the biodoversity

the biodoversity

Selasa, 01 Desember 2015

Wonosobo Kota Damai

   Inilah kota yang akan menjadi awal mula dari perjalanan saya berkeliling mengikuti Khadafi dan kawan-kawan menjelaja. Yap, kami mejelajah untuk menemukan herpetofauna yang disponsori oleh proyek USAID. Proyek dengan pembiayaan besar ini akan mengantar kami menjelajah tlatah Jawa dan Sumatra nantinya. 
    Sebelumnya, mereka (tim) telah sampai di Purwekorto, yang saya lewatkan sebagai kota pertama proyek ini. Namun, untuk yang kedua yaitu Wonosobo, mereka berbaik hati untuk mengajak saya. 
Berangkat dari malang dengan sebuah bus, saya kagum dengan perjalanan ini. Sampai di daerah Kedu, Temanggung, bahkan di Wonosobo, di kiri dan kanan adalah hamparan perbukitan luas. Tanaman utamanya adalah tembakau. Komoditi ini sungguh sangat terkenal sebagai tembakau kualitas terbaik pengisi cerutu. Konon, pejabat tinggi dunia juga menghisap tembakau Kedu dan sekitarnya. Saking berkualitasnya, saat kita menggenggam daun tembakau Kedu, ia takkan hancur, namun hanya menggulat seperti bola. Semuanya hanya dikarenakan oleh tingginya kadar nikotin, racun ternikmat yang sering dihisap manusia. 
    Tak ubahnya perjalanan ini seperti kampung halaman saya di Kalibaru : penuh dengan kelokan. Hanya bedanya, tiap kelokan selalu dipenuhi oleh truk dan bus besar yang menunggu giliran untuk lewat. Tentu saja karena medan yang berbukit, maka jalanan berkelok ini juga mengalami naik-turun. Sudah pasti sopir yang lalu di jalanan ini piawai adanya, karena antrian di tiap tanjakan adalah maut bagi orang-orang tanggung yang baru belajar menyetir.
    Kami ditampung oleh ibu dari bupati Wonosobo. Rumahnya khas jawa, dengan ornamen campuran yang sukar dijelaskan : sedikit pernik Belanda pada pintu, lampu dan sekilas gaya Arab pada lesehan luas tempat tamu bisa beristirahat, namun secara keseluruhan, rumah tersebut adalah Joglo Jawa. Dosen kami sekaligus pemimpin proyek ini, Nia, adalah penentu kenapa kami dapat ditampung oleh salah satu orang yang 'berpengaruh' di sini. Tingginya pengaruh ini terbukti dengan banyaknya tamu yang berkunjung baik siang dan malam. Terkadang mereka berbincang di ruang tamu maupun di lesehan. Topik pembicaraan mereka beragam, mulai politik, keluarga, atau agama.  Keluarga ini adalah penganut Islam pesantren Nahdatul Ulama yang taat. Sangat khas, sedikit ortodoks, dan tidak bisa dipungkiri, bahwa memang kehidupan khas pesantren telah mendarah daging di sebagian besar penduduk Pulau Jawa. 
   Kami ditempatkan di sebuah kamar di pojok belakang-kanan rumah ini. Tepat di hadapannya, terdapat beranda keluar yang membuat kami mudah untuk melakukan pengawetan sampel hingga ekstraksi DNA. Tiap pagi, pembantu keluarga ini selalu mengantarkan penganan kecil dan teh manis. Sungguh hal yang membuat kami tidak enak, selain karena kami yang selalu terlambat bangun karena pekerjaan kami yang selalu selesai larut malam. Namun, uniknya, semua tamu dan termasuk kami, selalu dihidangkan makan. Semua jamuan ini terjadi 3 kali sehari. Belakangan kami ketahui bahwa hingga berakhirnya kami menginap di sana, tuan rumah, yaitu sang ibu bupati, tidak mau menerima uang pengganti apa yang telah kami habiskan...

Sua, Sang Pawang Ular
   Alif menceritakan pengalamannya ketika menemui seorang pawang ular yang akan kami sewa untuk menemani kami. Memang telah menjadi kebiasaan kami untuk menempatkan orang lokal dalam tim. Selain sebagai pelindung dari pertanyaan masyarakat, mereka juga berguna sebagai penunjuk jalan dan adat setempat. Ia (Alif) telah menemui seorang yang bernama Sua. Ia berkelakar tentang banner yang ditempel di tembok ruang tamunya. Di sana dikatakan : Sua, Sang Pawang Ular. Saya menjadi penasaran tentang sang pawang tersebut...
   Akhirnya, pada malam hari kami semua dapat bertemu dengan Sua. Ia cukup tinggi dan kekar. Tubuhnya menggambarkan pekerjaan utamanya sebagai kuli bangunan. Rambutnya cepak dan kegemarannya menggunakan kaos ketat, sudah sangat mirip dengan seorang binaraga. Orangnya ramah dan cerdas untuk ukuran orang lokal. Ia sangat berhati-hati dalam memilih ucapan, sehingga rasanya kami dapat mempercayai sebagian besar perkataannya. Bahasanya sangat medhok, khas Ngapak, meskipun tidak 'separah' orang-orang Cilacap. Kemampuannya terbukti saat melakukan handling tangan kosong pada Viper, Sanca, Weling, ataupun Kobra. Satu kejadian yang membuat bergidik adalah ia mengambil telur-telur kobra di dalam karung, meskipun didalamnya terdapat 3 ekor kobra yang terus mendesis-desis, seakan-akan ia dapat menghipnotis mereka. Pengalaman terberat kami bersamanya adalah menjelajahi Curug Winong, salah satu tempat yang diharapkan memberikan kami banyak hasil. Namun, berkali-kali Sua dan menantunya harus meminta maaf karena pada musim kemarau ini, kami tidak mendapatkan banyak hal. Medan di curug ini sangat ekstrem. Tanjakan tidak lagi bisa ditempuh dengan jalan mendaki, namun memanjat dengan berpegang pada akar dan kayu kopi. Suatu hal yang diakui menguras banyak energi.  Kami merasakan bahwa Sua adalah orang yang mudah diajak berbincang. Ia sendiri gemar berkelahi, namun tetap menjaga perdamaian di kampungnya. Tidak banyak kejadian bentrokan di sana, namun sesekali terjadi. Kelompok terminal dikatakan sebagai kelompok yang paling beringas dan ditakuti. Namun di hari normal, mereka seakan tersulap menjadi pedagang, kenek angkot, atau tukang parkir. 
   Ada banyak sampel yang kami dapat, namun rasanya kemarau tahun ini menghalangi kami untuk menemukan 'kualitas' pada sampel yang kami temukan. Bagaimanapun, kami mengingat Wonosobo sebagai kota kecil yang damai, dan Sua adalah guide terbaik yang pernah ada.

Pak Sua

   
Di alun-alun Wonosobo

Minggu, 14 Juni 2015

Korban Revolusi

Saya sangat suka dengan karya Pak Pram yang berjudul Keluarga Gerilja. Karya ini bisa membangun tiang-tiang gambaran Indonesia era jaman perjuangan pasca kemerdekaan. Ada banyak idealisme berkembang tentang kemerdekaan, kesimpansiuran kekuasaan, kegundahan akan kehidupan rakyat kecil yang terhilang, dan dalam semua hal ini, Pak Pram berhasil. Hanya dalam percakapan yang bercirikan panjang-panjang, ada satu hal yang menarik. Terngiang perkataan bahwa seseorang mati bukan karena nasibnya, tapi karena ia dipilih oleh revolusi untuk mati. Ya, revolusi sudah memilih korbannya. Perkataan sederhana, namun membawa dampak bagi jiwa korbannya, terjadi diantara kegelapan malam dengan terang lampu ublik yang berkedip-kedip. Lawan bicaranya hanya melenguh pasrah, karena memang jika revolusi sudah memilih korbannya, maka tak ada yang mampu menolaknya. Apakah ia tertembak, dihukum mati di kayu sula, atau ketika mabuk diceburkan di dalam kali. Sungguh jaman keras.

Terlepas dari penatnya peperangan argumen di pemilu 2014, Joko Widodo akhirnya melenggang menjadi presiden RI. Tindakan awalnya adalah menggaungkan 2 buah kata sakti yang mungkin akan dipegang hingga kini : Revolusi Mental. Artinya ada perubahan besar-besaran yang akan segera terjadi, dan ini untuk mental orang Indonesia. Mungkin sejajar dengan Fidel Castro menggaungkan "pertempuran all out terhadap buta huruf dan kemiskinan" atau ketika Tan Malaka mengungkapkan "pendidikan adalah kunci kemerdekaan", Revolusi Mental juga menjadi kecamuk ketika susunan birokrasi Indonesia disentuh untuk direvolusi. Masa-masa itu, saya ingat betul ketika terjadi penerimaan CPNS 2014-2015. Saya, yang masa itu adalah seorang sukarelawan di TN Meru Betiri, dengan begitu percaya diri mendaftar. Bagi saya, ini adalah kesempatan besar yang akan mengubah hidup saya. Semua kekayaan hayati Indonesia banyak berada di tangan pemerintah, maka ketika saya harus hidup untuk mengolahnya menjadi baik, haruslah kesana tempatnya. Ketika itu, Kementrian Kehutanan 'hanya' membutuhkan orang yang berasal dari kehutanan, pertanian, dan lain-lain, tanpa sedikitpun kesempatan untuk sarjana biologi. Akhirnya, Kementrian Lingkungan Hidup yang masih membuka lowongan untuk sarjana biologi, menjadi pilihan yang saya anggap baik. Bahkan, saya mendaftarkan salah satu pilihan ke Papua, salah satu tempat yang dianggap terpencil, karena kesiapan saya untuk mengabdikan diri.
Namun, gaung revolusi itu nyatanya lebih cepat mendahului langkah saya berjuang untuk hidup dan cita-cita. Kehutanan dan Lingkungan Hidup dijadikan satu, dan proses birokrasi Indonesia yang terkenal lama, membuat saya tergantung seperti di kayu sula. Tidak ada kejelasan pengumuman kelulusan, sedangkan uang untuk kehidupan saya tidak lagi ada (maklum, sukarelawan di Taman Nasional).
Masa-masa yang berat itu saya jalani dengan kepahitan. Saya masih ingat, jika saja saya hidup tanpa menghisap hasil kerja ibuk saya... tentu saya sudah kere. Hutang demi hutang saya lakukan kepada ibuk saya untuk sekedar biaya bensin ke sukamade. Sedangkan untuk keluar dari rumah ini, guna mencari penghidupan, akh... saya lihat muka Ibuk saya tak ada gembiranya. Sulit sekali tegar seperti pahlawan saya, Tan Malaka yang melayang bagai burung-burung kemana ia mau pergi. Lengkaplah sudah ketika pengumuman : saya tak diterima, bahkan di Papua. Alasanya:saya tak memprioritaskan pilihan di Papua. Ah, bullshit. Lagipula, akibat revolusi itu, janji bahwa saya akan segera menerima gaji di bulan januari menjadi hampa...

Saya sedih sejadi-jadinya. Saya sedih karena keterbatasan kesempatan untuk menggapai cita-cita sederhana saya : tidak jauh dari ilmu lingkungan dan pendidikan, hal yang saya bangun idealismenya sejak 4 tahun lalu dengan hati saya sendiri. Sedangkan untuk hidup di Meru Betiri, saya rasa bukan tempat yang tepat. (Mungkin nanti saya ceritakan di lain kesempatan.). Namun apa daya. Pak Pram sudah menggambarkannya dengan kata-kata sederhana: korban revolusi. Tak ada yang mampu menyangkal dan memberontak. Seakan perkataan ini diucapkan di malam yang sama, dengan penerangan lampu ublik yang menyetujui suasana yang sedih hati. Tak ada satupun orang yang mampu menjawab: akan kemanakah saya? Siapa yang harus saya musuhi? Akankah saya bisa menjadi tegar? atau, masihkah saya akan di sini?
Tak ada yang tahu... karena saya pun, korban revolusi. 

Minggu, 10 Mei 2015

Larwo ( Lar e Dowo)

Jadi ceritanya begini...
   Tiga hari lalu, Mas Rohman, salah satu kawan saya di Sukamade, mendapatkan informasi tentang keberadaan burung langka di sekitar blok pantai (seputaran pos Sukamade - red). Informasi tersebut terbungkus rapi dalam sebuah pembicaraan antar pelanggar, yang secara tidak sengaja terdengar oleh beliau. Begitu disadari oleh mereka keberadaan Mas Rohman, yang telah tobat dan bergabung dengan PA, maka secara bergantian mereka tersenyum kecut dan kabur. 
   Informasi tersebut sebenarnya adalah tentang ditemukannya burung Larwo, atau dalam nama indonesia "Murai Batu / Kucica hutan (Copsychus malabaricus). Saya hanya mangap saja mendengar populasi si murai batu ini masih ada. Hingga saat ini, percaya atau tidak, cucak ijo saja saya belum dapat fotonya, hehehe..
     Menanggapi tantangan dari Mas Rohman untuk mencari, maka di hari sabtu pagi, saya ditemani beliau dan Mas Eko mulai jongkok untuk mencari si burung bersuara merdu ini. Pada saat itulah saya menjadi kagum kepada Mas Rohman, sang mantan pelanggar ini. Keahliannya memikat burung kicauan dibuktikan dengan siulannya yang sangat mirip dengan burung aslinya. Saking miripnya, saya malah keheranan dengan kualitas mulutnya yang kualitas kaset. 
    Beliau malah bilang, kalau suaranya belum ada apa-apanya. Masih ada pelanggar juga yang jauh lebih muda dari saya, dan cucut-nya mampu menirukan hampir semua burung kicauan dengan hampir sempurna : cuca ijo, kacer, cuca jenggot, larwo, dll.  Wedian, bisa habis burung-burung di sini tujuh turunan.. Namun, sisi positifnya, burung-burung yang diincar adalah yang laku di pasaran sebagai burung kicauan. Burung-burung lain yang meskipun langka, tidak umum, namun tidak laku, ya tidak akan diambil (meskipun demikian, pelanggaran macam ini tidak bisa dibenarkan :p ). Tiga jam berputar-putar, menunggu, dan menirukan suara si Larwo, ternyata tidak membuahkan hasil. Saya tak merasa hari ini kesialan menghampiri kami. Justru, semakin banyak ilmu yang saya peroleh dari warga lokal semacam Mas Rohman dalam mengamati burung (meskipun dulu ia gunakan untuk menangkap burung, hehe). 
    Sebelum kembali ke pos, ia bercerita tentang banyak sekali burung-burung aneh yang ada di hutan dan tidak ia bawa meskipun tertangkap (dilepas lagi karena tidak laku). Salah satu yang menarik adalah sering sekali menangkap burung berukuran agak besar, sekitar 2 genggaman, dan berjambul. Suaranya sangat jelek, dengan garis putih di sekitar leher. Saya kemudian mengernyitkan kening... mungkinkah ia adalah Tangkar Ongklet (Platylophus galericulatus)? Saya menguji Mas Rohman dengan memintanya untuk menggambar sketsanya, dan sepertinya mirip dengan apa yang saya duga. 
Ah, kiranya musim kering nanti kami bisa berjalan-jalan lebih jauh untuk mencari burung-burung ghoib yang tersimpan di Meru Betiri, seperti Paruh Kodok Jawa atau Anis Merah? wehehe... 

 

 

Minggu, 26 April 2015

Conservation, local politics, and carnivora reserve on his eyes

   Yang membuat hari ini, Jumat, 24 April 2015, terasa istimewa adalah saya berhenti beristirahat dengan seorang kawan baru di pos pantai Sukamade. Awalnya saya merasa biasa saja. Lalu kemudian, obrolan ini makin menyenangkan ketika beliau mengambil batang rokoknya yang kedua. Artinya, minat beliau untuk menemani saya beristirahat kala lelah berjalan-jalan mengamati burung sungguh sangatlah besar. Mungkin, obrolan tentang kehidupan dan pekerjaan barunya bisa saya skip saja. Tapi yang menarik adalah ketika cerita kami beranjak ke isu sensitif dengan percaturan politik lokal dengan konservasi. 
   Saya yakin beliau adalah orang yang tidak terlalu paham dengan konservasi, apalagi tetek bengek politik, blas. Apalagi ia adalah ex-pelanggar yang sudah tobat sejak beberapa tahun lalu. Keluar masuk hutan adalah pekerjaannya. Lagipula, sejak lahirnya ia sudah menghirup udara yang minim polutan khas rimba. Namun menariknya, ia mencintai dunia konservasi dengan gaya dan bahasanya sendiri. 
    Banyak omongan nggedabrus tentang permasalahan yang membalut taman nasional ini, salah satu topik yang menarik saat itu adalah tentang macan. Ia bercerita tentang banyaknya pemburu-pemburu macan yang datang dari utara (jember) bertahun-tahun lalu, menjajah kawasan PA, membunuh dan mengambil kulitnya yang berharga itu demi pundi-pundi rupiah. Sedangkan dalam sejarah Taman Nasional Meru Betiri, tidak pernah sedikitpun terpotret bentuk dan rupa macan itu. Meskipun jutaan rupiah digelontorkan dan jerih payah orang-orang lapang demi sebuah foto, namun tiap kegiatan harus diakhiri dengan foto-foto 'gagal' mendapatkan buruan utama : karnivora besar. 
    Lalu, apakah sudah benar-benar punah? Tidak... beliau menjawabnya dengan pasti. Salah satu syarat untuk menemukan karnivora besar ini adalah : musim dan tempat yang tepat. Tidak semua tempat dijelajahi oleh macan katanya. Hanya tempat tertentu yang dijadikan tempat berkumpul, semacam party lah. Ini pun ditunjang dengan musim yang tepat, yaitu saat kemarau dan... duren! Nah, yang terakhir ini adalah cerita yang sudah saya dengar dari beberapa orang. Tapi, saya masih gagal untuk menghubungkan antara buah duren dengan keberadaan macan. Kata para penduduk lokal, macan gemar makan duren saat duren-duren berjatuhan. Saya tidak ingin mempercayainya dengan pasti. Mungkin jika duren mengundang hewan-hewan herbivora (sekaligus mangsa bagi macan) datang, maka mungkin itu lebih masuk di nalar. 
Lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan krusial dari mulut polosnya meluncur: "kalau begitu, kenapa kita tidak memasang kamera trap atau nyanggong disana?"
    Nah, ternyata, kamera dan kamera trap adalah inventaris yang dicap 'mahal' oleh banyak instansi. Penggunaannya juga harus sesuai dengan tata pranata - adat istiadat birokrasi. Artinya, harus ada jaminan agar barang itu tidak rusak atau hilang. Sebenarnya, rusak atau hilang saat bertugas itu biasa saja. Lha wong namanya usaha, ya toh? Yah, tapi namanya barang titipan negara. Banyak orang merasa rieweuh jika barang tersebut ada apa-apa, mulai dari pertanggungjawaban hingga... penyidikan! 
    Bahkan, jika permasalahan pertama itu berhasil diatasi, maka dana adalah permasalahan kuat yang menghambat, dan bisa dikatakan kalau financial is the most powerful problem among government institution. Sudah menjadi tradisi jika pemerintah tidak terlalu peduli dengan perkembangan sains ala lapangan ini. Buktinya adalah dana yang datang tertetes-tetes, membuat pencairan alokasi dana selalu mundur dari jadwal dimulainya kegiatan. Akibatnya, musim-musim macan sudah berlalu, tapi ketika dana itu datang telat, maka kegiatan pun harus dilakukan, seadanya. Akhirnya, adalah tak ada yang lebih sedih jika saya mengatakan kegiatan tersebut mubazir, sia-sia. 
    Permasalahan ketiga adalah semangat. Saya yakin semangat melakukan kegiatan lapang masih membara diantara para rimbawan. Yang saya belum yakin, adalah semangat gotong royong, bersatu, saling membantu tanpa pamrih, dan memikirkan sebuah 'keluarga' dibandingkan problematika personal. Permasalahan terakhir ini ibarat kanker, yang disadari atau tidak, telah menjalar dan memecah belah kesatuan. Ketika tantangan dari luar harus dihadapi bersama, maka kanker jenis ini telah jauh menggerogoti dari dalam dan lambat laun sebuah organisasi akan mati dibuatnya. Saya rasa, sudah banyak contoh tentang ini.

Akhirnya, kami hanya bisa memandang gunung-gunung megah meghijau di blok pantai. Kabut tipis menghilang perlahan ketika sinar mentari mulai datang. Kami hanya berharap jika salah satu macan, atau bahkan harimau jawa bisa lolos dari jerat stling pemburu. Bahkan dalam benak kami, besar sebuah harapan agar mereka dapat menemukan pasangannya dan menghasilkan keturunan yang lestari. 
Masalah, biarlah masalah. Ungkapan tentang masalah adalah suatu kegemasan berpikir yang mendobrak batasan-batasan yang dibuat manusia. Tidak perlu takut dikritisi, karena pengkritik harus masuk ke tempat sampah dan pengambil kebijakan selalu benar. Tidak pernah ada yang salah dalam setiap mbuletnya permasalahan itu, karena yang salah bukan kita, tetapi Tuhan, ya toh?

Minggu, 05 April 2015

Duet karya 'Incredible'

Wow, akhirnya saya nulis lagi!
Setelah sekian lama tak disentuh, blog ini rasanya seperti mati suri. Banyak sarang laba-laba di bagian 'compose' dan jalan menuju tombol 'publish' dipenuhi semak-semak. 

Anyway, malam ini saya menceritakan sebuah lompatan besar dari hasil pekerjaan saya dan kawan-kawan di Taman Nasional Meru Betiri. Yapp, ada dua buah buku yang saya 'karyakan' untuk menunjang hasil ndedepi (nongkrongi) burung selama berbulan-bulan. Terus terang saja, sebuah karya baru telah lahir 2 minggu lalu dan di bulan Desember telah rampung sebuah gawe besar yang menceritakan tentang burung-burung indah di Meru Betiri. Mari langsung kita ce ki dot:

1.  Sayap-sayap Meru Betiri
     Didalamnya terdapat 110 jenis burung yang terjepret di Meru Betiri. Belakangan ini, terkonfirmasi foto 2 jenis burung yang belum sempat dimasukkan, yaitu Kokokan Laut dan Kepudang Hutan. Selain species sheet, ada sebuah sisipan artikel tentang temuan keren (bagi saya sih keren keliwat-liwat), yaitu sebuah sarang Elang Jawa beserta anaknya.
     Saya tak ingin membicarakan gaya desain, yang sudah sekuat tenaga keluar dari pengaruh buku-buku lain. Selain itu, dengan isi yang lebih sederhana dan berbahasa Indonesia, buku ini berkesan sebagai salam kenal dari burung-burung Meru Betiri kepada pembacanya. Yang menarik adalah, buku ini menjadi korban dari panasnya politik tahun 2014. Akibat penataan ulang kementrian, akhirnya belum ada anggaran yang pas untuk buku ini. Lalu, dari akumulasi penyebab-penyebab yang lain, buku ini masih 'berdiam diri' selama berbulan-bulan. Kejadian ini sepertinya menjadi bukti bahwa buku dalam bentuk digital menjadi alternatif karya yang mungkin bukan satu-satunya, tapi lebih masuk akal!
Seandainya buku ini terwujud, mungkin rasanya adalah ketika seperti sampeyan pegang gelas es campur, dan es batunya diguyur lewat kepala. Adem pooll... Semoga saja bisa tahun ini terwujud.



2. Animals of Sukamade
 Kebutuhan wisata berbasis internasional yang berkembang di Sukamade (salah satu resort yang banyak dikunjungi wisman) menjadi awal dicetuskannya ide untuk membuat buku ini. Keputusan pertama adalah untuk membuat semacam booklet. Namun, ide ini harus hilang karena isi di dalamnya melampaui standar umum sebuah booklet. Akhirnya jadilah sebuah buku kecil berukuran B5 yang didesain sangat sederhana. Bahkan terkesan 'putihan' dan 'garingan'. Gambar lebih banyak mendominasi. Hal lain yang tercantum adalah nama spesies, lokasi tempat temuan, dan beberapa informasi terkait satwa-satwa yang dianggap unik. Tentunya, atas bantuan kaka' Swasti, buku ini bisa keminggris, sesuai dengan kebutuhan Sukamade yang menjadi destinasi internasional.
Sebagai penyokong ekowisata alternatif non penyu, sepertinya buku kecil ini layak mendapatkan perhatian. Namun lagi-lagi masalah pendanaan, membuat buku ini hanya sampai kepada cetak sampel. Awalnya telah ditemukan wacana sebuah pendanaan mandiri, dan lagi-lagi suhu 'politik' telah menjadi momok bagi kemajuan ilmu pengetahuan (sekaligus ekowisata).


 Nah sodara-sodara yang berkunjung di halaman blog ini, demikianlah dua buah karya yang menunggu dieksekusi. Saya hanya bisa menyebut-nyebut kedua hal ini di dalam doa, karena sekarang hanya dengan bantuan Tuhan segala hal bisa lancar, termasuk segala karya kita, ya toh?
Tetap semangat broh..


Dunia Bawah Kaki

Malam ini saya ingin ngrasani mahkluk kecil bersayap... Bukan burung, tapi terlalu besar untuk lalat, atau bahkan tengu. Namanya adalah kupu-kupu

Yapp, di tempat saya makarya, mereka tidak terlalu banyak jenisnya. Jika saya boleh berbagi dengan pengalaman saya yang cupet ini, kupu-kupu di Meru Betiri tidak sekaya yang ada di pantai kondang merak atau coban rais, alang. Mungkin pilihannya ada 2 : saya yang terlalu ruwet menengadah mencari burung, atau memang benar, jenisnya sangat sedikit? Hm, entahlah, yang jelas, apakah Meru Betiri yang kaya dengan hutan-hutan rungkut, lebat, membuat jenis kupu-kupu sangat miskin, sama seperti di Cangar, Tahura R.Soeryo.
Meskipun demikian, menarik juga untuk melihat-lihat dunia 'bawah kaki' Meru Betiri ini.

Mau yang tertutup, atau telanjang?
Di sini, di Meru Betiri, anda lebih sering melihat mahkluk cantik ini di bumi yang telah 'ditelanjangi' manusia. Rerumputan perkebunan, tepian jalan, atau bahkan di tengah jalan. Rupanya, kupu-kupu sangat tertarik karena tempat yang terbuka memungkinkan semak-semak berbunga untuk tumbuh, seperti Lantana camara. Selain itu, lumpur dan batuan basah juga menarik perhatian kupu-kupu karena menyediakan mineral bagi mereka (disebut mud puddling). Oleh karena itu, saat kita melewati jalanan berlumpur di siang terik, sering kita melihat gerombolan kupu-kupu. Umumnya, kupu-kupu yang suka tempat 'telanjang' adalah mereka yang berwarna cerah. Yah, terkadang memang apes, beberapa juga gepeng karena terlindas ban motor, hehe..
Graphium sarpedon sedang di pinggir kali
Lalu yang tertutup? Nah, kupu-kupu yang gemar hidup di kawasan tertutup ini biasanya jarang bergerombol. Warnanya pun kusam, tak menarik. Kegemarannya pun njijiki, yaitu menghisap mineral dari buah-buahan busuk atau bangkai hewan. Namun jangan salah, sebagian besar dari mereka adalah penghuni julukan langka, atau paling tidak jarang terlihat. Di sinilah terlihat ketergantungan beberapa jenis kupu-kupu terhadap tutupan lahan, atau kalau dengan bahasa sangar, kelestarian hutan. Semakin lebat hutan, mungkin jenis di dalamnya sedikit, tapi 'berkualitas' tinggi :D

Bangun molor? Wah, Cocok!
Sampeyan tukang molor? nah, kabar gembira, kupu-kupu berbeda dari burung. Jika burung harus ditunggu di pagi hari sekali, kupu-kupu harus menunggu sinar matahari yang cukup untuk menghangatkan badan mereka. Pasalnya, mereka sangat tergantung pada sinar matahari yang mampu merangsang syaraf sayap mereka untuk aktif. Itulah mengapa kita jarang melihat kupu-kupu beraktivitas saat mendung, apalagi hujan. Nah, waktu yang cocok adalah sekitar jam 8 atau 9 saat matahari baru sepenggalah, hingga pukul 11 siang. Anda masih molor? Di situ saya terkadang sedih melihat nasib anda...
Eurema hecabe , nampak bagian underside-nya karena paparan sinar
Sambil mengusap iler yang super bau, mari kita pergi ke jalanan tanah atau yang kaya dengan semak berbunga. Ingat, hunting anda sangat tergantung dengan cuaca, jadi berdoalah agar cuaca benar-benar terik saat itu. Musim yang paling tepat adalah penghujung penghujan, dimana banyak hujan yang membuat genangan dan melarutkan mineral di malam hari, namun di pagi harinya, sinar matahari sedikit demi sedikit menguapkan air dan meninggalkan mineral di permukaan tanah. Sudah pasti, banyak kupu-kupu terlarut dalam pesta mineral atau nektar saat itu. Atau di lain kasus, saat musim kemarau, banyak kupu-kupu melakukan mud-puddling di tepian sungai kecil yang berlumpur.

Sabar...
Jika anda berkeinginan untuk mengetahui nama mereka, maka sabar adalah kuncinya. Ada dua pilihan untuk 'berkenalan', yaitu dengan menangkap atau memotretnya. Nah, seperti saya yang tukang poto amatir, memperoleh foto mereka adalah hal yang gampang-gampang susah. Susahnya adalah karena mereka termasuk serangga yang cerdas. Getaran akibat langkah kaki cukup membuat mereka berterbangan dan susah diam kembali. Selain itu, beberapa spesies hanya dapat dibedakan jika kita mengetahui pola pada posisi underside (saat menutup) dan upperside (saat membuka). Nah, kebayang kan bagaimana mensiasati itu semua dengan pose shoot merayap, berjongkok, tiarap, sembari berjemur dan dilihat buruh penyadap karet? :v

Nah, ini adalah beberapa jepretan yang saya koleksi di Meru Betiri:

Eurema blanda
Saletara liberia
Graphium antiphates



Appias albina

Cepora iudith

Sabtu, 13 Desember 2014

Merayakan Cinta Bersama Sang Rimba (III) - Tamat


   Tidak ada yang lebih nyesek bagi saya, ketika harus dengan sangat terpaksa, menggunakan kanca-kredit. Yup, Kanca kredit adalah keterpaksaan tingkat tinggi untuk memohon seorang kawan meminjami kita. Dalam kasus di lapang, ini bukan masalah uang. Ini adalah masalah kebutuhan yang pada saat itu, tidak terbeli dengan saya karena... saya tak lagi memiliki uang cukup. Jadi, para kanca-kredit membelikannya untuk saya (Jane podo wae yo, hahaha).
   Ketika saya di Bandealit, saya men-dompleng kegiatan pemasangan kamera trap. Sebagai pengalaaman pertama, saya patuhi setiap nasehat dari para suhu, terutama mengenai perlengkapan pribadi. Sepatu siap, namun ternyata harus menggunakan kaus kaki. Dari tabiat mereka, para senior, yang berangasan ketika hidup di dunia normal, lalu harus menggunakan kaus kaki seperti anak SD di saat masuk hutan, tentu saya menyadari kaus kaki adalah kebutuhan luar biasa. Lalu uang darimana? Saya ingat betul, 20 ribu di tas untuk jaga-jaga perjalanan pulang nanti. Dan saat itulah, tanpa dinyana, kaus kaki panjang baru berwarna hitam putih menjadi milik saya akibat kanca kredit.
   Masih di dunia Bandealit, ketika harus makan nasi bungkus, dan uang saya tinggal 5 ribu rupiah, maka nasi bungkus itu tetap saya konsumsi akibat kanca kredit. Belum lagi atas kebaikan resort Bandealit yang kapan pun ketika saya di sana, tidak pernah mengurangi hak makan bagi saya. Beras, sayur, tempe, gula, kopi, teh, dibeli untuk makan di sana. Benar-benar bagaikan sebuah keluarga. Bahkan saya teringat sebuah ucapan Bapak Tua penghuni resort Bandealit : “di sini kita semua tidak boleh lapar dan haus. Jika nasi habis, ayo masak lagi”. Tidak pernah kurang kebutuhan hidup saya di sana... Paling-paling saya hanya bisa membalasnya dengan membeli bawang atau obat nyamuk di warung. Itu pun kejadian yang sangat langka.
   Lain lagi di Sukamade, saya benar-benar menaruh hormat dengan para punggawa sukamade. Mungkin satu-satunya hal yang membuat saya ‘kurang bebas’ adalah masalah penyu dan wisata. Yupp, siapapun, yang hadir di Sukamade, akan bekerja sebagai penyuersss dan pengelola wisata. Tidak masalah memang, karena itu juga merupakan kesejahteraan. Namun, berapapun manusia di Sukamade tak akan pernah cukup untuk mengelola wisata di sana (rasanya, semoga saya salah, hehe).
   Di sana, selain kebutuhan makan dll tercukupi, saya bersyukur karena kebaikan kawan-kawan, saya mendapatkan pendapatan pertama (hehe) sebagai guide atau penyueerss yang membantu wisata pengamatan penyu di malam hari. Tidak ada yang lebih mengharukan daripada ini, karena kebutuhan dana perawatan kamera yang mengalami kerusakan di Bandealit (sampai 2 kali), akhirnya terselesaikan. Selain itu, saya juga bisa sedikit menabung, di samping digunakan untuk membeli buku, bensin atau perawatan motor.
   Saya tentu mengingat akan jasa-jasa baik ketika ada yang mengajak saya makan di warung, membelikan saya onderdil motor, memperbaiki kerusakan motor, atau sekedar memberikan buah-buahan. Bahkan yang lebih trenyuh, adalah kondisi kita yang sama-sama kere, hehe.. Tapi sejujurnya, anda kaya dalam berkah..

Tak terkira pertolongan Tuhan melalui tangan-tangan sampeyan kepada saya setahun ini. Dari mulai saya celingukan mengais-ngais foto burung, sampai jadilah sebuah tulisan tentang burung-burung di Meru Betiri. Dari nama burung lokal, menjadi 189 jenis burung eksotis yang telah memiliki standar IOC World Bird List versi 12. Baik nanti, ketika saya ada di Taman Nasional ini atau tidak, dalam pekerjaan apa pun, sungguh tak terlupa jasa kanca kredit ini. 



Merayakan Cinta Bersama Sang Rimba (II)



   Bulan Maret, siapa yang mengira akhirnya status saya akhirnya dipertanyakan?Ya, status tentang ke-volunteer-an saya dipertanyakan. Mungkin seperti saya bilang, saya dengan asyiknya bludas-bludus seperti masak kandang kebo saja. Bagi sebagian orang yang percaya kesaktian tata-pranata perijinan, tentunya ini adalah dosa besar. Begitu saya masuk ke SPTN I Sarongan, seseorang bertanya: 

“Kamu ada perlu apa? Ada kegiatan apa?”

   Sebisa mungkin saya menjelaskan, siapa, dan seperti apa status saya. Juga saya berikan penjelasan bahwa saya tidak memegang surat apapun yang dijanjikan oleh pihak balai hingga saat itu. Namun, rasa tidak puas terpancar dari wajahnya yang sudah berusia. Sekali lagi, beliau, dan mungkin teman-teman lain yang menanyakan di lapang tidak salah. Yang salah adalah... siapa?
Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak lagi kembali ke SPTN tersebut tanpa ijin tertulis, meskipun itu adalah dengan ijin lesan dari kepala balai sekalipun. Dalam hati, saya judreg bukan main. Di satu sisi, adakah orang bodo, sebodo-bodonya orang itu, yang baru saja selesai studinya, meninggalkan status fresh graduate-nya, untuk membantu sebuah taman nasional berluaskan 58.000 ha, yang data reptil saja hanya 4 jenis? Dan data burung sudah usang tahunan tidak ter-update, bahkan beberapa nama-nama ajaib macam ‘Larwo’ dimasukkan dalam super-database tersebut? Hal yang juga disinggung-singgung oleh dosen orang bodo itu, menyindir mentalitas idealisme buta yang dipakainya. Sebisanya orang bodo itu mau membantu tanpa dibayar. Itu saja akhirnya harus ditolak di lapang. Kesal bukan main rasanya...
   Namun, intinya bukan di sana, saudara. Ternyata Tuhan memakai kejadian ini untuk mulai memperhatikan ‘legalitas’ sebuah hitam-di-atas-putih. Kejadian ini mengajari saya untuk tidak membenci sesuatu berlebihan. Saya sangat membenci birokrasi, itu yang membuat saya tidak sabar menunggu surat keterangan volunteer tersebut, dan melaju ke Bandealit di tahun 2013 lalu. Namun, kebencian saya menumpuk menjadi sikap apatis terhadap surat itu, hingga kejadian itu akhirnya terjadi.
   Di Balai, tak ada suatu halangan yang berarti. Surat itu ternyata tidak diproses selama ini karena... lupa. Namun, dengan penuh ungkapan maaf, pihak balai (dalam hal ini, KSBTU), membuatkannya dalam hitungan 5 menit. (Serius, saya melihat jam pada saat itu.. hehe). Saya maklum, beliau maklum, dan semua keluarga TNMB maklum. Beratnya permasalahan di sebuah Taman Nasional membuatnya tidak mungkin untuk mengingat segalanya. Lagipula, beliau juga berkatta seharusnya terdapat semacam pemberitahuan khusus ke resort yang saya tuju (hal yang sama juga diucapkan oleh Kabalai sebulan lalu, meskipun hingga sekarang surat itu tak pernah ada, hehe). Saya pikir, besarnya perhatian dari pihak TN untuk saling mendengar di hari itu adalah sebuah harapan akan dimulainya maha-karya yang baru.
   Dalam hati, saya teringat akan apa yang saya doakan di Bandealit, dan tanah-tanah yang saya pijak. Sikap trenyuh akan kondisi sato-kewan dan tetanduran yang makin rusak di bumi nusantara ini, siapa yang dapat menahan? Tidak mungkin saya hidup untuk memperkaya diri sesuai kebutuhan hidup yang sementara ini. Karena bagi saya, tempat saya bukan di Bank atau di dalam kantor asisten yang ber-ac. Tempat saya adalah serasah daun winong serta tumpukan kotoran rusa. Terbersit sebuah keinginan untuk bekerja sebaik-baiknya, apa yang saya bisa untuk Taman Nasional ini. Saya ingin mengabaikan segala kecewa karena tidak dipenuhinya hasrat dan hak karena pekerjaan ini, tetapi sebagai manusia, sesekali saya tak dapat menolaknya. Yang saya bisa adalah terus berbenah, dan bekerja lebih baik lagi, dan lagi.

Diiringi mendung desember,
titi-wancine jawah... mengingat akan pengembaraan di maha-karya Gustine tiyang pracaya..




Selasa, 04 November 2014

Merayakan Cinta Bersama Sang Rimba (I)

Saya teringat masa-masa pait manis perjalanan yang ternyata sudah satu tahun. Dibilang panjang, kok sebenarnya ndak sama sekali, hahay...

Awalnya memang saya mengajukan diri sebagai tenaga kesukarelaan di Taman Nasional Meru Betiri. Saya masih ingat betul yang menerima adalah Mas Dodit, yang belakangan adalah salah satu PEH senior di sana. PEH jebolan UB ini menanggapi dengan serius permintaan saya untuk mengajukan volunteer tersebut. Syaratnya memang sangat klasik : Tidak menuntut A, tidak menuntut B, namun dari kesemuanya, saya tidak ambil logika panjang. Yang penting, hasrat saya untuk mencium aroma rimba Meru Betiri akan segera terwujud. Itu saja pikiran polos saya, hehe. Walaupun dengan demikian, korbannya adalah status fresh gradute bla-bla-bla yang sebenarnya sangat menggiurkan untuk dikomersilkan (dalam hal ini, beberapa kawan dan seorang dosen sangat menyayangkan tindakan saya untuk masuk ke dalam volunteer). Apakah langkah ini terburu-buru? Tidak menurut saya, karena saya sudah ngimpi-ngimpi untuk menjadi bagian yang hidup di dalam taman nasional ini sudah cukup lama. Beberapa kali mengunjungi Meru Betiri di saat kuliah, membuat saya benar-benar jatuh cinta. Beberapa diantaranya sangat membekas hingga saya mengabadikannya dalam sebuah tulisan di blog bertanggal 14 Desember 2012. Bahkan, ketika belakangan saya baru ngeh dengan segudang permasalahan di sana, toh saya tetap jatuh cinta dengan menghabiskan ribuan frame foto, belajar identifikasi burung, njengking motret rafflesia, anggrek, capung, dan lain-lain. yah, namanya saja sudah jatuh cinta... :3

Setelah menggarap tulisan lamaran tersebut, hati saya benar-benar terusik karena sama-sekali tidak ada surat keterangan yang kemlawir datang sebagai balasan. Katanya sih sudah diproses, tapi entahlah.. Demi melupakan itu, ikutlah saya sebagai salah satu tim huru-hara acara Gelar Foto Konservasi (GFK) di Bandealit. Singkatnya, Mas Heru (dan entah siapa lagi) menceritakan kalau baru saja memotret yang namanya Elang Jawa. Pada saat itu, Meru Betiri sangat minim dengan informasi keberadaan elang yang paling dicari di seantero jawa ini (katanya PHKA sih). Langsung saja menanggapi hal itu, perburuan di lokasi temuan dilakukan. Namun apa daya, rupanya hingga acara berakhir, tak ada tanda-tanda kemunculan elang itu lagi.

Berbekal dengan rasa penasaran yang teramat tinggi, seminggu berikutnya yang sudah masuk bulan Desember, saya nekat untuk berburu Elang Jawa. Pada dasarnya, saya tak memiliki 'kuasa' apa-apa untuk masuk ke dalam kawasan, karena sama sekali belum memegang surat keterangan. Berbekal dengan mulut nyonyor, akhirnya semuanya tanpa masalah. Bahkan, saat itu di depan Pak Dedy (kepala resort Bandealit saat itu), saya menceritakan kalau saya sedang monitoring elja, mendahului tim PEH yang memang rencananya akan melaksanakan kegiatan (padahal kegiatan itu masih 1 atau 2 bulan lagi, hahaha). Ndak papa lah, demi sang elang jawa yang keburu hilang jika tidak segera diamati :D

Ceritanya hingga ketemu Elang Jawa di sini

Mungkin, saking nyamannya ketika tinggal di Bandealit, saya tak lagi mengurus surat ke-volunteer-an saya. Pikir saya : Biarlah, ketika saya berbuat sesuatu untuk membantu Meru Betiri, mana mungkin saya dipersulit. Jadi, hingga Juni, saya masihlah orang ilegal dan tukang nyuri poto hewan-hewan sexy di Meru Betiri :D


Jumat, 26 September 2014

Sepuluh tahun kita berumah tangga....

"Sepuluh tahun sudah, kita berumah tangga.... tapi tak kunjung jua, mendapatkan putera......"

Ini lagu dangdut asuhay yang sering diperdengarkan kawan kost saya ketika di Malang. Memang, sebagaimana Dubes India, beliau sangatlah wajib meperdengarkan lagu-lagu khas tiap pagi dan malam hari. Lamat-lamat, saya terngiang lagi ketika meresapi kejadian-kejadian bersejarah belakangan ini. Apa itu? Tentunya njenengan yang memiliki twitter, tv, sampai radio bisa menyaksikan bagaimana DPR mengesahkan Pilkada digelar secara tak langsung.
Weh, lalu kenapa bersejarah? yo jelas... ini adalah pertamakalinya setelah era reformasi digulirkan, dan ditendang rezim bapak SBY, pemilihan akan dilaksanakan lagi secara tak langsung. Bukan asal tunjuk dari pemerintah seperti jaman Mbah Harto, tapi sekarang dirumuskan oleh DPR. Yupp, di kota, kabupaten, dan provinsi. Suatu sistem parlementer yang sangat dikenal di Internasional sebenarnya. Look: di Jepang, India, Inggiris, bahkan kepala pemerintahan harus menghadap parlemen untuk mempertanggungjawabkan segala pemerintahannya. Namun, keadaan mereka baik-baik saja kan? tetap nilai mata uang mereka lebih tinggi, hehehe. Lha bagaimana kalau diterapkan di Indonesia? yaah, kita harus berkaca dulu dengan kondisi parlemen kita, atau anda sebut saja sebagai DPR. Berapa banyak dari mereka yang ada di sana karena memikirkan rakyat, atau sengaja karena mereka mencari ceperan? gaji mereka besar, dilengkapi tunjangan yang mewah-mewah... itu fakta. Kenyataan lain yang baru-baru terjadi adalah penggadaian SK pengangkatan mereka untuk mendapatkan hutang... untuk apa? silahkan berargumen sendiri. Namanya manusia, di dekatnya banyak uang cetakan merah, maaf, hanya takut mereka kepleset. Ketika mereka suka sekali 'studi banding' di luar negeri, apa yang ada di benak kita... saya sendiri tidak mau curiga, tapi apakah kita tidak layak curiga? apakah kita tidak berhak untuk was-was. Bagaimana jika, jalan-jalan di kampung rusak dan tidak diperbaiki? bagaiamana jika infrastruktur pertanian kurang? lalu, lalu, lalu... manusia-manusia kurus berdemo menuntut bupati mundur. Lalu... Bupati disidang di DPR... lalu, Bupati itu masih menjabat sepuluh tahun.....karena, karena, karena Bupati itu telah....

ah, sepuluh tahun, akankah menjadi kenangan?

Senin, 08 September 2014

But-but-but... Nasib Si Bubut dan rumahnya di Meru Betiri

Bubut, atau kawan saya kelewatan memanggilnya dengan nama butbut, adalah anomali anggota cuculidae yang bersifat terestrial. Tidak menarik memang, karena warna badannya saja suram, dan suaranya tidak merdu serta cenderung monoton. Namun, cukup menarik karena salah satu anggotanya dari 3 jenis bubut berstatus 'vulnerable' alias terancam. Jenis ini adalah Bubut Jawa (Centropus nigrorufus), yang dari namanya saja kita sudah mengira bahwa burung ini adalah endemik pulau Jawa. Sebarannya tercatat cukup terbatas, seperti pesisir dan muara Jawa Barat, Banten, Jakarta (Mackinnon dkk., 2010), Mojokerto (Budi, 2014), Baluran (Winnasis dkk., 2011), serta di beberapa lokasi dataran rendah di Jawa lainnya.
Untuk mengenalinya, selain dari dokumentasi yang jelas, bubut harus diamati dengan teliti, karena tantangannya adalah burung ini sering sensitif ketika melihat manusia. Sebagaimana khas burung terrestrial, menyembunyikan diri secepat-cepatnya adalah andalannya dalam mempertahankan diri. Jadi, jika kita kurang cermat (sering seperti saya, hehe) dalam memperhatikannya, maka... zonk.

***

Nah, ada banyak foto yang terkumpul ketika saya mbladhus ke Bandealit atau Sukamade. Tantangannya sekarang adalah, berdiskusi tentang nama masing-masing hasil foto tersebut. Kepada siapa? kepada Pak Imam T. yang melegenda dan sanggup membimbing birder amatiran seperti saya, wkwk... mari kita lihat penampakannya.

1. Bubut Besar / Greater Coucal / Centropus sinensis


Foto ini sebenarnya tidak asing lagi karena saya sudah pernah menulisnya di sini. Lokasinya masih di seputaran Bandealit, yaitu pos - feeding ground Pringtali. Namun, awalnya saya mengira jenis ini adalah Bubut Jawa, hehe... Namun, segera menyadari kesalahan yang dibuat, jelaslah ukuran dan warna punggungya sangat khas. Selain itu, ekornya lebih panjang jika dibandingkan dengan Bubut Jawa dan Bubut Alang-alang.


2. Bubut Alang-alang / Lesser Coucal / Centropus bengalensis
Jenis bubut yang paling banyak ditemukan di daerah TNMB. Maksudnya, hampir di lokasi pengamatan yang 'ada bubut', si alang-alang ini muncul lebih dulu. Kemungkinan mereka menginvasi habitat bubut lainnya ya? hehe... Sejauh ini, pengamatan di Malangsari, Sanen, Bandealit, Rajekwesi, Sukamade menunjukkan spesies ini hidup dengan baik di berbagai habitat : dataran rendah, semak pantai, kebun, padang ilalang tepi sungai. Ukurannya yang kecil, menurut saya, menjadi tolak ukur utama ketika burung ini sepintas terlihat. Selain itu, ekornya pendek, dan bulunya khas mirip Bubut Besar, tapi sekali lagi, ukurannya kecil, sekitar 40-42 cm.




 3. Bubut Jawa / Javan Coucal / Centropus nigrorufus
Ini dia jenis bubut yang memiliki status 'artis'. Dari badannya, sangat tidak menarik untuk dilihat : lebih kotor, terutama pada penutup sayap. Makanannya hampir sama dengan  jenis bubut lain, dan tidak pilih-pilih, mulai dari kelabang, katak, telur burung, bahkan ular pohon juga dilahap. Belakangan, kakak ganteng bernama Nurdin Setio menemukan bahwa Bubut Jawa juga memakan padi di Mojokerto (Budi, 2014). Sayangnya, untuk hidup, Bubut Jawa lebih pilih-pilih. Alasannya ya tidak tahu... hehe. Namun, dia sangat gemar hidup di rawa-rawa air tawar, mangrove seputar pesisir. Dosa burung endemik ini adalah memilih tempat yang sekarang cocok untuk pengembangan bisnis properti dan pertanian, hehe... ckck.

Dari semua foto yang saya cek, ternyata kok saya ada rasa penasaran tentang foto ini. Setelah dijebret, pada hari itu juga saya mencatat bahwa ini temuan pertama saya dengan Bubut Besar di Bandealit. Tapi berpikir selama beberapa menit, belakangan catatan itu saya coret dan terganti dengan nama Bubut Jawa. Punggungnya sih hitam meles... tapi kok... penutup sayapnya tidak gelap? Penasaran pada saat itu tertumpuk dengan pikiran sok sibuk lain, hingga hari dimana saya ngrekap data. Fix ini, saya yakin... 60-70 persen ini bukan Bubut Besar. Selain ukurannya yang lebih kecil, punggungya benar-benar hitam. Kalau masalah sayap, kok nampaknya sih ada sedikit kusam. Pilihan masih jatuh pada Bubut Jawa. Ah, sayang ini hanya dijepret sekali, karena rupanya burung ini cukup pemalu. Tak ingin memecahkan masalah sendiri (karena ngga mudeng), langsung foto ketiga jenis bubut saya kirimkan ke Pak Imam Taufiqurahman.
Jawabannya adalah : "Sepakat gung..." jadi sudah ada lampu hijau. Selain itu, Pak Imam juga menjlentrehkan beberapa pedoman identifikasi bubut, termasuk kenapa burung di foto tersebut dimasukkan ke dalam Bubut Jawa.
Nah, ada foto lain lagi dengan kualitas yang amsiong punya, tapi rasanya jelas seperti inilah penampakan Bubut Jawa:



***

Demikianlah para budiman sekalian. Walau burung-burung di atas dianggap orang sebagai 'tidak menarik', atau 'kurang bermanfaat', nyata-nyata bahwa mereka tidak berdaya terhadap manusia. Memang tidak diburu, tapi habitatnya selalu diinvasi, diuruk, dijadikan mall dan perumahan. Peraturan pertama : manusia selalu menang. Peraturan kedua : jika hewan ingin menang, maka ingatlah peraturan pertama.

Maka dari itu saran saya, jangan ikut-ikut mendukung, atau bahkan mendirikan rumah dan mall di tepian sungai atau rawa-rawa. Karena selain merusak sarang bubut, saya jadi tidak bisa memancing mujaher atau tawes. Lagian saya ndak percaya sampeyan mendirikan mall di tepi sungai brantas :p
Saran saya lagi, kalau anda sedang piknik di tepi sungai, jangan lupa bawa binokuler. Siapa tahu anda dapat mengamati orang mandi sekaligus Bubut Jawa yang sedang mandi juga, hehehe...






contekan :
Budi, Nurdin Setio. 2014. Sunda Coucal Centropus nigrorufus eating young rice seeds. Kukila 17 (2)
MacKinnon, John, Karen P., dan Bas van B.. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan              Kalimantan. LIPI
Winnasis, Swiss, Sutadi, Achmad T., dan Richard N. 2011. Birds of Baluran National Park. TNB.

Also :
Kutilang Indonesia (http://www.kutilang.or.id/ )


Minggu, 07 September 2014

Menengok Raport Raptor Meru Betiri

Ketika saya tanya pada orang-orang berumur di resort, entah dimanapun, tentang hal-mushawal mengenai burung, seringkali jawabannya hanya gelengan lemah atau gumaman saja. Adapun beberapa persen dari mereka hanya mampu menyebutkan nama-nama lokal yang membuat saya memutar otak. Setelah otak diputar seperti diesel do peng, maka didapatlah nama burung itu dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, hehehe.
Oleh karena itu, jika bukan karena Elang Jawa, maka burung-burung di Meru Betiri (atau di tempat lain juga?) tidak akan 'terselamatkan', tertutup oleh longsoran DUPAK, laporan RBM, pelaporan titik, atau laporan kejadian pelanggaran. Saya pikir, di sisi ini, elang artis ini menjadi pahlawan juga, karena telah menyelamatkan kaum burung dari kuburan ketidaktahuan, sehingga mau tidak mau, harus ada kegiatan untuk menemukan bocah berjambul ini.
Nah, kali ini mari berkisah dengan tempat-tempat ajaib di Meru Betiri yang telah mencatatkan nama-nama raptor. Tidak terlalu banyak memang, namun, untuk sebuah kawasan bergunung-gunung seluas 58.000 hektar, it s not bad broo... (menghibur diri :p )

1.Pringtali, Bandealit


Tempat ini adalah tujuan notok wisata di bagian barat TNMB. Sebenarnya, masih ada lagi Pantai Nanggelan di resort Wonoasri, lebih ke arah barat lagi. Namun, pantai ini yang paling oke di kawasan barat. Lokasinya tentu saja pantai, muara, perkebunan - ladang (enclave), hutan, dan juga tepian hutan yang berbatasan dengan enclave. Beberapa temuan Elang Jawa terdokumentasikan di muara barat serta muara timur. Masing-masing merupakan individu dewasa. Sangat terkaget-kaget ketika koridor pengamatan raptor dibuka pada bulan Desember 2013 di daerah feeding ground Pringtali. Berikut merupakan catatan lokal temuan di sana:
1. Elang Jawa
2. Elang Hitam
3. Elang Perut-karat
4. Elang-laut Perut-putih
5. Elang Ular-bido
6. Elang-alap Jambul
7. Sikep-madu Asia
8. Alap-alap Capung
9. Alap-alap Kawah
10. Alap-alap Sapi

Kurang banyak? mungkin iya, jika dibandingkan dengan lokasi-lokasi di taman nasional lain yang lebih terbuka dan kering. Namun, Pringtali, cukup menjanjikan juga untuk pengamatan raptor. Di suatu waktu, lalu lintas raptor di sana sangat padat. Bisa jadi dalam 1 hari 10 jenis tersebut muncul bergantian. Kita tinggal tiduran di rumput mencari naungan, dan memasang mata mengawasi perbukitan yang masih perawan hutannya. Selain itu, hal yang menarik adalah adanya catatan breeding dari raptor tersebut, antara lain Elang Jawa (Desember '13-Februari '14) dan Elang Perut-karat (Maret 2014). Temuan Sikep-madu Asia sendiri terdiri dari ras lokal dan ras ruficolis (migran dari kawasan Asia Selatan). Ini adalah surganya raptor di kawasan barat :D

2. Lahan Rehabilitasi, Rajekwesi 

Nah, rajekwesi adalah pintu gerbang menuju wisata utama TNMB seperti green bay atau Sukamade. Letaknya adalah tepat di timur, berbatasan dengan Kecamatan Pesanggrahan. Tidak ada yang lebih menarik daripada mengamati raptor di sini. Sayangnya, waktu yang sering terbatas (atau juga rasa malas?) membuat kawasan ini tak ter-eksplorasi sempurna.
Lahan rehabilitasi sebenarnya adalah bukit-bukit perbatasan yang telah disulap menjadi ladang. Semenjak diberikan kepada pihak Taman Nasional oleh perhutani, demikianlah keadaannya : jati sudah tidak ada, hanya tinggal ladang-ladang terbuka. Namun, keadaan seperti ini malah memberikan sisi positif untuk pengamatan raptor. Beberapa temuan yang tercatat adalah:
1. Elang Jawa
2. Elang Hitam
3. Elang Perut-karat
4. Elang-laut Perut-putih
5. Elang Ular-bido
6. Elang-alap Jambul
7. Elang Brontok
8. Sikep-madu Asia
9. Alap-alap Capung
10. Alap-alap Sapi
 Yang menarik adalah kecurigaan saya akan lokasi ini sebagai lintasan raptor migrasi. Sulit memang memantaunya secara berkala, namun cukup menggairahkan dengan adanya temuan Sikep-madu asia yang mondar-mandir di sini, baik ras lokal, maupun ras migran orientalis. Sekedar cerita, TNMB sementara sangat miskin dengan data pengamatan migrasai burung, baik raptor maupun burung pantai. Apakah mereka melaju di Jatim bagian utara saja, lalu di bagian tengah dan selatan menjadi terpencar? Aneh, padahal di Alas Purwo, bagian tanjung Banyuwangi (tenggara), cukup kaya dengan catatan burung pantai migran. Ah, entahlah... mungkin, di lahan rehabilitasi ini masih tercecer harapan untuk menemukan 'barang langka' semacam Elang-alap Cina, Elang-alap Jepang, atau bahkan si pengembara : Elang-ular Jari-pendek

Lalu bagaimana dengan yang lain? Tenang, semua pasti dapat kesempatan, baik Kalibaru, Sukamade, Sanen, atau yang lain-lain. Raptor tidak akan pernah ada habisnya, sama seperti burung-burung sak-jenthikan. Misalkan saja Sukamade, spot raptor di sana berganti-ganti alias tidak 'resmi'. Lokasi seperti sebrangan atau patok 9 memang terkadang kaya akan jenis, namun sering juga sepi akan jenis. Jika beruntung malah mendadak bertemu dengan Sikep-madu Asia bertengger, Elang Brontok bertengger, atau Elang Perut-karat yang soaring santai di atas gubuk. Di Sukamade sendiri prestasi puncak pengamatan raptor tidak lain adalah penemuan sarang Elang Jawa yang telah diberi nama Sisuka, hehe.. Namun, jika tanding ilmu kanuragan antara Sukamade - Rehab Rajekwesi - Pringtali Bandealit, saya masih berani masang taruhan untuk 2 lokasi terakhir. Yah, begitulah, ada kelebihan, ada pula kekurangan. Suatu saat, semoga lah ada kesempatan dan dibangkitkan nurani kita untuk mengeksplorasi burung-burung di sana :)



Meru Betiri, Gak ono matine rek... :D

Senin, 11 Agustus 2014

Sesep Madu dari Sukamade

Yupp... di sinilah saya hendak bercerita tentang famili sesep madu, yakni Nectariniidae, yang anggotanya telah menghiasi lembar-lembar list pengamatan saya di Sukamade. Bahkan, pengamatan minggu lalu menyatakan bahwa jumlah nectariniidae yang ditemukan di resort terpencil ini melonjak lagi 1 jenis. Kejadian ini berkaitan tentang temuan Burung-madu Belukar di tepian jungle track. Berikut penampakannya:

Betina Burung-madu Belukar

Jantan Burung-madu Belukar

Bagaimana? very noise kan? kakakak....oke... pemotret amatiran ini memang masih perlu belajar banyak untuk mengoperasikan 1100 D tuwirnya. Saat teramati, burung ini berkelompok dalam jenisnya. Jumlahnya mungkin 6 hingga 8 ekor dan saling berpasangan.

Anyway,  jumlah sesep madu di meru Betiri mencapai:
1. Burung-madu Kelapa
2. Burung-madu Belukar
3. Burung-madu Sriganti
4. Burung-madu Jawa
5. Pijantung Kecil
6. Pijantung Besar
7. Pijantung Gunung

Semoga masih berlanjut lah, hehehe...

salam dari rumah penyu :D

Sabtu, 02 Agustus 2014

Caladi Tikotok : cerita dari Baluran ke Sukamade

  Mendengar nama burung ini pertama kali adalah saat Mas Nurdin dan antek-anteknya memborong hadiah Baluran Birdwatching Competition (mbuh yang ke berapa). Kala itu, samar-samar saya mendengar bahwa Kang Swiss sebagai pemangku adat sampai terbuai dengan temuan sarang si burung pelatuk kecil ini di Kacip. Lalu, kesempatan melihat secara langsung adalah di TNAP saat mengantar rombongan praktikum lapang. Cukup berjumpa saja, fotonya engga.. haha. Nah, kalau di Meru Betiri.... (blank)
   Awal cerita, adalah kedatangan kawan-kawan Biologi UIN Sunan Kalijaga (Jogja) yang berada di bawah bendera PKL mereka di bulan januari. Sungguh tak terduga, Sigit, salah seorang dari mereka membawa foto burung yang bernama latin Hemicircus concretus ini ke hadapan saya.
   "Waduh, saya malah belum dapat fotonya..." batin saya ngenes
Saat dimasukkan DPO Bandealit pun burung mungil ini belum juga nampak. Whalah... dengan mengibarkan bendera setengah tiang, saya pun harus ngemis minta foto ke Sigit, hehe.
   Namun, penantian rupanya berbuah manis. Di bulan Mei-awal Juni, 3 kali temuan di jungle track Sukamade membuat saya meyakini bahwa burung ini lebih lumrah di sana dibandingkan di Bandealit. Sayangnya, selalu saja Caladi Tikotok bersifat autis, sehingga susah sekali difoto. Baru pada akhir Juni burung ini malah mampir di belakang pos. Rumornya, ini karena jompa-jampi Mas Kukuh-Mas Nurdin yang saat itu bersama antek-antek Biolaska berkunjung di sana. Ah, tapi rumor ini terpecahkan juga. Buktinya, ayah-ibu-anak secara bersamaan terpotret pada minggu berikutnya di tempat yang sama, setelah mereka semua pergi, haha.. modharo.. 
    At last, keluarga bahagia si Caladi tak lagi menyapa saya. Sesekali terlihat dari kejauhan di tempat yang berbeda. Di lain kesempatan pun hanya terdengar suaranya. Ah, tak pernah bosan melihatmu baik-baik saja :)

Catatan:
Burung pelatuk ini menyandang gelar Least Concern versi IUCN. Meskipun disebutkan sebagai umum di Kalimantan dan Sumatra, namun burung ini tidak umum ditemukan di Jawa. Dalam versi IUCN juga, Population trend Caladi Tikotok juga cenderung menurun.


Matur suwun kepada :
1. Kawan Biolaska untuk pendokumentasian awal di Bandealit
2. Kawan Biolaska + mas Kukuh yang sudah menemani birding  di Sukamade.

Betina Caladi Tikotok

Jantan Caladi Tikotok

Remaja Caladi Tikotok