Hai blogspot..
setelah 1 tahun tidak mencoret-coret, banyak perubahan yang terjadi. Tapi karena kata mas Nurdin : "menulis menunda kiamat", jadi saya merasa memiliki kewajiban moral untuk menulis sesuatu di sini.
Hari ini, ketika menoleh ke belakang, saya ternyata telah memiliki beberapa artikel, buku, atau tulisan lain yang saya aupload ke research gate. Saya pikir baik juga berkomunikasi tentang kemajuan pengetahuan terhadap manusia-manusia di sekitar saya. barangkali ada banyak ilmu yang bisa didapatkan. Kelebihan lainnya adalah saya masih bisa berbagi, karena memang uang saya tak punya terlalu banyak. Mudah-mudahan, apa yang saya tulis juga menjadi pemberian yang berguna bagi yang membutuhkan, hehehe...
https://www.researchgate.net/profile/Agung_Kurnianto
Sehari-hari saya habiskan di lab. Biodiversitas hewan, mulai membuka pintu lab sekitar pukul 8.00, kemudian nyapu, mengecek berkas tugas sisa kemarin, dan kembali melihat kerjaan utama tentang jurnal, baik punya saya atau pak nia. Pengerjaan jurnal dimulai dari analisis hingga mencari referensi yang asli-mumet.
Saya pikir telah berada lama dalam hijrah kejiwaan, dari sesorang yang hidup diantara kawasan rural, menuju kehidupan urban yang monoton. Meskipun demikian, paling tidak, di sekeliling saya adalah manusia-manusia yang terbuka dan tidak menista ilmu pengetahuan.
Kiranya Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita semua, dan kita pun layak untuk diberkati karena kita berlarian sekuatnya untuk 'menyentuh' terang itu.
Kluthusan adalah bahasa jawa yang digunakan untuk mengembara, bermain, atau mbolang. Jadi, mari kita mulai kluthusan.. :D
the biodoversity
Selasa, 16 Mei 2017
Jumat, 27 Mei 2016
Buku Burung Meru Betiri
Jadi, ketika tulisan ini turun bagai ilham, saya sudah dua kali buang air besar, yang mungkin menjadi peringatan agar saya segera membagikan buku burung-burung Meru Betiri (meskipun ngga nyambung juga sih). Sebenarnya, saya merasa kurang enak karena sudah pasti teman-teman birder menagih buku ini, dan bahkan penulisnya sendiri hanya diberi dua buah : satu saya miliki pribadi sebagai kenang-kenangan, satu saya sumbangkan untuk lab biodiversitas, hahahaha... can you imagine that? Tapi, baiklah.. apapun itu, buku ini terlahir menjadi sebuah kebanggaan dan kerja keras selama kurang lebih 2 tahun. Buku ini masih belum sempurna, karena belum semua resort dijelajahi secara penuh, apalagi resort yang sangat mencil dan penuh misteri.Dari sisi penulisan, editing bolak-balik, hampir semuanya dikerjakan secara tunggal putra. Jadi, ketika deadline untuk mencetak muncul, sangat sedikit waktu yang dimiliki untuk melakukan pengecekan referensi atau malah edit layout (hoek cuih.., hahaha)
Ketika buku ini tercetak, bahkan saya sudah tidak lagi bergabung dengan Meru Betiri. Sedih memang, tapi yah memang itu jalan yang saya pilih, hehehe. Tapi saya tidak khawatir, hati untuk mencintai burung sedapat mungkin telah saya tularkan ke saudara-saudara saya, termasuk mas Eko dan mas Puji. Mas Eko makin sering jalan-jalan dengan binokuler dan buku field guide-nya. Kang Puji harus kerepotan dengan kamera yang selalu rusak, karena terlalu banyak dia pakai untuk njepreti burung atau sekedar monyet kawin. Mungkin, hanya doa yang kini bisa saya bantu, agar mereka dan kawan-kawan lain terus sehat dan selalu mencintai alam. Penambahan data, atau bahkan munculnya buku-buku satwa dan tanaman yang baru pastinya hanya menunggu waktu saja, dan kiranya buku ini bisa menambah wawasan semua pembaca tentang taman nasional indah di selatan Jawa timur ini.
salam,
silahkan download di sini
Kamis, 28 Januari 2016
Ntab deh...
Berulangnya kisah dua bioder kelas 'kuampret' mengawali perjalanan perdana kami. Adalah saya dan sesosok Faldy yang pernah menjelajah pantai-pantai Malang Selatan di era tahun 2013 silam. Kini, setelah saya sudah eks-pekerja dan dia masih tercatat dalam akta pegawai Brawijaya University, kami masih bersahabat untuk menaklukkan Malang Raya (Malang, Batu, dan Kabupaten Malang).
Sebenarnya, tujuan kami tak jauh beda dengan petualangan dua tahun lalu, yakni mencari kupu-kupu. Serangga unik nan perasa ini memang (menurut kami) lebih banyak di daerah Malang Selatan, yang notabene adalah dataran rendah. Apalagi jenisnya unik-unik. Sebut saja si Rohana nakula langka yang ditemui di beberapa lokasi rahasia (hanya kami dan pihak CIA yang tahu, wewewe).
Tujuan kami jelas setelah kami membuka Google earth : Pantai Ngantep. Lokasinya adalah di dekat Balekambang. Yah, bisa dibilang ia adalah tetangganya, sekaligus tetangga sebelah barat Pantai Sendang Biru. Namun, sepertinya ia kalah terkenal dengan kedua pantai itu, termasuk kalah terkenal dengan Kondang Merak. Tapi tidak apa-apa. Kami mengaku kalau kami adalah tipe manusia najis tongsis dan sekali lagi, tujuan kami sebenarnya cuma mencari kupu-kupu.
Perjalanannya seperti biasa khas Kabupaten Malang : dominasi perkebunan, lahan PERHUTANI, desa-desa kecil, sawah, dan semuanya nampak sepiiii tapi tiba-tiba muncul keramaian seperti kota kecamatan atau pasar tradisional. Berpuluh-puluh kilometer dilalui oleh motor genjress saya yang bermerk win 100 dengan tabah. Meskipun tak lagi muda, motor ini setia adanya menemani tuannya menembus belantara dan jalanan selama 3 tahun. Karena tenang dan sangat kontras dengan hiruk pikuk kota Malang, kami sempat bepikir untuk membeli tanah di sini saja, hehe...
Sekitar 2,5 jam, kami sampai di pertigaan, dimana Pantai Balekambang arah lurus, Kondang Merak Kanan, dan Ngantep ke arah kiri. Sepertinya tidak ada petunjuk resmi di pertigaan itu. Kami hanya berpedoman pada Google Earth dan Google Map yang berbaik hati menemani kami. Rupa-rupanya, sangat berbeda kondisi daerah itu sekarang. Pembangunan Jalur Lintas Selatan (Jalur Lintas Selatan) telah merubah sebagian rupa dari daerah dataran rendah itu. Bukit dan gunung dibelah menyisakan pemandangan tebing-tebing tanah dan batu berwarna coklat kuning. Kami melaju di jalanan berlajur dua yang beraspal halus, tetapi masih dalam tahap pengerjaan di sana-sini. Jembatan-jembatan dibangun dan di sana-sini kami temui tiang-tiang beton untuk kabel listrik terbujur di tepian jalan. Sepi, dan minim penerangan. Beberapa kampung yang juga belum nampak jaringan kabel listrik mulai bermunculan. Saya membayangkan pekerjaan megaproyek ini bila ditangani oleh Pemerintah Kolonial masa lalu. Bisa-bisa sekali lagi mencabut nyawa ribuan rakyat (tapi kalau sekarang yang dicabut duitnya, hehe).
Baiklah, singkat cerita, kami sampai juga di depan loket tiket. Gerbang Pantai Ngantep masih dalam tahap pembangunan oleh warga desa. Sepertinya, warga desa juga mengelola tiket masuk dan juga beberapa fasilitas di sana. Setelah itu, 20 meter berikutnya kami diberhentikan oleh 3 orang pegawai PERHUTANI di loket yang berbeda. Mereka memberi kami tiket sekaligus tiket parkir. Entah apa yang terjadi sehingga dua loket itu tak disatukan meski berbeda pengelolaan.
Well, fasilitas di sini lebih menarik sepertinya dibandingkan Kondang Merak. Pantainya berupa pasir yang sedikit cokelat dan cukup halus. Pagar-pagar, tempat sampah, dan kursi tertata rapi diantara pepohonan Bogem di tepi pantai. Pemandanganya? Warbiyasak... Udaranya bersih, dan yang penting pada saat itu masih minim alayers yang datang. Pantai Ngantep sama dengan pantai-pantai di jawa selatan, yaitu adanya larangan mandi di pantai dimana-mana. Salah satunya tertempel dalam spanduk merah berukuran besar di sebelah barat pantai. Sepertinya, penempel spanduk ini sengaja merusak background foto alayers nantinya, hehehe.. Tapi peduli amat? Kira-kira beberapa waktu yang lalu ada wisatawan lokal yang hanyut di pantai Bajulmati yang berada di sebelah timur pantai Ngantep. Jasadnya sendiri belum ditemukan, dan di depan loket terdapat pengumuman yang mungkin membuat wisatawan berpikir lagi untuk mandi. Isinya: "jika menemukan jasad korban tewas tenggelam dari Pantai Bajulmati, silahkan hubungi (nomor telpon desa dan tim SAR)." Mungkin oleh karena itu, petugas dan warga membuat papan dan spanduk peringatan berukuran besar agar jangan lagi ada wisatawan yang 'uji nyali'.
Kami menikmati kurang lebih satu jam di pantai yang mulai terik tersebut dan kemudian bergerak ke arah timur. Sebuah muara yang buntu dan dipenuhi riparian ada di sana. Pastinya, muara itu akan terhubung dengan laut jika musim penghujan. Di tepian sungai terdapat puluhan Appias albina sedang asyik menghisap mineral lumpur. Saat kami melangkah menyeberangi muara, mereka terbang membuat kami seakan berada di gulungan mahkluk bersayap ini, hehe. Tidak banyak kupu menarik di sini. Kami pun tidak terlalu kecewa karena pemandangan pantai ini bagus, hehe.
Kami penasaran dengan tebing di sebelah timur ini. Saya sendiri menduga bahwa pemandangan di sana lebih keren. Nah, setelah mengikuti sebuah jalan setapak yang cukup menanjak, akhirnya kami sampai pada tanah lapang yang sedikit menjorok ke laut. Dari sini terlihat Pantai Ngantep secara keseluruhan. Di sebelah timur, terdapat gugusan pantai kecil dan tebing batu. Di sebelah barat ada hamparan pasir dan juga tebing di sebelah barat. Secara samar-samar kami melihat pantai lain di barat, mungkin itu adalah Balekambang.
Ada empat orang pemuda yang tiba-tiba berenang di atas papan selancar sambil bertelanjang dada. Saya yang bukan manusia ikan menjadi gentar ketika melihat mereka terapung bak titik kecil di tengah palung samudra. Salah satunya yang mungkin lebih senior terus berenang maju, mungkin hingga 100 meter jaraknya dari pantai. Mereka terus menunggu ombak-ombak besar yang berdatangan sambil bercanda di atas air. Hiii.. Secara beruntun setelah dirasanya pas, 3 orang yang paling dekat menunggangi ombak tanggung dan kemudian tercebur di dekat pantai. Namun, yang mengherankan adalah sang senior yang masih berada di posisinya, dan bahkan menjadi lebih jauh dari pantai karena arus laut.
Seketika, ia meraih papannya untuk bertelungkup, dan berdiri di atas gelombang yang semakin membesar. Rasanya dengan mudah ia mencoba masuk di dalam gulungan ombak besar itu dan secara sempurna, ia sampai di pantai. Saya pun turut bersorak melihat pemandangan itu. Kami berseri-seri melihat pemandangan keren dari atas tebing itu. Pokoknya, Nganteb memang Ntab deh..
Selasa, 01 Desember 2015
Wonosobo Kota Damai
Inilah kota yang akan menjadi awal mula dari perjalanan saya berkeliling mengikuti Khadafi dan kawan-kawan menjelaja. Yap, kami mejelajah untuk menemukan herpetofauna yang disponsori oleh proyek USAID. Proyek dengan pembiayaan besar ini akan mengantar kami menjelajah tlatah Jawa dan Sumatra nantinya.
Sebelumnya, mereka (tim) telah sampai di Purwekorto, yang saya lewatkan sebagai kota pertama proyek ini. Namun, untuk yang kedua yaitu Wonosobo, mereka berbaik hati untuk mengajak saya.
Berangkat dari malang dengan sebuah bus, saya kagum dengan perjalanan ini. Sampai di daerah Kedu, Temanggung, bahkan di Wonosobo, di kiri dan kanan adalah hamparan perbukitan luas. Tanaman utamanya adalah tembakau. Komoditi ini sungguh sangat terkenal sebagai tembakau kualitas terbaik pengisi cerutu. Konon, pejabat tinggi dunia juga menghisap tembakau Kedu dan sekitarnya. Saking berkualitasnya, saat kita menggenggam daun tembakau Kedu, ia takkan hancur, namun hanya menggulat seperti bola. Semuanya hanya dikarenakan oleh tingginya kadar nikotin, racun ternikmat yang sering dihisap manusia.
Tak ubahnya perjalanan ini seperti kampung halaman saya di Kalibaru : penuh dengan kelokan. Hanya bedanya, tiap kelokan selalu dipenuhi oleh truk dan bus besar yang menunggu giliran untuk lewat. Tentu saja karena medan yang berbukit, maka jalanan berkelok ini juga mengalami naik-turun. Sudah pasti sopir yang lalu di jalanan ini piawai adanya, karena antrian di tiap tanjakan adalah maut bagi orang-orang tanggung yang baru belajar menyetir.
Kami ditampung oleh ibu dari bupati Wonosobo. Rumahnya khas jawa, dengan ornamen campuran yang sukar dijelaskan : sedikit pernik Belanda pada pintu, lampu dan sekilas gaya Arab pada lesehan luas tempat tamu bisa beristirahat, namun secara keseluruhan, rumah tersebut adalah Joglo Jawa. Dosen kami sekaligus pemimpin proyek ini, Nia, adalah penentu kenapa kami dapat ditampung oleh salah satu orang yang 'berpengaruh' di sini. Tingginya pengaruh ini terbukti dengan banyaknya tamu yang berkunjung baik siang dan malam. Terkadang mereka berbincang di ruang tamu maupun di lesehan. Topik pembicaraan mereka beragam, mulai politik, keluarga, atau agama. Keluarga ini adalah penganut Islam pesantren Nahdatul Ulama yang taat. Sangat khas, sedikit ortodoks, dan tidak bisa dipungkiri, bahwa memang kehidupan khas pesantren telah mendarah daging di sebagian besar penduduk Pulau Jawa.
Kami ditempatkan di sebuah kamar di pojok belakang-kanan rumah ini. Tepat di hadapannya, terdapat beranda keluar yang membuat kami mudah untuk melakukan pengawetan sampel hingga ekstraksi DNA. Tiap pagi, pembantu keluarga ini selalu mengantarkan penganan kecil dan teh manis. Sungguh hal yang membuat kami tidak enak, selain karena kami yang selalu terlambat bangun karena pekerjaan kami yang selalu selesai larut malam. Namun, uniknya, semua tamu dan termasuk kami, selalu dihidangkan makan. Semua jamuan ini terjadi 3 kali sehari. Belakangan kami ketahui bahwa hingga berakhirnya kami menginap di sana, tuan rumah, yaitu sang ibu bupati, tidak mau menerima uang pengganti apa yang telah kami habiskan...
Sua, Sang Pawang Ular
Alif menceritakan pengalamannya ketika menemui seorang pawang ular yang akan kami sewa untuk menemani kami. Memang telah menjadi kebiasaan kami untuk menempatkan orang lokal dalam tim. Selain sebagai pelindung dari pertanyaan masyarakat, mereka juga berguna sebagai penunjuk jalan dan adat setempat. Ia (Alif) telah menemui seorang yang bernama Sua. Ia berkelakar tentang banner yang ditempel di tembok ruang tamunya. Di sana dikatakan : Sua, Sang Pawang Ular. Saya menjadi penasaran tentang sang pawang tersebut...
Akhirnya, pada malam hari kami semua dapat bertemu dengan Sua. Ia cukup tinggi dan kekar. Tubuhnya menggambarkan pekerjaan utamanya sebagai kuli bangunan. Rambutnya cepak dan kegemarannya menggunakan kaos ketat, sudah sangat mirip dengan seorang binaraga. Orangnya ramah dan cerdas untuk ukuran orang lokal. Ia sangat berhati-hati dalam memilih ucapan, sehingga rasanya kami dapat mempercayai sebagian besar perkataannya. Bahasanya sangat medhok, khas Ngapak, meskipun tidak 'separah' orang-orang Cilacap. Kemampuannya terbukti saat melakukan handling tangan kosong pada Viper, Sanca, Weling, ataupun Kobra. Satu kejadian yang membuat bergidik adalah ia mengambil telur-telur kobra di dalam karung, meskipun didalamnya terdapat 3 ekor kobra yang terus mendesis-desis, seakan-akan ia dapat menghipnotis mereka. Pengalaman terberat kami bersamanya adalah menjelajahi Curug Winong, salah satu tempat yang diharapkan memberikan kami banyak hasil. Namun, berkali-kali Sua dan menantunya harus meminta maaf karena pada musim kemarau ini, kami tidak mendapatkan banyak hal. Medan di curug ini sangat ekstrem. Tanjakan tidak lagi bisa ditempuh dengan jalan mendaki, namun memanjat dengan berpegang pada akar dan kayu kopi. Suatu hal yang diakui menguras banyak energi. Kami merasakan bahwa Sua adalah orang yang mudah diajak berbincang. Ia sendiri gemar berkelahi, namun tetap menjaga perdamaian di kampungnya. Tidak banyak kejadian bentrokan di sana, namun sesekali terjadi. Kelompok terminal dikatakan sebagai kelompok yang paling beringas dan ditakuti. Namun di hari normal, mereka seakan tersulap menjadi pedagang, kenek angkot, atau tukang parkir.
Minggu, 14 Juni 2015
Korban Revolusi
Saya sangat suka dengan karya Pak Pram yang berjudul Keluarga Gerilja. Karya ini bisa membangun tiang-tiang gambaran Indonesia era jaman perjuangan pasca kemerdekaan. Ada banyak idealisme berkembang tentang kemerdekaan, kesimpansiuran kekuasaan, kegundahan akan kehidupan rakyat kecil yang terhilang, dan dalam semua hal ini, Pak Pram berhasil. Hanya dalam percakapan yang bercirikan panjang-panjang, ada satu hal yang menarik. Terngiang perkataan bahwa seseorang mati bukan karena nasibnya, tapi karena ia dipilih oleh revolusi untuk mati. Ya, revolusi sudah memilih korbannya. Perkataan sederhana, namun membawa dampak bagi jiwa korbannya, terjadi diantara kegelapan malam dengan terang lampu ublik yang berkedip-kedip. Lawan bicaranya hanya melenguh pasrah, karena memang jika revolusi sudah memilih korbannya, maka tak ada yang mampu menolaknya. Apakah ia tertembak, dihukum mati di kayu sula, atau ketika mabuk diceburkan di dalam kali. Sungguh jaman keras.
Terlepas dari penatnya peperangan argumen di pemilu 2014, Joko Widodo akhirnya melenggang menjadi presiden RI. Tindakan awalnya adalah menggaungkan 2 buah kata sakti yang mungkin akan dipegang hingga kini : Revolusi Mental. Artinya ada perubahan besar-besaran yang akan segera terjadi, dan ini untuk mental orang Indonesia. Mungkin sejajar dengan Fidel Castro menggaungkan "pertempuran all out terhadap buta huruf dan kemiskinan" atau ketika Tan Malaka mengungkapkan "pendidikan adalah kunci kemerdekaan", Revolusi Mental juga menjadi kecamuk ketika susunan birokrasi Indonesia disentuh untuk direvolusi. Masa-masa itu, saya ingat betul ketika terjadi penerimaan CPNS 2014-2015. Saya, yang masa itu adalah seorang sukarelawan di TN Meru Betiri, dengan begitu percaya diri mendaftar. Bagi saya, ini adalah kesempatan besar yang akan mengubah hidup saya. Semua kekayaan hayati Indonesia banyak berada di tangan pemerintah, maka ketika saya harus hidup untuk mengolahnya menjadi baik, haruslah kesana tempatnya. Ketika itu, Kementrian Kehutanan 'hanya' membutuhkan orang yang berasal dari kehutanan, pertanian, dan lain-lain, tanpa sedikitpun kesempatan untuk sarjana biologi. Akhirnya, Kementrian Lingkungan Hidup yang masih membuka lowongan untuk sarjana biologi, menjadi pilihan yang saya anggap baik. Bahkan, saya mendaftarkan salah satu pilihan ke Papua, salah satu tempat yang dianggap terpencil, karena kesiapan saya untuk mengabdikan diri.
Namun, gaung revolusi itu nyatanya lebih cepat mendahului langkah saya berjuang untuk hidup dan cita-cita. Kehutanan dan Lingkungan Hidup dijadikan satu, dan proses birokrasi Indonesia yang terkenal lama, membuat saya tergantung seperti di kayu sula. Tidak ada kejelasan pengumuman kelulusan, sedangkan uang untuk kehidupan saya tidak lagi ada (maklum, sukarelawan di Taman Nasional).
Masa-masa yang berat itu saya jalani dengan kepahitan. Saya masih ingat, jika saja saya hidup tanpa menghisap hasil kerja ibuk saya... tentu saya sudah kere. Hutang demi hutang saya lakukan kepada ibuk saya untuk sekedar biaya bensin ke sukamade. Sedangkan untuk keluar dari rumah ini, guna mencari penghidupan, akh... saya lihat muka Ibuk saya tak ada gembiranya. Sulit sekali tegar seperti pahlawan saya, Tan Malaka yang melayang bagai burung-burung kemana ia mau pergi. Lengkaplah sudah ketika pengumuman : saya tak diterima, bahkan di Papua. Alasanya:saya tak memprioritaskan pilihan di Papua. Ah, bullshit. Lagipula, akibat revolusi itu, janji bahwa saya akan segera menerima gaji di bulan januari menjadi hampa...
Saya sedih sejadi-jadinya. Saya sedih karena keterbatasan kesempatan untuk menggapai cita-cita sederhana saya : tidak jauh dari ilmu lingkungan dan pendidikan, hal yang saya bangun idealismenya sejak 4 tahun lalu dengan hati saya sendiri. Sedangkan untuk hidup di Meru Betiri, saya rasa bukan tempat yang tepat. (Mungkin nanti saya ceritakan di lain kesempatan.). Namun apa daya. Pak Pram sudah menggambarkannya dengan kata-kata sederhana: korban revolusi. Tak ada yang mampu menyangkal dan memberontak. Seakan perkataan ini diucapkan di malam yang sama, dengan penerangan lampu ublik yang menyetujui suasana yang sedih hati. Tak ada satupun orang yang mampu menjawab: akan kemanakah saya? Siapa yang harus saya musuhi? Akankah saya bisa menjadi tegar? atau, masihkah saya akan di sini?
Tak ada yang tahu... karena saya pun, korban revolusi.
Terlepas dari penatnya peperangan argumen di pemilu 2014, Joko Widodo akhirnya melenggang menjadi presiden RI. Tindakan awalnya adalah menggaungkan 2 buah kata sakti yang mungkin akan dipegang hingga kini : Revolusi Mental. Artinya ada perubahan besar-besaran yang akan segera terjadi, dan ini untuk mental orang Indonesia. Mungkin sejajar dengan Fidel Castro menggaungkan "pertempuran all out terhadap buta huruf dan kemiskinan" atau ketika Tan Malaka mengungkapkan "pendidikan adalah kunci kemerdekaan", Revolusi Mental juga menjadi kecamuk ketika susunan birokrasi Indonesia disentuh untuk direvolusi. Masa-masa itu, saya ingat betul ketika terjadi penerimaan CPNS 2014-2015. Saya, yang masa itu adalah seorang sukarelawan di TN Meru Betiri, dengan begitu percaya diri mendaftar. Bagi saya, ini adalah kesempatan besar yang akan mengubah hidup saya. Semua kekayaan hayati Indonesia banyak berada di tangan pemerintah, maka ketika saya harus hidup untuk mengolahnya menjadi baik, haruslah kesana tempatnya. Ketika itu, Kementrian Kehutanan 'hanya' membutuhkan orang yang berasal dari kehutanan, pertanian, dan lain-lain, tanpa sedikitpun kesempatan untuk sarjana biologi. Akhirnya, Kementrian Lingkungan Hidup yang masih membuka lowongan untuk sarjana biologi, menjadi pilihan yang saya anggap baik. Bahkan, saya mendaftarkan salah satu pilihan ke Papua, salah satu tempat yang dianggap terpencil, karena kesiapan saya untuk mengabdikan diri.
Namun, gaung revolusi itu nyatanya lebih cepat mendahului langkah saya berjuang untuk hidup dan cita-cita. Kehutanan dan Lingkungan Hidup dijadikan satu, dan proses birokrasi Indonesia yang terkenal lama, membuat saya tergantung seperti di kayu sula. Tidak ada kejelasan pengumuman kelulusan, sedangkan uang untuk kehidupan saya tidak lagi ada (maklum, sukarelawan di Taman Nasional).
Masa-masa yang berat itu saya jalani dengan kepahitan. Saya masih ingat, jika saja saya hidup tanpa menghisap hasil kerja ibuk saya... tentu saya sudah kere. Hutang demi hutang saya lakukan kepada ibuk saya untuk sekedar biaya bensin ke sukamade. Sedangkan untuk keluar dari rumah ini, guna mencari penghidupan, akh... saya lihat muka Ibuk saya tak ada gembiranya. Sulit sekali tegar seperti pahlawan saya, Tan Malaka yang melayang bagai burung-burung kemana ia mau pergi. Lengkaplah sudah ketika pengumuman : saya tak diterima, bahkan di Papua. Alasanya:saya tak memprioritaskan pilihan di Papua. Ah, bullshit. Lagipula, akibat revolusi itu, janji bahwa saya akan segera menerima gaji di bulan januari menjadi hampa...
Saya sedih sejadi-jadinya. Saya sedih karena keterbatasan kesempatan untuk menggapai cita-cita sederhana saya : tidak jauh dari ilmu lingkungan dan pendidikan, hal yang saya bangun idealismenya sejak 4 tahun lalu dengan hati saya sendiri. Sedangkan untuk hidup di Meru Betiri, saya rasa bukan tempat yang tepat. (Mungkin nanti saya ceritakan di lain kesempatan.). Namun apa daya. Pak Pram sudah menggambarkannya dengan kata-kata sederhana: korban revolusi. Tak ada yang mampu menyangkal dan memberontak. Seakan perkataan ini diucapkan di malam yang sama, dengan penerangan lampu ublik yang menyetujui suasana yang sedih hati. Tak ada satupun orang yang mampu menjawab: akan kemanakah saya? Siapa yang harus saya musuhi? Akankah saya bisa menjadi tegar? atau, masihkah saya akan di sini?
Tak ada yang tahu... karena saya pun, korban revolusi.
Minggu, 10 Mei 2015
Larwo ( Lar e Dowo)
Jadi ceritanya begini...
Tiga hari lalu, Mas Rohman, salah satu kawan saya di Sukamade, mendapatkan informasi tentang keberadaan burung langka di sekitar blok pantai (seputaran pos Sukamade - red). Informasi tersebut terbungkus rapi dalam sebuah pembicaraan antar pelanggar, yang secara tidak sengaja terdengar oleh beliau. Begitu disadari oleh mereka keberadaan Mas Rohman, yang telah tobat dan bergabung dengan PA, maka secara bergantian mereka tersenyum kecut dan kabur.
Informasi tersebut sebenarnya adalah tentang ditemukannya burung Larwo, atau dalam nama indonesia "Murai Batu / Kucica hutan (Copsychus malabaricus). Saya hanya mangap saja mendengar populasi si murai batu ini masih ada. Hingga saat ini, percaya atau tidak, cucak ijo saja saya belum dapat fotonya, hehehe..
Menanggapi tantangan dari Mas Rohman untuk mencari, maka di hari sabtu pagi, saya ditemani beliau dan Mas Eko mulai jongkok untuk mencari si burung bersuara merdu ini. Pada saat itulah saya menjadi kagum kepada Mas Rohman, sang mantan pelanggar ini. Keahliannya memikat burung kicauan dibuktikan dengan siulannya yang sangat mirip dengan burung aslinya. Saking miripnya, saya malah keheranan dengan kualitas mulutnya yang kualitas kaset.
Beliau malah bilang, kalau suaranya belum ada apa-apanya. Masih ada pelanggar juga yang jauh lebih muda dari saya, dan cucut-nya mampu menirukan hampir semua burung kicauan dengan hampir sempurna : cuca ijo, kacer, cuca jenggot, larwo, dll. Wedian, bisa habis burung-burung di sini tujuh turunan.. Namun, sisi positifnya, burung-burung yang diincar adalah yang laku di pasaran sebagai burung kicauan. Burung-burung lain yang meskipun langka, tidak umum, namun tidak laku, ya tidak akan diambil (meskipun demikian, pelanggaran macam ini tidak bisa dibenarkan :p ). Tiga jam berputar-putar, menunggu, dan menirukan suara si Larwo, ternyata tidak membuahkan hasil. Saya tak merasa hari ini kesialan menghampiri kami. Justru, semakin banyak ilmu yang saya peroleh dari warga lokal semacam Mas Rohman dalam mengamati burung (meskipun dulu ia gunakan untuk menangkap burung, hehe).
Sebelum kembali ke pos, ia bercerita tentang banyak sekali burung-burung aneh yang ada di hutan dan tidak ia bawa meskipun tertangkap (dilepas lagi karena tidak laku). Salah satu yang menarik adalah sering sekali menangkap burung berukuran agak besar, sekitar 2 genggaman, dan berjambul. Suaranya sangat jelek, dengan garis putih di sekitar leher. Saya kemudian mengernyitkan kening... mungkinkah ia adalah Tangkar Ongklet (Platylophus galericulatus)? Saya menguji Mas Rohman dengan memintanya untuk menggambar sketsanya, dan sepertinya mirip dengan apa yang saya duga.
Ah, kiranya musim kering nanti kami bisa berjalan-jalan lebih jauh untuk mencari burung-burung ghoib yang tersimpan di Meru Betiri, seperti Paruh Kodok Jawa atau Anis Merah? wehehe...
Minggu, 26 April 2015
Conservation, local politics, and carnivora reserve on his eyes
Yang membuat hari ini, Jumat, 24 April 2015, terasa istimewa adalah saya berhenti beristirahat dengan seorang kawan baru di pos pantai Sukamade. Awalnya saya merasa biasa saja. Lalu kemudian, obrolan ini makin menyenangkan ketika beliau mengambil batang rokoknya yang kedua. Artinya, minat beliau untuk menemani saya beristirahat kala lelah berjalan-jalan mengamati burung sungguh sangatlah besar. Mungkin, obrolan tentang kehidupan dan pekerjaan barunya bisa saya skip saja. Tapi yang menarik adalah ketika cerita kami beranjak ke isu sensitif dengan percaturan politik lokal dengan konservasi.
Saya yakin beliau adalah orang yang tidak terlalu paham dengan konservasi, apalagi tetek bengek politik, blas. Apalagi ia adalah ex-pelanggar yang sudah tobat sejak beberapa tahun lalu. Keluar masuk hutan adalah pekerjaannya. Lagipula, sejak lahirnya ia sudah menghirup udara yang minim polutan khas rimba. Namun menariknya, ia mencintai dunia konservasi dengan gaya dan bahasanya sendiri.
Banyak omongan nggedabrus tentang permasalahan yang membalut taman nasional ini, salah satu topik yang menarik saat itu adalah tentang macan. Ia bercerita tentang banyaknya pemburu-pemburu macan yang datang dari utara (jember) bertahun-tahun lalu, menjajah kawasan PA, membunuh dan mengambil kulitnya yang berharga itu demi pundi-pundi rupiah. Sedangkan dalam sejarah Taman Nasional Meru Betiri, tidak pernah sedikitpun terpotret bentuk dan rupa macan itu. Meskipun jutaan rupiah digelontorkan dan jerih payah orang-orang lapang demi sebuah foto, namun tiap kegiatan harus diakhiri dengan foto-foto 'gagal' mendapatkan buruan utama : karnivora besar.
Lalu, apakah sudah benar-benar punah? Tidak... beliau menjawabnya dengan pasti. Salah satu syarat untuk menemukan karnivora besar ini adalah : musim dan tempat yang tepat. Tidak semua tempat dijelajahi oleh macan katanya. Hanya tempat tertentu yang dijadikan tempat berkumpul, semacam party lah. Ini pun ditunjang dengan musim yang tepat, yaitu saat kemarau dan... duren! Nah, yang terakhir ini adalah cerita yang sudah saya dengar dari beberapa orang. Tapi, saya masih gagal untuk menghubungkan antara buah duren dengan keberadaan macan. Kata para penduduk lokal, macan gemar makan duren saat duren-duren berjatuhan. Saya tidak ingin mempercayainya dengan pasti. Mungkin jika duren mengundang hewan-hewan herbivora (sekaligus mangsa bagi macan) datang, maka mungkin itu lebih masuk di nalar.
Lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan krusial dari mulut polosnya meluncur: "kalau begitu, kenapa kita tidak memasang kamera trap atau nyanggong disana?"
Nah, ternyata, kamera dan kamera trap adalah inventaris yang dicap 'mahal' oleh banyak instansi. Penggunaannya juga harus sesuai dengan tata pranata - adat istiadat birokrasi. Artinya, harus ada jaminan agar barang itu tidak rusak atau hilang. Sebenarnya, rusak atau hilang saat bertugas itu biasa saja. Lha wong namanya usaha, ya toh? Yah, tapi namanya barang titipan negara. Banyak orang merasa rieweuh jika barang tersebut ada apa-apa, mulai dari pertanggungjawaban hingga... penyidikan!
Bahkan, jika permasalahan pertama itu berhasil diatasi, maka dana adalah permasalahan kuat yang menghambat, dan bisa dikatakan kalau financial is the most powerful problem among government institution. Sudah menjadi tradisi jika pemerintah tidak terlalu peduli dengan perkembangan sains ala lapangan ini. Buktinya adalah dana yang datang tertetes-tetes, membuat pencairan alokasi dana selalu mundur dari jadwal dimulainya kegiatan. Akibatnya, musim-musim macan sudah berlalu, tapi ketika dana itu datang telat, maka kegiatan pun harus dilakukan, seadanya. Akhirnya, adalah tak ada yang lebih sedih jika saya mengatakan kegiatan tersebut mubazir, sia-sia.
Permasalahan ketiga adalah semangat. Saya yakin semangat melakukan kegiatan lapang masih membara diantara para rimbawan. Yang saya belum yakin, adalah semangat gotong royong, bersatu, saling membantu tanpa pamrih, dan memikirkan sebuah 'keluarga' dibandingkan problematika personal. Permasalahan terakhir ini ibarat kanker, yang disadari atau tidak, telah menjalar dan memecah belah kesatuan. Ketika tantangan dari luar harus dihadapi bersama, maka kanker jenis ini telah jauh menggerogoti dari dalam dan lambat laun sebuah organisasi akan mati dibuatnya. Saya rasa, sudah banyak contoh tentang ini.
Akhirnya, kami hanya bisa memandang gunung-gunung megah meghijau di blok pantai. Kabut tipis menghilang perlahan ketika sinar mentari mulai datang. Kami hanya berharap jika salah satu macan, atau bahkan harimau jawa bisa lolos dari jerat stling pemburu. Bahkan dalam benak kami, besar sebuah harapan agar mereka dapat menemukan pasangannya dan menghasilkan keturunan yang lestari.
Masalah, biarlah masalah. Ungkapan tentang masalah adalah suatu kegemasan berpikir yang mendobrak batasan-batasan yang dibuat manusia. Tidak perlu takut dikritisi, karena pengkritik harus masuk ke tempat sampah dan pengambil kebijakan selalu benar. Tidak pernah ada yang salah dalam setiap mbuletnya permasalahan itu, karena yang salah bukan kita, tetapi Tuhan, ya toh?
Minggu, 05 April 2015
Duet karya 'Incredible'
Wow, akhirnya saya nulis lagi!
1. Sayap-sayap Meru Betiri
2. Animals of Sukamade
Nah sodara-sodara yang berkunjung di halaman blog ini, demikianlah dua buah karya yang menunggu dieksekusi. Saya hanya bisa menyebut-nyebut kedua hal ini di dalam doa, karena sekarang hanya dengan bantuan Tuhan segala hal bisa lancar, termasuk segala karya kita, ya toh?
Tetap semangat broh..
Setelah sekian lama tak disentuh, blog ini rasanya seperti mati suri. Banyak sarang laba-laba di bagian 'compose' dan jalan menuju tombol 'publish' dipenuhi semak-semak.
Anyway, malam ini saya menceritakan sebuah lompatan besar dari hasil pekerjaan saya dan kawan-kawan di Taman Nasional Meru Betiri. Yapp, ada dua buah buku yang saya 'karyakan' untuk menunjang hasil ndedepi (nongkrongi) burung selama berbulan-bulan. Terus terang saja, sebuah karya baru telah lahir 2 minggu lalu dan di bulan Desember telah rampung sebuah gawe besar yang menceritakan tentang burung-burung indah di Meru Betiri. Mari langsung kita ce ki dot:
Didalamnya terdapat 110 jenis burung yang terjepret di Meru Betiri. Belakangan ini, terkonfirmasi foto 2 jenis burung yang belum sempat dimasukkan, yaitu Kokokan Laut dan Kepudang Hutan. Selain species sheet, ada sebuah sisipan artikel tentang temuan keren (bagi saya sih keren keliwat-liwat), yaitu sebuah sarang Elang Jawa beserta anaknya.
Saya tak ingin membicarakan gaya desain, yang sudah sekuat tenaga keluar dari pengaruh buku-buku lain. Selain itu, dengan isi yang lebih sederhana dan berbahasa Indonesia, buku ini berkesan sebagai salam kenal dari burung-burung Meru Betiri kepada pembacanya. Yang menarik adalah, buku ini menjadi korban dari panasnya politik tahun 2014. Akibat penataan ulang kementrian, akhirnya belum ada anggaran yang pas untuk buku ini. Lalu, dari akumulasi penyebab-penyebab yang lain, buku ini masih 'berdiam diri' selama berbulan-bulan. Kejadian ini sepertinya menjadi bukti bahwa buku dalam bentuk digital menjadi alternatif karya yang mungkin bukan satu-satunya, tapi lebih masuk akal!
Seandainya buku ini terwujud, mungkin rasanya adalah ketika seperti sampeyan pegang gelas es campur, dan es batunya diguyur lewat kepala. Adem pooll... Semoga saja bisa tahun ini terwujud.
2. Animals of Sukamade
Kebutuhan wisata berbasis internasional yang berkembang di Sukamade (salah satu resort yang banyak dikunjungi wisman) menjadi awal dicetuskannya ide untuk membuat buku ini. Keputusan pertama adalah untuk membuat semacam booklet. Namun, ide ini harus hilang karena isi di dalamnya melampaui standar umum sebuah booklet. Akhirnya jadilah sebuah buku kecil berukuran B5 yang didesain sangat sederhana. Bahkan terkesan 'putihan' dan 'garingan'. Gambar lebih banyak mendominasi. Hal lain yang tercantum adalah nama spesies, lokasi tempat temuan, dan beberapa informasi terkait satwa-satwa yang dianggap unik. Tentunya, atas bantuan kaka' Swasti, buku ini bisa keminggris, sesuai dengan kebutuhan Sukamade yang menjadi destinasi internasional.
Sebagai penyokong ekowisata alternatif non penyu, sepertinya buku kecil ini layak mendapatkan perhatian. Namun lagi-lagi masalah pendanaan, membuat buku ini hanya sampai kepada cetak sampel. Awalnya telah ditemukan wacana sebuah pendanaan mandiri, dan lagi-lagi suhu 'politik' telah menjadi momok bagi kemajuan ilmu pengetahuan (sekaligus ekowisata).
Nah sodara-sodara yang berkunjung di halaman blog ini, demikianlah dua buah karya yang menunggu dieksekusi. Saya hanya bisa menyebut-nyebut kedua hal ini di dalam doa, karena sekarang hanya dengan bantuan Tuhan segala hal bisa lancar, termasuk segala karya kita, ya toh?
Tetap semangat broh..
Dunia Bawah Kaki
Malam ini saya ingin ngrasani mahkluk kecil bersayap... Bukan burung, tapi terlalu besar untuk lalat, atau bahkan tengu. Namanya adalah kupu-kupu
Yapp, di tempat saya makarya, mereka tidak terlalu banyak jenisnya. Jika saya boleh berbagi dengan pengalaman saya yang cupet ini, kupu-kupu di Meru Betiri tidak sekaya yang ada di pantai kondang merak atau coban rais, alang. Mungkin pilihannya ada 2 : saya yang terlalu ruwet menengadah mencari burung, atau memang benar, jenisnya sangat sedikit? Hm, entahlah, yang jelas, apakah Meru Betiri yang kaya dengan hutan-hutan rungkut, lebat, membuat jenis kupu-kupu sangat miskin, sama seperti di Cangar, Tahura R.Soeryo.
Meskipun demikian, menarik juga untuk melihat-lihat dunia 'bawah kaki' Meru Betiri ini.
Mau yang tertutup, atau telanjang?
Di sini, di Meru Betiri, anda lebih sering melihat mahkluk cantik ini di bumi yang telah 'ditelanjangi' manusia. Rerumputan perkebunan, tepian jalan, atau bahkan di tengah jalan. Rupanya, kupu-kupu sangat tertarik karena tempat yang terbuka memungkinkan semak-semak berbunga untuk tumbuh, seperti Lantana camara. Selain itu, lumpur dan batuan basah juga menarik perhatian kupu-kupu karena menyediakan mineral bagi mereka (disebut mud puddling). Oleh karena itu, saat kita melewati jalanan berlumpur di siang terik, sering kita melihat gerombolan kupu-kupu. Umumnya, kupu-kupu yang suka tempat 'telanjang' adalah mereka yang berwarna cerah. Yah, terkadang memang apes, beberapa juga gepeng karena terlindas ban motor, hehe..
Lalu yang tertutup? Nah, kupu-kupu yang gemar hidup di kawasan tertutup ini biasanya jarang bergerombol. Warnanya pun kusam, tak menarik. Kegemarannya pun njijiki, yaitu menghisap mineral dari buah-buahan busuk atau bangkai hewan. Namun jangan salah, sebagian besar dari mereka adalah penghuni julukan langka, atau paling tidak jarang terlihat. Di sinilah terlihat ketergantungan beberapa jenis kupu-kupu terhadap tutupan lahan, atau kalau dengan bahasa sangar, kelestarian hutan. Semakin lebat hutan, mungkin jenis di dalamnya sedikit, tapi 'berkualitas' tinggi :D
Bangun molor? Wah, Cocok!
Sampeyan tukang molor? nah, kabar gembira, kupu-kupu berbeda dari burung. Jika burung harus ditunggu di pagi hari sekali, kupu-kupu harus menunggu sinar matahari yang cukup untuk menghangatkan badan mereka. Pasalnya, mereka sangat tergantung pada sinar matahari yang mampu merangsang syaraf sayap mereka untuk aktif. Itulah mengapa kita jarang melihat kupu-kupu beraktivitas saat mendung, apalagi hujan. Nah, waktu yang cocok adalah sekitar jam 8 atau 9 saat matahari baru sepenggalah, hingga pukul 11 siang. Anda masih molor? Di situ saya terkadang sedih melihat nasib anda...
Sambil mengusap iler yang super bau, mari kita pergi ke jalanan tanah atau yang kaya dengan semak berbunga. Ingat, hunting anda sangat tergantung dengan cuaca, jadi berdoalah agar cuaca benar-benar terik saat itu. Musim yang paling tepat adalah penghujung penghujan, dimana banyak hujan yang membuat genangan dan melarutkan mineral di malam hari, namun di pagi harinya, sinar matahari sedikit demi sedikit menguapkan air dan meninggalkan mineral di permukaan tanah. Sudah pasti, banyak kupu-kupu terlarut dalam pesta mineral atau nektar saat itu. Atau di lain kasus, saat musim kemarau, banyak kupu-kupu melakukan mud-puddling di tepian sungai kecil yang berlumpur.
Sabar...
Jika anda berkeinginan untuk mengetahui nama mereka, maka sabar adalah kuncinya. Ada dua pilihan untuk 'berkenalan', yaitu dengan menangkap atau memotretnya. Nah, seperti saya yang tukang poto amatir, memperoleh foto mereka adalah hal yang gampang-gampang susah. Susahnya adalah karena mereka termasuk serangga yang cerdas. Getaran akibat langkah kaki cukup membuat mereka berterbangan dan susah diam kembali. Selain itu, beberapa spesies hanya dapat dibedakan jika kita mengetahui pola pada posisi underside (saat menutup) dan upperside (saat membuka). Nah, kebayang kan bagaimana mensiasati itu semua dengan pose shoot merayap, berjongkok, tiarap, sembari berjemur dan dilihat buruh penyadap karet? :v
Nah, ini adalah beberapa jepretan yang saya koleksi di Meru Betiri:
Yapp, di tempat saya makarya, mereka tidak terlalu banyak jenisnya. Jika saya boleh berbagi dengan pengalaman saya yang cupet ini, kupu-kupu di Meru Betiri tidak sekaya yang ada di pantai kondang merak atau coban rais, alang. Mungkin pilihannya ada 2 : saya yang terlalu ruwet menengadah mencari burung, atau memang benar, jenisnya sangat sedikit? Hm, entahlah, yang jelas, apakah Meru Betiri yang kaya dengan hutan-hutan rungkut, lebat, membuat jenis kupu-kupu sangat miskin, sama seperti di Cangar, Tahura R.Soeryo.
Meskipun demikian, menarik juga untuk melihat-lihat dunia 'bawah kaki' Meru Betiri ini.
Mau yang tertutup, atau telanjang?
Di sini, di Meru Betiri, anda lebih sering melihat mahkluk cantik ini di bumi yang telah 'ditelanjangi' manusia. Rerumputan perkebunan, tepian jalan, atau bahkan di tengah jalan. Rupanya, kupu-kupu sangat tertarik karena tempat yang terbuka memungkinkan semak-semak berbunga untuk tumbuh, seperti Lantana camara. Selain itu, lumpur dan batuan basah juga menarik perhatian kupu-kupu karena menyediakan mineral bagi mereka (disebut mud puddling). Oleh karena itu, saat kita melewati jalanan berlumpur di siang terik, sering kita melihat gerombolan kupu-kupu. Umumnya, kupu-kupu yang suka tempat 'telanjang' adalah mereka yang berwarna cerah. Yah, terkadang memang apes, beberapa juga gepeng karena terlindas ban motor, hehe..
![]() |
| Graphium sarpedon sedang di pinggir kali |
Bangun molor? Wah, Cocok!
Sampeyan tukang molor? nah, kabar gembira, kupu-kupu berbeda dari burung. Jika burung harus ditunggu di pagi hari sekali, kupu-kupu harus menunggu sinar matahari yang cukup untuk menghangatkan badan mereka. Pasalnya, mereka sangat tergantung pada sinar matahari yang mampu merangsang syaraf sayap mereka untuk aktif. Itulah mengapa kita jarang melihat kupu-kupu beraktivitas saat mendung, apalagi hujan. Nah, waktu yang cocok adalah sekitar jam 8 atau 9 saat matahari baru sepenggalah, hingga pukul 11 siang. Anda masih molor? Di situ saya terkadang sedih melihat nasib anda...
![]() |
| Eurema hecabe , nampak bagian underside-nya karena paparan sinar |
Sabar...
Jika anda berkeinginan untuk mengetahui nama mereka, maka sabar adalah kuncinya. Ada dua pilihan untuk 'berkenalan', yaitu dengan menangkap atau memotretnya. Nah, seperti saya yang tukang poto amatir, memperoleh foto mereka adalah hal yang gampang-gampang susah. Susahnya adalah karena mereka termasuk serangga yang cerdas. Getaran akibat langkah kaki cukup membuat mereka berterbangan dan susah diam kembali. Selain itu, beberapa spesies hanya dapat dibedakan jika kita mengetahui pola pada posisi underside (saat menutup) dan upperside (saat membuka). Nah, kebayang kan bagaimana mensiasati itu semua dengan pose shoot merayap, berjongkok, tiarap, sembari berjemur dan dilihat buruh penyadap karet? :v
Nah, ini adalah beberapa jepretan yang saya koleksi di Meru Betiri:
![]() |
| Eurema blanda |
![]() |
| Saletara liberia |
![]() |
| Graphium antiphates |
![]() |
| Appias albina |
![]() |
| Cepora iudith |
Sabtu, 13 Desember 2014
Merayakan Cinta Bersama Sang Rimba (III) - Tamat
Tidak ada yang lebih nyesek bagi saya, ketika harus dengan sangat terpaksa, menggunakan kanca-kredit. Yup, Kanca kredit adalah keterpaksaan tingkat tinggi untuk memohon seorang kawan meminjami kita. Dalam kasus di lapang, ini bukan masalah uang. Ini adalah masalah kebutuhan yang pada saat itu, tidak terbeli dengan saya karena... saya tak lagi memiliki uang cukup. Jadi, para kanca-kredit membelikannya untuk saya (Jane podo wae yo, hahaha).
Ketika saya di Bandealit, saya men-dompleng kegiatan pemasangan kamera trap. Sebagai pengalaaman
pertama, saya patuhi setiap nasehat dari para suhu, terutama mengenai perlengkapan
pribadi. Sepatu siap, namun ternyata harus menggunakan kaus kaki. Dari tabiat
mereka, para senior, yang berangasan ketika hidup di dunia normal, lalu harus
menggunakan kaus kaki seperti anak SD di saat masuk hutan, tentu saya menyadari
kaus kaki adalah kebutuhan luar biasa. Lalu uang darimana? Saya ingat betul, 20
ribu di tas untuk jaga-jaga perjalanan pulang nanti. Dan saat itulah, tanpa
dinyana, kaus kaki panjang baru berwarna hitam putih menjadi milik saya akibat kanca kredit.
Masih di dunia Bandealit, ketika harus makan nasi bungkus,
dan uang saya tinggal 5 ribu rupiah, maka nasi bungkus itu tetap saya konsumsi
akibat kanca kredit. Belum lagi atas
kebaikan resort Bandealit yang kapan pun ketika saya di sana, tidak pernah
mengurangi hak makan bagi saya. Beras, sayur, tempe, gula, kopi, teh, dibeli
untuk makan di sana. Benar-benar bagaikan sebuah keluarga. Bahkan saya teringat
sebuah ucapan Bapak Tua penghuni resort Bandealit : “di sini kita semua tidak
boleh lapar dan haus. Jika nasi habis, ayo masak lagi”. Tidak pernah kurang
kebutuhan hidup saya di sana... Paling-paling saya hanya bisa membalasnya
dengan membeli bawang atau obat nyamuk di warung. Itu pun kejadian yang sangat
langka.
Lain lagi di Sukamade, saya benar-benar menaruh hormat
dengan para punggawa sukamade. Mungkin satu-satunya hal yang membuat saya
‘kurang bebas’ adalah masalah penyu dan wisata. Yupp, siapapun, yang hadir di
Sukamade, akan bekerja sebagai penyuersss dan pengelola wisata. Tidak masalah
memang, karena itu juga merupakan kesejahteraan. Namun, berapapun manusia di
Sukamade tak akan pernah cukup untuk mengelola wisata di sana (rasanya, semoga
saya salah, hehe).
Di sana, selain kebutuhan makan dll tercukupi, saya
bersyukur karena kebaikan kawan-kawan, saya mendapatkan pendapatan pertama
(hehe) sebagai guide atau penyueerss
yang membantu wisata pengamatan penyu di malam hari. Tidak ada yang lebih
mengharukan daripada ini, karena kebutuhan dana perawatan kamera yang mengalami
kerusakan di Bandealit (sampai 2 kali), akhirnya terselesaikan. Selain itu,
saya juga bisa sedikit menabung, di samping digunakan untuk membeli buku,
bensin atau perawatan motor.
Saya tentu mengingat akan jasa-jasa baik ketika ada yang
mengajak saya makan di warung, membelikan saya onderdil motor, memperbaiki
kerusakan motor, atau sekedar memberikan buah-buahan. Bahkan yang lebih
trenyuh, adalah kondisi kita yang sama-sama kere, hehe.. Tapi sejujurnya, anda
kaya dalam berkah..
Tak terkira pertolongan Tuhan melalui tangan-tangan sampeyan
kepada saya setahun ini. Dari mulai saya celingukan mengais-ngais foto burung, sampai jadilah sebuah tulisan tentang burung-burung di Meru Betiri. Dari nama burung lokal, menjadi 189 jenis burung eksotis yang telah memiliki standar IOC World Bird List versi 12. Baik nanti, ketika saya ada di Taman Nasional ini atau tidak,
dalam pekerjaan apa pun, sungguh tak terlupa jasa kanca kredit ini.
Merayakan Cinta Bersama Sang Rimba (II)
Bulan Maret, siapa yang mengira akhirnya status saya
akhirnya dipertanyakan?Ya, status tentang ke-volunteer-an saya dipertanyakan. Mungkin seperti saya bilang, saya
dengan asyiknya bludas-bludus seperti
masak kandang kebo saja. Bagi sebagian orang yang percaya kesaktian tata-pranata perijinan, tentunya ini
adalah dosa besar. Begitu saya masuk ke SPTN I Sarongan, seseorang bertanya:
“Kamu ada perlu apa? Ada kegiatan apa?”
Sebisa mungkin saya menjelaskan, siapa, dan seperti apa
status saya. Juga saya berikan penjelasan bahwa saya tidak memegang surat
apapun yang dijanjikan oleh pihak balai hingga saat itu. Namun, rasa tidak puas
terpancar dari wajahnya yang sudah berusia. Sekali lagi, beliau, dan mungkin
teman-teman lain yang menanyakan di lapang tidak salah. Yang salah adalah...
siapa?
Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak lagi kembali ke SPTN
tersebut tanpa ijin tertulis, meskipun itu adalah dengan ijin lesan dari kepala
balai sekalipun. Dalam hati, saya judreg bukan
main. Di satu sisi, adakah orang bodo, sebodo-bodonya orang itu, yang baru saja
selesai studinya, meninggalkan status fresh
graduate-nya, untuk membantu sebuah taman nasional berluaskan 58.000 ha,
yang data reptil saja hanya 4 jenis? Dan data burung sudah usang tahunan tidak
ter-update, bahkan beberapa nama-nama ajaib macam ‘Larwo’ dimasukkan dalam super-database tersebut? Hal yang juga
disinggung-singgung oleh dosen orang bodo itu, menyindir mentalitas idealisme
buta yang dipakainya. Sebisanya orang bodo itu mau membantu tanpa dibayar. Itu
saja akhirnya harus ditolak di lapang. Kesal bukan main rasanya...
Namun, intinya bukan di sana, saudara. Ternyata Tuhan
memakai kejadian ini untuk mulai memperhatikan ‘legalitas’ sebuah
hitam-di-atas-putih. Kejadian ini mengajari saya untuk tidak membenci sesuatu
berlebihan. Saya sangat membenci birokrasi, itu yang membuat saya tidak sabar
menunggu surat keterangan volunteer tersebut,
dan melaju ke Bandealit di tahun 2013 lalu. Namun, kebencian saya menumpuk
menjadi sikap apatis terhadap surat itu, hingga kejadian itu akhirnya terjadi.
Di Balai, tak ada suatu halangan yang berarti. Surat itu
ternyata tidak diproses selama ini karena... lupa. Namun, dengan penuh ungkapan
maaf, pihak balai (dalam hal ini, KSBTU), membuatkannya dalam hitungan 5 menit.
(Serius, saya melihat jam pada saat itu.. hehe). Saya maklum, beliau maklum,
dan semua keluarga TNMB maklum. Beratnya permasalahan di sebuah Taman Nasional
membuatnya tidak mungkin untuk mengingat segalanya. Lagipula, beliau juga berkatta seharusnya terdapat semacam pemberitahuan khusus ke resort yang saya tuju (hal yang sama juga diucapkan oleh Kabalai sebulan lalu, meskipun hingga sekarang surat itu tak pernah ada, hehe). Saya pikir, besarnya
perhatian dari pihak TN untuk saling mendengar di hari itu adalah sebuah
harapan akan dimulainya maha-karya yang baru.
Dalam hati, saya teringat akan apa yang saya doakan di
Bandealit, dan tanah-tanah yang saya pijak. Sikap trenyuh akan kondisi sato-kewan dan tetanduran yang makin rusak di
bumi nusantara ini, siapa yang dapat menahan? Tidak mungkin saya hidup untuk
memperkaya diri sesuai kebutuhan hidup yang sementara ini. Karena bagi saya,
tempat saya bukan di Bank atau di dalam kantor asisten yang ber-ac. Tempat saya
adalah serasah daun winong serta tumpukan kotoran rusa. Terbersit sebuah
keinginan untuk bekerja sebaik-baiknya, apa yang saya bisa untuk Taman Nasional
ini. Saya ingin mengabaikan segala kecewa karena tidak dipenuhinya hasrat dan
hak karena pekerjaan ini, tetapi sebagai manusia, sesekali saya tak dapat
menolaknya. Yang saya bisa adalah terus berbenah, dan bekerja lebih baik lagi,
dan lagi.
Diiringi mendung desember,
titi-wancine jawah...
mengingat akan pengembaraan di maha-karya
Gustine tiyang pracaya..
Selasa, 04 November 2014
Merayakan Cinta Bersama Sang Rimba (I)
Saya teringat masa-masa pait manis perjalanan yang ternyata sudah satu tahun. Dibilang panjang, kok sebenarnya ndak sama sekali, hahay...
Awalnya memang saya mengajukan diri sebagai tenaga kesukarelaan di Taman Nasional Meru Betiri. Saya masih ingat betul yang menerima adalah Mas Dodit, yang belakangan adalah salah satu PEH senior di sana. PEH jebolan UB ini menanggapi dengan serius permintaan saya untuk mengajukan volunteer tersebut. Syaratnya memang sangat klasik : Tidak menuntut A, tidak menuntut B, namun dari kesemuanya, saya tidak ambil logika panjang. Yang penting, hasrat saya untuk mencium aroma rimba Meru Betiri akan segera terwujud. Itu saja pikiran polos saya, hehe. Walaupun dengan demikian, korbannya adalah status fresh gradute bla-bla-bla yang sebenarnya sangat menggiurkan untuk dikomersilkan (dalam hal ini, beberapa kawan dan seorang dosen sangat menyayangkan tindakan saya untuk masuk ke dalam volunteer). Apakah langkah ini terburu-buru? Tidak menurut saya, karena saya sudah ngimpi-ngimpi untuk menjadi bagian yang hidup di dalam taman nasional ini sudah cukup lama. Beberapa kali mengunjungi Meru Betiri di saat kuliah, membuat saya benar-benar jatuh cinta. Beberapa diantaranya sangat membekas hingga saya mengabadikannya dalam sebuah tulisan di blog bertanggal 14 Desember 2012. Bahkan, ketika belakangan saya baru ngeh dengan segudang permasalahan di sana, toh saya tetap jatuh cinta dengan menghabiskan ribuan frame foto, belajar identifikasi burung, njengking motret rafflesia, anggrek, capung, dan lain-lain. yah, namanya saja sudah jatuh cinta... :3
Setelah menggarap tulisan lamaran tersebut, hati saya benar-benar terusik karena sama-sekali tidak ada surat keterangan yang kemlawir datang sebagai balasan. Katanya sih sudah diproses, tapi entahlah.. Demi melupakan itu, ikutlah saya sebagai salah satu tim huru-hara acara Gelar Foto Konservasi (GFK) di Bandealit. Singkatnya, Mas Heru (dan entah siapa lagi) menceritakan kalau baru saja memotret yang namanya Elang Jawa. Pada saat itu, Meru Betiri sangat minim dengan informasi keberadaan elang yang paling dicari di seantero jawa ini (katanya PHKA sih). Langsung saja menanggapi hal itu, perburuan di lokasi temuan dilakukan. Namun apa daya, rupanya hingga acara berakhir, tak ada tanda-tanda kemunculan elang itu lagi.
Berbekal dengan rasa penasaran yang teramat tinggi, seminggu berikutnya yang sudah masuk bulan Desember, saya nekat untuk berburu Elang Jawa. Pada dasarnya, saya tak memiliki 'kuasa' apa-apa untuk masuk ke dalam kawasan, karena sama sekali belum memegang surat keterangan. Berbekal dengan mulut nyonyor, akhirnya semuanya tanpa masalah. Bahkan, saat itu di depan Pak Dedy (kepala resort Bandealit saat itu), saya menceritakan kalau saya sedang monitoring elja, mendahului tim PEH yang memang rencananya akan melaksanakan kegiatan (padahal kegiatan itu masih 1 atau 2 bulan lagi, hahaha). Ndak papa lah, demi sang elang jawa yang keburu hilang jika tidak segera diamati :D
Ceritanya hingga ketemu Elang Jawa di sini
Mungkin, saking nyamannya ketika tinggal di Bandealit, saya tak lagi mengurus surat ke-volunteer-an saya. Pikir saya : Biarlah, ketika saya berbuat sesuatu untuk membantu Meru Betiri, mana mungkin saya dipersulit. Jadi, hingga Juni, saya masihlah orang ilegal dan tukang nyuri poto hewan-hewan sexy di Meru Betiri :D
Awalnya memang saya mengajukan diri sebagai tenaga kesukarelaan di Taman Nasional Meru Betiri. Saya masih ingat betul yang menerima adalah Mas Dodit, yang belakangan adalah salah satu PEH senior di sana. PEH jebolan UB ini menanggapi dengan serius permintaan saya untuk mengajukan volunteer tersebut. Syaratnya memang sangat klasik : Tidak menuntut A, tidak menuntut B, namun dari kesemuanya, saya tidak ambil logika panjang. Yang penting, hasrat saya untuk mencium aroma rimba Meru Betiri akan segera terwujud. Itu saja pikiran polos saya, hehe. Walaupun dengan demikian, korbannya adalah status fresh gradute bla-bla-bla yang sebenarnya sangat menggiurkan untuk dikomersilkan (dalam hal ini, beberapa kawan dan seorang dosen sangat menyayangkan tindakan saya untuk masuk ke dalam volunteer). Apakah langkah ini terburu-buru? Tidak menurut saya, karena saya sudah ngimpi-ngimpi untuk menjadi bagian yang hidup di dalam taman nasional ini sudah cukup lama. Beberapa kali mengunjungi Meru Betiri di saat kuliah, membuat saya benar-benar jatuh cinta. Beberapa diantaranya sangat membekas hingga saya mengabadikannya dalam sebuah tulisan di blog bertanggal 14 Desember 2012. Bahkan, ketika belakangan saya baru ngeh dengan segudang permasalahan di sana, toh saya tetap jatuh cinta dengan menghabiskan ribuan frame foto, belajar identifikasi burung, njengking motret rafflesia, anggrek, capung, dan lain-lain. yah, namanya saja sudah jatuh cinta... :3
Setelah menggarap tulisan lamaran tersebut, hati saya benar-benar terusik karena sama-sekali tidak ada surat keterangan yang kemlawir datang sebagai balasan. Katanya sih sudah diproses, tapi entahlah.. Demi melupakan itu, ikutlah saya sebagai salah satu tim huru-hara acara Gelar Foto Konservasi (GFK) di Bandealit. Singkatnya, Mas Heru (dan entah siapa lagi) menceritakan kalau baru saja memotret yang namanya Elang Jawa. Pada saat itu, Meru Betiri sangat minim dengan informasi keberadaan elang yang paling dicari di seantero jawa ini (katanya PHKA sih). Langsung saja menanggapi hal itu, perburuan di lokasi temuan dilakukan. Namun apa daya, rupanya hingga acara berakhir, tak ada tanda-tanda kemunculan elang itu lagi.
Berbekal dengan rasa penasaran yang teramat tinggi, seminggu berikutnya yang sudah masuk bulan Desember, saya nekat untuk berburu Elang Jawa. Pada dasarnya, saya tak memiliki 'kuasa' apa-apa untuk masuk ke dalam kawasan, karena sama sekali belum memegang surat keterangan. Berbekal dengan mulut nyonyor, akhirnya semuanya tanpa masalah. Bahkan, saat itu di depan Pak Dedy (kepala resort Bandealit saat itu), saya menceritakan kalau saya sedang monitoring elja, mendahului tim PEH yang memang rencananya akan melaksanakan kegiatan (padahal kegiatan itu masih 1 atau 2 bulan lagi, hahaha). Ndak papa lah, demi sang elang jawa yang keburu hilang jika tidak segera diamati :D
Ceritanya hingga ketemu Elang Jawa di sini
Mungkin, saking nyamannya ketika tinggal di Bandealit, saya tak lagi mengurus surat ke-volunteer-an saya. Pikir saya : Biarlah, ketika saya berbuat sesuatu untuk membantu Meru Betiri, mana mungkin saya dipersulit. Jadi, hingga Juni, saya masihlah orang ilegal dan tukang nyuri poto hewan-hewan sexy di Meru Betiri :D
Jumat, 26 September 2014
Sepuluh tahun kita berumah tangga....
"Sepuluh tahun sudah, kita berumah tangga.... tapi tak kunjung jua, mendapatkan putera......"
Ini lagu dangdut asuhay yang sering diperdengarkan kawan kost saya ketika di Malang. Memang, sebagaimana Dubes India, beliau sangatlah wajib meperdengarkan lagu-lagu khas tiap pagi dan malam hari. Lamat-lamat, saya terngiang lagi ketika meresapi kejadian-kejadian bersejarah belakangan ini. Apa itu? Tentunya njenengan yang memiliki twitter, tv, sampai radio bisa menyaksikan bagaimana DPR mengesahkan Pilkada digelar secara tak langsung.
Weh, lalu kenapa bersejarah? yo jelas... ini adalah pertamakalinya setelah era reformasi digulirkan, dan ditendang rezim bapak SBY, pemilihan akan dilaksanakan lagi secara tak langsung. Bukan asal tunjuk dari pemerintah seperti jaman Mbah Harto, tapi sekarang dirumuskan oleh DPR. Yupp, di kota, kabupaten, dan provinsi. Suatu sistem parlementer yang sangat dikenal di Internasional sebenarnya. Look: di Jepang, India, Inggiris, bahkan kepala pemerintahan harus menghadap parlemen untuk mempertanggungjawabkan segala pemerintahannya. Namun, keadaan mereka baik-baik saja kan? tetap nilai mata uang mereka lebih tinggi, hehehe. Lha bagaimana kalau diterapkan di Indonesia? yaah, kita harus berkaca dulu dengan kondisi parlemen kita, atau anda sebut saja sebagai DPR. Berapa banyak dari mereka yang ada di sana karena memikirkan rakyat, atau sengaja karena mereka mencari ceperan? gaji mereka besar, dilengkapi tunjangan yang mewah-mewah... itu fakta. Kenyataan lain yang baru-baru terjadi adalah penggadaian SK pengangkatan mereka untuk mendapatkan hutang... untuk apa? silahkan berargumen sendiri. Namanya manusia, di dekatnya banyak uang cetakan merah, maaf, hanya takut mereka kepleset. Ketika mereka suka sekali 'studi banding' di luar negeri, apa yang ada di benak kita... saya sendiri tidak mau curiga, tapi apakah kita tidak layak curiga? apakah kita tidak berhak untuk was-was. Bagaimana jika, jalan-jalan di kampung rusak dan tidak diperbaiki? bagaiamana jika infrastruktur pertanian kurang? lalu, lalu, lalu... manusia-manusia kurus berdemo menuntut bupati mundur. Lalu... Bupati disidang di DPR... lalu, Bupati itu masih menjabat sepuluh tahun.....karena, karena, karena Bupati itu telah....
ah, sepuluh tahun, akankah menjadi kenangan?
Ini lagu dangdut asuhay yang sering diperdengarkan kawan kost saya ketika di Malang. Memang, sebagaimana Dubes India, beliau sangatlah wajib meperdengarkan lagu-lagu khas tiap pagi dan malam hari. Lamat-lamat, saya terngiang lagi ketika meresapi kejadian-kejadian bersejarah belakangan ini. Apa itu? Tentunya njenengan yang memiliki twitter, tv, sampai radio bisa menyaksikan bagaimana DPR mengesahkan Pilkada digelar secara tak langsung.
Weh, lalu kenapa bersejarah? yo jelas... ini adalah pertamakalinya setelah era reformasi digulirkan, dan ditendang rezim bapak SBY, pemilihan akan dilaksanakan lagi secara tak langsung. Bukan asal tunjuk dari pemerintah seperti jaman Mbah Harto, tapi sekarang dirumuskan oleh DPR. Yupp, di kota, kabupaten, dan provinsi. Suatu sistem parlementer yang sangat dikenal di Internasional sebenarnya. Look: di Jepang, India, Inggiris, bahkan kepala pemerintahan harus menghadap parlemen untuk mempertanggungjawabkan segala pemerintahannya. Namun, keadaan mereka baik-baik saja kan? tetap nilai mata uang mereka lebih tinggi, hehehe. Lha bagaimana kalau diterapkan di Indonesia? yaah, kita harus berkaca dulu dengan kondisi parlemen kita, atau anda sebut saja sebagai DPR. Berapa banyak dari mereka yang ada di sana karena memikirkan rakyat, atau sengaja karena mereka mencari ceperan? gaji mereka besar, dilengkapi tunjangan yang mewah-mewah... itu fakta. Kenyataan lain yang baru-baru terjadi adalah penggadaian SK pengangkatan mereka untuk mendapatkan hutang... untuk apa? silahkan berargumen sendiri. Namanya manusia, di dekatnya banyak uang cetakan merah, maaf, hanya takut mereka kepleset. Ketika mereka suka sekali 'studi banding' di luar negeri, apa yang ada di benak kita... saya sendiri tidak mau curiga, tapi apakah kita tidak layak curiga? apakah kita tidak berhak untuk was-was. Bagaimana jika, jalan-jalan di kampung rusak dan tidak diperbaiki? bagaiamana jika infrastruktur pertanian kurang? lalu, lalu, lalu... manusia-manusia kurus berdemo menuntut bupati mundur. Lalu... Bupati disidang di DPR... lalu, Bupati itu masih menjabat sepuluh tahun.....karena, karena, karena Bupati itu telah....
ah, sepuluh tahun, akankah menjadi kenangan?
Senin, 08 September 2014
But-but-but... Nasib Si Bubut dan rumahnya di Meru Betiri
Bubut, atau kawan saya kelewatan memanggilnya dengan nama butbut, adalah anomali anggota cuculidae yang bersifat terestrial. Tidak menarik memang, karena warna badannya saja suram, dan suaranya tidak merdu serta cenderung monoton. Namun, cukup menarik karena salah satu anggotanya dari 3 jenis bubut berstatus 'vulnerable' alias terancam. Jenis ini adalah Bubut Jawa (Centropus nigrorufus), yang dari namanya saja kita sudah mengira bahwa burung ini adalah endemik pulau Jawa. Sebarannya tercatat cukup terbatas, seperti pesisir dan muara Jawa Barat, Banten, Jakarta (Mackinnon dkk., 2010), Mojokerto (Budi, 2014), Baluran (Winnasis dkk., 2011), serta di beberapa lokasi dataran rendah di Jawa lainnya.
Untuk mengenalinya, selain dari dokumentasi yang jelas, bubut harus diamati dengan teliti, karena tantangannya adalah burung ini sering sensitif ketika melihat manusia. Sebagaimana khas burung terrestrial, menyembunyikan diri secepat-cepatnya adalah andalannya dalam mempertahankan diri. Jadi, jika kita kurang cermat (sering seperti saya, hehe) dalam memperhatikannya, maka... zonk.
***
Nah, ada banyak foto yang terkumpul ketika saya mbladhus ke Bandealit atau Sukamade. Tantangannya sekarang adalah, berdiskusi tentang nama masing-masing hasil foto tersebut. Kepada siapa? kepada Pak Imam T. yang melegenda dan sanggup membimbing birder amatiran seperti saya, wkwk... mari kita lihat penampakannya.
1. Bubut Besar / Greater Coucal / Centropus sinensis
Foto ini sebenarnya tidak asing lagi karena saya sudah pernah menulisnya di sini. Lokasinya masih di seputaran Bandealit, yaitu pos - feeding ground Pringtali. Namun, awalnya saya mengira jenis ini adalah Bubut Jawa, hehe... Namun, segera menyadari kesalahan yang dibuat, jelaslah ukuran dan warna punggungya sangat khas. Selain itu, ekornya lebih panjang jika dibandingkan dengan Bubut Jawa dan Bubut Alang-alang.
2. Bubut Alang-alang / Lesser Coucal / Centropus bengalensis
Jenis bubut yang paling banyak ditemukan di daerah TNMB. Maksudnya, hampir di lokasi pengamatan yang 'ada bubut', si alang-alang ini muncul lebih dulu. Kemungkinan mereka menginvasi habitat bubut lainnya ya? hehe... Sejauh ini, pengamatan di Malangsari, Sanen, Bandealit, Rajekwesi, Sukamade menunjukkan spesies ini hidup dengan baik di berbagai habitat : dataran rendah, semak pantai, kebun, padang ilalang tepi sungai. Ukurannya yang kecil, menurut saya, menjadi tolak ukur utama ketika burung ini sepintas terlihat. Selain itu, ekornya pendek, dan bulunya khas mirip Bubut Besar, tapi sekali lagi, ukurannya kecil, sekitar 40-42 cm.
3. Bubut Jawa / Javan Coucal / Centropus nigrorufus
Ini dia jenis bubut yang memiliki status 'artis'. Dari badannya, sangat tidak menarik untuk dilihat : lebih kotor, terutama pada penutup sayap. Makanannya hampir sama dengan jenis bubut lain, dan tidak pilih-pilih, mulai dari kelabang, katak, telur burung, bahkan ular pohon juga dilahap. Belakangan, kakak ganteng bernama Nurdin Setio menemukan bahwa Bubut Jawa juga memakan padi di Mojokerto (Budi, 2014). Sayangnya, untuk hidup, Bubut Jawa lebih pilih-pilih. Alasannya ya tidak tahu... hehe. Namun, dia sangat gemar hidup di rawa-rawa air tawar, mangrove seputar pesisir. Dosa burung endemik ini adalah memilih tempat yang sekarang cocok untuk pengembangan bisnis properti dan pertanian, hehe... ckck.
Dari semua foto yang saya cek, ternyata kok saya ada rasa penasaran tentang foto ini. Setelah dijebret, pada hari itu juga saya mencatat bahwa ini temuan pertama saya dengan Bubut Besar di Bandealit. Tapi berpikir selama beberapa menit, belakangan catatan itu saya coret dan terganti dengan nama Bubut Jawa. Punggungnya sih hitam meles... tapi kok... penutup sayapnya tidak gelap? Penasaran pada saat itu tertumpuk dengan pikiran sok sibuk lain, hingga hari dimana saya ngrekap data. Fix ini, saya yakin... 60-70 persen ini bukan Bubut Besar. Selain ukurannya yang lebih kecil, punggungya benar-benar hitam. Kalau masalah sayap, kok nampaknya sih ada sedikit kusam. Pilihan masih jatuh pada Bubut Jawa. Ah, sayang ini hanya dijepret sekali, karena rupanya burung ini cukup pemalu. Tak ingin memecahkan masalah sendiri (karena ngga mudeng), langsung foto ketiga jenis bubut saya kirimkan ke Pak Imam Taufiqurahman.
Jawabannya adalah : "Sepakat gung..." jadi sudah ada lampu hijau. Selain itu, Pak Imam juga menjlentrehkan beberapa pedoman identifikasi bubut, termasuk kenapa burung di foto tersebut dimasukkan ke dalam Bubut Jawa.
Nah, ada foto lain lagi dengan kualitas yang amsiong punya, tapi rasanya jelas seperti inilah penampakan Bubut Jawa:
***
Demikianlah para budiman sekalian. Walau burung-burung di atas dianggap orang sebagai 'tidak menarik', atau 'kurang bermanfaat', nyata-nyata bahwa mereka tidak berdaya terhadap manusia. Memang tidak diburu, tapi habitatnya selalu diinvasi, diuruk, dijadikan mall dan perumahan. Peraturan pertama : manusia selalu menang. Peraturan kedua : jika hewan ingin menang, maka ingatlah peraturan pertama.
Maka dari itu saran saya, jangan ikut-ikut mendukung, atau bahkan mendirikan rumah dan mall di tepian sungai atau rawa-rawa. Karena selain merusak sarang bubut, saya jadi tidak bisa memancing mujaher atau tawes. Lagian saya ndak percaya sampeyan mendirikan mall di tepi sungai brantas :p
Saran saya lagi, kalau anda sedang piknik di tepi sungai, jangan lupa bawa binokuler. Siapa tahu anda dapat mengamati orang mandi sekaligus Bubut Jawa yang sedang mandi juga, hehehe...
contekan :
Budi, Nurdin Setio. 2014. Sunda Coucal Centropus nigrorufus eating young rice seeds. Kukila 17 (2)
MacKinnon, John, Karen P., dan Bas van B.. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. LIPI
Winnasis, Swiss, Sutadi, Achmad T., dan Richard N. 2011. Birds of Baluran National Park. TNB.
Also :
Kutilang Indonesia (http://www.kutilang.or.id/ )
Untuk mengenalinya, selain dari dokumentasi yang jelas, bubut harus diamati dengan teliti, karena tantangannya adalah burung ini sering sensitif ketika melihat manusia. Sebagaimana khas burung terrestrial, menyembunyikan diri secepat-cepatnya adalah andalannya dalam mempertahankan diri. Jadi, jika kita kurang cermat (sering seperti saya, hehe) dalam memperhatikannya, maka... zonk.
***
Nah, ada banyak foto yang terkumpul ketika saya mbladhus ke Bandealit atau Sukamade. Tantangannya sekarang adalah, berdiskusi tentang nama masing-masing hasil foto tersebut. Kepada siapa? kepada Pak Imam T. yang melegenda dan sanggup membimbing birder amatiran seperti saya, wkwk... mari kita lihat penampakannya.
1. Bubut Besar / Greater Coucal / Centropus sinensis
Foto ini sebenarnya tidak asing lagi karena saya sudah pernah menulisnya di sini. Lokasinya masih di seputaran Bandealit, yaitu pos - feeding ground Pringtali. Namun, awalnya saya mengira jenis ini adalah Bubut Jawa, hehe... Namun, segera menyadari kesalahan yang dibuat, jelaslah ukuran dan warna punggungya sangat khas. Selain itu, ekornya lebih panjang jika dibandingkan dengan Bubut Jawa dan Bubut Alang-alang.
2. Bubut Alang-alang / Lesser Coucal / Centropus bengalensis
Jenis bubut yang paling banyak ditemukan di daerah TNMB. Maksudnya, hampir di lokasi pengamatan yang 'ada bubut', si alang-alang ini muncul lebih dulu. Kemungkinan mereka menginvasi habitat bubut lainnya ya? hehe... Sejauh ini, pengamatan di Malangsari, Sanen, Bandealit, Rajekwesi, Sukamade menunjukkan spesies ini hidup dengan baik di berbagai habitat : dataran rendah, semak pantai, kebun, padang ilalang tepi sungai. Ukurannya yang kecil, menurut saya, menjadi tolak ukur utama ketika burung ini sepintas terlihat. Selain itu, ekornya pendek, dan bulunya khas mirip Bubut Besar, tapi sekali lagi, ukurannya kecil, sekitar 40-42 cm.
3. Bubut Jawa / Javan Coucal / Centropus nigrorufus
Ini dia jenis bubut yang memiliki status 'artis'. Dari badannya, sangat tidak menarik untuk dilihat : lebih kotor, terutama pada penutup sayap. Makanannya hampir sama dengan jenis bubut lain, dan tidak pilih-pilih, mulai dari kelabang, katak, telur burung, bahkan ular pohon juga dilahap. Belakangan, kakak ganteng bernama Nurdin Setio menemukan bahwa Bubut Jawa juga memakan padi di Mojokerto (Budi, 2014). Sayangnya, untuk hidup, Bubut Jawa lebih pilih-pilih. Alasannya ya tidak tahu... hehe. Namun, dia sangat gemar hidup di rawa-rawa air tawar, mangrove seputar pesisir. Dosa burung endemik ini adalah memilih tempat yang sekarang cocok untuk pengembangan bisnis properti dan pertanian, hehe... ckck.
Dari semua foto yang saya cek, ternyata kok saya ada rasa penasaran tentang foto ini. Setelah dijebret, pada hari itu juga saya mencatat bahwa ini temuan pertama saya dengan Bubut Besar di Bandealit. Tapi berpikir selama beberapa menit, belakangan catatan itu saya coret dan terganti dengan nama Bubut Jawa. Punggungnya sih hitam meles... tapi kok... penutup sayapnya tidak gelap? Penasaran pada saat itu tertumpuk dengan pikiran sok sibuk lain, hingga hari dimana saya ngrekap data. Fix ini, saya yakin... 60-70 persen ini bukan Bubut Besar. Selain ukurannya yang lebih kecil, punggungya benar-benar hitam. Kalau masalah sayap, kok nampaknya sih ada sedikit kusam. Pilihan masih jatuh pada Bubut Jawa. Ah, sayang ini hanya dijepret sekali, karena rupanya burung ini cukup pemalu. Tak ingin memecahkan masalah sendiri (karena ngga mudeng), langsung foto ketiga jenis bubut saya kirimkan ke Pak Imam Taufiqurahman.
Jawabannya adalah : "Sepakat gung..." jadi sudah ada lampu hijau. Selain itu, Pak Imam juga menjlentrehkan beberapa pedoman identifikasi bubut, termasuk kenapa burung di foto tersebut dimasukkan ke dalam Bubut Jawa.
Nah, ada foto lain lagi dengan kualitas yang amsiong punya, tapi rasanya jelas seperti inilah penampakan Bubut Jawa:
***
Demikianlah para budiman sekalian. Walau burung-burung di atas dianggap orang sebagai 'tidak menarik', atau 'kurang bermanfaat', nyata-nyata bahwa mereka tidak berdaya terhadap manusia. Memang tidak diburu, tapi habitatnya selalu diinvasi, diuruk, dijadikan mall dan perumahan. Peraturan pertama : manusia selalu menang. Peraturan kedua : jika hewan ingin menang, maka ingatlah peraturan pertama.
Maka dari itu saran saya, jangan ikut-ikut mendukung, atau bahkan mendirikan rumah dan mall di tepian sungai atau rawa-rawa. Karena selain merusak sarang bubut, saya jadi tidak bisa memancing mujaher atau tawes. Lagian saya ndak percaya sampeyan mendirikan mall di tepi sungai brantas :p
Saran saya lagi, kalau anda sedang piknik di tepi sungai, jangan lupa bawa binokuler. Siapa tahu anda dapat mengamati orang mandi sekaligus Bubut Jawa yang sedang mandi juga, hehehe...
contekan :
Budi, Nurdin Setio. 2014. Sunda Coucal Centropus nigrorufus eating young rice seeds. Kukila 17 (2)
MacKinnon, John, Karen P., dan Bas van B.. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. LIPI
Winnasis, Swiss, Sutadi, Achmad T., dan Richard N. 2011. Birds of Baluran National Park. TNB.
Also :
Kutilang Indonesia (http://www.kutilang.or.id/ )
Langganan:
Postingan (Atom)




















