduli amat? Kira-kira beberapa waktu yang lalu ada wisatawan lokal yang hanyut di pantai Bajulmati yang berada di sebelah timur pantai Ngantep. Jasadnya sendiri belum ditemukan, dan di depan loket terdapat pengumuman yang mungkin membuat wisatawan berpikir lagi untuk mandi. Isinya: "jika menemukan jasad korban tewas tenggelam dari Pantai Bajulmati, silahkan hubungi (nomor telpon desa dan tim SAR)." Mungkin oleh karena itu, petugas dan warga membuat papan dan spanduk peringatan berukuran besar agar jangan lagi ada wisatawan yang 'uji nyali'. 
Kami menikmati kurang lebih satu jam di pantai yang mulai terik tersebut dan kemudian bergerak ke arah timur. Sebuah muara yang buntu dan dipenuhi riparian ada di sana. Pastinya, muara itu akan terhubung dengan laut jika musim penghujan. Di tepian sungai terdapat puluhan Appias albina sedang asyik menghisap mineral lumpur. Saat kami melangkah menyeberangi muara, mereka terbang membuat kami seakan berada di gulungan mahkluk bersayap ini, hehe. Tidak banyak kupu menarik di sini. Kami pun tidak terlalu kecewa karena pemandangan pantai ini bagus, hehe.
    Kami penasaran dengan tebing di sebelah timur ini. Saya sendiri menduga bahwa pemandangan di sana lebih keren. Nah, setelah mengikuti sebuah jalan setapak yang cukup menanjak, akhirnya kami sampai pada tanah lapang yang sedikit menjorok ke laut. Dari sini terlihat Pantai Ngantep secara keseluruhan. Di sebelah timur, terdapat gugusan pantai kecil dan tebing batu. Di sebelah barat ada hamparan pasir dan juga tebing di sebelah barat. Secara samar-samar kami melihat pantai lain di barat, mungkin itu adalah Balekambang. 
Ada empat orang pemuda yang tiba-tiba berenang di atas papan selancar sambil bertelanjang dada. Saya yang bukan manusia ikan menjadi gentar ketika melihat mereka terapung bak titik kecil di tengah palung samudra. Salah satunya yang mungkin lebih senior terus berenang maju, mungkin hingga 100 meter jaraknya dari pantai. Mereka terus menunggu ombak-ombak besar yang berdatangan sambil bercanda di atas air. Hiii.. Secara beruntun setelah dirasanya pas, 3 orang yang paling dekat menunggangi ombak tanggung dan kemudian tercebur di dekat pantai. Namun, yang mengherankan adalah sang senior yang masih berada di posisinya, dan bahkan menjadi lebih jauh dari pantai karena arus laut. 
    Seketika, ia meraih papannya untuk bertelungkup, dan berdiri di atas gelombang yang semakin membesar. Rasanya dengan mudah ia mencoba masuk di dalam gulungan ombak besar itu dan secara sempurna, ia sampai di pantai. Saya pun turut bersorak melihat pemandangan itu. Kami berseri-seri melihat pemandangan keren dari atas tebing itu. Pokoknya, Nganteb memang Ntab deh..

Ombaknya bergulung-gulung broooh





cihuuui



Selasa, 01 Desember 2015

Wonosobo Kota Damai

   Inilah kota yang akan menjadi awal mula dari perjalanan saya berkeliling mengikuti Khadafi dan kawan-kawan menjelaja. Yap, kami mejelajah untuk menemukan herpetofauna yang disponsori oleh proyek USAID. Proyek dengan pembiayaan besar ini akan mengantar kami menjelajah tlatah Jawa dan Sumatra nantinya. 
    Sebelumnya, mereka (tim) telah sampai di Purwekorto, yang saya lewatkan sebagai kota pertama proyek ini. Namun, untuk yang kedua yaitu Wonosobo, mereka berbaik hati untuk mengajak saya. 
Berangkat dari malang dengan sebuah bus, saya kagum dengan perjalanan ini. Sampai di daerah Kedu, Temanggung, bahkan di Wonosobo, di kiri dan kanan adalah hamparan perbukitan luas. Tanaman utamanya adalah tembakau. Komoditi ini sungguh sangat terkenal sebagai tembakau kualitas terbaik pengisi cerutu. Konon, pejabat tinggi dunia juga menghisap tembakau Kedu dan sekitarnya. Saking berkualitasnya, saat kita menggenggam daun tembakau Kedu, ia takkan hancur, namun hanya menggulat seperti bola. Semuanya hanya dikarenakan oleh tingginya kadar nikotin, racun ternikmat yang sering dihisap manusia. 
    Tak ubahnya perjalanan ini seperti kampung halaman saya di Kalibaru : penuh dengan kelokan. Hanya bedanya, tiap kelokan selalu dipenuhi oleh truk dan bus besar yang menunggu giliran untuk lewat. Tentu saja karena medan yang berbukit, maka jalanan berkelok ini juga mengalami naik-turun. Sudah pasti sopir yang lalu di jalanan ini piawai adanya, karena antrian di tiap tanjakan adalah maut bagi orang-orang tanggung yang baru belajar menyetir.
    Kami ditampung oleh ibu dari bupati Wonosobo. Rumahnya khas jawa, dengan ornamen campuran yang sukar dijelaskan : sedikit pernik Belanda pada pintu, lampu dan sekilas gaya Arab pada lesehan luas tempat tamu bisa beristirahat, namun secara keseluruhan, rumah tersebut adalah Joglo Jawa. Dosen kami sekaligus pemimpin proyek ini, Nia, adalah penentu kenapa kami dapat ditampung oleh salah satu orang yang 'berpengaruh' di sini. Tingginya pengaruh ini terbukti dengan banyaknya tamu yang berkunjung baik siang dan malam. Terkadang mereka berbincang di ruang tamu maupun di lesehan. Topik pembicaraan mereka beragam, mulai politik, keluarga, atau agama.  Keluarga ini adalah penganut Islam pesantren Nahdatul Ulama yang taat. Sangat khas, sedikit ortodoks, dan tidak bisa dipungkiri, bahwa memang kehidupan khas pesantren telah mendarah daging di sebagian besar penduduk Pulau Jawa. 
   Kami ditempatkan di sebuah kamar di pojok belakang-kanan rumah ini. Tepat di hadapannya, terdapat beranda keluar yang membuat kami mudah untuk melakukan pengawetan sampel hingga ekstraksi DNA. Tiap pagi, pembantu keluarga ini selalu mengantarkan penganan kecil dan teh manis. Sungguh hal yang membuat kami tidak enak, selain karena kami yang selalu terlambat bangun karena pekerjaan kami yang selalu selesai larut malam. Namun, uniknya, semua tamu dan termasuk kami, selalu dihidangkan makan. Semua jamuan ini terjadi 3 kali sehari. Belakangan kami ketahui bahwa hingga berakhirnya kami menginap di sana, tuan rumah, yaitu sang ibu bupati, tidak mau menerima uang pengganti apa yang telah kami habiskan...

Sua, Sang Pawang Ular
   Alif menceritakan pengalamannya ketika menemui seorang pawang ular yang akan kami sewa untuk menemani kami. Memang telah menjadi kebiasaan kami untuk menempatkan orang lokal dalam tim. Selain sebagai pelindung dari pertanyaan masyarakat, mereka juga berguna sebagai penunjuk jalan dan adat setempat. Ia (Alif) telah menemui seorang yang bernama Sua. Ia berkelakar tentang banner yang ditempel di tembok ruang tamunya. Di sana dikatakan : Sua, Sang Pawang Ular. Saya menjadi penasaran tentang sang pawang tersebut...
   Akhirnya, pada malam hari kami semua dapat bertemu dengan Sua. Ia cukup tinggi dan kekar. Tubuhnya menggambarkan pekerjaan utamanya sebagai kuli bangunan. Rambutnya cepak dan kegemarannya menggunakan kaos ketat, sudah sangat mirip dengan seorang binaraga. Orangnya ramah dan cerdas untuk ukuran orang lokal. Ia sangat berhati-hati dalam memilih ucapan, sehingga rasanya kami dapat mempercayai sebagian besar perkataannya. Bahasanya sangat medhok, khas Ngapak, meskipun tidak 'separah' orang-orang Cilacap. Kemampuannya terbukti saat melakukan handling tangan kosong pada Viper, Sanca, Weling, ataupun Kobra. Satu kejadian yang membuat bergidik adalah ia mengambil telur-telur kobra di dalam karung, meskipun didalamnya terdapat 3 ekor kobra yang terus mendesis-desis, seakan-akan ia dapat menghipnotis mereka. Pengalaman terberat kami bersamanya adalah menjelajahi Curug Winong, salah satu tempat yang diharapkan memberikan kami banyak hasil. Namun, berkali-kali Sua dan menantunya harus meminta maaf karena pada musim kemarau ini, kami tidak mendapatkan banyak hal. Medan di curug ini sangat ekstrem. Tanjakan tidak lagi bisa ditempuh dengan jalan mendaki, namun memanjat dengan berpegang pada akar dan kayu kopi. Suatu hal yang diakui menguras banyak energi.  Kami merasakan bahwa Sua adalah orang yang mudah diajak berbincang. Ia sendiri gemar berkelahi, namun tetap menjaga perdamaian di kampungnya. Tidak banyak kejadian bentrokan di sana, namun sesekali terjadi. Kelompok terminal dikatakan sebagai kelompok yang paling beringas dan ditakuti. Namun di hari normal, mereka seakan tersulap menjadi pedagang, kenek angkot, atau tukang parkir. 
   Ada banyak sampel yang kami dapat, namun rasanya kemarau tahun ini menghalangi kami untuk menemukan 'kualitas' pada sampel yang kami temukan. Bagaimanapun, kami mengingat Wonosobo sebagai kota kecil yang damai, dan Sua adalah guide terbaik yang pernah ada.

Pak Sua

   
Di alun-alun Wonosobo

Minggu, 14 Juni 2015

Korban Revolusi

Saya sangat suka dengan karya Pak Pram yang berjudul Keluarga Gerilja. Karya ini bisa membangun tiang-tiang gambaran Indonesia era jaman perjuangan pasca kemerdekaan. Ada banyak idealisme berkembang tentang kemerdekaan, kesimpansiuran kekuasaan, kegundahan akan kehidupan rakyat kecil yang terhilang, dan dalam semua hal ini, Pak Pram berhasil. Hanya dalam percakapan yang bercirikan panjang-panjang, ada satu hal yang menarik. Terngiang perkataan bahwa seseorang mati bukan karena nasibnya, tapi karena ia dipilih oleh revolusi untuk mati. Ya, revolusi sudah memilih korbannya. Perkataan sederhana, namun membawa dampak bagi jiwa korbannya, terjadi diantara kegelapan malam dengan terang lampu ublik yang berkedip-kedip. Lawan bicaranya hanya melenguh pasrah, karena memang jika revolusi sudah memilih korbannya, maka tak ada yang mampu menolaknya. Apakah ia tertembak, dihukum mati di kayu sula, atau ketika mabuk diceburkan di dalam kali. Sungguh jaman keras.

Terlepas dari penatnya peperangan argumen di pemilu 2014, Joko Widodo akhirnya melenggang menjadi presiden RI. Tindakan awalnya adalah menggaungkan 2 buah kata sakti yang mungkin akan dipegang hingga kini : Revolusi Mental. Artinya ada perubahan besar-besaran yang akan segera terjadi, dan ini untuk mental orang Indonesia. Mungkin sejajar dengan Fidel Castro menggaungkan "pertempuran all out terhadap buta huruf dan kemiskinan" atau ketika Tan Malaka mengungkapkan "pendidikan adalah kunci kemerdekaan", Revolusi Mental juga menjadi kecamuk ketika susunan birokrasi Indonesia disentuh untuk direvolusi. Masa-masa itu, saya ingat betul ketika terjadi penerimaan CPNS 2014-2015. Saya, yang masa itu adalah seorang sukarelawan di TN Meru Betiri, dengan begitu percaya diri mendaftar. Bagi saya, ini adalah kesempatan besar yang akan mengubah hidup saya. Semua kekayaan hayati Indonesia banyak berada di tangan pemerintah, maka ketika saya harus hidup untuk mengolahnya menjadi baik, haruslah kesana tempatnya. Ketika itu, Kementrian Kehutanan 'hanya' membutuhkan orang yang berasal dari kehutanan, pertanian, dan lain-lain, tanpa sedikitpun kesempatan untuk sarjana biologi. Akhirnya, Kementrian Lingkungan Hidup yang masih membuka lowongan untuk sarjana biologi, menjadi pilihan yang saya anggap baik. Bahkan, saya mendaftarkan salah satu pilihan ke Papua, salah satu tempat yang dianggap terpencil, karena kesiapan saya untuk mengabdikan diri.
Namun, gaung revolusi itu nyatanya lebih cepat mendahului langkah saya berjuang untuk hidup dan cita-cita. Kehutanan dan Lingkungan Hidup dijadikan satu, dan proses birokrasi Indonesia yang terkenal lama, membuat saya tergantung seperti di kayu sula. Tidak ada kejelasan pengumuman kelulusan, sedangkan uang untuk kehidupan saya tidak lagi ada (maklum, sukarelawan di Taman Nasional).
Masa-masa yang berat itu saya jalani dengan kepahitan. Saya masih ingat, jika saja saya hidup tanpa menghisap hasil kerja ibuk saya... tentu saya sudah kere. Hutang demi hutang saya lakukan kepada ibuk saya untuk sekedar biaya bensin ke sukamade. Sedangkan untuk keluar dari rumah ini, guna mencari penghidupan, akh... saya lihat muka Ibuk saya tak ada gembiranya. Sulit sekali tegar seperti pahlawan saya, Tan Malaka yang melayang bagai burung-burung kemana ia mau pergi. Lengkaplah sudah ketika pengumuman : saya tak diterima, bahkan di Papua. Alasanya:saya tak memprioritaskan pilihan di Papua. Ah, bullshit. Lagipula, akibat revolusi itu, janji bahwa saya akan segera menerima gaji di bulan januari menjadi hampa...

Saya sedih sejadi-jadinya. Saya sedih karena keterbatasan kesempatan untuk menggapai cita-cita sederhana saya : tidak jauh dari ilmu lingkungan dan pendidikan, hal yang saya bangun idealismenya sejak 4 tahun lalu dengan hati saya sendiri. Sedangkan untuk hidup di Meru Betiri, saya rasa bukan tempat yang tepat. (Mungkin nanti saya ceritakan di lain kesempatan.). Namun apa daya. Pak Pram sudah menggambarkannya dengan kata-kata sederhana: korban revolusi. Tak ada yang mampu menyangkal dan memberontak. Seakan perkataan ini diucapkan di malam yang sama, dengan penerangan lampu ublik yang menyetujui suasana yang sedih hati. Tak ada satupun orang yang mampu menjawab: akan kemanakah saya? Siapa yang harus saya musuhi? Akankah saya bisa menjadi tegar? atau, masihkah saya akan di sini?
Tak ada yang tahu... karena saya pun, korban revolusi. 

Minggu, 10 Mei 2015

Larwo ( Lar e Dowo)

Jadi ceritanya begini...
   Tiga hari lalu, Mas Rohman, salah satu kawan saya di Sukamade, mendapatkan informasi tentang keberadaan burung langka di sekitar blok pantai (seputaran pos Sukamade - red). Informasi tersebut terbungkus rapi dalam sebuah pembicaraan antar pelanggar, yang secara tidak sengaja terdengar oleh beliau. Begitu disadari oleh mereka keberadaan Mas Rohman, yang telah tobat dan bergabung dengan PA, maka secara bergantian mereka tersenyum kecut dan kabur. 
   Informasi tersebut sebenarnya adalah tentang ditemukannya burung Larwo, atau dalam nama indonesia "Murai Batu / Kucica hutan (Copsychus malabaricus). Saya hanya mangap saja mendengar populasi si murai batu ini masih ada. Hingga saat ini, percaya atau tidak, cucak ijo saja saya belum dapat fotonya, hehehe..
     Menanggapi tantangan dari Mas Rohman untuk mencari, maka di hari sabtu pagi, saya ditemani beliau dan Mas Eko mulai jongkok untuk mencari si burung bersuara merdu ini. Pada saat itulah saya menjadi kagum kepada Mas Rohman, sang mantan pelanggar ini. Keahliannya memikat burung kicauan dibuktikan dengan siulannya yang sangat mirip dengan burung aslinya. Saking miripnya, saya malah keheranan dengan kualitas mulutnya yang kualitas kaset. 
    Beliau malah bilang, kalau suaranya belum ada apa-apanya. Masih ada pelanggar juga yang jauh lebih muda dari saya, dan cucut-nya mampu menirukan hampir semua burung kicauan dengan hampir sempurna : cuca ijo, kacer, cuca jenggot, larwo, dll.  Wedian, bisa habis burung-burung di sini tujuh turunan.. Namun, sisi positifnya, burung-burung yang diincar adalah yang laku di pasaran sebagai burung kicauan. Burung-burung lain yang meskipun langka, tidak umum, namun tidak laku, ya tidak akan diambil (meskipun demikian, pelanggaran macam ini tidak bisa dibenarkan :p ). Tiga jam berputar-putar, menunggu, dan menirukan suara si Larwo, ternyata tidak membuahkan hasil. Saya tak merasa hari ini kesialan menghampiri kami. Justru, semakin banyak ilmu yang saya peroleh dari warga lokal semacam Mas Rohman dalam mengamati burung (meskipun dulu ia gunakan untuk menangkap burung, hehe). 
    Sebelum kembali ke pos, ia bercerita tentang banyak sekali burung-burung aneh yang ada di hutan dan tidak ia bawa meskipun tertangkap (dilepas lagi karena tidak laku). Salah satu yang menarik adalah sering sekali menangkap burung berukuran agak besar, sekitar 2 genggaman, dan berjambul. Suaranya sangat jelek, dengan garis putih di sekitar leher. Saya kemudian mengernyitkan kening... mungkinkah ia adalah Tangkar Ongklet (Platylophus galericulatus)? Saya menguji Mas Rohman dengan memintanya untuk menggambar sketsanya, dan sepertinya mirip dengan apa yang saya duga. 
Ah, kiranya musim kering nanti kami bisa berjalan-jalan lebih jauh untuk mencari burung-burung ghoib yang tersimpan di Meru Betiri, seperti Paruh Kodok Jawa atau Anis Merah? wehehe... 

 

 

Minggu, 26 April 2015

Conservation, local politics, and carnivora reserve on his eyes

   Yang membuat hari ini, Jumat, 24 April 2015, terasa istimewa adalah saya berhenti beristirahat dengan seorang kawan baru di pos pantai Sukamade. Awalnya saya merasa biasa saja. Lalu kemudian, obrolan ini makin menyenangkan ketika beliau mengambil batang rokoknya yang kedua. Artinya, minat beliau untuk menemani saya beristirahat kala lelah berjalan-jalan mengamati burung sungguh sangatlah besar. Mungkin, obrolan tentang kehidupan dan pekerjaan barunya bisa saya skip saja. Tapi yang menarik adalah ketika cerita kami beranjak ke isu sensitif dengan percaturan politik lokal dengan konservasi. 
   Saya yakin beliau adalah orang yang tidak terlalu paham dengan konservasi, apalagi tetek bengek politik, blas. Apalagi ia adalah ex-pelanggar yang sudah tobat sejak beberapa tahun lalu. Keluar masuk hutan adalah pekerjaannya. Lagipula, sejak lahirnya ia sudah menghirup udara yang minim polutan khas rimba. Namun menariknya, ia mencintai dunia konservasi dengan gaya dan bahasanya sendiri. 
    Banyak omongan nggedabrus tentang permasalahan yang membalut taman nasional ini, salah satu topik yang menarik saat itu adalah tentang macan. Ia bercerita tentang banyaknya pemburu-pemburu macan yang datang dari utara (jember) bertahun-tahun lalu, menjajah kawasan PA, membunuh dan mengambil kulitnya yang berharga itu demi pundi-pundi rupiah. Sedangkan dalam sejarah Taman Nasional Meru Betiri, tidak pernah sedikitpun terpotret bentuk dan rupa macan itu. Meskipun jutaan rupiah digelontorkan dan jerih payah orang-orang lapang demi sebuah foto, namun tiap kegiatan harus diakhiri dengan foto-foto 'gagal' mendapatkan buruan utama : karnivora besar. 
    Lalu, apakah sudah benar-benar punah? Tidak... beliau menjawabnya dengan pasti. Salah satu syarat untuk menemukan karnivora besar ini adalah : musim dan tempat yang tepat. Tidak semua tempat dijelajahi oleh macan katanya. Hanya tempat tertentu yang dijadikan tempat berkumpul, semacam party lah. Ini pun ditunjang dengan musim yang tepat, yaitu saat kemarau dan... duren! Nah, yang terakhir ini adalah cerita yang sudah saya dengar dari beberapa orang. Tapi, saya masih gagal untuk menghubungkan antara buah duren dengan keberadaan macan. Kata para penduduk lokal, macan gemar makan duren saat duren-duren berjatuhan. Saya tidak ingin mempercayainya dengan pasti. Mungkin jika duren mengundang hewan-hewan herbivora (sekaligus mangsa bagi macan) datang, maka mungkin itu lebih masuk di nalar. 
Lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan krusial dari mulut polosnya meluncur: "kalau begitu, kenapa kita tidak memasang kamera trap atau nyanggong disana?"
    Nah, ternyata, kamera dan kamera trap adalah inventaris yang dicap 'mahal' oleh banyak instansi. Penggunaannya juga harus sesuai dengan tata pranata - adat istiadat birokrasi. Artinya, harus ada jaminan agar barang itu tidak rusak atau hilang. Sebenarnya, rusak atau hilang saat bertugas itu biasa saja. Lha wong namanya usaha, ya toh? Yah, tapi namanya barang titipan negara. Banyak orang merasa rieweuh jika barang tersebut ada apa-apa, mulai dari pertanggungjawaban hingga... penyidikan! 
    Bahkan, jika permasalahan pertama itu berhasil diatasi, maka dana adalah permasalahan kuat yang menghambat, dan bisa dikatakan kalau financial is the most powerful problem among government institution. Sudah menjadi tradisi jika pemerintah tidak terlalu peduli dengan perkembangan sains ala lapangan ini. Buktinya adalah dana yang datang tertetes-tetes, membuat pencairan alokasi dana selalu mundur dari jadwal dimulainya kegiatan. Akibatnya, musim-musim macan sudah berlalu, tapi ketika dana itu datang telat, maka kegiatan pun harus dilakukan, seadanya. Akhirnya, adalah tak ada yang lebih sedih jika saya mengatakan kegiatan tersebut mubazir, sia-sia. 
    Permasalahan ketiga adalah semangat. Saya yakin semangat melakukan kegiatan lapang masih membara diantara para rimbawan. Yang saya belum yakin, adalah semangat gotong royong, bersatu, saling membantu tanpa pamrih, dan memikirkan sebuah 'keluarga' dibandingkan problematika personal. Permasalahan terakhir ini ibarat kanker, yang disadari atau tidak, telah menjalar dan memecah belah kesatuan. Ketika tantangan dari luar harus dihadapi bersama, maka kanker jenis ini telah jauh menggerogoti dari dalam dan lambat laun sebuah organisasi akan mati dibuatnya. Saya rasa, sudah banyak contoh tentang ini.

Akhirnya, kami hanya bisa memandang gunung-gunung megah meghijau di blok pantai. Kabut tipis menghilang perlahan ketika sinar mentari mulai datang. Kami hanya berharap jika salah satu macan, atau bahkan harimau jawa bisa lolos dari jerat stling pemburu. Bahkan dalam benak kami, besar sebuah harapan agar mereka dapat menemukan pasangannya dan menghasilkan keturunan yang lestari. 
Masalah, biarlah masalah. Ungkapan tentang masalah adalah suatu kegemasan berpikir yang mendobrak batasan-batasan yang dibuat manusia. Tidak perlu takut dikritisi, karena pengkritik harus masuk ke tempat sampah dan pengambil kebijakan selalu benar. Tidak pernah ada yang salah dalam setiap mbuletnya permasalahan itu, karena yang salah bukan kita, tetapi Tuhan, ya toh?

Minggu, 05 April 2015

Duet karya 'Incredible'

Wow, akhirnya saya nulis lagi!
Setelah sekian lama tak disentuh, blog ini rasanya seperti mati suri. Banyak sarang laba-laba di bagian 'compose' dan jalan menuju tombol 'publish' dipenuhi semak-semak. 

Anyway, malam ini saya menceritakan sebuah lompatan besar dari hasil pekerjaan saya dan kawan-kawan di Taman Nasional Meru Betiri. Yapp, ada dua buah buku yang saya 'karyakan' untuk menunjang hasil ndedepi (nongkrongi) burung selama berbulan-bulan. Terus terang saja, sebuah karya baru telah lahir 2 minggu lalu dan di bulan Desember telah rampung sebuah gawe besar yang menceritakan tentang burung-burung indah di Meru Betiri. Mari langsung kita ce ki dot:

1.  Sayap-sayap Meru Betiri
     Didalamnya terdapat 110 jenis burung yang terjepret di Meru Betiri. Belakangan ini, terkonfirmasi foto 2 jenis burung yang belum sempat dimasukkan, yaitu Kokokan Laut dan Kepudang Hutan. Selain species sheet, ada sebuah sisipan artikel tentang temuan keren (bagi saya sih keren keliwat-liwat), yaitu sebuah sarang Elang Jawa beserta anaknya.
     Saya tak ingin membicarakan gaya desain, yang sudah sekuat tenaga keluar dari pengaruh buku-buku lain. Selain itu, dengan isi yang lebih sederhana dan berbahasa Indonesia, buku ini berkesan sebagai salam kenal dari burung-burung Meru Betiri kepada pembacanya. Yang menarik adalah, buku ini menjadi korban dari panasnya politik tahun 2014. Akibat penataan ulang kementrian, akhirnya belum ada anggaran yang pas untuk buku ini. Lalu, dari akumulasi penyebab-penyebab yang lain, buku ini masih 'berdiam diri' selama berbulan-bulan. Kejadian ini sepertinya menjadi bukti bahwa buku dalam bentuk digital menjadi alternatif karya yang mungkin bukan satu-satunya, tapi lebih masuk akal!
Seandainya buku ini terwujud, mungkin rasanya adalah ketika seperti sampeyan pegang gelas es campur, dan es batunya diguyur lewat kepala. Adem pooll... Semoga saja bisa tahun ini terwujud.



2. Animals of Sukamade
 Kebutuhan wisata berbasis internasional yang berkembang di Sukamade (salah satu resort yang banyak dikunjungi wisman) menjadi awal dicetuskannya ide untuk membuat buku ini. Keputusan pertama adalah untuk membuat semacam booklet. Namun, ide ini harus hilang karena isi di dalamnya melampaui standar umum sebuah booklet. Akhirnya jadilah sebuah buku kecil berukuran B5 yang didesain sangat sederhana. Bahkan terkesan 'putihan' dan 'garingan'. Gambar lebih banyak mendominasi. Hal lain yang tercantum adalah nama spesies, lokasi tempat temuan, dan beberapa informasi terkait satwa-satwa yang dianggap unik. Tentunya, atas bantuan kaka' Swasti, buku ini bisa keminggris, sesuai dengan kebutuhan Sukamade yang menjadi destinasi internasional.
Sebagai penyokong ekowisata alternatif non penyu, sepertinya buku kecil ini layak mendapatkan perhatian. Namun lagi-lagi masalah pendanaan, membuat buku ini hanya sampai kepada cetak sampel. Awalnya telah ditemukan wacana sebuah pendanaan mandiri, dan lagi-lagi suhu 'politik' telah menjadi momok bagi kemajuan ilmu pengetahuan (sekaligus ekowisata).


 Nah sodara-sodara yang berkunjung di halaman blog ini, demikianlah dua buah karya yang menunggu dieksekusi. Saya hanya bisa menyebut-nyebut kedua hal ini di dalam doa, karena sekarang hanya dengan bantuan Tuhan segala hal bisa lancar, termasuk segala karya kita, ya toh?
Tetap semangat broh..


Dunia Bawah Kaki

Malam ini saya ingin ngrasani mahkluk kecil bersayap... Bukan burung, tapi terlalu besar untuk lalat, atau bahkan tengu. Namanya adalah kupu-kupu

Yapp, di tempat saya makarya, mereka tidak terlalu banyak jenisnya. Jika saya boleh berbagi dengan pengalaman saya yang cupet ini, kupu-kupu di Meru Betiri tidak sekaya yang ada di pantai kondang merak atau coban rais, alang. Mungkin pilihannya ada 2 : saya yang terlalu ruwet menengadah mencari burung, atau memang benar, jenisnya sangat sedikit? Hm, entahlah, yang jelas, apakah Meru Betiri yang kaya dengan hutan-hutan rungkut, lebat, membuat jenis kupu-kupu sangat miskin, sama seperti di Cangar, Tahura R.Soeryo.
Meskipun demikian, menarik juga untuk melihat-lihat dunia 'bawah kaki' Meru Betiri ini.

Mau yang tertutup, atau telanjang?
Di sini, di Meru Betiri, anda lebih sering melihat mahkluk cantik ini di bumi yang telah 'ditelanjangi' manusia. Rerumputan perkebunan, tepian jalan, atau bahkan di tengah jalan. Rupanya, kupu-kupu sangat tertarik karena tempat yang terbuka memungkinkan semak-semak berbunga untuk tumbuh, seperti Lantana camara. Selain itu, lumpur dan batuan basah juga menarik perhatian kupu-kupu karena menyediakan mineral bagi mereka (disebut mud puddling). Oleh karena itu, saat kita melewati jalanan berlumpur di siang terik, sering kita melihat gerombolan kupu-kupu. Umumnya, kupu-kupu yang suka tempat 'telanjang' adalah mereka yang berwarna cerah. Yah, terkadang memang apes, beberapa juga gepeng karena terlindas ban motor, hehe..
Graphium sarpedon sedang di pinggir kali
Lalu yang tertutup? Nah, kupu-kupu yang gemar hidup di kawasan tertutup ini biasanya jarang bergerombol. Warnanya pun kusam, tak menarik. Kegemarannya pun njijiki, yaitu menghisap mineral dari buah-buahan busuk atau bangkai hewan. Namun jangan salah, sebagian besar dari mereka adalah penghuni julukan langka, atau paling tidak jarang terlihat. Di sinilah terlihat ketergantungan beberapa jenis kupu-kupu terhadap tutupan lahan, atau kalau dengan bahasa sangar, kelestarian hutan. Semakin lebat hutan, mungkin jenis di dalamnya sedikit, tapi 'berkualitas' tinggi :D

Bangun molor? Wah, Cocok!
Sampeyan tukang molor? nah, kabar gembira, kupu-kupu berbeda dari burung. Jika burung harus ditunggu di pagi hari sekali, kupu-kupu harus menunggu sinar matahari yang cukup untuk menghangatkan badan mereka. Pasalnya, mereka sangat tergantung pada sinar matahari yang mampu merangsang syaraf sayap mereka untuk aktif. Itulah mengapa kita jarang melihat kupu-kupu beraktivitas saat mendung, apalagi hujan. Nah, waktu yang cocok adalah sekitar jam 8 atau 9 saat matahari baru sepenggalah, hingga pukul 11 siang. Anda masih molor? Di situ saya terkadang sedih melihat nasib anda...
Eurema hecabe , nampak bagian underside-nya karena paparan sinar
Sambil mengusap iler yang super bau, mari kita pergi ke jalanan tanah atau yang kaya dengan semak berbunga. Ingat, hunting anda sangat tergantung dengan cuaca, jadi berdoalah agar cuaca benar-benar terik saat itu. Musim yang paling tepat adalah penghujung penghujan, dimana banyak hujan yang membuat genangan dan melarutkan mineral di malam hari, namun di pagi harinya, sinar matahari sedikit demi sedikit menguapkan air dan meninggalkan mineral di permukaan tanah. Sudah pasti, banyak kupu-kupu terlarut dalam pesta mineral atau nektar saat itu. Atau di lain kasus, saat musim kemarau, banyak kupu-kupu melakukan mud-puddling di tepian sungai kecil yang berlumpur.

Sabar...
Jika anda berkeinginan untuk mengetahui nama mereka, maka sabar adalah kuncinya. Ada dua pilihan untuk 'berkenalan', yaitu dengan menangkap atau memotretnya. Nah, seperti saya yang tukang poto amatir, memperoleh foto mereka adalah hal yang gampang-gampang susah. Susahnya adalah karena mereka termasuk serangga yang cerdas. Getaran akibat langkah kaki cukup membuat mereka berterbangan dan susah diam kembali. Selain itu, beberapa spesies hanya dapat dibedakan jika kita mengetahui pola pada posisi underside (saat menutup) dan upperside (saat membuka). Nah, kebayang kan bagaimana mensiasati itu semua dengan pose shoot merayap, berjongkok, tiarap, sembari berjemur dan dilihat buruh penyadap karet? :v

Nah, ini adalah beberapa jepretan yang saya koleksi di Meru Betiri:

Eurema blanda
Saletara liberia
Graphium antiphates



Appias albina

Cepora iudith

Sabtu, 13 Desember 2014

Merayakan Cinta Bersama Sang Rimba (III) - Tamat


   Tidak ada yang lebih nyesek bagi saya, ketika harus dengan sangat terpaksa, menggunakan kanca-kredit. Yup, Kanca kredit adalah keterpaksaan tingkat tinggi untuk memohon seorang kawan meminjami kita. Dalam kasus di lapang, ini bukan masalah uang. Ini adalah masalah kebutuhan yang pada saat itu, tidak terbeli dengan saya karena... saya tak lagi memiliki uang cukup. Jadi, para kanca-kredit membelikannya untuk saya (Jane podo wae yo, hahaha).
   Ketika saya di Bandealit, saya men-dompleng kegiatan pemasangan kamera trap. Sebagai pengalaaman pertama, saya patuhi setiap nasehat dari para suhu, terutama mengenai perlengkapan pribadi. Sepatu siap, namun ternyata harus menggunakan kaus kaki. Dari tabiat mereka, para senior, yang berangasan ketika hidup di dunia normal, lalu harus menggunakan kaus kaki seperti anak SD di saat masuk hutan, tentu saya menyadari kaus kaki adalah kebutuhan luar biasa. Lalu uang darimana? Saya ingat betul, 20 ribu di tas untuk jaga-jaga perjalanan pulang nanti. Dan saat itulah, tanpa dinyana, kaus kaki panjang baru berwarna hitam putih menjadi milik saya akibat kanca kredit.
   Masih di dunia Bandealit, ketika harus makan nasi bungkus, dan uang saya tinggal 5 ribu rupiah, maka nasi bungkus itu tetap saya konsumsi akibat kanca kredit. Belum lagi atas kebaikan resort Bandealit yang kapan pun ketika saya di sana, tidak pernah mengurangi hak makan bagi saya. Beras, sayur, tempe, gula, kopi, teh, dibeli untuk makan di sana. Benar-benar bagaikan sebuah keluarga. Bahkan saya teringat sebuah ucapan Bapak Tua penghuni resort Bandealit : “di sini kita semua tidak boleh lapar dan haus. Jika nasi habis, ayo masak lagi”. Tidak pernah kurang kebutuhan hidup saya di sana... Paling-paling saya hanya bisa membalasnya dengan membeli bawang atau obat nyamuk di warung. Itu pun kejadian yang sangat langka.
   Lain lagi di Sukamade, saya benar-benar menaruh hormat dengan para punggawa sukamade. Mungkin satu-satunya hal yang membuat saya ‘kurang bebas’ adalah masalah penyu dan wisata. Yupp, siapapun, yang hadir di Sukamade, akan bekerja sebagai penyuersss dan pengelola wisata. Tidak masalah memang, karena itu juga merupakan kesejahteraan. Namun, berapapun manusia di Sukamade tak akan pernah cukup untuk mengelola wisata di sana (rasanya, semoga saya salah, hehe).
   Di sana, selain kebutuhan makan dll tercukupi, saya bersyukur karena kebaikan kawan-kawan, saya mendapatkan pendapatan pertama (hehe) sebagai guide atau penyueerss yang membantu wisata pengamatan penyu di malam hari. Tidak ada yang lebih mengharukan daripada ini, karena kebutuhan dana perawatan kamera yang mengalami kerusakan di Bandealit (sampai 2 kali), akhirnya terselesaikan. Selain itu, saya juga bisa sedikit menabung, di samping digunakan untuk membeli buku, bensin atau perawatan motor.
   Saya tentu mengingat akan jasa-jasa baik ketika ada yang mengajak saya makan di warung, membelikan saya onderdil motor, memperbaiki kerusakan motor, atau sekedar memberikan buah-buahan. Bahkan yang lebih trenyuh, adalah kondisi kita yang sama-sama kere, hehe.. Tapi sejujurnya, anda kaya dalam berkah..

Tak terkira pertolongan Tuhan melalui tangan-tangan sampeyan kepada saya setahun ini. Dari mulai saya celingukan mengais-ngais foto burung, sampai jadilah sebuah tulisan tentang burung-burung di Meru Betiri. Dari nama burung lokal, menjadi 189 jenis burung eksotis yang telah memiliki standar IOC World Bird List versi 12. Baik nanti, ketika saya ada di Taman Nasional ini atau tidak, dalam pekerjaan apa pun, sungguh tak terlupa jasa kanca kredit ini. 



Merayakan Cinta Bersama Sang Rimba (II)



   Bulan Maret, siapa yang mengira akhirnya status saya akhirnya dipertanyakan?Ya, status tentang ke-volunteer-an saya dipertanyakan. Mungkin seperti saya bilang, saya dengan asyiknya bludas-bludus seperti masak kandang kebo saja. Bagi sebagian orang yang percaya kesaktian tata-pranata perijinan, tentunya ini adalah dosa besar. Begitu saya masuk ke SPTN I Sarongan, seseorang bertanya: 

“Kamu ada perlu apa? Ada kegiatan apa?”

   Sebisa mungkin saya menjelaskan, siapa, dan seperti apa status saya. Juga saya berikan penjelasan bahwa saya tidak memegang surat apapun yang dijanjikan oleh pihak balai hingga saat itu. Namun, rasa tidak puas terpancar dari wajahnya yang sudah berusia. Sekali lagi, beliau, dan mungkin teman-teman lain yang menanyakan di lapang tidak salah. Yang salah adalah... siapa?
Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak lagi kembali ke SPTN tersebut tanpa ijin tertulis, meskipun itu adalah dengan ijin lesan dari kepala balai sekalipun. Dalam hati, saya judreg bukan main. Di satu sisi, adakah orang bodo, sebodo-bodonya orang itu, yang baru saja selesai studinya, meninggalkan status fresh graduate-nya, untuk membantu sebuah taman nasional berluaskan 58.000 ha, yang data reptil saja hanya 4 jenis? Dan data burung sudah usang tahunan tidak ter-update, bahkan beberapa nama-nama ajaib macam ‘Larwo’ dimasukkan dalam super-database tersebut? Hal yang juga disinggung-singgung oleh dosen orang bodo itu, menyindir mentalitas idealisme buta yang dipakainya. Sebisanya orang bodo itu mau membantu tanpa dibayar. Itu saja akhirnya harus ditolak di lapang. Kesal bukan main rasanya...
   Namun, intinya bukan di sana, saudara. Ternyata Tuhan memakai kejadian ini untuk mulai memperhatikan ‘legalitas’ sebuah hitam-di-atas-putih. Kejadian ini mengajari saya untuk tidak membenci sesuatu berlebihan. Saya sangat membenci birokrasi, itu yang membuat saya tidak sabar menunggu surat keterangan volunteer tersebut, dan melaju ke Bandealit di tahun 2013 lalu. Namun, kebencian saya menumpuk menjadi sikap apatis terhadap surat itu, hingga kejadian itu akhirnya terjadi.
   Di Balai, tak ada suatu halangan yang berarti. Surat itu ternyata tidak diproses selama ini karena... lupa. Namun, dengan penuh ungkapan maaf, pihak balai (dalam hal ini, KSBTU), membuatkannya dalam hitungan 5 menit. (Serius, saya melihat jam pada saat itu.. hehe). Saya maklum, beliau maklum, dan semua keluarga TNMB maklum. Beratnya permasalahan di sebuah Taman Nasional membuatnya tidak mungkin untuk mengingat segalanya. Lagipula, beliau juga berkatta seharusnya terdapat semacam pemberitahuan khusus ke resort yang saya tuju (hal yang sama juga diucapkan oleh Kabalai sebulan lalu, meskipun hingga sekarang surat itu tak pernah ada, hehe). Saya pikir, besarnya perhatian dari pihak TN untuk saling mendengar di hari itu adalah sebuah harapan akan dimulainya maha-karya yang baru.
   Dalam hati, saya teringat akan apa yang saya doakan di Bandealit, dan tanah-tanah yang saya pijak. Sikap trenyuh akan kondisi sato-kewan dan tetanduran yang makin rusak di bumi nusantara ini, siapa yang dapat menahan? Tidak mungkin saya hidup untuk memperkaya diri sesuai kebutuhan hidup yang sementara ini. Karena bagi saya, tempat saya bukan di Bank atau di dalam kantor asisten yang ber-ac. Tempat saya adalah serasah daun winong serta tumpukan kotoran rusa. Terbersit sebuah keinginan untuk bekerja sebaik-baiknya, apa yang saya bisa untuk Taman Nasional ini. Saya ingin mengabaikan segala kecewa karena tidak dipenuhinya hasrat dan hak karena pekerjaan ini, tetapi sebagai manusia, sesekali saya tak dapat menolaknya. Yang saya bisa adalah terus berbenah, dan bekerja lebih baik lagi, dan lagi.

Diiringi mendung desember,
titi-wancine jawah... mengingat akan pengembaraan di maha-karya Gustine tiyang pracaya..